Dokterku Jodohku

Dokterku Jodohku
Adu Kuat


__ADS_3

Refreshing malam yang terasa singkat telah berlalu. Kami semua pulang ke apartemenku, sementara Mina pulang ke rumahnya untuk malam ini karena ada urusan yang mendesak. Mina hanya mengantarku dan kedua temanku tepat di depan lobi apartemen, tampaknya dia sangat buru-buru. Ketika pintu lift terbuka yang langsung menghubungkan ke apartemen milikku, di sana sudah terlihat Jevan.


“Jevan?” Tanyaku.


“Akhirnya kalian pulang juga.” Jawab Jevan.


“Sudah lama ya?” Tanyaku.


“Lumayan, hehe...” Sahut Jevan.


“Kenapa tidak telepon kami? Kan kamu bisa menyusul.” Timpal Keila.


“Ponselku mati, jadi aku hanya berdiri dan menunggu saja.” Jawab Jevan.


“Ya sudah, ayo masuk.” Kataku.


...


“Kalian dari mana saja sih? Memangnya Keila dan Audi tidak lelah apa?” Tanya Jevan.


“Iya, Jev. Jadi itu semua ide mereka berdua, ya terpaksa aku menurutinya.” Jawabku.


“Jev, kami tidak akan lelah kalau berada disini, jadi tidak usah khawatir.” Sahut Audi sambil tersenyum lebar.


“Siapa juga yang khawatir? Jangan terlalu percaya diri. Aku kesini karena ingin memberikan makanan tahu. Sepertinya makanan ini sudah dingin, bagaimana kalau dipanaskan?” Tanya Jevan.


“Ya sudah, biar aku saja.” Kataku.


“Baiklah, aku bantu ya?” Tanya Jevan.


“Boleh.”


...


“Kalian pergi kemana tadi?” Tanya Jevan.


“Tadi kami diajak Mina ke Itaewon, makan inilah, itulah, sampai lelah aku.” Jawabku.


“Oh begitu.” Sahut Jevan.


“Tadi kami juga tidak sengaja bertemu dengan dokter Jae di kafe, akhirnya mereka bergabung bersama kami.” Tambahku lagi.


“Dokter Jae? Mengapa dia ada disana?” Tanya Jevan.


“Ya makanlah. Dia juga bersama rekannya.” Kataku lagi.


“Kalian membicarakan apa?” Tanya Jevan lagi.


“Ya banyak, kenapa bertanya?” Tanyaku penasaran.


“Tidak kok.”


“Yuri, memangnya kamu dan dokter Jae dekat ya?” Tanya Jevan tiba-tiba.


“Hah? Biasa saja sih. Ada apa?” Tanyaku lagi.


“Tidak, rasanya kalian sering sekali bertemu.” Jawab Jevan.


“Iya, kami jadi akrab karena terlalu sering bertemu.” Kataku.


...


Dengan pembicaraan yang seadanya, aku merasa sedang di interogasi oleh detektif saja. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh dalam diri Jevan, bagaimana tidak? Dia terus bertanya ini dan itu, aku jadi malas. Acara makan-makan kami berlanjut karena Jevan membawakan kami beberapa makanan. Perutku terasa begah dan penuh jika aku makan lagi, namun bagi Audi daan Keila itu bukan masalah. Mereka selalu makan dengan lahap walau masih terasa kenyang, aku saja bingung mengapa mereka bisa begitu.


“Aduh, kenyangnya...” Ucap Audi.


“Iya aku juga, jadi ngantuk sekali.” Sahut Keila.


“Makanya jangan terlalu banyak makan, lihat akibatnya? Bukannya malah bertenaga, ini terlihat kehabisan tenaga, dasar. Sudah sana bersihkan diri kalian, dan tidur. Kalian sudah terlihat lelah sekali.” kataku sambil menatap Keila dan Audi.


“Kalian lucu sekali sih hahah...” Sahut Jevan.


