Djiwa

Djiwa
9. Inginkan kamu bersamaku.


__ADS_3

Bang Drajat terdiam tapi dirinya tetap sibuk menyadarkan Gizha dan akhirnya Gizha terbangun.


"Alhamdulillah.." ucap syukur Bang Drajat.


Pandangan mata Disha datar dengan wajah sedihnya melihat perlakuan Bang Drajat pada Gizha.


"Saya sudah tau kalau yang datang menghadap pada saya bersama Drajat saat itu adalah Gizha. Maka saya mengarahkan Drajat untuk terus memanggil nama Gizha agar Drajat juga terbiasa." Kata Bang Katon.


"Kamu juga ceroboh Ton, tidak berunding dengan keluarga. Minimal dengan saya.. kamu anggap saya Abangmu atau tidak???" Tegur Bang Gumarang.


"Saya minta maaf Bang, saya salah."


"Tapi Disha hamil, lagipula Om Drajat bilang mau nikahin Disha." Kata Dhisa.


Begitu mendengarnya, Gizha kembali pingsan dan ambruk di dada Bang Drajat.


"Dek.. deekk.. sadar dek.." Bang Drajat mencoba menyadarkan Gizha.


"Aku hubungi Hardi dulu..!!" Bang Katon menghubungi juniornya di bagian kesehatan.


:


"Maaf Bang, Jat.. lebih baik di periksa di rumah sakit saja. Saya curiga Gizha hamil."


"Tuhankuuu.. apa-apaan ini. Kepalaku sakiit." Bang Gumarang memegangi kepalanya. "Itu anak siapa Jaatt???? Kamu makan dua-duanya???" Bang Gumarang menarik kaos Bang Drajat dan hendak melayangkan tinjunya.


Bang Drajat hanya memejamkan mata tanpa perlawanan tapi kemudian Gizha memeluk Bang Drajat.


"Jangan Bang.. jangan..!!!" Pintanya sampai menangis.


Bang Drajat membalas peluknya, kini ia menyadari perbedaan Gizha dan Disha.


"Sumpah tertinggiku adalah sumpah di atas kitab suciku. Aku.. Drajat Djiwa Pasopati hanya menyentuh istriku, istri sahku.. Argizha Maharani. Selain itu, aku tidak pernah menyentuh wanita lain. Soal kehamilan Disha, tolong Abang tanyakan sendiri pada yang bersangkutan.. dengan siapa dia berbuat." Ucap tegas seorang Letnan Drajat.


"Jadi kamu mengakui sudah melanggar perintah saya untuk tidak menyentuh Gizha??" Tanya Bang Katon.


"Iya, saya mengakui. Setelah menikah, malam itu juga saya mengga*li istri saya Gizha." Jawab Bang Drajat tidak ingin semakin membuat masalah baru.


"B******n, inilah hasil kalau kamu tidak bisa sabar." Kata Bang Katon.


"Apa Abang bisa sabar berada di posisi saya??? Gizha istri saya, saya nggak impo**n Bang. Masa istri nempel saya pura-pura nggak tau??"


"Iyaa.. iyaa Jat, saya juga laki-laki.. saya tau rasanya. Sudah jangan si bahas lagi. Besok kamu cek keadaan Gizha dan Disha ikut Bang Katon..!!" Perintah Bang Gumarang.


"Nggak mau..!!" Tolak Disha.


"Dishaaaa.." bentak Bang Gumarang.

__ADS_1


...


"Maaf Maaas.. Gizha salah."


Sebenarnya Bang Drajat sangat jengkel dengan keluguan Gizha. Memang pada akhirnya bukan Disha gadis yang sempat menarik perhatiannya dan menjadi istrinya namun ada ucap syukur juga di dalam hatinya karena bisa memperistri gadis seperti Gizha.


"Kenapa pikiranmu pendek?? Lihat apa yang sudah kamu buat?? Hatimu sakit sendiri lihat Mas berduaan dengan Disha. Bagaimana kalau tadi Mas khilaf dan sempat melakukannya. Kita semua masuk neraka dek. Mas jadi Zina seumur hidup."


Saat mendengarnya, Gizha kembali menangis hingga dadanya terasa sesak sampai terbanting lemas tanpa daya dan Bang Drajat menahannya kemudian membaringkannya perlahan. "Tapi Disha hamil Mas."


"Kamu yang buat ulah, kamu sendiri yang tidak kuat. Tau nggak bagaimana sakitnya hati Mas saat ini???" Nada suara Bang Drajat sedikit keras. "Perlukah Mas ulang.. Mas nggak pernah menyiram rahim wanita lain selain kamu."


Bang Drajat mengecup sayang bibir Gizha kemudian memeluknya di dalam satu selimut.


-_-_-_-_-


"Aaaaiisshh.. pingsan lagi..!!" Bang Drajat segera membawa Gizha masuk ke ruang UGD karena belum sampai ruang USG, Gizha sudah pingsan. "Mas.. tolong istri saya..!!" Pinta Bang Drajat pada seorang perawat pria.


