Dokterku Jodohku

Dokterku Jodohku
Keberuntunganku


__ADS_3

Pagi ini aku tidak sengaja tertidur dengan posisi duduk di kursi ruang tunggu rumah sakit dan tersadar sesaat. Tanpa ku sadari, ternyata Mina sudah berada di sampingku dan ia tampak mengasihaniku.


 


“Yuri, kamu baik-baik saja bukan?” Tanya Mina.


“Iya, kamu sudah lama berada disini?” Tanyaku.


“Tidak terlalu sih, ini handuk dan bajumu. Dan sekalian aku bawakan sarapan.”  Jawab Mina sambil memberiku bawaannya.


“Keila dan Audi dimana?” Tanyaku.


“Jangan tanyakan mereka, masih tertidur pulas.” Jawab Mina malas.


“Oh. Kalau begitu aku ke toilet dulu ya? Kamu mau kemana? Pulang?” Tanyaku.


“Tidak, aku tunggu disini saja sekalian nanti melihat dokter Jae.” Kata Mina sembari tersenyum.


“Baiklah.”


 


 Setelah kepanikan terjadi pada malam lalu, kini aku tampak was-was karena kondisi dokter Jae yang  belum juga membaik.


“Yuri, bagaimana kondisi dokter Jae sekarang? Apa kita boleh masuk ke dalam?” Tanya Mina penasaran.


“Sebenarnya dari malam tadi hingga sekarang, aku juga belum bisa masuk ke dalam sana mengingat dokter Jae yang belum pulih juga. Jadi memang ia belum sadarkan diri, Mina.” Jelasku.


“Benarkah? Begitu parah ya kondisinya?” Tanya Mina lagi.


“Semalam dokter yang menangani mengatakan bahwa kondisinya dapat membaik, namun dapat pula sebaliknya. Kamu tahu tidak? Malam tadi setelah kamu meneleponku, ada beberapa dokter yang berdatangan ke sini untuk melihat kondisi dokter Jae. Dan memang pada saat itu dokter berkata bahwa ia sangat lemah dan kritis akibat luka di kepalanya, jadi mungkin itulah alas an mengapa sampai sekarang belum sadar.” Jelasku rinci.


Mina tertegun, “Wah, aku tidak percaya.”


“Aku juga terkejut, aku sangat shock sekali sampai-sampai lututku lemas.” Kataku.


Tiba-tiba ada dokter yang datang dan masuk ke ruang rawat, kemudian ia keluar.


“Dokter, bagaimana keadaannya?” Tanyaku.


“Untuk saat ini, kondisinya sudah stabil. Jadi kita hanya menunggu ia sadar, dan kemudian kami akan melakukan tes.” Jawab dokter itu.


“Baiklah, terimakasih dok. Apakah kami boleh masuk ke dalam?” Tanyaku lagi.


“Ya, silahkan tapi hanya boleh berdua saja.” Jelas dokter itu.


“Baik dok.”


 


Akhirnya aku dan Mina masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan dokter Jae, walaupun memang ia belum sadarkan diri. Tubuhnya terbalut oleh kain perban, wajahnya kemerah-merahan dan memar, tangan dan kakinya tidak terlihat lagi. Aku merasa kasihan dan tersentuh melihat kondisinya yang seperti ini. Dia telah mengobatiku hingga sembuh seperti sekarang ini, namun sekarang? Malah dokter Jae yang terbaring disini. Kami berdua hanya sebentar di dalam, karena memang tidak diperbolehkan berlama-lama disini.


“Oh ya Mina, apakah kamu membawa powerbank atau semacamnya? Dari semalam ponsel milik dokter Jae mati, dan keluarganya belum tahu kalau dokter Jae kecelakaan.” Kataku.


“Untungya aku membawanya hari ini. Ini, isilah daya ponselnya. Sambil dinyalakan saja, lalu hubungi keluarganya.” Kata Mina.


“Iya, kamu benar.”


“Apa kamu mengabari dokter Min Jae? Dia juga harus tahu hal ini, karena memang dia teman


dekatnya.” Jelasku.


“Ya ampun, aku lupa Yuri. Sebentar ya?” Kata Mina.



Dokter Min Jae datang…


 


“Mina, Yuri, bagaimana keadaan Jae ?” Tanya dokter Jae.


“Masih belum sadarkan diri, tapi kondisinya sudah stabil.” Jawab Mina.

__ADS_1


“Maaf ya baru memberitahumu, dari semalam saya sangat panik. Polisi tiba-tiba menghubungiku dan menyuruhku datang kemari.” Jelasku.


“Tidak apa-apa, saya sangat berterimakasih. Apakah sudah menghubungi ibu atau ayahnya?” Tanya dokter Min Jae.


“Belum, ponselnya mati.” Jawabku singkat.


“Biar aku saja. Kalau kalian mau keluar tidak apa-apa, serahkan pada saya saja.” Kata


dokter Min Jae.


“Bagaimana, Yuri? Kamu tampak lelah, pulang saja ya?” Ajak Mina.


“Tapi dokter, tidak apa-apa?” Tanyaku.


“Ya, pergilah.” Jawab dokter Min Jae.


Akhirnya aku dan Mina meninggalkan rumah sakit.


“Mina, kita langsung ke apartemen saja, ya?” Tanyaku.


“Iya, aku mengerti.”



“Pasti mereka belum juga bangun dari tidurnya.” Kata Mina.


“Anggap saja hari tidur sedunia hehe…” Jawabku tersenyum.


“Mina, Yuri? Kalian dari mana saja?” Tanya Keila.


