Dokterku Jodohku

Dokterku Jodohku
Tega


__ADS_3

Hari ini hujan turun sangat deras, aku kembali menarik selimut tebalku walaupun sudah jam sebelas siang. Sepertinya suasana ini cocok untuk bermalas-malasan seharian. Semalam aku menggebu-gebu menonton


drama Korea hingga jam satu malam hingga tidak teringat untuk makan malam, akibatnya sekarang perutku seperti sedang berdemo, lapar sekali.


Kakiku menyentuh lantai dan bergegas ke dapur untuk mengecek apakah ada stok makanan di kulkas. Belakangan ini entah mengapa, aku sudah jarang sekali memenuhi isi kulkasku ini dan sekarang baru teringat bahwa tidak ada makanan apapun di sana, hanya terdapat minuman dingin saja. Rasanya perutku semakin menggila, namun di luar masih turun hujan, malas sekai jika keluar.


Ting tong…


“Siapa?” Tanyaku.


“Pesanan datang, nona.” Kata lelaki itu.


“Maaf sepertinya salah, saya tidak memesan apapun.” Jawabku bingung.


“Apa anda nona Yuri?” Tanya lelaki itu lagi.


“Betul.” Jawabku.


“Ini pesanannya untuk anda.” Sahut lelaki itu sembari menyerahkan beberapa makanan.


“Tapi saya tidak memesannya.”


“Iya, tapi itu semua untuk anda. Mohon tanda terimanya.” Jawab lelaki itu.



Apa tadi aku tertidur sambil memesan makanan? HAHAH sangat lucu sekali. Tapi seingatku tidak, sepertinya ada


yang salah.


Tiba-tiba ponselku berdering, tanda pesan masuk.


From : Dokter Jae


Selamat makan, Yuri…


Oh jadi ini dari dokter Jae? Mengapa dia bisa tahu kalau aku sedang kelaparan? Sungguh ajaib.


To :  Dokter Jae


Terima kasih makanannya. Sebenarnya tidak usah repot-repot, dok. Aku jadi tidak enak hehe…


From : Dokter Jae


Sama-sama. Tidak usah sungkan, di luar hujan. Makan saja yaaa…


Mengapa ya? Dokter Jae selalu membuatku bingung dengan sikapnya itu? Terkadang bertingkah manis,


terkadang mengesalkan, ah entahlah. Tapi, apakah aku terlalu berlebihan ya? Ingat, Yuri? Aku adalah pasien dokter Jae hingga sekarang.


Tanpa berpikir lama, aku langsung menyantap makanan yang diberikan oleh dokter Jae. Ada dua paket ayam goreng ala Korea yang biasanya dapat dijumpai melalui drama Korea.


Tak lama aku makan, ponselku berdering kembali, kali ini bukan pesan masuk, melainkan telepon dari ayahku. Tumben sekali dia menghubungiku.


“Iya, ayah.” Jawabku.

__ADS_1


“Bagaimana kabarmu?” Tanya ayahku.


“Aku baik-baik saja, yah. Ada apa? Tumben sekali menghubungiku.” Jawabku lagi.


“Jadi begini, ayah ingin menjual rumah kita.” Jawab ayahku.


“Apa? Menjual? Yang benar saja, yah. Untuk apa? Ayah sedang membutuhkan uang?” Tanyaku kesal.


“Tidak, bukan itu. Rasanya rumah itu tidak terurus, lagi pula tidak ada yag tinggal di sana. Ayah kira, menjualnya


adalah keputusan yang tepat.” Jelas ayahku.


“Ayah serius? Aku tidak setuju. Banyak sekali kenangan bersama ibu di sana, ayah tega menjualnya?” Sahutku tegas.


“Sudahlah, Yuri. Jangan selalu mengungkit ibumu, dia sudah tidak ada. Kamu jangan bersedih melulu, bukan waktunya lagi.” Sahut ayahku dengan nada tinggi.


“Aku tidak menyangka ayah akan berubah seperti ini, tega sekali ayah bilang begitu. Pokoknya aku tidak setuju.” Sahutku kesal.


“Sudahlah terserah, ayah tidak peduli kamu setuju atau tidak. Intinya ayah akan menjualnya.” Sahut ayahku.


“Oh aku tahu, memang ayah tidak pernah pulang ke rumah kita. Ayah selalu pergi bersama wanita simpanan ayah itu, atau barangkali sampai tinggal bersamanya. Ayah memang tidak memiliki hati nurani.” Kataku cepat.


“Diam kamu, jangan sok tahu ya!”


“Sekarang aku tidak peduli, terserah ayah mau pergi bersama siapapun, melakukan apapun, sampai punya lima


wanita sekalipun. Tapi jangan sampai ayah menjual rumah itu, lagi pula rumah itu tidak menyusahkan ayah.” Paparku cepat.


“Memang anak kurang ajar kamu, sudahlah.” Kata ayahku dengan nada tinggi.




