
Pagi ini aku akan mengunjungi dokter Jae di rumah sakit. Karena baru saja dokter Min Jae menghubungiku kalau dokter Jae sudah siuman. Ketika mendengar hal itu, aku sangat senang dan bergegas untuk bersiap-siap. Tidak lupa di perjalanan aku membeli beberapa makanan dan buah-buahan untuknya, bagaimana pun dia adalah orang yang berjasa bagiku.
“Yuri, kamu sudah datang.” Sapa dokter Min Jae.
“Iya. Kenapa di luar?” Tanyaku.
“Di dalam ada ibunya, masuklah.” Kata dokter Min Jae.
“Begitu, nanti saja. Mungkin mereka butuh waktu berdua saja.” Jawabku.
“Tidak apa-apa, tadi ibunya bertanya tentangmu jadi masuklah.” Ucap dokter Min Jae.
“Oh, baiklah.”
…
“Annyeonghaseyo…” Sapaku.
“Yuri? Ibu, ini Yuri.” Kata dokter Jae.
“Oh, ya? Halo Yuri, kemarilah.” Kata Ibunya.
“Saya dengar kamu yang mengurus kecelakaan Jae dan menunggu semalaman. Terimakasih ya?” Tambah ibunya.
“Tidak apa-apa bibi, dengan senang hati bisa membantu.” Jawabku kikuk.
“Terimakasih ya, Yuri.” Sahut dokter Jae.
“Iya, dok. Jadi karena polisi menghubungi saya dan saya sangat terkejut. Dan maaf tidak menghubungi bibi, karena pada saat itu ponsel dokter Jae mati.” Jelasku.
“Tidak apa-apa. Saya sangat senang ada kamu disamping Jae.” Kata ibunya.
“Bisa saja bibi. Oh ya, ini ada makanan dan buah-buahan. Di makan ya?” Kataku.
“Terima kasih Yuri. Seharusnya tidak usah repot-repot begini, Jae saja tidak mau makan dari tadi.” Kata ibunya.
“Tidak, eomma. Akan ku makan, sini.” Sahut dokter Jae.
“Kamu ini giliran eomma yang menawari tidak mau, sekali ada Yuri langsung mau.” Ujar ibunya.
“Untung saja polisi itu menghubungi orang yang tepat ya?” Tambah ibunya.
…
“Yuri, Jae, sepertinya saya akan pulang dulu karena ada hal yang harus diurus oleh adikmu. Dan Yuri, bisakah kamu meneman Jae di sini?” Tanya ibunya.
“Ah, ya baiklah bi. Hati-hati di jalan.” Jawabku.
…
“Maaf ya telah merepotkanmu lagi? Saya tidak merasa enak jadinya.” Kata dokter Jae.
“Tidak apa-apa dok, dokter juga sering membantu saya.” Jawabku sembari tersenyum.
“Manis sekali.” Kata dokter Jae dengan nada pelan.
“Apanya yang manis, dok?” Tanyaku.
__ADS_1
“Tidak apa-apa.. ah.. hanya saja apel itu terlihat manis.” Jawab dokter Jae gugup.
“Mau apel? Biar saya iris dulu ya? Tunggu.” Ucapku sambil mengambil apel di meja.
…
“Yuri, mau tidak menemaniku keluar sebentar? Saya suntuk dan bosan berada disini, ke taman?” Tanya dokter Jae.
“Memangnya tubuh dokter sudah tidak apa-apa jika bergerak berlebihan?” Tanyaku.
“Tidak apa-apa, Yuri.” Sahut dokter Min Jae yang tiba-tiba datang.
“Benarkah? Saya kira tidak demikian.” Kataku pelan.
“Tidak apa-apa, biarkan dia banyak bergerak agar otot-ototnya lemas dan tidak kaku. Biar saya angkatkan ke kursi roda, tunggu.” Tutur dokter Min Jae.
“Baiklah kalau begitu.” Kataku.
