Djiwa

Djiwa
7. Panas.


__ADS_3

Perlahan Bang Drajat mendekat. "Apa selama ini kamu tidak pernah dekat dengan laki-laki?"


Gizha gugup, ingin terus menghindar tapi tak bisa di lakukannya. "Pernah, tapi tidak sedekat ini. Ayah tidak mengijinkan dekat dengan laki-laki kecuali Abang-abang."


"Apa alasannya? Bukankah dekat dengan pria juga merupakan suatu pengalaman agar kamu mawas diri." Kata Bang Drajat.


Gizha sedikit mendorong dada Bang Drajat, tangannya sampai gemetar. Alasan pertama adalah pesan dari Disha bahwa pernikahan mereka hanya untuk sementara sampai kembarannya itu memutuskan bahwa kedua pria yang menjadi kekasihnya bukanlah pria yang tepat. Kedua adalah pesan sang Ayah agar seorang wanita harus bisa menjaga diri sampai benar-benar menemukan pria yang mencintainya.


"Jangan terlalu dekat begini Mas, nanti Gizha hamil." Kata Gizha.


"Haaahh.." Bang Drajat mengusap wajahnya dengan syok, ia hanya bisa menggaruk kepalanya kemudian menyandarkan keningnya di sisi kepala Gizha. "Kalau hamilnya sudah menikah ya nggak apa-apa donk dek." Bang Drajat kembali menatap Gizha.


"Jadi benar besok pagi Gizha sudah hamil Mas?"


"Beloooom.. Kamu juga belum di apa-apakan sama Mas." Jawab Bang Drajat stress sendiri dengan keluguan Gizha.


"Apa Mas, yang belum di apa-apakan?" Tanya Gizha.


"Kalau perempuan mau hamil, harus ada bantuan dari laki-laki. Hmm... seperti bunga, serbuk sari harus jatuh di kepala putik. Jadi Mas juga begitu, harus nyenggol putih biar jadi anak."


"Tapi dari tadi Mas nyenggol Gizha." Protes Gizha.


"Allahu Akbar.."


"Sebenarnya maksud Mas apa sih?? Dimana letak benang sari dan dimana letak putik????" Tanya Gizha.


"Benar mau Mas tunjukin???? Tapi janji.. jangan teriak dan jangan banyak bicara..!!" Pinta Bang Drajat.

__ADS_1


Gizha mengangguk karena terlihat belum memahami. Saat itu lalu Gizha merasa tangan Bang Drajat bergerak-gerak di bawah pusarnya kemudian tangan itu meraba pahanya hingga perlahan naik hingga nyaris menyentuh dompet pribadinya. Gizha pun menepis tangan Bang Drajat. "Nggak mauu, Mas mau apa pegang-pegang Gizha.?"


Bang Drajat sampai lemas menghadapi Gizha, di saat hasrat prianya menjulang tinggi. Gizha tak memahami rasa inginnya melepas gejolak yang tak tertahankan di dalam dada. "Gizhaa.. dengar Mas Ajat bicara..!! Mas Ajat suamimu dek, di saat seperti ini Mas sudah boleh melihat tubuhmu.. seutuhnya. Ini sudah menjadi batas kemampuan Mas menjaga pandangan dan kehormatan diri. Apa yang akan Mas lakukan hanya kita berdua saja yang tau. Mas Ajat mohon.. nurut sama Mas ya, Mas nggak akan menyakiti kamu..!!"


Awalnya tubuh Gizha masih kaku karena terlalu takut, tapi sentuhan lembut Bang Drajat menepis segala rasa takutnya bahkan ia tidak tau kapan segala yang melekat di tubuhnya terlepas begitu saja entah kemana.


Gizha tak berani bicara saat Bang Drajat melebarkan pahanya kemudian merangkak menindihnya hingga ada sesuatu yang bergesekan dengannya dan ia merasakan benda tak lazim menekannya.


"Aaaahh.. sakiiiiitt, ini apa Maass???" Pekik Gizha sampai kemudian menangis.


