
Bang Drajat menggaruk kepalanya melihat Bang Erlang asyik menikmati kinde* *oy dengan santainya. Sahabatnya itu anteng tak melihat ke kanan dan ke kiri kemudian setelah habis tak bersisa segera melempar bungkus nya ke tong sampah.
Tak lama berselang Bang Erlang menikmati sebungkus telur gulung sampai peluhnya kembali bercucuran karena kepedasan.
"Sejak kapan kamu doyan telur gulung?" Tanya Bang Drajat.
"Sejak hari ini." Jawab Bang Erlang kemudian menyantap lagi telur gulungnya yang berwarna merah terang.
"Kau dulu selalu ribut kalau makan telur gulung pakai saos yang merah itu, katanya pakai pewarna tekstil sampai kamu hanya ambil kecap dan sambal saja." Ledek Bang Drajat mengingatkan sahabatnya.
"Kau bisa diam atau tidak, suaramu buat kepalaku sakit. Suaramu benar-benar buat aku emosi Jat..!!" Protes Bang Erlang kemudian menyantap tusukan terakhirnya.
"Kau ini kenapa sih sejak tadi anti melihatku?? Tau begitu badanmu itu kuseret sampai ke kebun jagung."
"Poooott.." teriak seorang pria yang juga adalah litting Bang Drajat dan Bang Erlang di Batalyon. "Kalian nanti malam mau ikut tangkap belut nggak?" Ajak Bang Bingar.
"Nggak." Tolak Bang Erlang mentah-mentah.
"Istriku nggak bisa di tinggal." Alasan Bang Drajat.
"Yaaaa.. disini kita harus usaha kalau mau makan ikan, mana jauh dari kota. Istri kalian khan hamil, pasti butuh gizi juga. Masa mau lu kasih makan tempe tahu melulu?? Itu juga kalau stok dari pasar ada." Jawab Bang Bingar panjang lebar.
Bang Erlang dan Bang Drajat saling menatap. Tentu saja mereka mengingat keadaan dua bumil di rumah.
"Yo wes, aku melu." Kata Bang Erlang.
"Aku juga."
Bang Erlang kembali melirik ke arah sahabatnya, ia menyimpan senyum dan berharap sahabatnya itu mau berjuang demi kelangsungan hidup keluarganya kelak.
-_-_-_-_-
"Gizha ikut donk Maas..!!"
"Jangan dek. Di sawah licin sekali. Abang takut kamu terpeleset." Kata Bang Erlang saat Gizha merengek ingin ikut ke sawah untuk mencari belut.
"Ikuuut Baaang..!!"
"Ya Allah Gustiii, sampai ono opo-opo bojomu iki ambyar dek." Emosi Bang Erlang terpancing tapi dirinya menahan diri menghadapi bumilnya yang mendadak rewel.
__ADS_1
Gizha menatap wajah Bang Erlang kemudian masuk ke dalam kamar. "Gizha mau pulang aja." Ucapnya terisak kemudian mengambil pakaiannya.
Bang Erlang menepuk dahinya kemudian membuang nafas panjang. "Yo wes, ayo berangkat..!! Tapi awas aja ya kalau sampai ada apa-apa, kecemplung di sawah.. Abang tinggal kamu di sawah..!!" Ancam Bang Erlang.
~
Pintu rumah Bang Erlang sudah terkunci, Bang Erlang pun menggandeng tangan Gizha menuruni anak tangga.
"Jangan ikut..!! Mas hanya cari belut..!!!" Terdengar suara Bang Drajat sedikit meninggi.
"Disha mau ikut Mas.. boleh ya..!!" Suara Disha juga terdengar merengek.
"Cepat jalannya..!! Kalau kakimu masuk lumpur, Mas tinggal kamu di sana." Ucap yang nyaris sama seperti Bang Erlang tadi.
Disha mengangguk meskipun wajahnya terlihat takut. Ia menoleh ke arah Gizha yang juga menatapnya.
"Ayo jalan..!!" Bang Erlang menarik tangan Gizha. Ia tidak mau Gizha terlalu dekat dengan Disha lagi sekalipun Disha adalah saudara kandung Gizha.
