
Rutinitasku hari ini adalah berkuliah, Mina sudah menjemputku dan dia sedang berada di ruang tamu. Walau kami berbeda kelas, namun entah mengapa jadwal kuliahku dengannya selalu sama, seperti sebuah keberuntungan tersendiri. Pagi yang cerah ini, aku mencoba melupakan segala hal-hal buruk yang terjadi padaku di hari-hari sebelumnya. Sarapan dengan roti dan susu adalah suatu kewajiban bagiku, eh aku malah tidak sengaja ingat pada Jevan yang dahulu ia sering kali memberiku susu dan roti di pagi hari. Momen itu sangat melekat dalam ingatanku, bagaimana bisa kami hanyalah sebatas tetangga semata bisa bersikap sehangat ini. Namun kakakku lah yang sangat dingin padaku, aneh.
Sembari aku menyantap sarapan ini, tidak henti-hentinya Mina berbicara. Dia banyak mengatakan ini lah, itu lah, aku sangat pusing mendengarnya. Pembicaraannya kali ini tidak jauh tentang bagaimana nasib hubungannya dengan dokter Min, sang pujaan hatinya.
“Yuri, menurutmu apa yang harus aku lakukan?” Tanya Mina tiba-tiba.
“Maksudmu?” Tanyaku.
“Tentang aku dan dokter Min Jae, apa yang harus aku lakukan terhadapnya?” Tanya Mina lagi.
“Oh tentang itu. Mina, sebenarnya kalian itu sudah menyukai satu sama lain. Aku juga bingung, sebenarnya apa lagi yang kalian tunggu?” Tanyaku.
“Iya juga, rasanya sangat aneh sekali jika bertemu dengannya. Aku merasa kaku dan canggung.” Kata Mina sambil kebingungan.
“Berkencanlah.” Sahutku.
“Hah? Begitukah?” Tanya Mina lagi.
“Iya, kalian harus berkencan dan bila perlu menikah sekalipun.” Kataku tegas.
“Tapi...” Sahut Mina.
“Tapi apa? Tidak ada yang mau menyatakan perasaan? Kalau begitu, kamu harus mengakuinya terlebih dahulu.” Jelasku.
“Hah? Masa iya aku harus melakukannya.” Kata Mina kaget.
“Mina, bukankah kita sangat sering menonton drama Korea? Nah, kan banyak sekali perempuan yang mengakui perasaannya duluan. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Perempuan juga berhak berbicara dan memulai terlebih dahulu.” Kataku dengan lantang.
“Wah, kamu benar-benar jenius. Aku saja tidak sampai berpikir begitu.” Kata Mina sambil kebingungan.
“Lalu?” Tanyaku.
“Tapi apa iya aku harus melakukan hal itu di kehidupan nyata? Itu kan hanya gambaran dalam drama Korea, jangan di bawa-bawa.” Kata Mina lagi.
“Ya sudah, kalau tidak mau. Aku juga tidak memaksamu.” Kataku sambil tersenyum.
...
“Sudah siap belum? Ayo berangkat ke kampus.” Kata Mina.
“Aku sudah siap dari tadi, hanya saja kamu yang terus menanyaiku. Ayo.” Kataku.
...
Perkuliahan hari ini adalah mengenai kelas internasional. Aku sangat semangat karena memang pemateri hari ini adalah seorang profesor dari Indonesia. Aku sangat bangga menjadi mahasiswa di sini, dan dapat berjumpa langsung dengan berbagai pemateri yang berasal dari bermacam negara di dunia. Menurutku, kuliah di sini merupakan suatu bonus yang diberikan oleh Tuhan kepadaku. Karena banyak orang diluar sana, yang sangat menginginkan hal yang sama sepertiku.
Kelas hari ini sangat menyenangkan dan sangat aku nikmati, hingga pada akhirnya aku telah sampai pada puncak perkuliahan hari ini. Kini aku sudah berada di depan lobi kampus, untuk menunggu Mina.
