
Sudah dua kali aku diajak oleh dokter Jae untuk menghadiri pernikahan. Kali ini adalah pernikahan rekan kerjanya di rumah sakit. Selama di perjalanan menuju lokasi pernikahan rekan kerjanya, dokter Jae banyak bercerita bagaimana rekannya itu bertemu dengan calon istrinya. Dia berkata bahwa mereka bertemu di rumah sakit, ya benar, calon istrinya dahulu adalah pasiennya. Hubungan mereka berlanjut ketika mereka saling memberikan perhatian satu sama lain, terlebih lagi calon istrinya sering berkonsultasi dan memeriksakan kesehatannya.
Dari cerita itu, aku seperti sedang mendengarkan kisahku. Apa? Mimpi sekali aku hahah! Perbedaannya adalah
bahwa aku dan dokter Jae tidak akan pernah bersama, kami hanya sebatas dokter dan pasien saja. Lalu perhatian dan ajakan keluar dokter Jae selama ini? Ya, kembali lagi bahwa aku adalah pasiennya hingga saat ini. Barangkali dokter Jae memang benar-benar memegang amanah mediang ibuku, jika aku jadi dokter Jae, aku juga akan bersikap demikian.
Setelah 20 menit lamanya kami di perjalanan, akhirnya kami sampai di sebuah hotel yang sangat megah. Ketika
masuk ke dalam, banyak bunga-bunga yang telah tersusun rapi baik itu berwarna putih, pink, dan beberapa warna cantik lainnya. Beruntungnya, Mina dan dokter Min datang setelah aku dan dokter Jae. Mengapa demikian? Ya karena aku tidak mau hanya duduk bersebelahan dengan dokter Jae, rasanya sangat canggung.
…
Acara dimulai. Pandangan para tamu undangan tertuju kepada pengantin yang berdiri di depan, melakukan sumpah
pernikahan, yakni berjanji akan menjadi pasangan suami istri seumur hidup hingga maut memisahkan. Kemudian dihadirkan pula para orang tua pengantin, di sini air mataku menetes.
Bagaimana ya dengan pernikahanku nantinya? Ibu dan kakakku sudah tiada, ayahku barang kali sudah
tidak peduli dengan apa yang aku lakukan sekarang bahkan nanti. Apakah aku akan sanggup dengan itu semua? Aku sangat berharap dapat dipertemukan dengan orang-orang baik, semoga.
…
“Yuri, kamu lapar tidak?” Bisik Mina yang berada disampingku.
“Emm… sedikit.” Jawabku Pelan.
“Ayo mengambil beberapa makanan, kita baru minum dari tadi.” Ajak Mina.
“Sebentar lagi ya? Kita minum ini dulu, habiskan dulu lah ya?” Jawabku sambil tersenyum.
“Mau aku temani?” Sahut dokter Min.
“ T… tidak usah, aku dengan Yuri saja nanti.” Sahut Mina cepat.
“Benar?” Tanya dokter Min.
“Iya.”
“Pergilah dengannya kalau kamu sudah tidak tahan lagi untuk makan.” Bisikku menggoda Mina.
Sementara Mina hanya menatapku dengan tajam.
…
Tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampiri kami.
“Halo, Jae? Apa kabar?” Tanya wanita itu.
Dokter Jae tertegun, “Shin Hye?”
“Sudah lama aku tidak melihatmu ya? Eh ada Min Jae juga ternyata.” Kata wanita itu dengan semangat.
“Iya, halo.” Sahut dokter Min.
“Terakhir kita bertemu beberapa tahun yang lalu ya? Kalian masih bekerja di rumah sakit yang dulu kan? Atau sudah pindah?” Tanya wanita itu lagi.
“Masih, kami masih bekerja di sana.” Jawab dokter Min sambil tersenyum.
“Jae? Kenapa diam saja?” Tanya wanita itu lagi.
__ADS_1
“Tidak, aku hanya kaget ada kamu di sini. Sendirian? Atau dengan siapa?” Tanya dokter Jae.
“Aku bersama dengan ayahku, dia ada di sana.” Jawab wanita itu sambil menunjukkan ayahnya.
“Kalau mereka berdua siapa?” Tanya wanita itu sambil melihatku dan Mina.
“Emm… teman sekaligus pasien.” Jawab dokter Jae.
“Oh sudah sangat akrab, begitu ya kira-kira?” Tanyanya lagi.
“Emm… bagaimana kalau kita menyapa ayahmu dulu, ayo Min.” Sahut dokter Jae.
…
Dokter Jae berdiri dan mengajak wanita itu, beserta dengan dokter Min. Tampaknya dokter Jae merasa canggung ada wanita itu. Siapa ya wanita itu?
“Mina, dia siapa ya?” Bisikku pada Mina.
“Entahlah, nanti kita tanya ya?” Sahut Mina.