“Dari rumah sakit, tadinya aku mau mengajak kalian berdua. Eh, kalian belum sadar hehe.” Ujar Mina.


“Jadibagaimana keadaan dokter Jae?” Tanya Audi.


“Saat ini sudah stabil, kalian sudah makan?” Tanyaku.


“Belum nih, tidak ada apa pun di kulkas.” Sahut Keila.


“Hahah… Iya-iya, hati-hati ya?” Jawabku


“Siap.”


 


Setelah Mina berpamitan denganku, beberapa  waktu kemudian aku memutuskan untuk keluar sebentar untuk mencari sarapan atau kopi. Aku sangat lelah dan mengantuk, namun aku tidak bisa memejamkan mata ini, dan


susah sekali untuk tidur. Ketika aku hendak mengunjungi kafe yang terdekat, ternyata mereka belum buka. Daripada aku keluar apartemen dengan sia-sia, aku memutuskan untuk mencari kafe lainnya.


 



Kini aku sudah sampai di sebuah kafe yang sangat cantik dan aesthetic sekali. Berdasarkan rumor yang telah sampai di telingku, katanya terkadang ada idol k-pop yang datang kemari. Au jadi penasaran sekarang. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memesan makanan dan kopinya, hanya dalam hitungan menit pesananku sudah datang, mungkin karena ini masih pagi dan belum banyak pelanggan yang datang.



Tia-tiba…


 


Brakkk!!!!!


Ya ampun, kopiku tumpah dan terjatu ke lantai. Aku yakin ada orang yang menabrakku.


“Maafkan saya, nona. Saya tidak sengaja, apa anda baik-baik saja?” Tanya orang itu.


“Ah, ya. Tidak apa-apa.” Jawabku.


“Kalau begitu biar saya ganti saja kopinya, tunggu sebentar.” Ucap orang itu.


 


Belum usai aku berbicara, orang itu langsung pergi memesan minuman untukku. Sementara aku menunggu di kursi kafe. Namun aku saat ini sangat bingung, tapi apa? Hah? Kok sepertinya aku mengenal suara orang itu? Sepertinya aku tidak asing mendengarnya, tapi dimana? Tunggu! Aku sangat menyukai suara ini! Apa? Apakah orang itu… Jaehyun? Iya, Jaehyun NCT!!! Apa aku salah dengar? Lagian orang itu memakai masker. Tapi dari matanya pun… Ya ampun, aku tidak mau menggila disini gara-gara tidak jadi menonton konser kemarin.

__ADS_1


 


Beberapa saat kemudian…


“Ini nona kopimu, saya sangat meminta maaf.” Kata orang itu.


“Tidak apa-apa, santai saja. Seharusnya tidak usah membelikan yang baru, tapi terimakasih


ya?” Tanyaku.


“Iya, sama-sama. Kalau begitu saya pergi dulu.” Ucap orang itu.


“Tunggu,” Kataku.


“Iya?” Jawabnya.


“Aku sangat penasaran, tapi maaf. Apakah saya boleh bertanya?” Tanyaku.


“Silahkan nona.” Jawabnya.


“Em… Apakah anda… Jaehyun?” Tanyaku pelan.


Sementara orang itu terdiam, dan beberapa saat ia membuka maskernya. Dan aku


terkejut sampai menutup mulutku agar tidak berteriak di sini.


“Annyeonghaseyo, ya saya Jaehyun.”


Aku masih shock!!


“Akhirnya aku dapat bertemu denganmu. Bolehkah kita selca sebentar?” Tanyaku.


“Oh, boleh. Ayo.” Jawab Jaehyun.


Cekrek!


“Aku sangat mengidolakanmu, terimakasih ya?” Kataku sambil meneteskan air mata.


“Benarkah? Terimakasih juga. Baiklah saya harus pergi, annyeonghaseyo.” Jawab Jaehyun sambil meninggalkan kafe. Tampaknya ia sedang terburu-buru.


 


Aku tidak menyangka akan terjadi hal-hal yang sepert ini. Bertemu idolaku, bahkan dia membelikanku secangkir kopi manis. Ya, tuhan terimakasih atas keberuntungan ini. Ternyata dia sangat tampan dan tinggi sekali, dan sangat sulit untuk ku gapai hahah!


 



“Yuri, kamu kemana saja? Katanya mau ke kafe depan, kok lama?” Tanya Audi.


“I… Iya. Tadi kafe depan belum buka, jadi aku memutuskan untuk mencari yang lain. Dan ini, makanlah.” Kataku sambil tersenyum.


“Kamu kenapa senyum-senyum?” Tanya Keila.


“AKU BERTEMU JAEHYUNNNN!!!!!!!!” Teriakku.


“HAH?”


“Iya, aku bertemu dia di kafe itu. Dia bahkan menabrak dan membelikanku kopi yang baru. Fix, aku tidak akan membuang tempatnya.” Jelasku sambil tersipu malu.


“Gila!!!! Kamu beruntung lagi.” Sahut Keila.


“Kami melakukan selca tadi, ini lihatlah.” Kataku sambil memperlihatkan hasil selca dengan Jaehyun.


“Huwahhhhhh!!!!!! Jaehyun tampan sekaliiii!!!!!.” Teriak Audi dan Keila.


“Kalau ini sih tidak sebanding dengan kelelahan kami kemarin, Yuri. Kamu sangat


beruntung.” Tutur Keila.


“Tapi aku butuh cerita kalian ketika menonton konser, ceritalah ayo.” Kataku.


__ADS_1


__ADS_2