Djiwa

Djiwa
19. Mediasi.


__ADS_3

"Ning angin tak titipne, roso kangen marang sliramu. Nadyan batin pengen ketemu.. Amung biso nyawang fotomu... Abote mendem kangen, kangen sing Ning jero dodoku..........."


Gizha bagai terpana mendengar suara merdu Bang Erlang. Meski banyak memar di tubuh Bang Erlang tapi pria itu masih berusaha menghiburnya. Lagu-lagu indah terlantun lembut di balik kaku dan garangnya sosok Letnan Erlangga.


"Halaaah biawak, pandai sekali mulutmu merayu putriku." Ledek Ayah Rojaz.


"Apa Ayah lupa bagaimana dulu merayu Mama?" Tegur Mama Rhena.


Ayah Rojaz menoleh menatap sang istri dengan pandangan cemas. "Jangan begitu donk Ma..!! Ayah khan malu.. harga diri nih.. wibawaaaa..!!" Bisik Ayah Rojaz.


Mama Rhena hanya bisa mendesah pasrah.


"Selamat siang ibu..!!" Sapa Bang Erlang.


"Selamat siang.. nggak usah formal begitu Om Erlang." Kata Mama Rhena.


"Siap ibu..!!"


Mama Rhena tersenyum bahagia melihat putrinya bahagia. Terlihat sosok Letnan Erlang dalam pandangan matanya adalah pria yang sopan dan tenang namun tak menghilangkan wibawa.


Flashback Bang Erlang off.


Lamunan Bang Erlang memudar saat Gizha tersadar namun hanya matanya yang terbuka tanpa reaksi.


"Dek.. bagaimana perasaanmu? Apa ada yang terasa tidak enak di badan?" Tanya Bang Erlang. Ia menyentuh lembut pipi Gizha namun Gizha menepisnya.


"Bunuh Gizha Bang..!!"


"Kenapa bilang begitu? Nggak baik dek. Hidup mati adalah urusan Allah." Jawab Bang Erlang, perasaannya sungguh sedih melihat Gizha yang tidak sanggup menerima takdir ini.


"Apa Gizha menggoda Abang sampai Gizha bisa hamil anak Abang? Gizha malu Bang." Gizha merasa rendah diri. Ia menarik selimut untuk menutup tubuhnya.


"Abang yang menggodamu, Abang yang mengajakmu dan Abang juga yang menginginkannya karena hasrat itu terletak pada diri Abang. Jangan cemas lagi dek. Kita sudah menikah meskipun status kita masih masih abu-abu." Jawab Bang Erlang. "Insya Allah anak kita aman."


Gizha terdiam. Masih ada bayang Bang Drajat dalam hatinya. Jelas saja.. kebersamaan mereka hingga sampai bisa mengandung benih cinta mereka sudah menjadi bukti bahwa di antara mereka pernah ada ikatan dan perasaan.

__ADS_1


//


Disha memercing meremas perutnya yang terasa kram dan tertekan. Sama sekali dirinya tidak berani mengatakan apapun pada Bang Drajat tentang keadaan dirinya, ia takut suaminya itu akan semakin marah padanya.


"Kenapa kamu???" Tanya Bang Drajat berada ketus.


"Nggak apa-apa Mas." Jawab Disha.


"Duduk..!!" Perintah Bang Drajat masih bernada kasar.


Gizha duduk perlahan, cemas terjadi sesuatu pada calon bayinya. Ia duduk dengan memendam segala kemungkinan yang akan terjadi. Mungkin Bang Drajat akan membuangnya atau mungkin juga akan memenjarakan dirinya.


Bang Drajat begitu benci menatap wajah wanita di hadapannya itu. Dialah wanita yang memiliki andil membuat kekacauan dalam hidupnya.


"Iya Mas."


Bang Drajat terdiam, tapi nafas panjangnya cukup terdengar kasar dan gemetar, tangannya mengepal.


"Gugurkan..!!" Suara Bang Drajat terdengar berat tercekat. "Saya tidak inginkan anak itu."


"Disha akan mempertahankan anak ini meskipun Mas tidak menyukainya. Disha akan menjaga dan merawatnya. Mas tidak perlu cemas, Disha tidak akan pernah menuntut atau meminta apapun atas anak ini." Kata Disha berusaha tegar.


