
Gizha terkejut mendengar kabar kepergian Mama mertuanya. Ia bergegas bangkit dan mencari keberadaan Bang Erlang. Ia tau saat ini hari Bang Erlang sedang tidak baik-baik saja.
//
Bang Erlang duduk menyendiri membaca dua lembar kertas yang di berikan sang Mama.
Anakku Erlang dan Rinjani..
Pernah menikah dengan Papa Erky adalah berkah. Melahirkan kalian adalah hal paling luar biasa dalam hati Mama. Tidak pernah Mama tidak pernah merindukan kalian bertiga, kalian adalah segalanya. Maafkan Mama yang tidak pernah bisa menjadi orang tua yang baik untuk kalian berdua. Mama memang salah pernah memilih menjadi wanita yang tamak dan tidak bersyukur, tapi apapun keadaannya.. kalian tetap ada di dalam hati Mama.
Mama kirimkan seluruh aset yang Mama perjuangkan hingga kalian terlepas dari hidup Mama. Semuanya untuk kalian, untuk semua cucu-cucu Mama nantinya. Sehat selalu anak-anakku.
Mama yang jahat.
Bang Erlang melipat kembali kertas tersebut, hatinya perlahan mulai kalut.
"Bang..!!" Sapa Gizha di ujung ruang jenazah. Dengan langkah tertatih, Gizha segera melangkah menghampiri. Ia segera memeluk Bang Erlang, suaminya itu segera membalas pelukannya dan bersembunyi di balik dada Gizha.
"Tidak pernah aku tidak mendo'akan Mama. Seburuk apapun perlakuannya, dia tetap di hatiku." Bang Erlang mulai melemah dan terisak-isak. "Tolong kamu juga jangan pergi meninggalkanku.. aku ingin hidup bersamamu dan anak kita..!!!"
Saat anggota keluarga akan membantunya, Gizha mengarahkan agar semuanya menjauh, ia pahami.. Bang Erlang sangat mengutamakan harga diri. Gizha tau Bang Erlang sudah berada pada titik terendahnya. Suaminya yang gagah itu begitu lemah menghadapi kepergian sang Mama.
"Hidup dan mati adalah milik Allah, jika saat persalinan tadi Allah pun menginginkan nyawa Gizha.. kita tidak akan bisa berlari, semua sudah takdirNya."
"Jangan..!!!! Jangan dek..!!!!" Bang Erlang meremas dadanya, ia seakan kehabisan kata. Hatinya sudah terlalu sakit.
Gizha tetap membelai lembut puncak kepala Bang Erlang.
"Rinjani dimana Bang?" Tanya Gizha saat melihat ke arah sekitar dan tidak mendapati Rinjani ada disana.
Di saat yang sama isakan tangis Bang Erlang berhenti karena tidak tau adiknya ada dimana.
//
Bang Girish tak bila melepaskan genggaman tangannya karena Rinjani memegang tangannya begitu erat.
"Aloong.. tolong panggilkan dokter, saya cemas Rinjani belum sadar juga..!!" Pinta Bang Girish.
"Siap Dan.. segera..!!" Prada Along segera mencari dokter.
__ADS_1
Bang Girish tertunduk lesu melihat wajah pucat Rinjani.
Tak lama seorang dokter masuk ke dalam ruang observasi.
"Bang.. tolong Bang..!!" Pinta Bang Girish panik.
Dokter hanya sekilas menatap wajah Bang Girish. "Kau cemas sekali Rish, siapamu?" Tanya Dokter.
"Calon Mamanya anak-anak Bang..!!" Jawab Bang Girish terdengar lebih santai tapi tidak dengan paras wajahnya yang terus menatap wajah Rinjani.
"Oohh pantas. Jadi secepat ini Erlang mau iparan sama kamu??" Lagi-lagi dokter memancing pertanyaan.
"Siap Abang."
"Deekk..!!!" Bang Erlang mendobrak kamar observasi tersebut dan melihat Bang Girish menggenggam erat tangan Rinjani. "Apa ini Rish?? Lepaskan tanganmu..!!"
