Dokterku Jodohku

Dokterku Jodohku
Teman Gila


__ADS_3

Tidak terasa keberadaanku di negeri ginseng, Korea sudah lama. Hari ini genap sudah menjadi lima bulan dan aku merasa bersyukur masih bisa bertahan sampai sekarang. Kuliahku semuanya berjalan dengan lancar tanpa hambatan sedikit pun. Ternyata kuliah disini sangat asyik dan semua hal yang aku lakukan sangat bermakna bagiku. Hubunganku dan Mina sampai sekarang masih baik-baik saja dan malahan kami menjadi sangat akrab bak saudara kandung. Terkadang Mina juga menginap di apartemenku, dia sangat supel. Kalau dia tidak ada kerjaan dan memiliki waktu luang, maka dia akan datang kemari menemuiku.


Oh ya, Mina juga membawa pengaruh yang baik padaku. Sewaktu-waktu aku diajak olehnya ke salah satu stasiun televisi, dan aku diajari banyak olehnya. Terlebih lagi dia memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan sangat pintar, bagaimana tata cara berbicara di depan kamera. Beberapa kali aku diajak bekerja juga, seperti siaran di televisi sebagai presenter pembawa berita dan sejenisnya. Jujur aku sangat senang memiliki teman dekat seperti Mina, aku tidak akan melupakan kebaikannya.


Beberapa waktu yang lalu, Audi dan Keila sempat menghubungiku. Mereka bilang akan mengunjungiku disini, tapi belum tahu kapan pastinya. Mereka ingin mengunjungiku setelah mengetahui jika NCT akan melaksanakan konser di Korea dalam waktu dekat ini, aku sudah menduganya. Mereka memang memiliki jiwa fans yang memang besar haha! Untungnya mereka sudah bekerja, jadi tidak perlu membebani orangtua mereka. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mereka jika datang kemari, bahkan bertemu NCT langsung. Karena selama ini, mereka termasuk aku juga hanya bisa melihat NCT dari jauh yaitu lewat video-video haha! Eh, tapi aku sudah bertemu Jeno waktu itu hahah!!!


Sekarang aku sedang berada di kamar, sembari menikmati lagu-lagu milik idolaku yang begitu melekat di telingaku. Tetapi tiba-tiba aku mengingat wajah dokter Jae, tidak ada angin dan tidak hujan kenapa ya aku? Aku hanya mengingat pesan ibuku sebelum dia pergi, katanya aku harus sering-sering menyapa dokter Jae. Namun ya sudahlah, nanti saja. Hari ini aku ingin meluangkan waktuku sebanyak mungkin untuk beristirahat, karena selama kuliah, aku cukup bekerja keras. Aku suka itu hehe...


Panggilan telepon masuk...


“Halo, Mina?” Tanyaku.


“Hei, Yuri... lagi apa?” Jawabnya.


“Lagi menghirup udara segar nih hehe, ada apa?” Tanyaku lagi.


“Mau menemaniku tidak?” Tanya Mina.


“Kemana?” Tanyaku lagi.


“Ke rumah sakit, aku mau cek kesehatan. Akhir-akhir ini aku merasa lelah sekali karena banyak kerjaan.” Jelas Mina.


“Hm... Bagaimana ya...” Kataku.


“Ayolah sebentar saja, kamu tidak ingin menyapa dokter Jae apa?” Kata Mina.


“Dokter Jae? Baiklah, ayo. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya.” Ujarku.


“Siap. Tunggu aku ya, sebentar lagi aku meluncur ke apartemenmu.” Sahut Mina semangat.


“Ok.”


...


Waktu istirahatku berkurang lagi, habisnya aku memang tidak enak dengan Mina. Selama ini yang selalu berada disampingku adalah dia, masa iya hanya ke rumah sakit saja aku menolak? Apalagi dia membawa- bawa nama dokter Jae? Wah, sudah! Aku langsung teringat ibuku, kalau aku harus sering-sering mengunjunginya di rumah sakit. Aku sembuh dari penyakit itu juga karena dokter Jae, jadi apa salahnya sih.


Sekitar lima belas menitan, Mina sampai di apartemenku. Wajahnya terlihat kelelahan dan sepertinya dia butuh multivitamin, oleh sebab itu dia ke rumah sakit. Dia memang panutanku sih, sangat rutin sekali melihat kondisi tubuhnya. Bagiku sangat susah sekali melakukan itu, rasanya malas jika harus pergi ke rumah sakit hanya untuk mengecek kesehatan tubuh.


