Dokterku Jodohku

Dokterku Jodohku
Ketampanan Dokter Jae


__ADS_3

Seusai bertemu dengan dokter Jae di rumah sakit, Jevan langsung mengantarkanku pulang ke apartemen. Sepanjang perjalanan pulang aku selalu memikirkan perkataan yang dikatakan oleh dokter Jae. Katanya dia akan mengajakku ke suatu tempat yang seharusnya aku kunjungi jika masih berada di Korea. Aku sudah mengatakan semuanya pada ibuku, dan ibuku menyetujuinya. Ibuku bilang tidak apa-apa jika aku pergi dengan dokter Jae, malahan dia sangat senang.


Hari ini aku akan menunggu dokter di apartemen, karena dia telah mengirimiku pesan, kalau dia akan menjemputku. Dokter Jae juga bilang setelah dia mencoba makanan yang diberikan oleh ibuku, dia sangat menyukainya. Sama halnya dengan Mina, dia juga mengatakan akan berkunjung ke Indonesia karena disebabkan oleh makanan yang telah mereka coba.


“Bu, hari ini dokter Jae ingin mengajakku keluar. Boleh tidak?” Tanyaku.


“Dokter Jae? Tumben sekali, tentu boleh lah.” Jawab ibuku senang.


“Benar ya?” Tanyaku lagi.


“Iya, Yuri. Ibu malah senang kamu bisa akrab dengannya.” Tutur ibuku.


“Soal makanan yang ibu berikan bagaimana?” Tanya ibuku.


“Oh iya, katanya dia sangat menyukai masakan yang ibu buat. Sangat lezat dan membuat lidah dokter Jae ketagihan katanya hahah...” Jelasku.


“Wah... baguslah, ibu senang mendengarnya.” Jawab ibuku senang.


“Malahan ya, bu. Dia sama saja seperti Mina, katanya mau datang ke Indonesia untuk mencicipi makanan disana hahah...” Kataku sambil tertawa.


“Hah? Benarkah? Lucu sekali sih hahah...” Sahut ibuku.


“Kalian mau pergi jam berapa?” Tanya ibuku lagi.


“Mungkin sebentar lagi dia datang, aku sudah mengirim alamatnya.” Jelasku.


“Baiklah, ya sudah kamu siap-siap saja.” Kata ibuku.


“Sudah bu.” Jawabku.


“Sudah? Masa kamu berpakaian seperti ini?” Tanya ibuku.


“Ibu, Yuri tidak mau berlebihan tahu. Biasa saja, ini kan diriku sendiri, bukan orang lain.” Jawabku.


“Ya sudah terserah kamu saja.” Jawab ibuku singkat.


...


Aku adalah tipe orang yang memang malas untuk memoles diriku sendiri. Aku tidak seperti gadis-gadis cantik pada umumnya, aku cenderung memiliki sifat yang simple dan tidak ingin terlalu menunjukkan kelebihan pada orang lain. Bersikap santai dan bodo amat adalah andalanku. Jika gadis-gadis cantik di luar sana sangat menyukai pakaian yang feminim, mengenakan dress, menggunakan hight hills, maka aku akan menggunakan pakaian casual santai dengan perpaduan sneakers favoritku. Terlebih lagi saat dulu aku masih sakit parah, aku tidak peduli lagi dengan penampilanku yang dapat dilihat oleh orang lain. Sekarang aku juga demikian hehe.


Saat ini aku sedang menunggu dokter Jae di ruang tamu, kata dokter Jae dia akan menjemputku di apartemen dan sebelumnya aku juga sudah membagi lokasiku pada dokter. Dia bilang akan segera meluncur jika dia sudah memberikan penanganan pada pasiennya. Sesungguhnya aku sudah menawarkan beberapa penawaran padanya kalau tidak usah repot-repot menjemputku di sini. Tapi dokter Jae bilang dia ingin menjemputku sekaligus ingin memberikan ucapan terima kasih kepada ibuku karena telah memberikan dan membuatkan masakan untuknya di hari kemarin. Ya sudah, aku hanya bisa meng-iyakan hal itu.


