
Hari ini adalah puncak dari segala puncak. Hari ini aku bersama dengan teman-teman tersayangku akan pergi ke tempat yang indah,bukan mimpi pastinya. Bertemu sang idola adalah angan-angan kami selama ini, dan hari ini adalah waktunya. Jika dahulu saat kami masih bersekolah, kami hanya dapat melihat idola kami dari media sosial yang hanya bermodalkan kuota.Namun hari ini, kami dapat melihat mereka dengan kedua mata yang kami miliki.
Kami dapat bergabung sekaligus bersatu dengan penggemar yang lainnya, bernyanyi dan menari bersama dengan alunan lagu yang begitu indah.
Aku jadi teringat saat dahulu masih duduk di bangku sekolah menengah atas, pada saat jam pelajaran kosong itu adalah kesempatan emas bagi kami semua. Bagaimana tidak, pada saat itulah aku bersama teman-temanku berbondong-bondong duduk secara berdampingan, setelah itu menyalakan satu laptop dan diletakkan di tengah-tengah. Untuk apa? Apalagi kalau bukan menonton konser idola kami yang memang sudah ada yang mengunggahnya di akun youtube tertentu. Gayanya bukan main, berteriak, tersenyum lebar, terhanyut, tersentuh,
sampai-sampai membuat sebuah lightstick dari kertas masing-masing, sangat menyenangkan jika kupikir kembali kenangan dulu.
“Kalian sudah siap, bukan?” Tanya Mina.
“Sangat.” Jawab Keila dan Audi serentak.
“Kamu mengapa, Yuri?” Tanya Mina.
“Hah? Oh, tidak.” Jawabku singkat.
“Kamu menangis? Lihatlah, iya kan?” Sahut Audi.
“Aku hanya terharu saja kita bisa seperti ini sekarang.” Jawabku.
“Aku kira apa, ya sudah ayo berangkat sepertinya sudah antre panjang.” Timpal Mina.
Tidak banyak yang kami persiapkan pada saat ini, kami hanya membawa peralatan yang penting dan secukupnya saja seperti air minum, handuk kecil, powerbank, dan masih ada beberapa yang lainnya serta tidak lupa lightstick yang sudah kami persiapkan dari awal. Waktu terus bergulir, dalam perjalanan ini kami tidak saling bicara dan memang tidak ada yang memulai pembicaraan. Arah pandangan mata kami entah tertuju kemana dan pikiran ini juga entah kemana, saat ini aku dan yang lainnya hanya terdiam dan terpaku.
Kami sudah tiba di venue konser dengan selamat. Saat ini kami sudah berdiri keluar dari mobil, sudah sangat banyak orang yang berdatangan kemari dengan tujuan yang sama, yaitu memasuki venue. Untuk masuk kesana tidaklah mudah, kami harus sabar mengantre dengan yang lainnya. Untungnya aku, Mina, Keila, dan Audi memilih tempat yang saling berdekatan satu sama lain. Samua ini sudah direncanakan oleh Mina, dia memang yang terbaik dalam segala hal. Aku memang melihat secara langsung bagaimana dia berjuang dalam membeli tiket ini,
dan itu semua membuatku terkagum-kagum olehnya. Kalian pikir saja ketika tiket ini dibuka penjualannya, hanya dalam hitungan detik itu semua sudah sold out, sudah habis dibeli oleh orang-orang tertentu yang memang handal dalam memecahan rekor haha!
“Guys, mau latihan tidak?” Tanya Audi tiba-tiba.
“Latihan apa? Kita sekarang tengah mengantre, kamu ini ada-ada saja.” Sahut Mina.
“Latihan fancant… daripada bosan menunggu seperti ini.” Jawab Audi.
“Tidak, ah malas.” Jawabku.
“Ih, tidak asik.”
“Audi, sudahlah jangan buat malu disini.” Sahut Keila.