“Apanya yang lucu?” Tanyaku.


“Bukan apa-apa.” Jawab Jevan cepat.

__ADS_1


Tiba-tiba ponselku berdering tanda pesan masuk.


Dokter Jae? Ada apa sih.


Hah? Dia mengajakku keluar besok? Ah iya, besok waktunya weekend. Bagaimana ini? Aku iyakan atau tidak ya? Tapi aku tidak enak jika menolak ajakannya.


Ya sudahlah.


“Siapa, Yuri?” Tanya Jevan tiba-tiba.


“Ehm... Ini dokter Jae.” Kataku.


“Ada apa?” Tanya Jevan lagi.


“Dia mau mengajakku keluar besok.” Kataku sambil tersenyum.


“Kamu tidak menolak?” Tanya Jevan lagi.


“Ya tidaklah, aku merasa senang.” Kataku.


“Sayang sekali ya?” Kata Jevan sambil tersenyum.


“Kenapa?” Tanyaku.


“Tadinya aku juga mau mengajakmu keluar, aku bosan. Dulu waktu kamu masih melakukan pengobatan disini, kita tidak sempat berjalan-jalan keluar bersama. Tapi ya sudahlah.” Tutur Jevan pelan.


“Ya ampun, kenapa tidak bilang dari tadi?” Tanyaku.


“Atau kamu ikut saja, ya besok? Kamu juga sahabat sekaligus saudara bagiku, masa iya aku tega denganmu hehe...” Ucapku lagi.


“Tidak, ah. Nanti aku malah mengganggu waktumu.” Jawab Jevan.


...


“Kalian mau kemana? Kami berdua ikut ya? Jangan sekali-kali kalian meninggalkan kami, ingat itu.” Ucap Keila yang muncul tiba-tiba.


“Kalian ini dengar saja apa yang kami bicarakan.” Kataku.


“Ya iyalah, kan telinga kami masih berfungsi dengan baik.” Sahut Keila sambil tertawa.


“Baiklah kalau begitu. Ehm... sudah malam, aku pulang ya?” Tanya Jevan.


“Oh begitu, baiklah. Hati-hati ya?” Tanyaku.


“Siap.”


...


Tidak terasa, sang mentari telah menunjukkan jati dirinya tepat di balik jendelaku. Mataku terkena lintas cahaya teriknya ketika membuka jendela itu. Tak sadar ketika aku melihat jam dinding, saat ini sudah siang sekitar pukul sembilan. Keila dan Audi masih pulas tertidur dengan saling berhadapan. Teringat malam tadi kalau dokter Jae akan mengajakku keluar, aku langsung mengambil ponselku. Dokter Jae sudah mengirimiku pesan dari jam delapan pagi, untung saja dia mengajakku keluar di jam sebelas siang, artinya masih ada waktu untuk bersiap-siap. Setelah itu aku membangunkan kedua makhluk yang sangat susah untuk membuka matanya, Keila dan Audi.


“Halo, Jev? Ada apa?” Tanyaku.


“Hari ini, jadi?” Tanya Jevan.


“Oh iya, jam sebelas ya?” Tanyaku.


“Baiklah, nanti aku akan menjemput Keila dan Audi.” Kata Jevan.


“Siap.”


..


“Yuri, baju ini bagus tidak? Cocok tidak untukku?” Tanya Audi.


“Bagus, apa saja yang kamu pakai pas sekali.” Kataku.


“Kita mau kemana hari ini?” Tanya Keila.


“Aku belum tahu, dokter Jae yang mengajakku.” Kataku.


“Apa? Jadi dokter Jae yang mengajakmu? Lalu kami dengan siapa nanti?” Tanya Audi.


“Jevan.” Kataku.


“Yuri, sepertinya dokter Jae menyukaimu.” Kata Keila.

__ADS_1


“Apa? Ya tidak mungkin lah, masa iya dia menyukaiku.” Kataku.


