
Mata Gizha dan Rinjani saling bertatapan. Gizha pun mendongak menatap Bang Erlang dari kursi rodanya.
"Siapa dia? Mantan Abang??" Tanya Gizha memastikan.
Baru mulut Bang Erlang akan menjawab, Rinjani yang bersuara.
"Iya.. Bang Erlang mendorongku agar tidak bertemu denganmu..!!!" Kata Rinjani dengan usilnya.
Gizha lumayan syok mendengarnya.
"Rinjaniiiiiiii..!!!!!!!" Papa Erky dan Bang Erlang menyambar ucap Rinjani yang sungguh membahayakan.
"Makanya.. duit dulu..!!" Pinta Rinjani kemudian.
Papa Erky segera membantu putrinya karena pasti tidak ada ajudan yang berani membantu keluarga Pak Rojaz dan Pak Musa.
Bang Erlang mendekati Bang Girish. "Pinjam uangmu lima ratus ribu. Biarkan dia pergi, saya bisa bertengkar sama istri kalau begini caranya."
"Siap Abang, hmm.. Rinjani itu adik kandung Abang ya?" Tanya Bang Girish sambil mengeluarkan dompet dari sakunya dan mengambil uang dari dompet tersebut.
"Iya.. kamu mau gantikan saya momong Rinjani???" Ucap Bang Erlang asal bersuara.
Bang Girish hanya menjawabnya dengan senyum yang sulit di artikan.
"Sini..!!! makanya salim sama Abang. Datang kesini malah buat ulah. Mbak Gizha jadi stress lihat ulahmu." Bang Erlang kembali menyodorkan tangan saat Rinjani mendekat padanya namun gadis itu malah bersalaman dengan Gizha.
"Maaf ya Mbak Gizha." Kata Rinjani.
"Eaaalaah.. semprul tenan arek iki." Gerutu Bang Erlang dan setelah itu mencium punggung tangan Bang Erlang ala kadarnya. "Berikan dulu uangnya, biar cepat pergi nih makhluk Tuhan."
Bang Girish menyodorkan uang tersebut tapi kemudian dengan paras wajahnya yang dingin, Bang Girish menekuk jarinya dan begitu berulang-ulang hingga Rinjani menjadi jengkel.
"Baang Er..!!!!"
Bang Girish tetap memasang wajah kaku dan datar, ia menyulut rokoknya lalu mengibaskan uang lima ratus ribu rupiah di belakang punggungnya. Refleks Rinjani mengikutinya.
"Apa maksudnya?? Laki-laki menyebalkan..!!!" Rinjani hendak mengambilnya tapi Bang Girish mengarahkan uang tersebut di tengah lekuk gesper ikat pinggangnya.
"Ambil kalau berani..!!" Tantang Bang Girish dengan santai.
Seluruh keluarga termasuk ajudan bahkan Gizha dan Bang Erlang pun ternganga.
"Apa Rinjani dan Om Girish saling kenal?" Tanya Gizha.
"Nggak.. tapi ini pertama kalinya Girish berani menggoda perempuan di hadapanku dan yang dia goda adik perempuanku. Cari mati dia rupanya." Jawab Bang Erlang.
"Apa salahnya Bang?"
"Salah, Girish itu dingin.. nggak cocok sama Rinjani yang banyak tingkah." Kata Bang Erlang belum melepaskan pandangan dari junior dan adik perempuannya.
"Berkaca lah pada diri sendiri Bang..!! Bagaimana kita dulu???"
__ADS_1
Bang Erlang menatap wajah Gizha. Memang benar, nyaris seperti itulah keadaan mereka dulu.
"Angkat Gizha sampai kamar..!! Hukuman buat Abang yang bilang Gizha banyak tingkah..!!" Pinta Gizha menyadarkan lamunan Bang Erlang.
"Siaaapp..!!!"
Bang Erlang pun mengangkat tubuh Gizha tapi saat itu dirinya tak lagi melihat Mamanya. Dirinya yang memang tidak peduli lagi dengan sang Mama langsung berjalan pergi.
~
Gizha merintih merasakan sakit saat Bang Erlang merebahkan tubuhnya padahal suaminya itu sudah sangat lembut memperlakukan dirinya.
"Mama dimana Bang?" Tanya Gizha.
"Pikirkan kesehatanmu.. jangan pikirkan orang lain..!!" Jawab Bang Erlang.
"Mama bukan orang lain Bang."
"Seorang ibu tidak akan mencelakai anak, menantu dan cucunya..!!" Kata Bang Erlang langsung emosi dan tanpa sengaja membentak Gizha.
Tau ada ucapannya yang salah, Bang Erlang pun langsung memeluk Gizha yang sempat tersentak kaget. "Abang minta maaf, tapi tolong jangan sebut tentang ibu lagi di hadapan Abang..!! Segala tentang ibu terlalu menyakitkan..!!"
Gizha mengangguk tak ingin lagi berdebat yang memancing amarah Bang Erlang.