Beberapa saat kemudian, akhirnya kami dapat masuk dan duduk di venue. Rasanya sangatlah bahagia karena bisa duduk disini apalagi bersama dengan sahabat-sahabatku. Deti demi detik kami lewati, sebelum kursi disini terisi penuh, kami bersenang-senang terlebih dahulu denga cara berfoto ria. Ternyata ini rasanya bisa berada di tingkat dimana kami semangat kembali menjalani hidup ini. Ini yang kami mimpi-mimpikan dahulu, dan ini yang membuat kami berstamina.
Akhirnya waktu yang kami tunggu-tunggu telah tiba, sekarang adalah waktunya kami melihat idola kami dengan dekat. Suasana disini menjadi gelap, namun beberapa saat ada lampu-lampu yang mulai menyala. Kondisi semakin riuh, semua fans berteriak histeris karena ada video yang ditampilkan di depan mata kami, namun setelah itu hanya lagu-lagu pembuka yang diputarkan sebelum idola kami tampil. Aku sempat meneteskan air mata karena telah berada disini, sangat mengharukan. Andai saja ibuku masih hidup dan masih berada di sisiku, dia pasti sangat senang bisa melihat putrinya sebahagia ini.
__ADS_1
Tidak lama jeda lagu-lagu itu diputar, ponsel milikku bergetar dan aku pun langsung mengambilnya. Ternyata ada panggilan dari dokter Jae, namun ketika aku angkat tidak ada suara sedikit pun. Mungkin hal itu karena suasana disini sedang berisik dan riuh. Beberapa kali ia menghubungiku, namun tetap suaranya nihil. Aku jadi terpikirkan, ada apa kira-kira? Mengapa ia berkali-kali menghubungiku? Apa terjadi sesuatu? Ah, tidak. Aku tidak boleh berpikir begitu.
Setelah aku mencoba mengacuhkan dan mengalihkan pikiranku, lagi-lagi ponselku bergetar namun kali ini bukan menelepon langsung, melainkan mengirimiku pesan. Mataku terbelalak, kepalaku sedikit pusing, dan tubuhku terasa teombang-ambing.
“Yuri! Kamu kenapa?” Tanya Mina yang berada di dekatku.
“Ak, kepalaku.”
“Guys, aku harus keluar dari sini.” Tuturku.
“Kenapa? Kan belum mulai.” Tanya Audi.
“Aku harus menolong dokter Jae, dia kecelakaan dan membutuhkan bantuanku.” Jawabku.
“Kamu serius?” Tanya Keila.
“Iya. Kalian nonton saja, bye.” Kataku sambil berjalan keluar.
Setelah aku berhasil keluar dari venue dengan bantuan panitia di dalam, saat ini aku sudah berada di luar ruangan tepatnya di pinggir jalan sembari mencari taksi. Suasana hatiku menjadi tidak karuan karena terus terpikirkan olehku mengenai dokter Jae. Akhirnya aku mendapatkan taksi dan segera ke tempat kejadian.
Ketika sampai disana, aku sangat terkejut. Mobil milik dokter Jae terlihat rusak berat, bahkan ketika aku llihat sekeliling, memang sudah rusak bukan main. Ternyata menurut informasikan yang aku dapatkan dari polisi, mobil dokter Jae tertabrak langsung dengan truk pengangkut barang berat.
“Iya, saya sendiri.”
“Jadi tadi saya sendiri yang menghubungi, karena nomor telepon yang teratas adalah anda di ponsel milik korban.” Jelas polisi itu.
“Iya, tidak apa-apa. Sekarang bagaimana?” Tanyaku.
“Korban baru saja dibawa ke rumah sakit Seoul, anda bisa kesana sekarang. Nanti saya akan menghubungi anda lagi mengenai kecelakaan ini.” Kata polisi itu.
“Ah, ya baiklah.”
Tak lama setelah itu aku langsung ke rumah sakit Seoul karena merasa cemas dan takut. Apakah dokter Jae baik-baik saja?