Gizha mengikuti langkah Bang Erlang dan menaiki motor matic menuju sawah. "Jangan buka kaki..!! Duduk miring saja. Pegangan ya..!!" Pinta Bang Erlang karena cemas sekali memikirkan kandungan Gizha.
Perlahan Gizha duduk dan memeluk Bang Erlang. Bang Erlang pun tersenyum penuh arti sambil melajukan motornya tak peduli dengan apapun yang akan di lakukan Bang Drajat dan Disha.
"Iya Bang."
"Nanti jangan jauh dari Abang. Disini banyak lembah dan bukit, kamu tau khan kita ini makhluk yang berdampingan dengan alam lain?" Ucap Bang Erlang.
"Iya Bang, Gizha ngerti." Jawabnya tapi kemudian Gizha merapatkan posisi duduknya dan lebih memeluk Gizha.
Bang Erlang pun merespon Gizha dan menyatukan kedua tangan Gizha lalu menggenggamnya dengan sebelah tangan.
"Dingin Bang." Kata Gizha.
"Yang ngeyel minta ikut siapa? Abang hanya keluar sebentar cari lauk buat makan besok, yaa kali anak Abang mau di kasih rebusan ubi jalar, daun singkong sama sawi melulu." Omel Bang Erlang. "Abang susah payah cari nafkah buat anak istri, biar nggak kelaparan, biar tenang hidup sama Abang."
Tangan Gizha terasa kaku dan dingin terkena angin malam. Bang Erlang mengarahkan tangan Gizha agar masuk memegang perutnya yang tertutup jaket.
"Sudah, di situ saja tangannya.. jangan kemana-mana. Bahaya..!!"
:
__ADS_1
Disha dan Gizha duduk saling menjauh. Agaknya saat ini para pria masih memiliki kecemasan sendiri sampai harus memberikan jarak yang entah kapan akan berakhir.
Bang Bingar melihat si kembar duduk dengan ponsel masing-masing. "Eehh.. kenapa ajak si kembar? Mereka pasti lelah menunggu kita menangkap belut."
"Kalau bisa kutinggal sudah dari tadi kutinggal. Istriku rewel sekali pengen ikut." Kata Bang Erlang tapi perhatiannya masih terfokus pada belut yang di tangkapnya.
"Istrimu juga nggak mau di tinggal Jat?" Tanya Bang Bingar.
"Ya sama saja seperti Erlang." Jawab Bang Drajat tapi pria tersebut terkesan cuek dan tidak memperhatikan 'istrinya'.
"Baang.."
"Dhalem.. kenapa dek?" Tanya Bang Erlang kemudian menatap Gizha yang memanggilnya.
"Gizha mau turun donk Bang..!!" Pinta Gizha namun belum mendapat jawaban apapun dari Bang Erlang, si cantik Gizha sudah meluncur.
Malam sunyi senyap tanpa cahaya yang memadai, kaki Gizha tersangkut akar pohon hingga setengah melayang dan jatuh ke arah Bang Erlang.
"Deekkk.. Awaaaas..!!!!!!!!" Dengan sigap Bang Erlang meraih dan mendekapnya.
ggrrpp..
Gizha mendarat sempurna dalam pelukan Bang Erlang. "Astagfirullah.. pulang..!!! Kok angel tuturane?? Abang bisa jantungan mikir kowe." Bentak Bang Erlang tanpa sengaja.
"Abang bentak Gizha???" Tanyanya dengan nada memelas.
"Astagfirullah.." Bang Erlang mengusap wajahnya. "Kowe ngopo iso dadi ngene deekk??? Rewel tenan to yooo..!!" Bang Erlang mengacak rambut Gizha saking gemasnya.
"Pengen pegang belut yang hidup." Kata Gizha lagi.
"Deehh.. pulang saja kalau mau pegang belut, punya Abang anteng, nggak blingsatan yo nggak resiko." Ajak Bang Erlang.
Tak jauh dari tempatnya, Bang Drajat hanya bisa memendam rasa panas dalam dada. Sekuat-kuatnya ia menekankan dalam hati. Gizha bukan miliknya lagi.
.
.
.
__ADS_1
.