Djiwa

Djiwa
41. Harus sadar diri.


__ADS_3

Bang Erlang sudah nampak lebih baik tapi tetap saja pelepasannya kali ini terasa sangat kurang. Bagaimana tidak, setelah beberapa lama tidak menyentuh Gizha, pelepas rindu kali ini hanya bisa sekedarnya saja. Selain mengingat tempat yang tidak memungkinkan, Gizha pun belum sepenuhnya sehat.


"Ini kambing mau di apakan bro?? Mau di masak gule atau kare? Aku nggak paham di tanya begitu, yang penting aku kenyang saja sudah cukup." tanya Bang Drajat saat sahabatnya itu sudah lebih segar usai mencuci wajah.


"Apa saja lah. Aku juga nggak pusing soal makanan. Tanya saja sama si kembar maunya apa. Aku yo manut wae." jawab Bang Erlang sambil mengedarkan mata mencari Gizha.


Masih dalam suasana tenang tiba-tiba Ratna berdiri di hadapan Bang Drajat dan Bang Erlang.


"Bisa saya bicara?" tanya nya.


"Dengan siapa?" Bang Erlang balik bertanya. Nadanya terasa datar saja bagai makhluk yang tidak saling kenal.


"Dengan Pak Drajat dan Pak Erlang..!!" jawab Ratna.


"Silakan ke ruangan saya..!!" ajak Bang Drajat kemudian melirik Bang Erlang.


Bang Erlang memberi kode dengan jarinya untuknya segera menghubungi para istri.


Bang Drajat pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Disha.


"Ke ruangan Mas ya dek..!! Ajak Gizha sekalian..!!" pinta Bang Drajat.


~


Ratna merasa tidak nyaman dengan kehadiran Disha dan Gizha. Sungguh kedua wanita itu sudah mengambil rasa bahagia yang selama ini ia impikan bersama sang ibu, tapi tujuan kehadirannya kali ini memang untuk menyelamatkan ibunya.

__ADS_1


"Saya ingin meminta agar Pak Erlang mencabut tuntutan atas ibu saya, juga pak Drajat menarik keterangan atas kejadian beberapa tahun yang lalu..!!" kata Ratna.


"Atas dasar apa kamu meminta saya melakukannya?" tanya Bang Erlang yang sebenarnya malas meladeni Ratna.


"Ibu saya sudah tua, wajar jika orang tua membela anaknya, ibu saya juga tidak salah karena beliau memang sudah tua. Pak Drajat dan Pak Erlang tentu tau jika wanita lanjut usia terkadang sikapnya kembali kekanakan." jawab Ratna.


"Kamu membuat saya berpisah dengan Gizha lalu kamu menganggap enteng semua yang terjadi?? Saya kehilangan calon anak saya Ratna..!!!!" tanpa sadar emosi Bang Drajat meluap tak terima dengan masa lalunya yang hancur karena ulah Ratna.


Bang Erlang kembali terusik namun ia harus menahan perasaan karena saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas ego nya.


"Ibumu pantas mendapatkannya..!!" kata Bang Erlang.


"Ibuku adalah ibu yang baik, ibu yang membela putrinya, ibu yang selalu memikirkan kebahagiaan putrinya..!!" suara Ratna sedikit meninggi.


"Dengan menghalalkan segala cara dan menghancurkan kebahagiaan putri orang lain?????" suara Bang Erlang ikut meninggi. Emosionalnya memang cukup tinggi saat ini apalagi segala hal yang berhubungan dengan Gizha di masa lalu tentu tak bisa ia abaikan begitu saja.


"Kamu berhak membelanya, tapi saya juga wajib melindungi istri saya..!!" jawab Bang Drajat.


"Saya tidak akan mengubah keputusan apapun..!! Ibumu harus merenungi salahnya, penjara akan membuat pikirannya fresh dan sadar akan kelakuanya..!!" imbuh Bang Erlang.


Gizha dan Disha saling pandang. Mereka berdua bingung mengatasi situasi ini. Bang Erlang dan Bang Drajat sudah sangat marah dengan kelakuan ibu Ratna. Terbersit rasa kasihan dalam hati mereka namun tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali.. membuat suami mereka tenang.


Gizha meraih tangan Bang Erlang. "Bang, Gizha sudah tidak apa-apa. Jangan tuntut ibunya Mbak Ratna ya..!!"


Mata Bang Erlang menyiratkan kilat kemarahan, ekor matanya melirik Gizha. "Jangan ada yang mencoba membujukku..!! Apa yang saya lakukan jelas pada tujuannya. Jika saya tidak cinta sama kamu, saya tidak akan mati-matian membelamu..!!" setelah mengucapkannya, Bang Erlang berdiri dan meninggalkan ruang kerja Bang Drajat.

__ADS_1


Melihat suaminya melangkah pergi, Gizha pun menyusulnya.


~


"Kamu lihat.. kesalahan besar ibumu tidak bisa di selesaikan hanya dengan kata maaf bahkan kata tersebut juga tidak pernah keluar dari mulut kalian..!!" kata Bang Drajat.


Ratna melihat wajah Disha dengan tatapan tajam. "Betapa beruntungnya kamu dan kembaranmu karena bisa mendapatkan apa yang kamu mau tanpa harus bersusah payah. Pastinya kau hanya bisa menunjuk jika kamu menginginkan sesuatu.. tapi bagaimana dengan ku????? Jika aku tidak berjuang untuk hidup maka aku tidak akan mencapai bahagiaku."


"Itu tergantung pikiranmu Mbak Ratna. Bahagia itu berasal dari hatimu yang bersyukur dan tidak memaksa. Jujur aku dulu seperti dirimu, tapi kau tau.. teguran Tuhan menyadarkan ku bahwa di dunia ini kita harus hidup sesuai porsi hidup kita, lebih banyak bersyukur dan yang pasti.. akui salah jika kamu memang salah." ucap Disha kini lebih dewasa.


//


"Baaang..!!" Gizha terus mengejar ketertinggalan langkahnya dari Bang Erlang. "Ya sudah marah saja terus..!!" pekik Gizha kemudian menghentikan langkahnya.


Langkah kaki Bang Erlang ikut terhenti. "Pulanglah, Abang masih banyak pekerjaan..!!!"


"Ya sudah, Gizha pulang ke rumah Papa..!!" ancam Gizha.


"Duuuhh.. celaka." gumamnya. "Aku ini marah, bukannya di bujuk tapi kenapa malah aku yang harus membujuk..!!!!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2