Djiwa

Djiwa
24. Meredakan amarah.


__ADS_3

Meskipun hati Bang Erlang begitu kesal namun rasa tidak teganya jauh lebih besar, ia sadari mungkin jabang bayi yang ada dalam kandungan sedang ingin bermain-main dengan sang Papa.


"Ya sudah ayo, tapi pelan-pelan jalannya ya..!! Lumpurnya licin." Suara Bang Erlang terhalang rokok di bibirnya.


Bang Drajat menoleh ke arah Disha yang hanya diam saja menoleh ke arah Gizha dan Bang Erlang.


"Kamu mau turun juga?" Tanya Bang Drajat meskipun nadanya belum bisa lembut pada Disha.


Dhisa menggeleng tapi kemudian Bang Drajat mengulurkan tangannya. Raut wajah takut Disha akhirnya membuat hati Bang Drajat lemah dan tidak tega juga.


"Ayoo..!!" Ajaknya mengulang lagi.


Disha pun menyambut uluran tangan Bang Drajat.


:


Kedua ibu Danton bahagia sekali duduk dan bermain lumpur di tepi sawah namun keceriaan itu sekaligus membuat Pak Danton was-was cemas, perhatiannya terpecah untuk mencari belut juga memperhatikan Bu Danton.


Gizha senang sekali berinteraksi dengan alam terbuka hingga tanpa sadar kakinya terperosok ke sawah dan hampir terjungkal lagi, beruntung saat itu posisi Bang Drajat lebih dekat dengan Gizha, tangannya sigap menahan tubuh Gizha.


"Kamu nggak apa-apa dek? Ada yang sakit?" Tanya Bang Drajat dengan nada cemasnya. Perhatian itu seakan menunjukan bahwasanya dirinya masih sangat menyayangi dan mencintai Gizha namun si saat yang sama tatapan mata Gizha pun sarat akan makna.


Bang Erlang yang melihat kejadian itu segera menghampiri dan menyingkirkan tangan Bang Drajat yang masih mendekap istrinya.


"Nanti aku yang tangani..!!" Jawab Bang Erlang tenang tapi jelas sekali nada itu menunjukkan pertahanan dan kepemilikan atas diri Gizha.


"Iya maaf.. aku hanya refleks membantu Gizha." Bang Drajat pun menghindar.


Bang Erlang melirik embernya sudah banyak terisi belut, ia pun mengajak Gizha untuk pulang.


...


"Abang marah ya sama Gizha?" Tanya Gizha merasa raut wajah Bang Erlang sangat masam sejak kembali dari sawah tadi.


"Nggak." Jawabnya sambil membantu Gizha menaiki anak tangga kayu menuju rumah usai membersihkan diri di sungai.


"Kalau nggak kenapa wajahnya terlihat marah??" Tanya Gizha lagi.


"Cepat tidur dan jangan tanya lagi..!!" Jawab Bang Erlang yang sebenarnya ingin menjaga perasaan Gizha.


"Abang marah karena Mas Drajat bantu Gizha?"


Pertanyaan Gizha itu malah semakin menggugah amarah Bang Erlang yang sejatinya sudah ia pendam jauh di dalam hati. Tanpa sadar ia terlalu erat menggenggam jemari Gizha.


"Aaawwhhh.. sakit Bang?"


Bang Erlang segera melepaskan genggaman tangannya. "Tidurlah..!!" Setelah mengunci pintu belakang, Bang Erlang segera pergi meninggalkan rumah.


***


Pagi ini Bang Erlang masih saja bersikap dingin pada Gizha dan hal ini membuat Gizha menjadi tidak enak hati. Samar teringat bayang senyum Bang Drajat yang dulu pernah menghias harinya.


Hidangan pagi ini sederhana saja, ubi dan singkong terhidang di atas meja plus kopi hangat. Tempat mereka yang jauh dari kota dan keramaian.

__ADS_1


"Kenapa nggak buat susu juga? Bukannya kemarin Abang belikan?" Tanya Bang Erlang karena tidak ada susu ibu hamil untuk Gizha. Raut wajahnya terlihat tegas dan garang.