...


“Yuri?”


“Iya, Mina. Kenapa?” Tanyaku.


“Thank you, ya mau mengantarku hehe...” Kata Mina sambil tersenyum.


“Is ok. Cuma mengantar saja.” Jawabku.


“Tapi kamu juga harus cek ya? Sudah lama loh tidak ke rumah sakit untuk cek kesehatan.” Ujar Mina semangat.


“Kamu benar juga, habisnya aku malas sekali.” Kataku.


“Jangan malas-malasan lah, kamu ingat kan pesan ibumu?” Tanya Mina lagi.


“Iya, ditambah dengan dokter Jae juga ingat.” Sahutku singkat.


“Hehehe... Aku juga ingat apa yang dikatakan ibumu sewaktu berada di mobilku.” Jawab Mina sungkan.


“Hahah... Benarkah? Kamu ini.” jawabku sambil tersenyum.


...


“Mau beli minum dulu tidak?” Tanya Mina.


“Bagaimana kalau kopi? Sekalian untuk dokter Jae.” Kataku.


“Kamu benar, dia kan biasaanya ada operasi. Kasihan...” Ujar Mina.

__ADS_1


Akhirnya aku dan Mina pergi ke kafe di seberang rumah sakit, seperti yang telah kami bilang sebelumnya bahwa kami akan membeli kopi. Tidak sampai dua puluh menit, kami selesai memesan dan langsung menuju rumah sakit.


“Mina, cek kesehatannya dengan dokter Jae? Atau bukan?” Tanyaku.


“Ehm... lebih tepatnya temannya dokyer Jae. Mereka bersebelahan kok.” Jawab Mina.


“Nah, itu ruangannya. Oh iya, kamu cek juga ya? Kalau kamu dengan dokter Jae saja, ini kopinya.” Tutur Mina semangat.


“Yah, kita berpisah? Tidak asik.” Kataku.


“Ya ampun, Cuma begitu saja kok. Tidak apa-apa lah ya? Soalnya aku memang dengan dokter itu selama ini.” Jawab Mina sambil tersenyum.


“Ya sudahlah, apa boleh buat.” Sahutku pelan.


“Ok. Bye...”


Aduh, aku sudah lama sekali tidak bertemu dokter Jae. Rasanya beda sekali jika tiba-tiba aku muncul dihadapannya. Tapi tidak juga sih, aku kan kemari untuk mengontrol kesehatanku. Baiklah, aku masuk sekarang.


...


“Annyeonghaseyo ...” Sapaku.


“Annyeonghaseyo...” Jawab dokter Jae.


“Yuri-sshi? Kamu Yuri kan?” Tanya dokter Jae.


“Iya, dokter. Apa kabar? Lama kita tidak bertemu.” Jawabku.


“Iya, sudah lama ya. Saya pikir kamu kembali ke Indonesia.” Sahut dokter Jae.


“Iya dokter, tapi sekitar enam bulan yang lalu.” Jawabku.


“Lalu sekarang, apa yang kamu lakukan di Korea?” Tanya dokter Jae.


“Saya memutuskan untuk berkuliah disini, bersama Mina.” Kataku.


“Wah, bagus sekali.”


“Terimakasih.”


Setelah percakapan itu usai, dokter Jae segera melakukan pemeriksaan padaku. Untungnya semua hasil yang diberikan oleh dokter Jae tidak ada masalah, semuanya baik-baik saja. Begitu pula dengan kondisi Mina, hanya saja dia diberi resep vitamin untuk menstabilkan kondisi tubuh karena terlalu kelelahan.


Singkat cerita, aku dan Mina hari ini akan beristirahat. Kami kembali ke apartemenku, itu semua karena aku yang meminta Mina agar menemaniku.


...


“Mina, kamu itu kalau bekerja ingat waktu dong. Lihat sekarang coba? Kamu kelelahan bukan? Makanya jangan semua pekerjaan itu diambil, tubuhmu juga butuh istirahat.” Tuturku.


“Hehe... Kamu benar juga. Itu semua kan karena aku suka dengan aktivitasnya, tapi nanti akan ku pertimbangkan. Terimakasih atas nasehatnya ya?” Kata Mina sambil tersenyum.


“Iya, santai saja.”


“Kamu mau makan apa?” Tanyaku.