“Kalau iya? Kamu sangat beruntung tahu, bisa menikah dengan orang Korea hahah... Kamu suka kan?” Tanya Keila.


“Ada-ada saja.” Kataku.


“Apalagi dia sangat mirip dengan Jaehyun, aku tidak bisa membayangkannya jika kamu bersanding dengannya.” Sahut Audi histeris.


“Hahah... Ada-ada saja kamu. Sudahlah, ayo siap-siap.” Kataku sambil tersenyum lebar.


Tidak lama kemudian, bel apartemenku berbunyi.


“Dokter Jae?” Tanyaku


“Ayo, masuk.”


“Terimakasih.” Jawab dokter Jae.


“Mau minum?” Tanyaku.


“Tidak usah, kalau sudah siap kita jalan sekarang saja bagaimana?” Tanya dokter Jae.


“Boleh.” Kataku.


Setelah percakapan singkat itu, aku dan dokter Jae langsung pergi meninggalkan apartemen. Dia mengendarai mobil hitam yang sangat berkilau dimataku bak dalam drama Korea. Dokter Jae jika ku perhatikan, hari ini dia sangat menawan. Dia hanya memakai kaos oblong yang dipadukan dengan jeans vintage, serta tidak lupa dia memakai luaran jas casual. Bagaimana dengan rambutnya? Ya tertata dengan rapi dan sedikit terbelah, seperti aktor dalam drama saja. Aku kenapa ya? Apa aku menyukainya? Sepertinya wajahku memerah karena terlalu lama melihat dokter Jae.


“Yuri, kita makan siang dulu ya?” Tanya dokter Jae.


“Baiklah, saya juga lapar.” Kataku.


Kami sampai pada sebuah kafe yang sangat cantik dan sangat aesthetic bagiku hehe. Aku dan dokter Jae memesan makanan dan menunggunya, namun beberapa saat kemudian Jevan, Audi, dan Keila datang. Akhirnya mereka duduk bersamaku dan makan bersama.


“Annyeonghaseyo...” Sapa Jevan.


“Nee annyeonghaseyo...” Jawab dokter Jae sambil tersenyum.


“Yuri, kamu mau makan apa?” Tanya Jevan tiba-tiba.


“Kami sudah memesannya, kalian saja.” Jawab dokter Jae.


Aku kaget, “Iya, Jev.” Kataku.


...


Makanan datang dan kami segera menyantapnya dengan penuh semangat.


“Dokter, kenapa pesan banyak sekali? Aku tidak kuat memakan semua ini hehe...” Ucapku.


“Benarkah? Maafkan saya ya? Nanti biar saya yang menghabiskannya, tenang saja.” Jawab dokter Jae.


Tiba-tiba Jevan menyantap makanan yang baru saja dibicarakan, “Ehm... Lezat ya? Biar aku saja yang memakannya, kasihan dokter Jae.” Kata Jevan.


“Jevan, pelan-pelan makannya.” Kataku.


“Iya, Yuri.” Jawab Jevan.


Sepertinya dokter Jae merasa kesal dengan kelakuan Jevan.


“Eh, Jevan. Itu minumku, kok kamu yang minum sih?” Tanyaku.


“Hah? Maaf, Yuri. Nanti aku pesankan lagi, tunggu ya?” Tanya Jevan.


“Tidak usah, aku saja.” Sahut dokter Jae sambil berdiri.


“Tidak apa-apa, dok. Kan saya yang salah, dokter disini saja.” Kata Jevan sambil tersenyum.


“Untuk Yuri, kenapa tidak?” Tanya dokter Jae.


“Kok jadi berkelahi sih?” Tanyaku tiba-tiba.


“Iya, nih. Jangan berkelahi gara-gara Yuri ya?” Tutur Keila bingung.


...


Belum selesai berbicara, Jevan dan dokter Jae langsung memesan minuman untukku. Aku merasa bingung mengapa mereka bersikap seperti itu, aneh saja sih.

__ADS_1


__ADS_2