
Tidak sengaja aku tertidur di sofa,tepatnya di depan televisi. Hari sudah menunjukkan pukul dua belas siang, ternyata demikian. Setelah membereskan isi apartemenku, rasanya tubuhku sangat lelah dan terasa sakit, pada akhirnya aku tertidur. Tidak biasanya aku melakukan ini.
Oh ya, masa iya di siang bolong seperti ini aku memimpikan hal yang aneh. Aku bermimpi bertemu orang gila saat
aku menuju ke kampus, dan lebih anehnya lagi aku berjalan kaki ke sana, masa iya jarak sejauh itu aku berjalan kaki? Hahah... Lalu, tidak sengaja pula aku memergoki Mina yang sedang berduaan dengan dokter Min Jae. Wah, aku harap ini bukan mimpi. Semoga mereka segera bersama, ya.
Sekarang, aku merasa tidak bertenaga dan lapar. Pantas saja begitu, pagi tadi aku belum sarapan sama sekali. Rasanya tidak enak sekali melihat roti dengan selainya itu, sangat membosankan.
Kini aku menginginkan burger jumbo dan segelas soda barangkali hehe. Tidak ada pilihan lain, aku harus pergi ke
kafe seberang. Aku sangat menyukai burger mereka, sangat lezat.
Derap langkah kakiku semakin cepat ketika sudah mendekati kafe, sudah tidak sabar menyantap makanan yang aku bayangkan ini. Sesampainya disana, tanpa membuang waktu aku langsung memesan apa yang aku inginkan, dan jadilah makanan itu dengan cepat. Aku langsung memilih meja dan kursi untuk memakan makanan ini, dan aku memilih meja dekat kaca, tepatnya aku dapat melihat orang-orang diluar yang berjalan kaki.
Sepertinya burger ini sangatlah lezat hari ini. Atau hanya perasaanku saja, karena sedang lapar sekali?
Tiba-tiba aku merasa mengenal seseorang yang datang ke kafe.
...
“Mina?” Tanyaku.
“Yuri?” Tanyanya.
“Kamu sendiri? Tumben sekali.” Kataku.
“Em...” Kata Mina gagap.
“Kamu mau pesan apa?” Tanya orang itu yang tiba-tiba muncul.
“Hah? Dokter Min?” Tanyaku kaget.
“Hei, Yuri.” Jawabnya.
“Wah... Kalian benar-benar ya. Hahah... Aku tidak menyangka hal ini terjadi sungguhan.” Kataku sambil tertawa kecil.
“Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Yuri.” Jelas Mina.
“Sudahlah, nanti saja bicaranya. Pesanlah makanan dulu, aku duduk di sana. Jika ingin bergabung, ayo. Eh tapi kalau kali mau berdua saja juga boleh.” Godaku sambil tersenyum.
“Tidak. Kami akan bergabung bersamamu.” Sahut Mina cepat.
“Baiklah, aku pesankan dulu. Kalian duduk saja.” Kata dokter Min.
...
“Kok diam? Ayo makan, aku sangat lapar tadi hehe.” Tuturku.
“I... Iya.” Jawab Mina.
“Kenapa memilih makan di sini? Kan jaraknya jauh.” Kataku sambil tersenyum.
“Em... Tadinya aku ingin ke apartemenmu, jadi aku mampir untuk membeli makanan. Aku tahu pasti kamu lapar.” Kata Mina.
“Iya, kami tidak sengaja bertemu.” Sahut dokter Min.
“Benarkah? Dokter Min sengaja makan siang di sini? Jauh sekali sih.” Godaku lagi.
“Iya, hanya ingin saja.” Kata dokter Min.
__ADS_1
“Benar, Yuri. Aku bicara apa adanya.” Sahut Mina.
“Hahahah... Ada apa dengan kalian? Biasa saja lah, aku juga tidak mempermasalahkan ini semua. Kalian sangat lucu.” Kataku sambil tertawa.
“Em... Padahal tadi aku sudah mau jalan dengan si Jae. Eh malah ada pasien yang datang.” Kata dokter Min.
...
“Sudah selesai? Kalau belum, aku duluan ya? Ada pekerjaan yang harus di selesaikan.” Tuturku sambil beranjak dari kursi.
“Tunggu, aku ikut.” Sahut Mina cepat.
“Tidak usah. Temani saja dokter Min di sini, kasihan lihatlah dia hahah...” Ledekku.
“Hem... Baiklah. Sampai jumpa.” Kata Mina.
“Bye... Selamat berduaan.” Kataku sambil keluar kafe.
...
Lucu sekali mereka berdua, pura-pura malu. Padahal mereka sudah lama saling kenal, lalu apa masalahnya? Terkadang aku bingung dengan Mina, katanya suka? Tapi ah, sudahlah. Tapi apakah mereka sudah memulai hubungan yang serius ya? Hanya saja mereka menutupinya dariku? Apa dugaanku benar? Atau sebaliknya?
Ketika aku tiba di apartemen, tiba-tiba Jevan meneleponku.
“Halo, Jev?” Tanyaku.
“Yuri...”
“Ada apa?” Tanyaku lagi.
