Djiwa

Djiwa
29. Secara kekeluargaan.


__ADS_3

Haliza menyentuh tangan Bang Erlang tapi suami Gizha itu menepisnya.


"Jauhkan tanganmu..!!! Kita tidak pernah bertunangan. Semua itu pembicaraan orang tua dan saya tidak pernah menyetujui pertunangan itu." Bentak Bang Erlang.


"Kalau Abang tidak mau bertunangan sama Liza.. bagaimana nasib perusahaan keluarga Abang???" Tanya Haliza. "Mama berharap banyak pada Abang, atau adik perempuan Abang.. Rinjani.. akan hancur masa depannya."


Bang Erlang mengepalkan jemarinya. Dadanya terasa penuh sesak.


Gizha terduduk lemas tanpa kata. Haliza pun menuju food court di dekat supermarket dengan senyum penuh kemenangan. Bang Erlang sedikit menjauh dan terlihat menghubungi seseorang. Wajahnya panik, hatinya gundah.


"Tolong segera kesini..!! Saya sangat butuh bantuan..!!" Ucap Bang Erlang mencoba menyelesaikan permasalahan.


Baru beberapa detik mematikan sambungan telponnya, Gizha sudah tidak ada di tempat.


"Gizhaa.. Gizhaaa..!!!!" Bang Erlang panik dan kelabakan mencari Gizha. Ia segera berlarian kesana kemari kemari mencari Gizha.


//


"Masa tiga orang berjaga di depan pintu kamar rawat sama sekali tidak ada yang melihat kemana istri saya pergi???" Tegur Bang Drajat pada anggotanya terutama pada Prada Ardhan.


"Siap salah.. ijin kami tidak lihat Dan." Jawab Prada Ardhan.


"Astagfirullah.. Dishaa.." Bang Drajat pun panik mencari Disha di susul beberapa orang anggotanya. Ia segera menghubungi petugas pos piket rumah sakit agar menutup dan mengintrogasi siapapun yang keluar dari rumah sakit meskipun tidak efektif dan mungkin juga akan sangat terlambat untuk di lakukan.


***


Ayah Rojaz, Papa Musa, Bang Gumarang dan Bang Katon datang dan duduk di hadapan Bang Erlang dan Bang Drajat. Duduk disana Haliza yang dengan santainya memainkan kuku seakan tanpa dosa setelah membuat keributan seperti itu.


Mata Bang Drajat dan Bang Erlang berkaca-kaca penuh kecemasan, dari wajah keduanya sudah menyiratkan penyesalan yang mendalam.


"Masalah akan selalu ada dalam rumah tangga tapi kalau istri sampai pergi dari rumah, minggat.. berarti kewaspadaan dan tanggung jawab kalian sebagai suami sangatlah kurang..!!!!!" Tegur keras Papa Musa.


Bang Drajat semakin menunduk. Memang selama ini dirinya bersikap sangat kasar pada Disha.


"Kamu Drajat..!!!! Meskipun kamu belum resmi menikahi Disha.. tapi di dalam rahimnya ada cucu Papa. Apa yang kamu lakukan sampai Disha pergi????" Papa Musa sampai terbawa emosi karena kejadian ini.


"Beri saya waktu untuk bicara pada semua menantu saya. Bisa kalian tinggalkan saya sebentar?" Pinta Ayah Rojaz.


~


"Tubuh saya sudah terlalu tua untuk menghadapi masalah seperti ini. Hati saya sebagai seorang ayah jelas tidak bisa menerima segala perlakuan ini, tapi saya sadari semua masalah ini bukan seratus persen kesalahan kalian." Kata Ayah Rojaz menatap kedua menantunya. "Saya paham isi hati kalian.. tapi tolong ceritakan dan katakan pada saya, di depan wajah saya dengan sejujurnya, bagaimana perasaan kalian pada putri saya. Saya hanya ingin meninggalkan dunia ini dengan tenang dan menitipkan putri saya pada pria yang tepat."

__ADS_1


Tanpa kekerasan fisik tapi ucap Ayah Rojaz begitu menekan batin kedua menantu.


"Saya bersikap kasar pada Disha karena belum bisa menerima kenyataan bahwa Gizha sudah menjadi istri Erlang, kehilangan calon anak kami juga merupakan pukulan berat bagi saya hingga saya melampiaskan amarah pada Disha karena semua ini bermula dari ketidak jujuran Disha." Jawab Bang Drajat dengan ksatria. Ia tidak ingin masalah ini semakin berlarut-larut dan menjadi beban dalam hatinya. "Saya pun sudah mengg**linya dengan kasar."