Aku sudah lama bersiap-siap menunggu kedatangan dokter Jae, namun tampaknya dia belum juga datang. Aku sudah melakukan ini dan itu, berguling ke sana kemari, namun dokter belum juga datang sehingga aku memutuskan untuk menonton drama korea kesayanganku daripada tidak ada kerjaan. Kali ini sangat berbeda, biasanya aku menonton drama korea itu sangat menghayati dan menikmatinya, namun sekarang tidak demikian. Aku merasa tidak ada yang masuk ke pikiranku, seperti kosong hehe. Akhirnya aku memutuskan untuk menonton variety show yang dibintangi oleh idolaku, siapa lagi kalau bukan NCT, apalagi disana ada Jaehyun. Aku merasa terbang di angkasa, bertemu awan-awan yang cantik nan lembut, banyak bunga-bunga, bahkan menonton saja rasanya aku sangat senang seperti diberi uang banyak, sambil tersenyum malu, tertawa dan sebagainya. Banyak ekspresi yang aku keluarkan saat menonton mereka semua, kata ibuku saja aku sudah seperti orang gila. Kalian pernah tidak sih, merasakan rasa senang yang berlebihan ketika menonton idola kalian? Ibuku bilang kalau aku seperti itu.


“Yuri, kamu sudah gila ya nak?” Tanya ibuku.


“Ibu... seperti tidak kenal aku saja hehe...” Kataku sambil tersenyum lebar.


“Kamu itu seperti dirasuki oleh hantu gila. Ibu jadi takut melihatnya.” Tutur ibuku.


“Ibu mau tahu aku kenapa?”


“Apa sih?”


“Coba sini.” Kataku.


Aku langsung memberikan ponselku pada ibu, dan ibuku langsung menggelengkan kepalanya.


“Kamu ini ada-ada saja. Cuma menonton ini saja sudah seperti orang gila.” Kata ibuku.


“Lihat, bu. Lihat. Ini calon menantu ibu.” Kataku sambil menunjuk Jaehyun.


“Ahahah... Yuri... ayo bangun, nak. Sudah siang.” Jawab ibuku.


“Ibu... tidak asik ah.” Sahutku malas.


“Ya sudah, kapan kita bisa bertemu dengannya?” Tanya ibuku.

__ADS_1


“Hahah... secepatnya ya, bu? Nanti ku hubungi dia. Masalahnya Jaehyun sangat sibuk bekerja, terkadang dia tidak membalas pesanku.” Tuturku.


“Baiklah, halusinasi saja terus.” Kata ibuku.


“Hehe...”


“Tapi tunggu, nak. Bukankah menurutmu Jaehyun itu mirip dengan seseorang yang kita kenal?” Tanya ibuku.


“Siapa coba?” Tanya lagi.


“Mirip dengan dokter Jae bukan? Apa hanya firasat ibu saja?” Tanya ibuku lagi.


“Iya sih, bu. Yuri juga merasa begitu.” Sahutku.


“Atau jangan-jangan, dia memang Jaehyun?” Tanya ibuku histeris.


“Ibu kenapa sih? Mulai gila hahah... ya tidak lah bu.” Jawabku.


“Iya yah, mungkin hanya kebetulan saja, sudahlah.” Tutur ibuku.


Asiknya aku dan ibu mengobrol, tidak sengaja aku mendengar bel apartemen kami berbunyi, sepertinya dokter Jae sudah datang. Ibuku segera beranjak dari sofa dan membuka pintu. Ternyata dugaanku tepat, dokter Jae masuk ke apartemen kami dan di suruh duduk oleh ibuku. Aku sedari tadi melihatnya tidak mengalihkan pandanganku ke objek lain. Aku berdiam diri sambil memegang ponselku yang masih memutar video, sementara mataku mengarah pada dokter Jae. Bagaimana bisa aku mengalihkan pandanganku kepada yang lain, kalian tahu tidak? Dokter Jae dengan segala kesederhanaannya terlihat begitu tampan dan rupawan.


Saat ini dia mengenakan pakaian simple namun terlihat sangat bagus di badannya. Dia hanya memakai kemeja hitam, celana jeans vintage, dan sneakers berwarna putih. Alangkah indahnya pemanadangan yang diberikan oleh tuhan. Apa benar kata orang-orang? Pria yang memakai kemeja hitam atau pakaian yang berwarna hitam, maka ketampanan wajahnya akan semakin bertambah dan bersinar terang. Entah mitos atau bukan, yang pasti kali ini aku sangat mempercayai itu.


“Yuri... ini dokter Jae sudah datang.” Kata ibuku.


“Iya, bu.” Kataku sambil menuju ruang tamu.


...


“Hey, Yuri...” Sapa dokter Jae.


Aku tersenyum.


“Yuri sudah menunggumu dari tadi loh, dok.” Tutur ibuku.


“Ah, iya dokter. Tidak apa-apa kok.” Sahutku.


“Oh iya... bagaimana dokter makanan yang saya berikan kemarin?” Tanya ibuku.


“Wah, iya... saya ingin mengucapkan terimakasih atas makanannya. Saya sangat menyukainya, bu.” Kata dokter Jae sambil tersenyum.


“Syukurlah jika demikian hehe...” Jawab ibuku.