Namun tiba-tiba ada yang menghampiriku...
...
“Yuri...” Panggilnya.
“Hah? Dokter Jae?” Tanyaku.
“Iya, kamu sudah mau pulang?” Tanyanya.
“Iya, sedang menunggu Mina. Ada apa Jae oppa kemari?” Tanyaku.
“Jadi, Mina tadi menghubungiku. Dia mengatakan ada urusan yang sangat mendesak dan kamu belum keluar kelas. Lalu, dia meneleponku dan mengatakan kamu membutuhkan tumpangan. Jadi aku datang untuk itu. Mari, pulang bersamaku.” Kata dokter Jae.
“Hah? Mina bilang begitu?” Tanyaku.
“Iya.”
“Tapi aku bisa saja menelepon taksi untuk menjemputku, maaf ya sudah repot-repot datang kemari.” Kataku malu.
“Tidak apa-apa. Daripada memesan taksi, lebih baik pulang bersamaku, ayo.” Ajak dokter Jae.
“Baiklah, terimakasih.”
...
Di dalam mobil...
“Setelah ini, apakah kamu ada acara?” Tanya dokter Jae.
“Em, tidak. Mengapa?” Tanyaku.
__ADS_1
“Jadi kapan kamu makan malam dengan keluargaku? Ibuku sudah sangat cerewet hehe.” Kata dokter Jae sambil tersenyum.
“Kalau mau hari ini juga tidak apa-apa, aku merasa dihantui akan hal itu hehe.” Jelasku.
“Benarkah? Hari ini? Ibuku pasti sangat senang.” Kata dokter Jae sambil tersenyum.
“Iya, hari ini.” Jelasku.
“Baiklah, aku akan menjemputmu jam tujuh malam. Bagaimana?” Tanya dokter Jae.
“Baiklah. Tapi memangnya tidak ada jadwal operasi?” Tanyaku.
“Tidak, semua pasienku sudah rawat jalan. Kecuali ada pasien baru yang datang, tapi sepertinya tidak ada untuk hari ini.” Tutur dokter Jae.
“Begitu ya? Baiklah.” Kataku.
“Tapi bukannya pasien sering datang tiba-tiba, ya?” Tanyaku lagi.
“Hahah... Iya juga. Tapi hari ini tidak akan ada kok, jika aku menerawangnya hehe.” Ujar dokter Jae sambil tersenyum.
“Hahah....” Tawaku.
...
Sesampainya di apartemen...
Kurang ajar sekali Mina, berani-beraninya dia memperlakukanku di depan dokter Jae. Masa iya aku dibilang membutuhkan tumpangan, kan aku juga bisa memesan taksi online. Benar-benar, aku sangat malu.
Aku harus menghubungi anak satu ini. Apa benar dia punya urusan mendadak.
...
“Mina? Kamu kemana tadi?” Tanyaku penasaran.
“Hei, Yuri. Em... Tadi aku menunggumu di kampus, tapi kelihatannya masih lama. Jadinya aku menghubungi dokter Jae untuk menjemputmu.” Jelas Mina semangat.
“Kamu tidak berbohong, kan? Memangnya ada urusan apa, sih?” Tanyaku lagi.
“Adalah, urusan yang sangat mendesak.” Kata Mina gagap.
“Ya apa itu?” Tanyaku lagi.
“Apaan? Tidak ada hubungannya. Mina, kamu tahu tidak? Aku sangat malu di depan dokter Jae, apalagi ketika dia bilang aku membutuhkan tumpangan, huahhhhh...” Kataku sambil merengek.
“Ya maaf, habisnya aku tidak tahu lagi mau beralasan apa.” Jelas Mina.
“Huh... Sudahlah, jangan sampai kamu mengulanginya ya? Akan ku bunuh kau.” Kataku tegas.
“Hehe... Baiklah.” Jawab Mina.
...