Batin ayah mana yang tidak tersiksa mendengar pengakuan seperti itu, tapi Ayah Rojaz tidak ingin amarahnya malah akan merusak suasana.


"Bagaimana denganmu Erlang?"


"Sejak awal saya mengatakan bahwa ibu saya telah tiada, tapi pada kenyataannya ibu saya masi ada dan sehat wal afiat, tapi di dalam data RH saya, ibu saya tertera masih ada." Bang Erlang menyerahkan salinan lembar RH pada Ayah Rojaz.


"Ayahmu masih ada?"


"Masih yah."


"Ada penjelasan?" Tanya Ayah Rojaz.


"Ayah dan ibu saya berpisah karena perbedaan prinsip. Ibu saya berambisi menjadi kaya dan memiliki perusahaan. Beliau tidak bisa mengimbangi hidup ayah yang sederhana sebagai seorang abdi negara, begitu juga sebaliknya."


"Siapa nama lengkap ayahmu?"


"Purnawirawan Peltu Erky Harianto." Jawab Bang Erlang.


"Allahu Akbar Lang. Sungguh bodohnya saya yang hanya membaca nama Haryanto. Ayahmu sangat berdedikasi tinggi, beliau pernah menjabat sebagai ajudan kepercayaan saya." Ayah Rojaz mengelus dada merasakan dunia ini begitu sempit.


Ayah Rojaz terdiam sejenak melihat raut wajah menantunya itu, semua terlihat penuh dengan beban. Beliau menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan.


"Lalu ibumu??" Tanya Ayah Rojaz kemudian.


"Karena harta tersebut, ibu saya ingin menggabungkan perusahaannya dengan perusahaan ayahnya Haliza, jika tidak mau.. beliau akan mengganggu hidup adik perempuan saya.. Rinjani."


"Kamu pun punya saudara perempuan??"


"Siap.. satu-satunya."


Ayah Rojaz bersandar dan menerawang menenangkan pikiran dan hatinya.


Saat ketiganya masih dalam suasana penenangan dan memikirkan cara untuk menyelesaikan, Bang Ranjha membuka pintu ruangan Bang Gumarang dengan paksa.


"Kalian berdua ini memang b******n tengik. Lihat apa yang kalian perbuat pada dua adik perempuanku..!!!!"


plaaakk..

__ADS_1


Bang Ranjha yang biasanya lebih mampu mengontrol diri akhirnya sampai menampar kedua iparnya itu.


"Sabar Ranjha.......!!!!"


"Sabar bagaimana lagi yah???? Disha mau bunuh diri, Gizha pendarahan. Bagaimana tanggung jawab mereka menjaga calon ibu dari anak-anak mereka?????" Ucap Bang Ranjha tidak terima.


Bang Drajat dan Bang Erlang sungguh terkejut mendengarnya. Terlihat keduanya panik.


"Dimana Disha Bang?"


"Bagaimana keadaan Gizha sekarang??" Bang Erlang juga tidak bisa menutupi rasa cemasnya.


"Jangan tanya mereka lagi. Urus saja kebodohan kalian..!!!" Bang Ranjha pun meninggalkan ruangan.


"Bang.. tolonglah Bang..!!" Bujuk Bang Drajat mengejar langkah Bang Ranjha.


Bang Erlang berlari dan menghadang langkah Bang Ranjha. "Tolong Bang..!! Anak istri saya bagaimana??"


"Tidak usah sok peduli..!! Adikku bukan mainan..!!" Tolak Bang Ranjha.


Bang Erlang melirik Bang Drajat dan Bang Ranjha paham kode tersebut. Beliau berbalik arah dan menghajar kedua iparnya.


baaghh.. buugghh.. baagghh.. bugghh..


"Saya ini seniormu.. jangan coba-coba menyerangku, lebih baik kalian berdua menjauh dari Gizha dan Disha. Berani membuatnya menangis berani kalian berhadapan dengan Abangnya..!!!!!" Bentak Bang Ranjha yang baru saja membuat kedua iparnya terkapar.


"Saya mengaku salah Bang..!!" Kata Bang Drajat penuh permohonan.


"Di sel pun saya terima Bang, tolong pertemukan saya dengan Gizha." Pinta Bang Erlang.


Ayah semakin pusing melihat kedua menantunya memohon-mohon sampai merendahkan harga dirinya, pasalnya beliau tau betul keduanya sangat menjunjung tinggi nilai harga diri.


"Sudah Ranjha.. pertemukan mereka..!!"


"Nggak akan yah, mereka tidak mencintai adikku dengan tulus. Jangan harap mereka berdua akan bertemu lagi. Aku masih sanggup menanggung dan membiayai adikku..!!!" Tolak Bang Ranjha.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2