...


“Baiklah, kalau begitu saya izin mengajak Yuri jalan-jalan keluar ya, bu?” Tanya dokter Jae.


“Iya iya, silahkan.” Jawab ibuku.


“Kalau begitu saya pamit ya?” Tanya dokter Jae lagi.


“Bu, Yuri jalan dulu ya?” Tanyaku.


“Iya, kalian hati-hati di jalan ya. Jangan sampai malam loh hehe...” Kata ibuku.


“Ya, bu...”


...


Begitu aku dan dokter Jae pamit, kami langsung pergi keluar. Sampai saat ini aku belum mengetahui akan diajak kemana oleh dokter Jae, doa belum memberitahuku. Sepanjang perjalanan, kami tampak canggung. Di dalam mobil, baik aku dan dokter Jae tidak ada yang mau memulai pembicaraan, aku semakin merasa tidak enak hati. Dokter Jae sangat fokus mengendarai mobil sampai-sampai tidak menoleh sedikit pun ke arahku. Apa aku saja yang ingin dilihat? Hahah. Setelah beberapa waktu, dokter Jae mulai berbicara padaku. Aku saja sampai tidak tahu apa yang harus ku katakan padanya.


“Yuri, kamu sudah meminum obatmu bukan?” Tanya dokter Jae.


“Ya, dok. Sudah.” Jawabku singkat.


...

__ADS_1


“Masih jauh ya, dok?” Tanyaku penasaran.


“Sebentar lagi.” Sahut dokter Jae.


“Baiklah.”


Beberapa saat kemudian, kami sudah sampai di suatu tempat yang menurutku sangatlah indah. Aku di ajak ke sebuah taman bunga, bunganya sedang bermekaran, dan dokter bilang saat ini kita sedang berada di taman dekat han river. Iya, dekat sungai han. Aku juga tidak menyangka akan di ajak kesini, aku mengira akan diajak ke tempat yang lain hehe. Banyak orang yang berkunjung kesini, sengaja untuk mengisi waktu luang mereka.


“Yuri... bagaimana? Indah tidak?” Tanya dokter Jae.


“Iya, dok. Ehm... kenapa dokter membawaku kesini?” Tanyaku.


“Waktu itu pada saat di rumah sakit, kamu kan sangat suka berada di taman. Jadi saya pikir kamu akan menyukai tempat ini hehe...” Jawab dokter Jae.


“Ah begitu kah ...” Kataku.


“Ayo, duduk disini.” Ajak dokter Jae sambil menuju kursi taman.


...


“Yuri... kamu tahu tidak?” Tanya dokter Jae.


“Apa, dok?” Tanyaku.


“Kamu adalah perempuan yang kuat. Kamu berbeda dengan mereka yang ada di luar sana.” Kata dokter Jae.


“Saya baru menjumpai perempuan sepertimu. Disaat kamu merintih kesakitan, kamu frustasi, tapi kamu terus berani dan semangat.” Tutur dokter Jae lagi.


“Dokter bisa saja, saya merasa tidak demikian.” Jawabku singkat.


“Kamu tidak merasakannya, tapi orang lain, Yuri.” Sahut dokter Jae lagi.


“Tapi ya sudahlah.” Kata dokter Jae.


...


“Oh iya, saya ada sesuatu untukmu.” Kata dokter Jae sambil menyerahkan sesuatu padaku.


“Album?” Tanyaku.


“Saya ingat waktu itu kamu bilang sangat menyukai idolamu, NCT. Itu saya hadiahkan untukmu, sepertinya mereka sumber semangatmu.” Kata dokter Jae.


“Wah... saya suka, dok. Terimakasih ya.” Ujarku sambil tersenyum lebar.


“Eh, ini ada tanda tangan dari Jaehyun? Kelihatannya masih baru sekali?” Tanyaku.


“Iya, Yuri. Sengaja saya berikan untukmu.” Jawab dokter Jae.


“Dokter kok bisa mendapatkan semua ini?” Tanyaku penasaran.


“Ya... seperti itulah. Tidak usah memikirkannya ya?” Tanya dokter Jae.


“Iya, dok. Sekali lagi terimakasih, saya akan simpan ini dengan baik.” Kataku.


...


Tiba-tiba perutku terasa sakit...


“Aaaaaaakkk...!!!” Rintihku.


“Yuri? Kamu kenapa?” Tanya dokter Jae kaget.


“Sa...kit...” Jawabku sambil menahan rasa sakit.


“Sini saya periksa dulu.”


“Kamu harus ke rumah sakit sekarang. Ayo.” Kata dokter Jae panik sambil menggendongku kembali ke mobil.

__ADS_1


__ADS_2