Langkah pertama yang aku lakukan ketika sampai di rumah sakit adalah berlarian menuju lobby dan menghampiri bagian administrasi untuk menanyakan keberadaan dokter Jae. Saat aku mengetahui bahwa dokter Jae berada di ICU, aku berlari kembali. Dan dugaanku benar, disana belum ada siapa-siapa. Saat ini yang aku lakukan
hanyalah menunggu dan berdoa, semoga saja tidak terjadi apa-apa. Berdiri, berjalan kesana kemari, menggigit kuku adalah aktivitasku saat ini agar menghilangkan sedikit kekhawatiran ini. Sudah 4 jam aku berada di depan ruang ICU ini, namun dokter yang menangani tak kunjung keluar dari ruangan.
“Dokter, bagaimana? Bagaimana keadaannya?” Tanyaku ketika dokter itu keluar.
__ADS_1
“Saat ini dokter Jae belum sadarkan diri, mungkin butuh waktu yang lama karena ia
mengalami banyak pendarahan di bagian kepalanya,” jelas dokter itu.
“Tapi tidak terjadi apa-apa kan dok, selain itu tadi?” Tanyaku.
“Saat ini kondisinya memang begitu, semoga saja dapat membaik. Namun ada kecemasan karena memungkinan terjadinya kerusakan pada otaknya dan kaki kirinya pun sedikit memar karena tertimpa beban berat, jadi kami hanya menunggu hasil CT scan-nya dahulu. Mohon bersabar, saya permisi.” Jelas dokter itu lagi.
…
“Dengan nona Yuri?” Tanya seseorang tiba-tiba.
“Ya, saya sendiri. Oh anda?” Tanyaku.
“Iya, saya yang tadi di TKP. Ini ponsel milik korban, saya lupa memberikannya tadi.” Kata polisi itu.
“Bagaimana keadaan korban nona?” Tanya polisi itu.
“Saat ini masih belum sadarkan diri. Kalau mengenai kecelakaan tadi bagaimana, pak?” Tanyaku.
“Kami sedang melakukan invesstigasi, dan saat ini supir truk sedang kamii wawancarai. Untuk berita selanjutnya nanti saya hubungi, kalau begitu saya pamit.” Kata polisi itu.
Ya tuhan, mengapa hal ini terjadi pada dokter Jae? Dia adalah orang sangat baik, dan mengapa ada hal buruk seperti ini di hari bahagiaku? Aku tidak mungkin meninggalkan dokter Jae begitu saja, dia adalah orang yang sangat berjasa di hidupku. Jika saja aku tidak bertemu dengannya, aku pasti sudah menghadap kepadamu, ya tuhan.
Tidak terasa hari sudah malam, tiba-tiba ponselku berdering.
“Halo, Mina?” Jawabku.
“Yuri, kamu ada dimana? Kami sudah sampai di apartemen.” Kata Mina.
“Oh, sudah selesai ya? Aku masih di rumah sakit, dokter Jae belum sadarkan diri jadi malam ini sepertinya aku tidak pulang.” Jawabku.
“Ya ampun, bagaimana kondisinya? Apakah parah?” Tanya Mina.
“Lumayan, Mina. Aku sangat khawatir karena ia belum sadarkan diri hingga saat ini.” Jawabku pelan.
“Mau ku bawakan makanan? Sepertinya kamu belum makan dari pagi tadi, iya kan?” Tanya Mina lagi.
“Tidak usah, Mina. Kalian istirahat saja, terlebih lagi kalian lelah hari ini. Bagaimana kalau besok pagi saja? Bawakan aku baju ganti ya?” Kataku.
“Em, baiklah kalau begitu. Jaga dirimu disana, ya?” Tanya Mina.
“Iya, Mina. Tenang saja.”
__ADS_1
Setelah menerima telepon dari Mina, ada satu dokter yang masuk ke ruangan, namun ada beberapa dokter lagi yang masuk kesana. Kalau di dalam drama korea, suasana ini sedang tidak memungkinkan. Seperti pasien yang sedang berada di ujung tanduk dan para dokter harus berjuang mempertahankan hidupnya.