Perasaan Bang Drajat masih terbolak-balik. Hatinya resah dan gelisah tapi dirinya masih tak bisa mengikhlaskan yang telah terjadi. Tak tau lagi bagaimana mengungkapkan apa yang ia rasakan kini.


Disha berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar. Dengan cepat ia membereskan pakaiannya tanpa menoleh lagi atau menunggu suara dari Bang Drajat.


Melihat Disha akan meninggalkan rumah, hatinya dua kali lipat lebih gelisah. Entah bagaimana inginnya saat ini.


"Kamu mau pergi kemana? Ini sudah sore." Kata Bang Drajat dengan nada kesal.


"Pergi ke tempat yang semestinya. Tidak ada di tengah rumah tangga Mas dan Gizha." Jawab Disha.


"Seharusnya semua itu kamu lakukan sejak lama.. setelah tau Gizha di culik dan sebelum saya menyentuhmu." Bentak Bang Drajat. "Penyesalan dan itikad baikmu sudah tidak ada gunanya. Rumah tanggaku sudah hancur, Gizha sudah bersama pria lain. Apa kamu bisa mengembalikan keadaan seperti semula???"


Disha hanya bisa menangis memejamkan mata. Memang dirinya telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Kepalanya berdenyut kencang, rasanya tubuhnya mengambang tapi ia terus berusaha kuat demi anak yang masih ada di dalam kandungannya.

__ADS_1


"Masuk kamar dan tidur..!! Jangan coba-coba pergi kemana-mana..!!" Perintah tegas Bang Drajat.


"Mas tidak menginginkan anak ini, lalu kenapa masih meminta Disha tidur disini?"


"Apa saya harus bersitegang dengan Ayah dan Abangmu lagi? Saya sudah lelah Disha.. jangan banyak tanya." Jawab Bang Drajat.


Disha pun masuk ke dalam kamar daripada harus mendapatkan bentakan lagi dari Bang Drajat.


***


Ayah Rojaz, Papa Musa, Bang Ranjha, Bang Gumarang, Bang Katon dan seorang tetua kembali membahas dan mempertemukan Bang Drajat dan Bang Erlangga di rumah Bang Gumarang. Masalah ini harus segera di selesaikan dan mencari jalan keluarnya.


Bang Drajat dan Bang Erlang masih saja dalam keadaan emosional.


"Kita harus menyelesaikan semua dengan kepala dingin. Seharusnya disini juga harus hadir Bu Gizha dan Bu Disha, namun karena kondisi keduanya sedang kurang baik.. maka harus di tunda dulu sampai pikiran dan hati para pria sedikit lebih dingin dan stabil." Kata tetua tersebut. "Sudah di jelaskan dalam kepercayaan kita bahwa beberapa tujuan dari pernikahan adalah membina rumah tangga yang sakinah mawaddah dan warahmah, menghalalkan nafsu b****i pria pada wanita juga sebaliknya, melestarikan keturunan yang jelas garisnya, menimbulkan kasih sayang dan cinta antara suami istri. Lalu apa yang terjadi sekarang?? Kesalahan fatal pada rumah tangga Pak Drajat dan Pak Erlang. Adanya poliandri tanpa sengaja dan Zina bisa di katakan sengaja namun tidak sengaja juga."


Mata Bang Drajat dan Bang Erlang berkaca-kaca. Setiap kata tetua membuat batin mereka terguncang.


"Kami harus bagaimana Pak? Apakah yang sudah kami rundingkan sudah benar?" Tanya Bang Ranjha.


"Ya.. sebaiknya sampai Bu Gizha dan Bu Disha persalinan.. para bapak tidak boleh menyentuh. Untuk selanjutnya ada baiknya kita semua legowo.. seperti yang Pak Ranjha katakan.........."


"Saya tidak bersedia menceraikan Gizha." Bang Drajat memotong ucapan tetua.


"Saya juga tidak akan melepaskan Gizha..!! Langkahi dulu mayatku kalau kamu menginginkan Gizha..!!!!!" Bentak Bang Erlang.


"Paaaaa.. Gizhaaaa.." teriak Mbak Elvira.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2