Djiwa

Djiwa
28. Memanas.


__ADS_3

Perjalanan Gizha terasa sangat menyenangkan. Bang Erlang memberi bantal di sisi kanan, kiri, serta punggung Gizha hingga istrinya itu tidak merasakan goncangan yang berarti.


Gizha melihat pemandangan di bawah bukit dengan sangat takjub. Pemandangan indah perkotaan yang baru di lihat sejak kedatangannya beberapa waktu yang lalu.


"Subhanallah.. Indah sekali ya Bang." Kata Gizha terus menatap ke arah jalan.


"Itulah sebabnya Abang sangat bersyukur menjadi seorang tentara. Abang bisa melihat keindahan dunia, ciptaan Allah dari sisi yang lain." Jawab Bang Erlang.


...


Sesampainya di pusat perbelanjaan, Gizha yang memang berasal dari kota dan hidup di kota benar melegalkan naluri belanjanya. Ia terus berjalan hingga kakinya terasa pegal.


Gizha membungkuk bertumpu pada lutut. Nafasnya mulai terengah.


"Ayo duduk dulu di food court..!!" Ajak Bang Erlang. Dulu saat dirinya mengajak Gizha berolahraga, gadisnya itu selalu menolak karena takut merasa lelah tapi saat dirinya mengajak jalan ke mall, jangankan menolak.. berjalan dari subuh hingga isya pun Gizha tidak akan merasa lelah.


Gizha menggeleng seperti anak kecil, agaknya istri letnan Erlang itu enggan di ajak pulang.


"Duduk dulu, istirahat..!! Si adek juga pengen istirahat dek..!!"


Gizha pun menurut, suara Bang Erlang memang lembut tapi tidak dengan wajahnya yang tidak bisa di kondisikan.


~


Bang Erlang menyodorkan segelas jus alpukat, sudah banyak di ketahui bahwa alpukat memang sangat baik untuk perkembangan janin.


"Gizha masih mau jalan Bang..!!"


"Nanti sore kita jalan lagi..!! Setelah ini kita istirahat dulu di hotel. Abang sudah booking kamar di samping pertokoan ini. Sampai besok pun kamu masih bisa jalan-jalan." Jawab Bang Erlang sembari membalas pesan singkat dari seseorang.


Gizha mengangguk, dirinya sudah tau apa akibat jika tidak menurut apa kata Bang Erlang.


Wajah Bang Erlang datar dan tajam menatap layar ponselnya.


:


"Cepat bersih-bersih dek..!!" Bang Erlang baru saja keluar dari toilet dan meminta Gizha segera membersihkan diri.


Tak menunggu lama Gizha masuk ke dalam toilet.


Sekembalinya Gizha dari toilet, Gizha ternganga melihat Bang Erlang sudah duduk di atas tempat tidur hanya mengenakan kain penutup barang antik.


"Baang?????"


"Sini sayangkuuuu..!!!!" Bang Erlang menjentikkan jarinya mengajak Gizha duduk bersamanya. "Mau nggak?"


Gizha tertawa tapi akhirnya berjalan cepat menghampiri Bang Erlang.

__ADS_1


-_-_-_-


"Dimana Drajat?" Tanya Bang Gumarang yang malam hari itu menjenguk Disha di rumah sakit.


"Keluar sebentar." Jawab Disha dengan tenang.


"Kemana?" Bang Gumarang tak lantas percaya sebab di depan ruang kamar rawat tidak ada sama sekali anggota yang berjaga.


"Ke kantin."


Kali ini baru Bang Gumarang yakin bahwa adiknya sedang berbohong pasalnya sejak dua jam yang lalu dirinya menerima tamu secara mendadak di kantin rumah sakit daripada harus kembali ke markas.


"Benarkah??" Tanya Bang Gumarang menuntut kejujuran dari Disha.


"Benar Bang."


"Kamu tau Abang tidak suka di bohongi. Apa selama ini hubunganmu dengan Drajat baik-baik saja??" Hati seorang kakak tidak bisa di bohongi begitu saja. "Katakan dengan jelas apakah kamu bahagia dengan Drajat atau tidak??"