Tiba-tiba dokter Min datang…
“Kok sudah kembali?” Tanyaku.
“Iya, buat apa lama-lama hehe…tapi Jae masih mengobrol.” Jawab dokter Min.
“Siapa wanita itu?” Tanya Mina penasaran.
“Emm… sebenarnya aku tidak enak membicarakannya dengan kalian.” Jawab dokter Min.
“Tidak usah begitu, cerita saja. Aku penasaran, Yuri juga sepertinya.” Sahut Mina lagi.
“Dia itu… cinta pertama Jae, sudah lama sih tidak bertemu. Terakhir bertemu saat kami menjadi dokter di tahun kedua, dan ini sudah tahun ke lima. Kami kenal ayahnya karena dahulu beliau adalah direktur rumah sakit tempat kami bekerja.” Papar dokter Min.
“Emm… begitu ya?” Kata Mina.
“Kami sudah mengenal cukup lama sih, saat berkuliah.” Tambah dokter Min.
“Kalian satu jurusan?” Tanya Mina lagi.
“Iya, satu kelas juga.” Sahut dokter Min.
“Ternyata dokter juga ya…” Sahut Mina.
“Iya.” Jawab dokter Min.
“Pantas saja dokter Jae terlihat canggung ya?” Sahutku.
Mina dan dokter Min tidak berkata apapun.
“Tapi sudah tidak ada apa-apa lagi di antara mereka kok.” Sahut dokter Min cepat.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita ambil makanan? Yuk?” Tanya Mina.
Aku tersenyum, “Ayo.”
…
Tampaknya dokter Jae dan ayah wanita itu sangat dekat. Aku lihat mereka bercerita dan tertawa. Sepertinya dokter Jae belum melupakan wanita itu. Sudah jelas sekali, apalagi wanita itu cinta pertamanya.
__ADS_1
Tiba-tiba wanita itu menghampiri kami lagi…
“Halo, aku belum memperkenalkan diri ya? Maaf ya, aku terlalu senang bertemu teman lamaku.” Kata wanita itu sambil tersenyum ramah.
“Iya, tidak apa-apa kami mengerti.” Jawab Mina.
“Aku Shin Hye, panggil saja begitu. Tampaknya umur kita tidak berbeda jauh hehe…” Sahutnya.
“Aku Yuri.” Kataku.
“Aku Mina.”
“Kalian sudah lama mengenal Jae dan Min?” Tanya Shin Hye.
“Belum terlalu lama, aku juga dari Indonesia.” Kataku.
“Oh Indonesia? Aku pernah ke sana beberapa kali untuk liburan. Jadi kamu sudah lama di Korea? ” Tuturnya semangat.
“Ya, karena aku sedang berkuliah juga.” Kataku.
“Awalnya mengapa bisa ke Korea?” Tanyanya lagi.
“Untuk menyembuhkan penyakitku, maka dari itulah aku bisa bertemu mereka semua.” Jawabku sambil tersenyum.
“Emm… begitu ya.” Kata Shin Hye.
“Jae? Sudah mengobrolnya?” Tanyanya lagi.
“Iya, ayahmu ingin menyapa yang lainnya juga. Kamu tidak makan?” Tanya dokter Jae.
Huh, perhatian sekali.
“Nanti saja, aku sudah minum tadi. Perutku sepertinya belum rewel.” Jawab Shin Hye.
“Kamu mau makan? Aku ambilkan ya? Mau apa?” Tanyanya lagi.
“Tidak usah, aku bisa sendiri.” Jawab dokter Jae.
“Jangan begitu, sudah kamu duduk saja.” Kata Shin Hye.
…
“Ini, makanlah.” Katanya lagi.
…
Di meja makan, aku hanya melihat wajah Mina, tidak yang lainnya. Aku rasa hanya Mina yang mengerti apa yang sedang aku rasakan.
“Aku jadi ingat saat kita berkuliah dulu, menunggu waktu makan sangatlah sulit. Apalagi pada saat magang, benar tidak Min?” Kata Shin Hye.
“Iya, benar sekali. Itu tidak akan terlupakan.” Jawab dokter Min.
“Kalau sedang berjaga malam, Jae sering keluar membeli makanan untukku. Bahkan di saat turun hujan haha…” Kata Shin Hye sambil tertawa.
“Sudah lah, jangan di ungkit lagi. Ayo makan saja.” Sahut dokter Jae sambil tersenyum.
…
Rasanya aku salah, salah memutuskan ntuk pergi ke sini malam ini. Aku sudah tidak tahan lagi ingin pulang. Melihat dokter Jae dan Shin Hye seperti itu, layaknya mendengar cerita di dalam drama Korea. Aku berusaha tetap tersenyum diantara mereka, dan melanjutkan untuk menghabiskan makan malamku.
__ADS_1
…