Dokterku Jodohku

Dokterku Jodohku
Ayah


__ADS_3

“Jev, terima kasih ya? Mau mampir dulu tidak?” Tanyaku.


“Tidak usah sepertinya, aku langsung pulang saja.” Jawab Jevan.


“Baiklah.” Kataku.


“Nona Yuri, saya sudah siapkan makanan. Silahkan dinikmati.” Kata PRT yang tiba-tiba datang.


“Benarkah? Kalau begitu kamu tidak usah pulang dulu, Jev. Kita makan bersama, ayo. Kali ini tidak ada penolakan ya.” Kataku.


“Baiklah kalau begitu, aku tidak akan menolak hehe…” Jawab Jevan.


“Ayo, Mina. Kamu harus mencicipi makanan Indonesia yang sangat lezat tentunya.” Kataku sambil merangkul Mina.


“Baiklah ayo, aku tidak sabar lagi.” Jawab Mina.



“Banyak sekali, Yuri. Apa kita bisa menghabiskan semua ini?” Tanya Mina.


“Ahahah… Tidak habis juga tidak apa-apa, kan bisa di simpan. Kamu ini ada-ada saja.” Sahutku.


“Ayo duduk, Mina. Eh, Jevan sini. Sedang apa kamu di situ?” Tanyaku.


“Iya-iya.”



“Oh ya, Jev. Kamu tidak bekerja hari ini?” Tanyaku.


“Tidak, khusus untukmu.” Jawab Jevan.


Aku tersedak, “Hah? Apa, Jev? Aku tidak salah dengar kan?” Tanyaku.


“Ah bukan apa-apa, ayo makan lagi.” Sahut Jevan.


“Yuri…” Panggil Mina.


“Iya, mengapa?” Tanyaku.


“Makanannya enak sekali, aku suka. Ini apa namanya?” Tanya Mina semangat.


“Benarkah? Baguslah jika kamu menyukainya. Kalau itu namanya sate ayam dan sausnya dari kacang.” Jelasku pada Mina.


“Aku tidak berbohong, ini enak sekali.” Tutur Mina senang.


“Iya, makanlah yang banyak. Nanti kalau kamu menginginkannya lagi, akan kubelikan.” Jawabku sambil tersenyum.


“Kamu memang terbaik hehe…” Ucap Mina.


“Ini, Mina. Kamu juga harus mencobanya, ada rendang dan opor ayam. Keduanya sangat nikmat jika pakai nasi


putih.” Sahut Jevan.


“Terima kasih, akan aku makan.” Jawab Mina semangat.


“Wah, lihatlah Yuri. Wajah Mina bersinar-sinar karena makanan hahah…” Tutur Jevan.


“Iya, kamu benar Jev.” Sahutku tersenyum.



“Bi, ayah belum kembali ya?” Tanyaku.


“Belum, Nona.” Jawab PRT itu.


Entah apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh ayahku. Hingga saat ini dia belum kembali ke rumah, apakah dia tidak tahu jika putrinya telah pulang?

__ADS_1


Tiba-tiba ponselku berdering…


“Halo, Kei?” Kataku.


“Yuri!!!!!!!!! Kamu sudah kembali? Kenapa tidak mengabariku dan Audi?” Tanya Keila.


“Ya ampun, aku kira apa. Iya aku kembali bersama Mina, katanya kalian mau kemari? Kok belum datang?” Tanyaku.


“Kami akan datang malam ini, tunggu saja. Kami akan membawa kejutan hehe…” Kata Keila semangat.


“Ya sudah, terserah kalian saja.” Kataku malas.


“Bye…” Ucap Keila cepat.



“Siapa?” Tanya Mina.


“Siapa lagi kalau yang rusuh dan berisik, si Keila.” Jawabku malas.


“Mereka hendak kemari?” Tanya Mina.


“Iya. Tapi nanti malam.” Jawabku.


“Kalau begitu aku pamit pulang dulu ya? Ibuku tadi memanggil.” Kata Jevan.


“Baiklah, thank you ya?” Jawabku.


“Sip.” Sahut Jevan.


“Yuri, aku boleh ke kamar tidak? Mau menggosok gigi.” Kata Mina.


Beberapa saat kemudian ketika Jevan sampai di depan pintu masuk, tampaknya ada mobil yang datang.


“Siapa, Jev?” Tanyaku.


“Ayah?” Kataku kaget.


“Ayah, dari mana saja?” Tanyaku pelan.


“Ayahmu ini ada urusan bisnis yang sangat banyak dan melelahkan, memangnya mengapa?” Tanya ayahku.


“Mengapa ayah bilang? Ayah, apa ayah tahu Kak Calvin telah meninggal dunia kemarin lusa? Namun pada saat di


hari pemakaman, ayah tidak ada di sana. Ayah kemana?” Tanyaku keras.


“Yuri! Kamu ini kurang ajar ya? Berbicara dengan orang tua itu yang sopan, bukan dengan nada tinggi! Apa ini penyebab kamu tinggal di negeri orang? Sangat memalukan.” Jawab ayahku ketus.


