Dokterku Jodohku

Dokterku Jodohku
Orang Baru


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan yang sangat menarik dengan Mina, yaitu pergi ke lokasi syuting reporter. Kini aku baru tersadar dari tidurku yang sangat berkualitas. Aku tidur lebih dari delapan jam dan aku sangat senang akan hal itu. Lingkar hitam di sekitar mataku tampaknya sudah mulai menghilang, kuncinya adalah tidur dengan puas.


Rencanaku hari ini adalah pergi ke rumah sakit, karena waktu itu aku lupa mengambil obat seperti yang telah disarankan oleh dokter Jae untukku. Padahal kami sempat bertemu di beberapa hari yang lalu di rumah sakit, tapi tampaknya dia juga lupa akan hal itu.


Sebenarnya sudah sangat bosan sekali memakan obat-obatan itu, dahulu aku sampai muak dan malas saja. Namun karena sekarang kepalaku terasa sakit kembali, apa boleh buat? Aku harus memaksa untuk meminumnya.


Tepat pukul sepuluh siang, aku memutuskan untuk menuju ke rumah sakit. Tampaknya suasanya dan cuaca diluar sangat cerah, aku jadi bersemangat.


...


Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menuju ruangan dokter Jae. Dan tibalah aku disana.


“Yuri? Masuklah, silahkan duduk.” Kata dokter Jae sambil tersenyum.


“Maaf, apa aku mengganggu kalian?” Tanyaku penasaran.


Aku berbicara demikian bukanlah tanpa sebab, tetapi karena aku memang melihat dokter Jae sedang duduk bersama dengan seorang perempuan yang sangat cantik dan anggun menurutku. Mereka berdua tampak akrab dan sangat bahagia jika aku lihat-lihat, aku jadi merasa bersalah datang pada waktu yang tidak tepat.


“Oh, tidak-tidak.” Sahut dokter Jae.


“Lagi pula aku hanya mampir sebentar untuk mengambil obatku, jadi berikanlah padaku sekarang lalu aku akan pergi.” Kataku sambil tersenyum.


“Tidak usah terburu-buru, dia teman lamaku. Namanya Jessica, aku akan ambilkan obatmu jadi duduklah terlebih dahulu.” Kata dokter Jae.


“Annyeonghaseyo...” Sapaku pada perempuan itu.


Dia pun membalas sapaanku dengan sedikit cuek, sepertinya dia tidak suka melihat aku di sini.


“Bisakah di percepat?” Tanyaku tiba-tiba.


“Tunggu, Yuri. Kamu ini tidak sabar, minumlah dulu.” Jawab dokter Jae.


“Tidak usah, terima kasih.” Jawabku cepat.


“Ini obatnya, kemarin aku lupa memberikannya padamu, maaf ya?” Tanya dokter Jae.


“Tidak apa-apa, aku juga lupa. Terimakasih, kalau begitu aku pamit ya.” Kataku sambil berdiri.


“Cepat sekali, mau makan di kantin?” Tanya dokter Jae.


“Tidak usah, ada temanmu di sini. Kalau begitu sampai jumpa.” Kataku sambil berjalan keluar.


Belum sampai aku menutup pintu, tampaknya perempuan itu penasaran denganku.


“Jae, dia siapa? Kalian tampak akrab sekali.” Tanya Jessica.


“Dia pasienku, kami memang sudah cukup akrab karena sudah lama mengenal.” Jawab dokter Jae.


“Bahkan sampai sekarang dia menjadi pasienmu?” Tanya Jessica lagi.


“Iya.”


“Lama sekali, memangnya dia sakit apa?” Tanya Jessica lagi.


“Ya sesuai dengan bidangku, penyakit dalam.” Jawab dokter Jae.


“Sepertinya dia bukan orang Korea.” Kata Jessica.


“Iya, dia dari Indonesia sengaja ke Korea untuk melakukan pengobatan.” Sahut dokter Jae.


Tanpa kusadari ternyata aku masih mendengar pembicaraan mereka berdua, aku merasa sangat sedih. Aku tidak bisa berdiam di sini, akhirnya aku meninggalkan mereka yang masih asyik dengan pembicaraan mengenai diriku yang lemah ini.

__ADS_1


Ternyata selama ini aku menjadi hama bagi orang lain. Betapa bodohnya aku yang tidak menyadari hal itu. Aku terus menerus menyusahkan dokter Jae, aku jadi lelah.


Setelah pergi dari rumah sakit, aku berencana makan siang dan setelah itu pergi ke toko buku. Sudah lama sekali aku tidak membaca buku, terakhir aku melakukannya pada saat ibuku masih disampingku.


Makan siangku tampak bersemangat, aku memesan makanan pedas kesuakaanku. Jika aku merasa sedih beginilah, aku bukannya tidak nafsu makan, malah memesan banyak makanan pedas untuk membakar kesedihan itu. Semua yang aku makan terasa nikmat dan lezat, aku sangat puas.


“Terima kasih.” Kataku pada pelayan itu.


Setelah melangkahkan kakiku keluar dari tempat makan, aku langsung mendapatkan taksi dan segera meluncur ke toko buku.


Tiba-tiba Mina menelepon...


“Yuri, kamu dimana? Aku di apartemenmu sekarang.” Tutur Mina tiba-tiba.