"Nan_ti Gizha buat Bang." Jawab Gizha.


Bang Erlang segera berdiri, ia mencari susu di lemari khusus persediaan bahan makanan dan mencari susu untuk Gizha tapi tak di temukannya disana. Bang Erlang bergeser menuju lemari es tapi juga tak di temukannya susu ibu hamil tersebut.


"Dimana kamu simpan susunya?"


Gizha memainkan jemarinya dengan gelisah.


"Tumpah?" Tanya Bang Erlang lagi.


"Susunya Gizha berikan ke Disha. Bayinya butuh gizi Bang."


Bang Erlang menatap kesal pada istrinya itu. "Apa hanya anaknya yang butuh gizi??? Anakku juga butuh gizi dek. Kehamilan Disha sudah menjadi urusan dan tanggung jawab Drajat. Untuk apa kamu ikut campur dan bertemu dia saat Abang kerja????" Tegur keras Bang Erlang. "Kamu dia saja di dalam rumah, jangan banyak beraktivitas..!!"


Daripada amarahnya semakin menjadi, Bang Erlang pun meninggalkan Gizha yang masih terpaku ketakutan.


...


Bang Erlang mengusap wajah duduk di kantin kantor. Batinnya mulai tertekan oleh keadaan. Dari tatapan Gizha semalam, ia sungguh bisa merasakan bahwa sosok Drajat masih lekat erat di dalam hati Gizha.


'Gizha.. berat sekali mencintamu dek.'


Begitu tertekannya perasaan Bang Erlang, dirinya sampai bersandar sesak di bilik bambu milik Bu kantin.


"Lho Pak Erlang?? Nggak ada kegiatan Pak?" Tanya Ibu kantin.


"Ada Bu, tapi pikiran saya sedang semrawut. Nggak konsentrasi kerja. Biar saya ngopi sebentar, saya tidak mau membawa masalah apapun di kantor apalagi sampai di rumah. Kasian si jabang bayi Bu." Jawab Bang Erlang.


-_-_-_-_-


Sore di jam pulang kerja, Gizha baru saja membersihkan halaman depan rumah dan mencuci tangan di sungai yang melintas di bawah rumah.


Rumah Letnan Erlangga memang terlihat cantik dan sejuk karena Gizha sangat suka dengan kebersihan dan keindahan berbeda dengan istri Letnan Drajat yang hanya suka menyapu halaman tanpa banyak menata apapun karena jarang keluar dari dalam rumah.


Merasa sudah sangat lelah, Gizha pun masuk ke dalam rumah dan menaiki anak tangga, ia tidak menyadari pijakannya tidak sempurna, anak tangga kayu tersebut patah hingga tidak sengaja membuatnya nyaris terjungkal.


Ggrrpp..


"Baaang..!!" Gizha mengira yang menahan tubuhnya adalah Bang Erlang namun ternyata ia salah, yang menahan tubuhnya adalah Bang Drajat.


"Kamu nggak apa-apa dek? Ada yang sakit?" Perhatian itu masih sama seperti saat mereka masih bersama. "Mas bantu masuk ke dalam rumah ya..!!" Ucap Bang Drajat karena terlalu cemas.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatapnya, ia pun menunduk menahan tangis sedangkan di saat yang sama motor Bang Erlang baru saja terparkir. Bang Erlang segera menghampiri Bang Drajat dan Gizha.


"Kamu masih mencuri kesempatan di belakangku??" Tegur Bang Erlang.


Ini tidak seperti yang kamu lihat Lang.." kata Bang Drajat.


Masuk kamu dek..!!" Perintah Bang Erlang pada Gizha yang terpaku cemas.


"Baang.. Gizhaa....."

__ADS_1


"Masuukk..!!!!!!!!" Bentak Bang Erlang tak mampu lagi menahan emosi.


"Kamu jangan memarahi Gizha.. aku yang salah."


Sungguh saat itu Bang Erlang kalap, Letnan dua itu sampai mencabut pistol dari seragamnya, secepatnya Gizha menarik tangan Bang Erlang.