Bang Drajat begitu frustasi belum bisa menembus pertahanan tapi Gizha sudah menjerit kesakitan, seberapapun ingin dirinya untuk menyelesaikan hasrat tapi hatinya pun tidak tega. Ia pun menarik diri, bahkan mungkin seperdelapan bagian saja belum sempat menembus gerbang pertahanan.


"Kodrat perempuan itu hanya ada tiga. Datang bulan, hamil dan melahirkan. Dua lagi yang belum kamu rasakan. Mas minta maaf kalau untuk mendapatkan dua sisanya, mas harus menyakitimu. Gizha ikhlas khan Mas melakukannya? Mas hanya ingin melakukannya sama kamu, punya anak sama kamu." Bang Drajat menyentuhkan tangan Gizha pada tubuhnya.


Gizha pun merasakannya untuk pertama kali.


Ada rasa takut dalam hati Gizha tapi tangan itu akhirnya menyusuri tubuh Bang Drajat. Tangan halus itu menyentuh ujung rambut, wajah, telinga, leher, dada perut hingga kemudian tangan Bang Drajat kembali mengarahkan tangannya di satu titik, terdengar suara lenguh kecil dari bibir pria yang masih menindihnya.


Kini Bang Drajat balik melakukan hal yang sama hingga Gizha terbuai. Tanpa sadar Gizha pun merintih dan di saat yang sama, Bang Drajat kembali menekan tubuhnya.


"Maaaaaass..!! hhmmpphh..!!!!"


Bang Drajat membungkam Gizha sembari mencurahkan perasaannya.


...


Lenguhan panjang terdengar mengurai kelegaan yang tuntas dan lepas. Tempurung lutut Bang Drajat rasanya sudah kehilangan baut dan engsel saking lelahnya. 'Alhamdulillah'. Bang Drajat mengusap wajahnya masih merasakan sisa pertempuran, rasanya tak terungkapkan dan sungguh ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan.

__ADS_1


"Maas.. sudah apa belum? Badan Gizha capek, sakiit." Gizha sampai menangis karena tidak bisa bergerak.


"Iya dek. Sudah.. Mas juga sudah selesai." Bang Drajat menghujani Gizha dengan ciuman. "Terima kasih banyak, kamu mau menjaganya untuk Mas. Mas berharap si kecil kita akan segera hadir. Mas pengen banget punya anak."


"Memangnya Gizha belum hamil ya Mas?" Tanya Gizha.


Perlahan Bang Drajat mengangkat tubuhnya dan beranjak dari tubuh Gizha sambil menyambar tissue yang ada di dashboard. "Ya belum to Neng. Sabar...!!!" Jawab Bang Drajat juga dengan sabar.


Gizha menarik pakaiannya sambil melirik milik Bang Drajat yang tadi sempat membuatnya kalang kabut. Ia pun ikut mengambil tissue. Tiba-tiba dirinya teringat dengan Disha yang menitipkan Bang Drajat padanya.


"Maas, Gizha nggak pintar menyenangkan Mas ya?" Tanya Gizha.


"Kenapa tanya begitu? Mas juga belum jago buat kamu minta lagi sama Mas. Nanti kita ulang sama-sama. Semua itu naluri, nggak bisa di pelajari. Syaratnya hanya ikhlas, sayang dan setia." Jawab Bang Drajat.


"Mas, sungguhkah Mas akan mengenali tubuh Gizha? Gizha takut Mas tidak akan mengenalinya." Kata Gizha.


"Memangnya yang namanya Gizha ada berapa sampai Mas nggak kenal??" Tanya Bang Drajat sambil merapikan pakaiannya.


Gizha pun telah selesai memakai pakaiannya tapi raut wajahnya tiba-tiba sendu. Bang Drajat mengarahkan wajah Gizha padanya.


"Saat Mas tau rasanya, Mas sampai hampir gila menyelesaikannya sama kamu." Bang Drajat membuka gorden di mobilnya kemudian mematikan lampu mobil. "Mas rasa, hanya Mas yang tau setiap jengkal tubuhmu.. karena kamu milik Mas Drajat." Bang Drajat menyambar bibir Gizha dan kembali **********. Entah kenapa rasanya masih kurang mendekap gadisnya itu.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2