“Jadi ada yang ingin aku sampaikan.” Kata Jevan.
“Tentang apa?” Tanyaku lagi.
“Kenapa dia, Jev?” Tanyaku penasaran.
“Jadi aku baru saja mendapat kabar bahwa kakakmu mengalami depresi.” Tutur Jevan.
“Hah?” Kagetku.
“Iya. Jadi baru saja aku lihat ada mobil dari rumah sakit jiwa yang menjemputnya. Aku tidak tahu seperti apa lengkapnya, tapi yang pasti kakakmu sangat stres karena bisnis yang ia jalankan itu tidak berjalan dengan baik.” Jelas Jevan.
“Lalu bagaimana keadaannya sekarang?” Tanyaku lagi.
“Tadi, ayahmu sempat berkelahi dengannya. Kakakmu juga sudah kehilangan akalnya, bahkan aku melihat sendiri
kalau kakakmu menampar ayahmu.” Kata Jevan.
“Ya ampun, aku sangat ingin ke sana. Tapi memang tidak ada gunanya lagi.” Kataku.
“Lebih baik tidak usah, aku juga membantu ayahmu untuk mengurus semua ini. Jadi tenanglah.” Kata Jevan.
“Aku tahu betul bagaimana kakakku, dia sangat keras dan angkuh. Dia sangat mengidam-idamkan bisnisnya itu, tapi sekarang tidak ada gunanya lagi. Dia juga sering menghambur-hambur uang yang diberikan ayah, bagaimana dia bisa lancar dengan bisnisnya?” Kataku.
“Iya, aku mengerti.” Kata Jevan.
“Oh ya, Jev. Bagaimana dengan ayahku? Apakah dia masih bersama wanita itu?” Tanyaku.
“Sepertinya begitu.” Jawab Jevan pelan.
“Baiklah, terimakasih ya atas informasinya.” Kataku.
“Iya, sama-sama.”
“Kalau misalkan ada sesuatu yang terjadi, hubungi aku ya?” Tanyaku.
“Pastinya.” Kata Jevan.
“Kamu memang teman terbaikku.” Kataku.
__ADS_1
...
Tak lama setelah aku menutup telepon dengan Jevan, tibalah Mina di apartemenku.
“Mina?”
“Hello.”
“Aku mau menumpang tidur sebentar ya? Aku ngantuk sekali.” Kata Mina sambil cemberut.
“Siang begini? Kamu tidak bekerja?” Tanyaku.
“Kerja, tapi dua jam lagi. Daripada aku pulang, aku kesini saja hehe.” Kata Mina sambil tersenyum.
“Bagaimana dengan dokter Min?” Tanyaku.
“Yuri, jangan bahas itu sekarang ya?Aku lelah.” Kata Mina.
“Hahah... Baiklah. Selamat tidur.” Kataku.
“Jangan lupa bangunkan aku ya, satu jam lagi.” Ucap Mina.
“Iya.”
...
Satu jam kemudian...
“Mina, bangun.” Kataku sambil menepuk punggungnya.
“Hoam... Sudah satu jam ya? Sebentar sekali.” Jawab Mina sambil menguap.
“Iya.”
“Baiklah, aku mau mencuci wajahku dulu.” Kata Mina sambil berdiri.
“Oh ya, kamu mau ikut tidak?” Tambahnya.
“Kemana?” Tanyaku.
“Hari ini aku kerja lapangan, ke Itaewon.” Kata Mina.
“Wah, Mina memang keren hehe... Kali ini acara apa?” Tanyaku.
“Kuliner, dan di sana ada tempat yang bagus.” Sahut Mina.
“Baiklah, aku ikut.” Kataku.
“Siap. Nanti akan aku kenalkan dengan produser kami, bersiaplah.” Jelas Mina sambil berjalan.
...
Di dalam perjalanan...
“Mina, bagaimana perasaanmu ketika debut menjadi seorang reporter? Banyak dilihat orang, apalagi di televisi.” Tanyaku penasaran.
“Em... Perasaanku biasa saja sih. Ya secara, aku kan memang berbakat dan cerdas hahahah...” Kata Mina sambil
tertawa.
“Ih, kamu ini. Aku serius.” Kataku.
“Ya lagian kamu masih bertanya. Aku sangat senang tahu, sangat. Awalnya aku tidak percaya aku bisa melakukan hal ini, tapi ayahku selalu berpihak padaku. Dan pada akhirnya aku sangat semangat menjalani pekerjaan ini.” Jelas Mina.
“Aku tahu bagaimana perasaanmu, sangat bahagia pastinya.” Kataku.
“Bagaimana denganmu? Pekerjaanmu?” Tanya Mina tiba-tiba.
“Aku juga sama sepertimu, ya walau baru bekerja paruh waktu. Setidaknya aku mencoba yang terbaik, hehe.” Kataku sambil tersenyum.
“Aku setuju denganmu. Dulu aku juga sama sepertimu, awalnya hanya bekerja paruh waktu. Tapi lihatlah, perjuanganku tidak sia-sia. Jadi semangatlah, Yuri.” Kata Mina.
“Iya, terimakasih sudah menyemangatiku.”
__ADS_1