
Dari jam 8 pagi aku bersemedi di meja kerjaku, eh tidak. Saat ini sudah pukul 2 siang dan aku masih bergelut dengan komputer milikku untuk mencari pekerjaan walau itu hanya paruh waktu. Keberadaanku di sini sangat sulit untuk mencari pekerjaan karena aku masih berkuliah tentunya. Berbagai cara telah aku lakukan untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Sebenarnya aku tidak terlalu membutuhkannya, lagi pula aku masih memiliki cukup uang untuk bertahan hidup di sini. Namun kembali lagi bahwa aku ingin melatih kemampuanku di bidang reporter ini.
Perutku sudah bernyanyi dengan keras, tubuhku sedikit lemas. Ya inilah akibatnya jika dari pagi aku belum sarapan sedikitpun.
Tiba-tiba ponselku berdering…
“Halo, iya Mina.” Jawabku.
“Kamu di mana sekarang?” Tanya Mina.
“Apartemen. Ada apa?” Jawabku lagi.
“Tidak. Aku baru saja pulang dari kampus, aku akan meluncur sebentar lagi.” Jelas Mina.
“Baiklah.” Kataku.
“Aku akan membeli beberapa makanan, kamu mau tidak?” Tanya Mina.
“Boleh, baru saja aku mau keluar untuk membeli makanan.” Jawabku.
“Tidak usah, sebentar lagi aku sampai. Tunggu saja.” Kata Mina cepat.
“Baiklah.”
…
Itulah enaknya memiliki seorang teman yang sangat perhatian. Aku sempat tidak percaya bisa mendapatkan seorang teman yang bukan dari negaraku sendiri, tapi negara lain. Bagaimana bisa dia bersikap baik sekali padaku, aku sampai terkagum-kagum dibuatnya. Dia selalu membantuku, menyemangatiku, bahkan menasehatiku layaknya seorang ibu. Namun sangat disayangkan baha dia sangatlah cerewet dan tidak bisa diam walau sebentar saja.
“Aku datang…” Sambut Mina.
“Cepat sekali?” Tanyaku.
“Apa sih yang tidak untukmu?” Kata Mina sambil menyombongkan diri.
“Iya-iya.”
“Ayo kita makan…” Ucap Mina sambil membuka beberapa makanan.
“Oh ya, Yuri. Bagaimana? Apakah kamu sudah berbaikan dengan dokter Jae?” Tanya Mina tiba-tiba.
“Em… Kami baik-baik saja kok.” Kataku pelan.
“Jangan membohongiku, aku tahu samuanya.” Sahut Mina.
“Apa, apa yang kamu ketahui?” Tanyaku cepat.
“Ya dari waktu itu, saat kamu tidak mau mengangkat teleponnya.” Jelas Mina.
“Aku tidak merasa enak saja berada di dekatnya.” Kataku pelan.
“Pasti telah terjadi sesuatu, kan?” Tanya Mina.
“Saat aku hendak mengambil obatku di ruangannya, di sana ada teman prempuannya. Katanya sih mereka sudah berteman lama.” Jelasku.
“Lalu apa masalahnya?” Tanya Mina lagi.
“Ya temannya itu seperti tidak menyukai keberadaanku di sana. Aku langsung pergi ketika sudah mendapatkan obatku.” Kataku perlahan.
“Lalu?” Tanya Mina.
__ADS_1
“Ketika aku ke toko buku, aku malah bertemu dengan perempuan itu lagi. Dan kami berbicara sebentar.” Kataku.
“Apa yang kalian bicarakan? Pasti inilah penyebabnya.” Tutur Mina cepat.
“Ya apa yang dikatakan oleh perempuan itu benar sih. Aku tidak bisa terus menerus merepotkan dokter Jae, lagi pula sudah takdirku jika sakit-sakitan. Sebenarnya aku hanyalah perempuan yang lemah, sangat lemah. Dan yang terpenting, mereka akan bertunangan.” Jelasku mantap.
“Apa? Tunangan? Kamu tidak salah dengar kan?” Tanya Mina.
“Tidak, Mina. Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan ini lagi.” Kataku.
“Tapi tidak mungkin, Yuri. Aku rasa mereka tidak sedekat itu, Min Jae saja tidak pernah cerita apapun mengenai perempuan itu padaku. Aku rasa perempuan itu hanya mengaku-ngaku saja.” Jelas Mina.
“Sudahlah, habiskan makananmu.” Sahutku.
…
Ponselku berdering…
“Jevan?”
“Halo, Jev.” Jawabku.
“Yuri…” Kata Jevan pelan.
“Ada apa? Pasti ada sesuatu yaang terjadi jika kamu menghubungiku, apa lagi kali ini?” Tanyaku.
“Aku mohon kamu agar tetap tenang ya?” Tanya Jevan.