“Ayah, aku begini juga karena ayah. Ayah tidak peduli kepada keluarganya sendiri, dengan Ibu maupun


Kak Calvin. Lantas, apa yang ayah lakukan selama ini dan akhir-akhir ini?” Tanyaku lagi.


“Berani sekali kamu.” Sahut ayahku.


“Yuri, cukup. Jangan begitu, tenanglah.” Kata Jevan menenangkanku.


“Sudah, Jev. Aku ingin menyadarkan ayahku, lebih baik kamu diam.” Sahutku cepat.


“Dasar anak tidak tahu diri.” Ujar ayahku.


“Ayah, apa yang ayah lakukan ketika jenazah Kak Calvin hendak di kebumikan? Ayah dimana? Dan mengapa ayah


menyuruh Jevan untuk mengururs pemakamannya? Apa yang paling penting bagi ayah, sampai-sampai Kak Calvin seperti tidak berarti lagi? Oh, apakah ayah bersama wanita itu?” Ketusku.


Tiba-tiba…


Plakkk…

__ADS_1


(Tangan ayahku mendarat di pipi kananku).


“Ayah!!!” Teriakku sambil memegang pipi.


“Sudah, paman. Sudah cukup, kasihan Yuri.” Sahut Jevan.


“Biar saja, biarkan dia merasakan bagaimana sakitnya. Memang anak kurang ajar.” Kata ayahku.


Tiba-tiba ponsel ayahku berdering…


“Hei…” Jawab ayahku langsung memalingkan dirinya dari hadapanku, dia berbicara di telepon cukup lama. Aku terus memandangnya dari kejauhan, dan akhirnya selesai.


“Siapa, yah? Mengapa tersenyum-senyum? Senang sekali tampaknya, pasti wanita itu.” Ucapku ketus.


“Tidak usah ikut campur kamu, urusi saja urusanmu itu. Ayah mau pergi.” Jawab ayahku cuek sembari meninggalkan rumah.



“Kamu lihat kan, Jev? Apalagi kalau bukan bertemu dengan wanita itu? Aku sangat malu, malu sekali.” Tuturku frustasi.


“Sabar, Yuri. Tenangkanlah dirimu.” Kata Jevan.


“Jev, mau menolongku tidak?” Tanyaku.


“Apa?” Jawab Jevan.


“Ayo ikuti ayahku.” Kataku cepat.



Aku dan Jevan sudah berada tepat di belakang mobil ayahku yang akan menuju entah kemana. Mata dan


pikiranku hanya tertuju pada ayahku, hanya dia yang membuatku merasa terganggu saat ini.


“Oh ya, Yuri. Bagaimana dengan Mina? Dia tidak tahu kita pergi kemana secara tiba-tiba.” Tutur Jevan.


“Kamu benar, akan ku kirimi pesan.” Kataku cepat.


“Baiklah.” Jawab Jevan.


“Ayo terus kejar ayahku, jangan sampai kehilangan.” Kataku fokus.


“Yuri, bukankah kamu terlalu berlebihan?” Kata Jevan.


“Berlebihan bagaimana? Semua orang juga pasti akan curiga jika seseorang pergi malam-malam seperti ini, dan tidak mungkin untuk pekerjaan.” Sahutku cepat.


“Ya iya sih, tapi sudahlah kita ikuti saja.” Ujar Jevan.


“Jev, sebelumnya aku minta maaf ya? Atas kelakuanku tadi, aku tidak bisa mengontrol emosiku lagi. Maaf jika kamu tersinggung.” Kataku pelan.


“Soal itu, tidak apa-apa. Aku sangat memahaminya, tapi lain kali jangan marah-marah seperti itu lagi. Aku sangat takut.” Ucap Jevan sambil tersenyum.


“Jev, kamu ada-ada saja.” Kataku tersenyum.



Tiba-tiba ponselku berdering…


“Yuri, kamu di mana? Kami sudah di rumahmu dan hanya ada Mina di sini.” Kata Audi.


“Maaf ya semuanya, aku ada urusan yang sangat mendesak bersama Jevan.” Kataku.


“Kita kan mau adakan kejutan, lalu bagaimana?” Tanya Audi.


“Besok saja bagaimana? Sekarang kalian temani Mina dulu ya? Yayaya…” Kataku lagi.


“Yah… Baiklah, hati-hati.” Sahut Audi.

__ADS_1



Saat ini aku sangat penasaran ayahku akan pergi kemana. Aku sangat takut jika ayahku berubah, dia tampak tidak seperti dahulu yang sangat menyayangi keluarganya. Sekarang aku jadi semakin bertanya-tanya, apa semua yang ayahku lakukan di masa lalu hanya sebatas kebohongan belaka? Apa yang Ibuku lakukan? Apa dia tahu semuanya? Kenapa aku tampak bodoh saat ini? Aku tidak sanggup jika nantinya akan melihat ayahku bergandengan dengan wanita lain. Namun apakah aku terlalu egois? Rasanya  tidak. Buktinya ayahku telah mengabaikan keadaan kakakku ketika sakit.


__ADS_2