
"Darimana kalian???" tegur Bang Erlang melupakan saat ini posisinya berada di tengah banyaknya para anggota.
Rinjani yang sangat takut dengan Abangnya itu segera beralih ke belakang punggung Bang Girish.
Tau mungkin situasinya akan memanas, Bang Girish pun lebih protektif melindungi Rinjani.
"Saya mengajak Rinjani jalan-jalan Bang." Jawab Bang Girish.
"Kamu tau atau tidak hari ini saya ada syukuran buat anak. Kenapa kamu malah bawa Rinjani holiday??? Tanya Bang Erlang. Hatinya sudah lumayan geram karena Rinjani tidak menampakkan wajahnya dan malah bersembunyi di belakang punggung Bang Girish yang sudah berarti bahwa gadis itu 'mungkin' melakukan kesalahan.
Bang Drajat yang paham keadaan segera menghampiri iparnya. "Pot, ini acara anak kita. Tidak baik tarik urat begitu. Ini moment yang baik untuk mendo'akan para jagoan." bujuk Bang Drajat.
Mau tidak mau Bang Erlang menepikan urusan Bang Girish dan adiknya untuk melanjutkan acara aqiqah.
:
Rinjani sudah berganti pakaian dengan yang lebih sopan dan tertutup membuat Bang Girish terkesima menatap adik kandung Dankinya.
Bang Erlang dan Bang Drajat yang tengah berkeliling menggendong bayinya sudah berdiri di hadapan Bang Girish namun junior Bang Erlang tersebut seakan tak menggubris, Bang Erlang mengikuti arah pandang Bang Girish dan melihat titik bidikan matanya.
"Semprul.. bukannya lihat di Rambo malah lihat Rinjani." Gumam Bang Erlang sampai akhirnya menginjak kaki Bang Girish sekuatnya. "Mripatmu kuwi lho..!!"
"Siap salah Abang..!!" Bang Girish kelabakan bingung harus berbuat apa karena Bang Erlang dan Bang Drajat sudah menatapnya.
"Ambil guntingnya.. potong sedikit rambutnya..!!" kata Bang Drajat mengarahkan.
Bang Girish segera mengambil gunting kecil dan mengarahkan gunting tersebut ke arah rambut cepak Bang Erlang.
"Heeehh pekoookk.. rambut si Rambo, bukan rambut saya..!!" Bang Erlang sampai mencak-mencak menghadapi Bang Girish yang kehilangan konsentrasi. "Mikir apa sih kamu??? Kalau saat ini posisimu sedang di Medan perang pasti kamu sudah mati tertembak lebih dulu Girish..!! Bisa nggak kamu mengesampingkan urusan betina??? Betina itu fatal, buat segalanya berantakan."
__ADS_1
"Siap salah Bang."
Tak sadar ucap itu sudah mendapatkan lirikan maut dari Gizha dan Disha. Mereka yang notabene berasal dari ras 'betina' agaknya ikut tersinggung dengan ucapan Bang Erlang.
"Kalau betina terlalu mengganggu lebih baik Abang jangan nikah. Memangnya pejantan itu bukan makhluk pengganggu??" Gizha menyerahkan nampan yang ia bawa pada Prada Along lalu pergi meninggalkan Bang Erlang.
Disha yang kesal akhirnya ikut menyerahkan nampannya pada ajudan Bang Drajat.
"Mulut lagi mulut lagiii.. mulutmu itu di atur sedikit lah Lang..!! Masa acara besar begini kita harus ribut sama bini. Kau itu seharusnya dapat anak perempuan saja yang mulutnya mirip bapaknya, lamis.. lambe lancip lu." gerutu Bang Drajat.
"Ini semua gara-gara Girish..!!" gumam Bang Erlang balik menyalahkan Bang Girish.
"Siap salah." hanya itu saja yang bisa di jawabnya.
:
Acara memotong rambut sudah selesai. Dari kejauhan Rinjani melihat beberapa orang ibu-ibu sedang mendekati tempurung kelapa berisi bedak bayi. Mereka sedikit mencolek lalu mengusap bedak tersebut di perut.
Karena merasa penasaran Rinjani ikut mendekat dan mencolek bedak tersebut dan mengikuti gaya para ibu yang mengusap ke perutnya.
"Oohh Bu Girish juga mau pakai ya..!! Persiapan supaya cepat dapat momongan ya Bu?" tanya salah seorang ibu disana.
Rinjani cukup terkejut mendengarnya, ia hanya tersenyum kecut karena baru tau perkara 'tidak masuk akal' itu.
"Hmm.. Ii_ya Bu." jawab Rinjani daripada semakin malu berada di tengah kerumunan ibu-ibu.
"Nanti di bagi untuk Pak Girish juga Bu. Kata orang lebih manjur. Ayo saya antar ke Pak Girish..!!"
Rinjani bingung bagaimana caranya menolak apalagi ibu tersebut sudah menggandeng tangannya berjalan ke tempat Bang Girish.
__ADS_1
"Permisi Pak Girish." sapa Ibu tersebut saat Bang Girish sedang menyantap gule kambing.
"Iya Bu. Bagaimana?" Bang Girish masih mengunyah makanan tapi sudah sempat mengusap bibirnya dengan tissue.
"Ini Ibu mau kasih bedak bayi untuk Pak Girish, biar setelah menikah nanti bapak dan ibu cepat dapat momongan." kata ibu yang agaknya memang sedikit sok tau dengan segala tingkah kepo nya.
Rinjani menundukkan wajahnya tertutup jilbab segitiga, terlihat sangat cantik. Bang Girish melihat di tangan gadis itu masih menggenggam bedak yang di ributkan ibu yang masih berdiri di samping Rinjani.
"Oohh begitu ya. Ya sudah segala tujuan yang baik pasti akan berjalan menjadi baik. Mana bedaknya..!!" Bang Girish membuka telapak tangannya dan Rinjani menyerahkan serbuk bedak di tangan Bang Girish. "Bismillah.. mudah-mudahan setelah nikah nanti kita cepat dapat momongan ya dek. Sholeh dan Sholehah saya terima dengan ikhlas." Do'a Bang Girish saat itu.
Tangannya mengusap bedak tersebut di perutnya dengan senyum penuh arti.
"Sudah.. bulan depan jadi." canda nya dan mendapat tawa riuh dari para anggota nya.
Rinjani salah tingkah, pipinya memerah. Bang Girish pun akhirnya ikut salah tingkah.
'Acara apa sih ini? jantungku bisa nggak aman terus dekat sama Rinjani, tapi kalau coba bicara dengan Bang Erlang sekarang memang harus siapkan mental sekuat baja. Salah bicara aku bisa lebur di hajar Bang Erlang.'
Jauh disana Bang Erlang dan Bang Drajat tidak tau apa yang terjadi.
"Ada apa sih Jat, ramai sekali?"
"Mana ku tau aku lagi momong anak." jawab Bang Drajat sambil menyodorkan botol susu pada bayi kecilnya.
.
.
.
__ADS_1
.