“Iya, lalu apa?” Kataku cepat.
“Kakakmu, dia jatuh dari lantai atas rumah sakit jiwa. Dan dia meninggal.” Kata Jevan perlahan.
Jleb!
“Tidak, Yuri. Aku serius.” Kata Jevan.
Detak jantungku terasa berhenti sejenak setelah mendengar berita itu, dan air mataku menetes, tubuhku lemas dan ponselku jatuh dari genggaman tanganku.
“Yuri!!!” Teriak Mina.
“Mina, kakakku… Kakakku… Dia sudah tidak ada.” Kataku sambil menangis.
…
“Yuri, kamu tenang dulu ya? Ini minumlah.” Kata Mina sambil memberikan segelas air putih.
“Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, Mina.” Kataku sambil sesegukan.
“Tenang, Yuri. Ada aku di sini.” Kata Mina sambil memelukku.
“Aku harus segera pulang, Mina. Aku tidak bisa berdiam diri di sini saja.” Tuturku pelan.
“Aku mengerti, akan segera ku urus penerbangannya.” Kata Mina sambil mengambil ponselnya.
“Yuri, kali ini aku harus ikut denganmu.” Ucap Mina.
“Apa? Kamu serius? Kamu akan ikut denganku ke Indonesia?” Tanyaku.
“Iya, aku tidak mungkin membiarkanmu pergi sendirian.” Jawab Mina.
__ADS_1
“Terima kasih Mina, tapi bagaimana dengan pekerjaanmu?” Tanyaku lagi.
“Sudah, itu jangan terlalu di pikirkan. Ayahku akan mengurusnya, segera bersiap saja.” Kata Mina.
…
Tepat pukul 8 malam…
“Sudah siap kan? Bawa saja yang kamu perlukan.” Kata Mina.
“Iya, bagaimana denganmu?” Tanyaku.
“Sudah. Kalau begitu, ayo kita berangkat. Ayahku sudah menunggu di lobi.” Jelas Mina.
“Ayahmu akan mengantar kita?” Tanyaku.
“Iya.”
“Ya ampun, aku sudah banyak merepotkan kalian.” Kataku.
“Tidak kok, percayalah.”
…
Ketika sampai di lobi, memang benar ayah Mina sudah menunggu di sana. Aku merasakan bahwa mereka sangat melindungiku dan menyayangiku, aku sangat terharu.
“Yuri, jangan menangis ya?” Kata ayah Mina.
“Iya, tidak paman.” Kataku.
“Iya, sebentar lagi kamu akan tiba menemui keluargamu.” Tambah ayahnya.
“Hanya saja, aku merasa terharu saja paman. Kalian sangat berlaku baik padaku, dan kelaurgaku saja tidak seperti ini.” Jelasku sambil tersenyum.
“Anggap saja kami ini keluargamu, jadi bersantailah dan jangan sungkan.” Sahut Mina.
“Terima kasih ya, Mina dan paman. Aku sangat menghargai betapa baiknya kalian padaku.” Jawabku.
“Iya, sekaligus paman titip Mina di sana ya?” Tanya ayah Mina sembari tersenyum.
“Iya, paman tenang saja.” Kataku.
“Ayah, Mina juga bisa jaga diri. Lagian Mina akan selalu beraada di samping Yuri, hehe…” Ujar Mina
“Oh, ya Yuri. Sudah lama sekali paman tidak menghubungi ayahmu, karena sangat sibuk mengurus bisnis.” Kata ayah Mina.
“Biasanya kami banyak berbincang-bincang lewat telepon kira-kira seminggu itu bisa tiga kali. Kalau sekarang sudah tidak bisa, bagaimana kabarnya?” Tanya ayah Mina.
“Ayah baik-baik saja paman, sangat baik. Apalagi semenjak Ibu meninggal dunia, dia sangat bahagia.” Jawabku sambil tersenyum.
“Loh, mengapa begitu?” Tanya ayah Mina lagi.
“Ayah, sudahlah.” Sahut Mina tiba-tiba.
“Kalau kakakmu itu bukannya dia suka berbisnis ya? Tapi sayang sekali.” Ucap ayah Mina.
“Iya, paman. Dia sangat menyukai dunia bisnis, tapi sering kali membuang-buang uang yang diberikan oleh ayah. Akibatnya, ya seperti sekarang.” Jawabku.
“Kasihan sekali ya.” Sahut ayah Mina.
__ADS_1
“Aku sangat menyayanginya, paman. Walaupun dia sangat membenci keberadaanku, selalu menyalahkanku, pokoknya semua yang aku lakukan salah di matanya. Tapi semua itu tidak apa-apa.” Jawabku sambil meneteskan air mata.
“Sudah, Yuri. Jangan bersedih terus, sebentar lagi kita akan sampai kepadanya.” Sahut Mina sambil menenangkanku.