Disha tidak ingin Abangnya merasa cemas, ia tersenyum. "Disha bahagia Bang."


Meskipun Disha terlihat meyakinkan tapi hati seorang Abang tidak semudah itu di bohongi. Ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang di seberang sana.


"Cari Letnan Erlangga dan Letnan Drajat..!!!!"


//


"Saya sudah beristri Ma."


"Maa.. tolong pengertiannya. Gizha sedang hamil. Jangan memberinya banyak pikiran..!!!!" Pinta Bang Erlang.


"Haliza sudah ada di kotamu dan akan menemuimu di sana..!!!"


"Maaaaa........."


"Baang, siapa yang telepon?" Tanya Gizha.


Secepatnya Bang Erlang mematikan panggilan teleponnya secara sepihak. Ia tidak ingin Gizha tau tentang ibunya karena Bang Erlang pernah mengatakan bahwa ibunya telah tiada.


"Siapa Bang?" Gizha mengulang pertanyaannya.


"Urusan kerjaan saja. Ya sudah ayo kita jalan-jalan lagi. Masih ngilu nggak?" Bang Erlang ikut memercing melihat ekspresi wajah Gizha.


"Nggak Bang."


//


"Darimana saja kamu??? Kamu tau Disha mungkin butuh bantuan. Kenapa kamu tinggalkan?? Kalau saya tidak ada urusan dinas pasti saya sendiri yang akan jaga Disha." Tegur Bang Gumarang.

__ADS_1


Sekilas Bang Drajat melirik Disha dengan tatapan jengkel. Disha seakan tidak bisa menjaga wibawanya di hadapan Bang Gumarang.


"Ijin.. dari kantor Bang. Ada tugas dadakan." Kata Bang Drajat.


"Kalau nggak bisa urus Disha, bilang saja Jat. Saya nggak perlu menitipkan Disha sama kamu..!!! Nggak ada satupun anggotamu yang bantu standby jaga Disha. Kalau anggota mu sibuk kenapa tidak bilang saya??? Saya bisa kirim anggota saya."


"Siap salah Bang."


:


Sepeninggal Bang Gumarang, emosi Bang Drajat tersulut. Bang Drajat memang sedang ada pekerjaan di luar hingga harus meninggalkan Disha tapi tak bisa di pungkiri memang dirinya lupa memberi arahan untuk meminta anggotanya untuk menjaga Disha.


"Kenapa tidak hubungi saya dan malah mengadu yang bukan-bukan sama Bang Gumarang??" Bang Drajat balik menegur Disha. "Kamu mau saya di permalukan karena tidak becus menjagamu????"


"Disha nggak bilang begitu." Kata Disha.


"Kenapa hidup saya selalu celaka kalau dekat sama kamu???" Gerutu Bang Drajat kemudian merebahkan tubuhnya yang lelah di sofa.


Disha menghapus air matanya dan berusaha tegar menghadapi sikap Bang Drajat.


...


Jauh di bagian lain, Gizha sudah selesai membayar belanjaannya dan saat itu tanpa sengaja Bang Erlang sedang bicara dengan seorang wanita.


"Jadi malam ini aku harus tidur dimana Bang? Mama bilang aku akan tinggal sama kamu, di rumahmu." Kata wanita tersebut.


"Nggak bisa. Aku belum sempat dan belum bisa menceritakan siapa kamu, nanti Gizha kaget, kandungannya tidak begitu sehat." Tolak Bang Erlang mentah-mentah.


"Ini siapa Bang?" Tanya Gizha yang sudah berdiri di belakang punggung Bang Erlang.


"Kamu pasti Gizha khan?" Haliza mengulurkan tangannya.


"Iya, mbak siapa ya?" Gizha menyambut uluran tangan tersebut.


"Aku Haliza. Bisa di bilang aku ini tunangan Bang Erlang."


"Halizaaa.. jaga bicaramu..!!!!"


Gizha berdiri mematung tanpa kata, pandangan matanya pun kosong melompong.


"Dek.. nanti Abang jelaskan. Kita bicara di hotel..!!" Bang Erlang sudah cemas bukan main melihat ekspresi wajah Gizha.


"Liza sama siapa Bang???" Tanya Haliza.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2