“Memangnya kamu punya apa disini?” Tanya Mina lagi.


“Ya ada lah. Eh, bagaimana kalau aku buatkan nasi goreng? Pasti kamu suka.” Kataku sambil tersenyum.


“Boleh, itu makanan Indonesia ya?” Tanya Mina penasaran.


“Iya. Kalau disana itu banyak yang jual, bahkan rata-rata laki-laki yang memasaknya. Tapi yang buat aku bingung, kalau yang menjual laki-laki pasti hasilnya enak. Nah, kalau perempuan, biasa saja sih hahah...” Jelasku.


“Masa iya? Kamu ada-ada saja. Berarti nanti hasil yang kamu masak biasa saja dong?” Tanya Mina lagi.


“Ya tidak lah, kan aku tidak menjualnya hehe...” Jawabku.


Hanya memasak nasi goreng saja, semua aktivitas di dapur menjadi heboh tak terkendali. Itu karena memang kalau ada Mina disini, dia sangat cerewet tapi asik sih. Dengan berbagai macam cerita yang keluar dari mulut Mina, semuanya lucu hahah!

__ADS_1


“Yuri, kamu tahu tidak?” Tanya Mina.


“Apa?” Kataku.


“Sepertinya aku menyukai seseorang.” Tutur Mina pelan.


“Apa? Siapa dia?” Tanyaku penasaran.


“Percuma aku bilang, kamu juga tidak tahu hehe...” Sahut Mina sambil tersenyum.


“Itu loh, yang tadi...” Tambahnya.


“Dokter Jae?” Tanyaku.


“Hei, bukan lah. Tapi temannya.” Jawab Mina sambil tersenyum.


“Hah? Jadi yang selama ini mengecek kesehatanmu? Wah... daebak!” Kataku kaget.


“Iya hehe... Aku sudah lama menyukainya.” Kata Mina malu.


“Namanya siapa?” Tanyaku.


“Jadi namanya Kim Min Jae, dia dokter umum.” Jawab Mina sambil tersenyum.


“Wah, apa dia tahu perasaanmu?” Tanyaku.


“Sepertinya tidak.” Jawab Mina.


“Yah...”


“Dia itu selalu membuatku tersenyum, apalagi dia memperlakukanku dengan amat baik. Senyumannya manis sekali, postur tubuhnya seperti idol, pokoknya dia sempurna dimataku.” Jelas Mina sambil tersenyum.


“Dasar kamu, giliran urusan begitu saja senang sekali. Tapi kenapa tidak mengatakannya saja? Bahwa kamu menyukainya?” Tanyaku lagi.


“Ya jangan lah, aku malu.


“Memangnya mau sampai kapan? Sampai dokter itu diambil orang lain?” Tanyaku.


“Ah, entahlah. Lebih baik kita makan ini saja.” Jawab Mina.


Selesai berbicang panjang, kami menyantap nasi goreng buatanku. Alhasil, Mina sangat menyukai masakanku. Dia bilang ketika memakan nasi goreng itu, Mina mengingat masakan ibuku. Dia saja berpikir begitu, apalagi aku? Setiap hari, setiap hal yang aku kerjakan, semuanya mengingatkanku pada ibu, tapi ya sudahlah.


Tidak banyak yang kami lakukan setelah makan, aku dan Mina hanya bersantai di kamarku sambil melihat beberapa koleksi K-Stuff ku dikamar, karena sebagiannya berada di Indonesia.


Saat kami mulai memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi yang menandakan ada tamu.


“Mina, kamu memesan makanan?” Tanyaku.


“Tidaklah, buat apa sih? Kan sudah makan tadi. Kamu kali yang memesan sesuatu, paling juga kurir. Sudah lihat saja, ayo.” Jawab Mina.


“Aku tidak memesan apapun.” Kataku.


“Hah????” Kataku keget.


“Hei, Yuri...”


“Audi? Keila? Ini benar kalian? Apa aku mimpi?” Tanyaku.


“Iya, ini kami.” Kata Audi.


“Mina, cubit pipiku. Sepertinya aku sedang bermimpi.” Kataku.


“Baiklah,...” Jawab Mina.


“Aaaaakkkk, sakit!” Teriakku.


“Jadi ini nyata? Wah... Kalian kok tidak mengabariku?” Tanyaku.

__ADS_1


“Surprise....!!!” Teriak Audi dan Keila.


“Ya sudah ayo masuk.” Ajakku.


__ADS_2