“Hah? Aku mau ke toko buku, ini habis makan siang. Lagian kamu tidak bilang mau ke sana tadi.” Kataku.


“Iya sih.”


“Kamu mau apa?” Tanyaku.


“Ya sudahlah, aku bisa sendiri di sini. Aku hanya mau istirahat, malam ini aku menginap ya?” Kata Mina semangat.


“Terserah kamu.” Jawabku.


“Yeay!”


“Ya sudah bye...” Kataku pelan.


“Bye...”


...


Aku sangat rindu sekali dengan suasana toko buku. Tempat yang sangat nyaman, damai, dan tenang pastinya. Bukan hanya itu, aku sangat merindukan aroma-aroma buku baru di sini. Bagaimana dengan kalian?


“Aku dulu.” Kataku tegas.


“Tidak bisa, aku duluan.” Kata perempuan itu.


“Kamu yang tadi, kan? Jessica?” Tanyaku.


“Oh kamu pasiennya Jae?” Kata perempuan itu.


“Iya, aku Jessica. Tolong lepaskan tanganmu.” Kata Jessica.


“Tapi aku menginginkan buku ini, tidak akan kulepaskan.” Kataku sambil tersenyum.


“Wah... Kamu ini mencari masalah.” Kata Jessica.


“Baiklah, aku akan mengalah.” Tambahnya.


“Thank you.” Balasku.


“Kamu mau mendengar sesuatu dariku?” Tanya Jessica.


“...”


“Aku tahu kita baru pertama bertemu, tapi akh sudah merasa kasihan padamu.” Tutur Jessica.


Aku masih terdiam.


“Aku mau berkata, sebaiknya jangan pernah mendekati Jae lagi. Aku dan Jae akan segera bertunangan, dan keluarga kami sudah setuju.” Kata Jessica sambil tersenyum.

__ADS_1


“Aku tahu kamu menyukainya, tapi jangan salah ya. Kami sudah berteman sejak remaja dan aku sangat tahu kepribadian Jae. Dan kamu jangan seolah-olah pantas berada bersamanya, kamu hanya manusia yang ditakdirkan untuk sakit-sakitan. Jadi jangan mimpi bisa bersanding dengan Jae-ku.” Tutur Jessica ketus.


“Kamu tenang saja, aku tidak akan mendekati Jae oppa lagi.” Kataku sambil meninggalkan Jessica.


Perkataan Jessica membuatku merasa tahu diri posisiku di mana. Hatiku rasanya remuk mendengar semua yang dikatakan Jessica. Memang semua yang dikatakannya benar, aku hanyalah manusia lemah dan tidak seharusnya terus berada di dekat dokter Jae.


“Aku pulang...” Kataku.


“Yuri, lama sekali sih. Mana yang kamu dapatkan dari toko buku?” Tanya Mina penasaran.


“Sudahlah, tidak jadi membeli apa pun. Aku mandi dulu.” Kataku sambil pergi ke kamar mandi.


“Kamu kenapa sih.” Kata Mina sambil kebingungan.


...


“Yuri, kamu ada masalah ya?” Tanya Mina tiba-tiba.


“Tidak kok, aku hanya lelah saja." Jawabku singkat.


Tiba-tiba ponselku berdering, ketika kulihat ternyata dari dokter Jae.


“Kenapa tidak diangkat? Dari siapa?” Tanya Mina lagi.


“Nomor tidak dikenal, biarkan saja.” Kataku sambil tersenyum.


“Kan siapa tahu penting.” Jawab Mina.


“Itu kan dokter Jae? Iya kan? Sini biar aku saja yang angkat.” Kata Mina sambil mengambil ponselku.


“Halo, dokter Jae? Ini Mina.” Jawabnya.


“Mina? Yuri dimana, kok kamu yang mengangkatnya.” Tanya dokter Jae.


“Dia sedang di toilet, dok. Memangnya ada apa?” Tanya Mina.


“Tidak, aku hanya mengingatkan untuk meminum obatnya.” Kata dokter Jae.


“Oh begitu, nanti akan ku sampaikan.” Jawab Mina semangat.


“Baiklah, terima kasih.”


...


“Yuri, jujur padaku. Kamu sakit lagi? Kenapa tidak bilang padaku.” Ujar Mina.


“Tidak apa-apa kok, cuma sakit ringan dan tidak perlu di khawatirkan.” Kataku.


“Tidak mungkin begitu, dokter Jae saja sampai bertindak.” Sahut Mina.


“Baiklah, akan kuceritakan. Jadi aku sering kali sakit kepala, dan dokter Jae berkata bahwa ada gumpalan darah di kepalaku. Tapi bisa disembuhkan dengan meminum obat, jadi jangan khawatir.” Jelasku dengan perlahan.


“Ya ampun, kamu sih. Makanya kalau ada yang sakit, jangan dianggap remeh. Setidaknya datanglah ke rumah sakit untuk memeriksanya.” Ucap Mina semangat.


“Iya iya.”


“Oh ya, kamu dan dokter Jae sedang berkelahi apa?” Tanya Mina lagi.


“Tidak.” Jawabku cepat.


“Lalu mengapa tidak mengangkat teleponnya?” Tanya Mina lagi.

__ADS_1


“Tidak kok, hanya malas saja. Aku sudah banyak merepotkannya, itu saja.” Kataku.


__ADS_2