Sekarang sudah pukul enam lewat tiga puluh menit, aku masih disibukkan untuk memilih pakaian yang akan aku kenakan malam ini. Rasanya pasti akan sangat canggung jika ku pikir-pikir. Tidak mungkin aku berdiam diri, tidak berbicara apa pun. Ya Tuhan, aku bingung harus apa. Aku takut berbuat salah nantinya.
...
Tiba-tiba bel berbunyi...
“Jae oppa? Sudah sampai.” Sapaku.
“Iya, sudah siap?” Tanyanya.
“Sudah, mau berangkat sekarang?” Tanyaku.
“Ayo.”
...
“Yuri, kamu sangat cantik malam ini.” Ucap dokter Jae.
“Ah, tidak kok. Ini biasa saja.” Kataku gugup.
...
“Sudah sampai.” Kata dokter Jae.
“Kenapa diam? Ayo turun.” Ajak dokter Jae.
“Iya.”
__ADS_1
...
“Annyeonghaseyo...” Sapaku ketika masuk.
“Wah, sudah datang ya Yuri. Kemarilah, duduk.” Kata ibunya.
“Iya bibi, terimakasih.” Kataku.
“Jadi ini yang namanya Yuri, saya sudah dengar tentangmu.” Kata orang itu.
“Ini ayahku, Yuri.” Kata dokter Jae.
“Ah, iya iya.” Kataku.
“Dan ini adik bungsuku, sementara kedua kakak perempuanku masih belum pulang bekerja sepertinya. Benarkah ibu?” Tanya dokter Jae.
“Iya, sebentar lagi mungkin. Kita tunggu sebentar ya? Tidak apa-apa kan, Yuri.” Kata ibunya.
“Ya, bi. Tidak apa-apa.” Jawabku.
...
Beberapa menit kemudian...
“Aku pulang...”
“Nah, itu mereka.” Kata dokter Jae.
“Ibu, ada apa ini? Makan malam spesial?” Tanya orang itu yang notabennya adalah kakak perempuan dokter Jae.
“Iya, ayo duduklah. Kami sudah lama menunggu kalian.” Kata ibunya.
...
Ketika makan...
“Kamu sudah bekerja?” Tanya salah satu kakak perempuannya.
“Saya masih berkuliah, terkadang bekerja juga.” Jawabku gugup.
“Kuliah dimana?” Tanya kakak yang satunya lagi.
“Di SNU, jurusan komunikasi.” Jawabku pelan.
“Wah hebat ya, bisa berkuliah disana.” Sahut salah satu kakaknya.
“Apanya yang hebat. Biasa saja.” Sahut kakak satunya lagi.
“Sudah, jangan tanya-tanya Yuri. Kita kan sedang makan.” Kata ibunya.
“Hargai Yuri, jangan adu mulut terus.” Kata ayahnya.
...
“Oh ya, Jae. Kakak akan memperkenalkanmu pada kenalan kakak. Dia sangat cantik dan pintar.” Kata kakak dokter Jae tiba-tiba.
“Hah? Untuk apa? Tidak mau.” Sahut dokter Jae.
“Kamu ini payah. Cari perempuan itu yang cerdas lah, jangan asal-asalan.” Kata kakak dokter Jae.
“Sudahlah, jangan mengatur hidupku. Aku bisa sendiri, dan aku sudah menemukannya.” Tutur dokter Jae.
“Maaf ya, Yuri. Mereka memang selalu seperti itu.” Kata ibunya.
“Tidak apa-apa, bi.”
...
Sesampainya di apartemen...
“Terimakasih, ya Yuri. Maaf jika ada perkataan yang salah.” Kata dokter Jae.
“Iya, tidak apa-apa.” kataku pelan.
“Dan soal yang dibicarakan kakakku, jangan dengarkan dia ya? Semua itu salah.” Kata dokter Jae.
“Begitu ya? Baiklah.” Kataku.
“Kalau begitu hati-hati di jalan ya, sampai jumpa.” Tambahku.
__ADS_1
“Baiklah, bye.” Kata dokter Jae.