"Jangan Bang..!!!" Cegah Gizha. "Mas, tolong menjauhlah dulu, biar Gizha tenangkan Bang Erlang..!!!"


"Tapi dek..!!!" Bang Drajat sangat cemas jika harus meninggalkan Gizha.


"Percayalah Mas, Gizha sangat mengenal Bang Erlang..!!" Ucap Gizha.


Secepatnya Bang Drajat meninggalkan tempat dan pulang ke rumah.


"B*****t kau Drajat..!!!!" Bang Erlang masih mengamuk bagai orang kerasukan.


"Baaang..!!" Gizha meraih tangan Bang Erlang.


"Sebegitu dalamkah cintamu untuk Drajat???? Apa kamu terngiang-ngiang segala perlakuan lembutnya?? Bagaimana gagahnya?? Kamu ingin kembali bersamanya??? Apa kamu mau bersamaku karena anakku sudah terlanjur ada di dalam rahim mu???" Tanya Bang Erlang, baru kali ini dirinya mengungkapkan sakit di dalam hatinya. Bang Erlang menepis tangan Gizha dengan kasar. "Kamu menyelamatkan Drajat. Kembalilah kalau kamu ingin bersamanya..!!!!" Suara Bang Erlang masih meninggi penuh emosi.


Secepatnya Gizha memeluk Bang Erlang dengan erat namun Bang Erlang menolaknya. Gizha tak patah arang dan tetap mencoba memeluknya. Amarahnya memuncak, Bang Erlang sampai menendang salah satu tiang penyangga teras rumah hingga ambruk, untung saja tiang tersebut tidak menimpa dirinya dan Gizha.


Tau amarah sang suami begitu sulit di kendalikan, Gizha pun berjinjit dan mengecup bibir Bang Erlang yang masih pekat bau asap rokok. "Gizha nggak bohong, tadi Gizha mau jatuh.. Bang Drajat yang menolong."


Bang Erlang memalingkan wajahnya.


"Gizha hanya cinta sama Letnan Erlangga. Nggak ada yang lain, lagipula kenapa sih uring-uringan??" Gizha mengarahkan wajah Bang Erlang agar menatapnya.


"Ini soal harga diri." Jawab Bang Erlang.


"Oohh begitu ya." Ghiza berdiri sempurna dan membuka kancing seragam Bang Erlang, mengangkat kaos lorengnya lalu meraba perut sixpack sampai dada bidangnya, tak sampai situ saja.. tangan Gizha turun di tempat tak semestinya. "Apa masih ada harganya di depan Gizha?"


Secepatnya Bang Erlang mencekal tangan Gizha. "Jangan begini, kita tidak bisa ceroboh bermain-main..!!"


"Yakiiinn??" Gizha menatap mata Bang Erlang.


Bang Erlang menoleh kesana kemari melihat keadaan sekitar. "Jangan bercanda dek..!!" Bang Erlang mendorong Gizha masuk ke dalam rumah dan menguncinya, terang saja dirinya tidak ingin ada pria lain yang memandang tubuh Gizha.


"Kalau nggak di sayang Abang, Gizha di sayang siapa?" Tanya Gizha dengan nada manjanya lalu membuka kancing pakaiannya kemudian mengalungkan kedua tangan di belakang tengkuk Bang Erlang.


Mata Bang Erlang melirik ke arah kembar menggemaskan yang membuat batinnya berperang hebat, tubuhnya mendadak panas dingin.


"Kamu keterlaluan sekali. Niat banget nyiksa Abang, kamu khan tau Abang sedang 'puasa'."


"Oohh.. ya sudah kalau nggak mau." Kata Gizha kemudian menghindari Bang Erlang.


"Deeekk.. sayaang..!!" Bang Erlang melupakan kejadian tadi dan hanya terfokus pada tubuh Gizha yang berjalan berlenggak-lenggok di depan matanya. "Tobat tenan musuh bojo. Ojo ngono to dek...!! Iki open-openanmu njaluk nuthul. ( Jangan begitu donk dek. Ini peliharaan mu minta nyenggol. )"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2