"Pot, ada apa?? Siapa yang sakit??" Tanya liting Bang Drajat.


"Istriku pot, pingsan terus. Kemarin Bang Hardi mengarahkan aku untuk memeriksakan Gizha ke dokter kandungan." Jawab Bang Drajat.


"Oohh.. sini aku tangani..!!"


:


"Alhamdulillah." Berarti benar bahwa yang ada dalam kandungan Gizha adalah hasil kerja kerasnya mencangkul di ladang malam itu.


"Mamanya terlalu stress pot." Kata dokter.


Tak lama ada nomer asing memanggil pada ponsel Bang Drajat. Kening Bang Drajat berkerut sebab dirinya tidak mengenali nomer tersebut. Bang Drajat pun mengangkatnya.


"Kamu dimana Bang? Kenapa memblokir nomerku???" Terdengar suara seorang wanita di seberang sana.


"Aku sibuk."


"Aku sudah bawa berkas pengajuan nikah kita, kapan kamu bayar uang untuk mamaku?" Tanya Ratna.


"Ratna, kita harus bicara..!!"


...


Gizha menunggu Bang Drajat menemui seorang wanita yang ia sendiri pun tidak mengenalnya.


Terlihat perdebatan di antara keduanya dan Bang Drajat sampai menunjuk ke arah mobilnya yang berarti ke arah Gizha. Situasi semakin memanas, wanita itu sangat marah sampai melempar map berkas di hadapan Bang Drajat.


Gizha panik dan cemas melihat kemarahan wanita tersebut, ia pun segera keluar dari mobil.

__ADS_1


"Hhh.. itukah wanita selingkuhanmu??? Apa yang membuatmu sampai melupakanku????" Teriak Ratna.


"Gizha tidak pernah berteriak di hadapanku. Gizha tau kapan saatnya bermanja dan kapan saatnya aku bekerja. Aku juga butuh konsentrasi Ratna, kau tau profesiku.. hidupku tidak hanya masalah cinta. Jika aku sudah ada waktu.. pasti prioritas utamaku adalah belahan jiwaku." Kata Bang Drajat.


Ratna memegang tangan Bang Drajat. "Tapi aku cinta sama kamu Bang. Ayo kita nikah, aku janji akan berubah.. buang jauh-jauh Gizha dari hidupmu, aku akan jadi lebih baik dari Gizha."


Gizha tak tega melihat tangis Ratna, ia pun mengajak Ratna untuk duduk.


"Maafkan Gizha ya mbak Ratna. Sungguh Gizha tidak tau kalau Mas Drajat punya kekasih. Jika Gizha tau, Gizha tidak akan menikah dengan Mas Drajat." Ucap Gizha tapi malah membuat hati Bang Drajat terasa sangat nyeri.


"Nggak usah sok baik..!!" Ratna menepis tangan Gizha.


"Kembalilah ke mobil dek, ini tanggung jawab Mas menyelesaikan masalah. Nanti akan Mas jelaskan semua di rumah." Pinta Bang Drajat karena sudah memahami sifat Ratna.


Gizha berdiri perlahan, ia merasakan kepalanya masih terasa berat.


"Hati-hati sayang..!!"


"Aaarrghh.." Ratna sangat marah. "Apa sefatal itu salahku Bang????" Teriak Ratna.


"Egghh.. Maass..!!" Gizha menggeleng tak mampu berdiri, perutnya terasa kram.


"Kau benar-benar wanita yang memuakkan..!!!!" Tangan Ratna menyambar rambut Gizha dan menjambaknya. Bang Drajat panik dan memisahkan keduanya.


"Dasar kau pelakor..!!!" Pekik Ratna susah payah menjambak rambut Gizha.


"Ratnaaa.. cukup.. Gizha sedang hamil..!!!!"


Ratna terdiam sejenak, tangisnya pun meleleh. Ia melepaskan Gizha. "Bahkan kamu sampai bisa melakukannya bersama perempuan lain. Ratna mengambil gelas dan menghantamkan ke sisi meja. "Aku berharap bisa menjadi istrimu Mas, tapi kamu malah menghamili perempuan lain. Secepat itu kah hatimu berubah????" Ratna mengacungkan pecahan gelas tersebut mengarah pada Gizha.


"Jangan Ratna, aku yang salah..!! Jangan sakiti anak istriku.. please..!!" Pinta Bang Drajat membujuk Ratna.


"Aku nggak peduli.. dia menghancurkan bahagiakuuuu..!!!"


Jllbb..


"Maaass.." Gizha menatap mata Bang Drajat dengan tatapan nanarnya.


"Gizhaa.. Gizhaaa.. kamu baik-baik saja khan sayang??" Bang Drajat sampai gemetar ketakutan memeluk Gizha.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2