Kali ini kekesalanku pada ayah sedikit tertutupi oleh kehadiran Mina, saat ini ia sedang berbaring di sofa sembari menonton televisi. Ia baru saja pulang dari kantor, dan membawa beberapa camilan. Sungguh, hari ini aku memang tidak usah keluar haha.


“Yuri, sepertinya aku sudah kewalahan dengan semua pekerjaanku. Aku lelah sekali dan ingin menyerah saja huhu…”Tutur Mina dengan nada pelan.


“Mina, jangan bilang demikian. Aku rasa kamu hanya butuh istirahat. Mengeluh boleh-boleh saja, asalkan jangan menyerah. Kamu tidak berpikir diluar sana banyak orang yang kesulitan mencari pekerjaan? Syukuri dan jalani saja yaaa…” Jawabku sambil memakan camilan.


“Iya juga ya? Kalau begitu aku mau tidur dulu sebentar hehe…” Jawabnya sambil tersenyum.


“Sebentar? Aku tidak percaya haha…, ya sudah tidurlah.” Ejekku.


“Oh iya, tadi aku dihubungi dokter Min. Tahu tidak apa katanya?” Tanya Mina.


“Apa?” Sahutku.


“Dokter Min mengajakku datang ke pesta pernikahan rekan kerjanya!!! Aku sangat bersemangat. Apa dokter Jae tidak mengajakmu?” Tanya Mina semangat.


“Hah? Untuk apa juga? Toh aku bukan siapa-siapa, aku hanya salah satu pasiennya saja.” Jawabku pelan.


“Eh eh eh… jangan begitu lah. Benar tidak mengajakmu?” Tanya Mina lagi.


“Tidak Mina, kalau iya pun pasti tadi dia bilang.” Tuturku.

__ADS_1


“Tadi kalian bertemu?” Tanya Mina penasaran.


“Tidak. Dia mengirimiku makanan, padahal aku tidak minta.”


“Nah, itu tandanya kamu spesial Yuri. Jangan berpikir yang tidak-tidak.” Kata Mina.


“Ah, sudahlah. Aku tidak mau memikirkannya.” Kataku malas.


Tiba-tiba…


(di telepon)


“Halo, dok. Ada apa ya?” Tanyaku.


“Halo Yuri, maaf aku mengganggumu. Tadi aku lupa ingin mengatakan sesuatu padamu.” Jawab dokter Jae.


“Memangnya ada apa dok?” Tanyaku penasaran.


“Aku ingin mengajakmu pergi ke pesta pernikahan rekan kerjaku malam ini, apa kamu mau?” Tutur dokter Jae.


Aku kaget, “Malam ini?”


“Iya, malam ini jam tujuh. Bagaimana?” Tanya dokter Jae lagi.


“Sepertinya dokter Min juga mengajak Mina.” tambahnya lagi.


“Emm… baiklah kalau begitu.” Jawabku pelan.


“Okey, aku akan menjemputmu jam setengah tujuh.” Sahut dokter Jae semangat.



“Kan, aku bilang juga apa? Pasti dia mengajakmu Yuri. Aku semakin bersemangat.” Ungkap Mina sangat senang.


“Dia memang bisa sekali membolak-balikkan hatiku ya, Mina. Apa dia tidak sadar kalau aku sedang kesal padanya?” Tanyaku.



Setelah pembicaraan itu, Mina  sangat pusing untuk memilih pakaian yang akan ia kenakan nanti malam. Sementara aku sangat santai, aku akan memakai pakaian apa adanya yang ada di dalam lemariku. Namun, lagi-lagi Mina selalu menyeretku kedalam masalahnya. Ia sudah membawa beberapa pakaian, namun ia tidak cocok dengan semua pakaian itu. Alhasil, ia mengajakku keluar untuk membeli pakaian baru. Tingkahnya seperti anak kecil membuatku pusing.



Sudah dua jam kami berada di dalam toko pakaian, dan sudah ada empat toko pakaian yang kami datangi, namun


hasilnya nihil. Pundakku dan kakiku sudah terasa pegal, namun Mina masih bersemangat mengeliminasi pakaian yang ada di dalam toko pakaian.


“Yuri, kok kamu duduk saja? Kamu juga harus mencari pakaian untuk nanti malam.” Tutur Mina semangat.


“Tidak, aku malas membeli lagi. Lagian masih banyak pakaianku di lamari.” Jawabku lemas.


“Tidak boleh begitu, ayo cobalah ini.” Sahut Mina sambil memberiku beberapa pakaian baru.


“Tidak ah, kamu saja.” Tolakku.


“Harus, ayo cepat…” Paksa Mina sambil mendorongku untuk mencoba pakaian itu.

__ADS_1


Alih-alih aku mencoba pakaian, akhirnya Mina menemukan apa yang diinginkannya. Pada akhirnya, akupun dibelikan pakaian berwarna krem oleh Mina. Ia berkata bahwa pakaian itu sangat cocok untukku.


...


__ADS_2