"Ijin Bang, Rinjani yang tidak mau melepaskan tangan saya..!!" Kata Bang Girish.
"Alasan saja kamu ini..!!!" Bang Erlang menepak tangan Bang Girish tapi memang benar Rinjani yang menggenggam erat tangan Bang Girish.
"Kelihatannya Rinjani naksir saya Bang."
"Siap Abang, tidak berani." Jawab Bang Girish tapi sungguh Bang Erlang memang tidak bisa membedakan apakah juniornya itu sedang bercanda atau tidak.
"Kamu awasi Rinjani agar tidak ikut ke pemakaman. Saya juga tidak mengijinkan Gizha ikut karena kondisinya tidak memungkinkan." Kata Bang Erlang.
"Siap laksanakan Bang..!!"
***
Rumah Bang Erlang sudah ramai dengan para anggota dan pelayat namun tidak ada sosok ibu Danton karena beliau baru saja persalinan.
Pagi itu juga pemakaman di laksanakan dan para Mama bergantian menjaga Gizha di rumah sakit.
Dengan menahan tangis, Bang Erlang memakamkan sang ibu dan menidurkan di liang lahat lalu mengadzaninya. Disana Bang Drajat pun ikut membantu.
"Sabar ya pot..!!" Ucapnya kemudian mengusap punggung sahabatnya.
"Aku kurang sabar bagaimana lagi?" Jawabnya pilu.
__ADS_1
"Mamaaaaaaaa..!!!" Rinjani berteriak dan berlari hingga hampir terperosok masuk ke dalam liang lahat.
Melihat adiknya menangis histeris, Bang Erlang menoleh dan menatap tajam ke arah Bang Girish.
"Saya sudah katakan sama kamu, jangan bawa Rinjani ke makam..!!! Dia belum kuat mental..!!" Suara Bang Erlang meninggi namun saat mengingat posisinya sedang berada di tempat pembaringan terakhir sang ibu, Bang Erlang pun menahan emosinya.
"Siap salah Abang." Jawab Bang Girish tak banyak bicara.
"Bawa Rinjani pergi dari sini..!!! Tangan saya kotor..!!!!" Perintah Bang Erlang.
"Siap."
Bang Girish hendak membawa Rinjani tapi gadis itu semakin histeris. "Ikut sama saya ya...!!"
"Nggak mau, Rinjani mau disini saja Om..!!"
"Tapi tangismu akan menghambat langkah Mamamu di surga. Putri yang sholehah akan mengikhlaskan Mamanya mendapatkan tempat yang nyaman di surga..!!" Bujuknya sembari membelai rambut Rinjani.
Bang Erlang yang melihatnya sungguh geram tapi apa daya saat ini mungkin hanya Girish yang bisa menenangkan adik perempuannya.
"Lang, biarkan dulu adikmu tenang. Kalau kamu yang menenangkan di saat hatimu sedang panas, semua tidak akan menyelesaikan masalah. Adikmu juga akan keras hati dengan sikapmu..!!" Kata Bang Drajat.
Mau tidak mau Bang Erlang menurut namun sesaat kemudian ponsel Bang Erlang berdering, panggilan telepon dari Mama Rhena. Ia pun segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum Ma.. ada apa?"
"Wa'alaikumsalam, maaf Mama mengganggu Lang. Gizha pingsan.. badannya demam. Mungkin bekas jahitannya bermasalah. Mama bawa ke rumah sakit saja atau panggil dokter ke rumah?" Tanya Mama Rhena tetap meminta ijin pada Bang Erlang.
"Saya pulang Ma, bawa dokter sekalian biar Gizha nyaman mendapatkan perawatan di rumah, nanti selanjutnya saya sendiri yang jaga Gizha." Jawab Bang Erlang.
"Baik kalau begitu, cepat sedikit ya Lang..!!" Pinta Mama Gizha.
.
.
.
.
__ADS_1