Papa Erky pun sampai tak sanggup bicara apapun. Mungkin hanya yang mengalami saja yang mampu merasakan rasa sakit itu.
...
"Gantengnya anak Papa.. mirip sekali ya sama Papa." Gumamnya sembari memainkan jemari kecil imut berbobot nyaris empat kilogram. "Cepat besar, kita tontangkas..!!"
braaaakk..
"Dantoooonn..!!!!!!!" Teriak Prada Along.
"Astagfirullah.. Alooong..!!!!!!" Suara Bang Erlang tak kalah kencangnya.
Seketika suara tangis bayinya membahana di seluruh ruang rawat Gizha, Gizha pun terperanjat sampai kembali merintih kesakitan.
"Ada apa kamu teriak begitu..!!!!!" Tegur Bang Erlang kemudian menenangkan bayi kecilnya tapi dirinya juga kebingungan karena Gizha terbaring lemah.
Ayah Rojaz dan Papa Erky berlari. Melihat cucunya menangis, Papa Erky segera menggendong cucunya. "Uusshh sayaaang.. ini Opa nak..!!"
Bang Erlang langsung terfokus pada Gizha dan mengusap perut bawahnya. "Ada apa?" Tanyanya merespon Prada Along.
"Ijin Dan, Ibu Danton mengalami kecelakaan dan saat ini berada di Unit gawat darurat." Jawab Prada Along.
Sejenak Bang Erlang memejamkan matanya. "Biar saja.."
"Erlang.. seburuk apapun keadaannya, wanita itu tetap ibumu. Ibu yang melahirkanmu. Kamu lihat sendiri khan bagaimana perjuangan Gizha? Seperti itulah ibumu melahirkan kamu ke dunia ini." Nasihat Papa Erky.
"Abaang.. pergilah dulu lihat Mama..!!" Kata Gizha tapi hati Bang Erlang tidak tega melihat Gizha kesakitan.
__ADS_1
"Kamu bagaimana?"
"Ada Ayah. Abang tenang saja." Jawab Gizha meyakinkan.
Bang Erlang melirik Rinjani yang terdiam saja padahal dirinya pun sama terkejutnya saat mendengar teriakan Prada Along.
"Ayo temui Mama..!!" Ajak Bang Erlang.
"Nggak mau." Tolak Rinjani mentah-mentah.
"Ayo.. Jangan sampai Abang menamparmu Rinjani..!!" Ancam Bang Erlang.
Rinjani pun berdiri dengan menekuk wajahnya kemudian membuntuti langkah Bang Erlang.
"Girish.. kamu ikut saya..!!" Perintah Bang Erlang.
"Siap Bang." Bang Girish berjalan tepat di belakang Rinjani.
~
Sesampainya di ruang ICU, hanya ada dua orang saja yang boleh masuk, maka Bang Girish memilih menunggu di depan pintu.
Ruang ICU yang sangat steril dengan bunyi peralatan medis yang sama sekali tidak di mengerti Bang Erlang dan Rinjani.
Hati Bang Erlang teriris nyeri tapi sungguh ada sisi hati yang tidak bisa di bohongi, luka yang telah di torehkan sang Mama begitu menyakitkan.
Tangan Mama berusaha menggapai Bang Erlang dan akhirnya Bang Erlang menyambutnya. "Maafkan Mama. Mama memang salah. Kelak, jika ada kesempatan hidup untuk kedua kalinya, Mama akan memperbaiki diri dan menebus seluruh kesalahan Mama pada kalian."
"Jangan banyak bicara..!!" Kata Bang Erlang.
"Mama harus bicara. Mungkin ini pinta terakhir Mama.. sekali saja, aku ingin kalian memanggilku Mama..!!" Pinta Mama sembari menggenggamkan sesuatu di tangan Bang Erlang.
Beberapa saat Mama menunggu, matanya terus menatap Bang Erlang tapi rasanya Bang Erlang enggan mengucapnya bahkan Rinjani pun menjauh menahan tangis hingga mata tersebut tak lagi berkedip dan tangannya merenggang.
"Maa..!!" Sapa Rinjani dengan suara berat.
Bang Erlang menggeser tangannya dan ternyata sang Mama telah tiada.
"Mamaaaaaaaaaa..!!!!!!" Pekik Rinjani mengagetkan Bang Girish. Melihat Rinjani histeris, Bang Girish menerobos masuk.
"Rinjanii.. tenang dek..!!" Bang Girish mencoba membujuk Rinjani tapi saat Bang Erlang menyatukan kedua tangan Mama dan mengusap wajahnya, tangis histeris Rinjani semakin menjadi.
"Mamaaaaaa.. Mamaa jahaaaaat..!!! Aku mau Mamaaaaaa...!!!!!!" Teriak Rinjani pilu.
Refleks Bang Girish memeluknya. Entah kenapa hatinya begitu tidak tega melihat Rinjani.
.
.
.
__ADS_1
.