Setelah dokter Min Jae membantu dokter Jae duduk di kursi roda, aku langsung mendorongnya keluar ruangan. Sebenarnya aku sangat tahu bagaimana perasaan dokter Jae yang terus berbaring di sini, memang tidak menyenangkan. Suasana di luar adalah pilihan terbaik, apalagi taman.
“Terimakasih ya, sudah mengajak saya kemari. Rasanya bisa menghirup udara yang lebih segar dibandingkan dengan di dalam ruangan sana.” Tutur dokter Jae.
“Iya, dok. Saya mengerti, jadi tidak usah berterimaksih melulu. Saya sangat bosan mendengarnya.” Jawabku sambil tersenyum lebar.
“Hehe… Apakah kamu ingat saat dulu kamu juga meminta ke taman? Dan kamu merasa sangat senang.” Tanya dokter Jae.
“Iya, dok. Bagaimana saya dapat melupakan kebaikan dokter dulu. Dan mungkin kalau saya tidak bertemu dengan dokter, saya sudah tidak ada di dunia ini.” Sahutku.
“Kamu ini ada-ada saja, semua itu juga berkat perjuangan dirimu.” Jawab dokter Jae sambil tersenyum.
Aku tersipu malu, “Dokter ini, saya jadi malu. Tapi memang benar kok, dokter sangat mirip dengannya.” Jawabku pelan.
“Oh ya, kemarin saya tidak sengaja bertemu dengannya di kafe.” Kataku semangat.
“Siapa? Idolamu itu?” Tanya dokter Jae.
“Iya, Jaehyun NCT. Sumpah ya, dia sangat tampan sekali.” Kataku.
“Semangat sekali kamu membicarakannya ya?” Kata dokter Jae.
“Hehe… Maaf, dok. Saya kelepasan.” Tuturku sambil meringis.
“Dok, tapi bagaimana dokter bisa kecelakaan seperti itu?” Tanyaku penasaran.
“Ya, begitulah. Jadi saya dari rumah dan terbangun sedikit terlambat, jadi saya memutuskan untuk mengendarai mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Tapi saya cukup handal dalam hal itu, namun ketika saya berada di pemberhentian lampu merah, tiba-tiba ada truk yang besar melaju dengan cepat. Akhirnya truk itu menabrak mobil saya. Untung saja tidak ada mobil lain selain saya, kalau tidak? Pasti banyak memakan korban.” Jelas dokter Jae rinci.
“Ya, ternyata begitu.” Jawabku.
“Pada saat polisi meneleponmu, kamu sedang apa? Apakah saya mengganggu?” Tanya dokter Jae.
“Soal itu… Pada saat itu saya sedang bersama dengan teman-teman saya. Kami hari itu memang sedang menonton konser, eh tapi belum mulai. Saat itu baru pembukaan, dan tiba-tiba ada yang menelepon. Ternyata dokter, tapi panggilan itu tidak ada suaranya. Berkali-kali panggilan itu masuk, dan pada akhirnya dokter mengirimiku pesan. Saat itulah saya keluar dari venue dan bergegas keluar walaupun sangat sulit. Dan sampailah saya di sini.” Jelasku rinci.
“Wah, ternyata saya merepotkanmu ya? Maafkan saya ya? Lain kali saya akan mentraktirmu menonton konser atau ikut fansign dengan idolamu itu.” Jawab dokter Jae.
“Iya, dok. Tidak apa-apa, saya juga senang bisa membantu.” Jawabku.
__ADS_1
“Oh ya, sudah lama kita berada di sini, apakah kamu sudah makan siang? Kalau belum makanlah dulu.” Kata dokter Jae.
“Belum dok, mungkin sebentar lagi.” Jawabku singkat.
“Mau makan di kantin rumah sakit? Ayo saya ikut, saya akan menemanimu makan siang. Makanan di sana juga lezat-lezat loh.” Ucap dokter Jae.
“Benarkah? Tapi saya kan membawa makanan untuk dokter. Saya bisa makan sendiri, dokter kembali saja ke kamar ya?” Tanyaku.
“Nanti akan ku makan. Saya masih bosan berada di sana, jadi saya akan ikut denganmu. Ayo.” Kata dokter Jae.
“Baiklah jika dokter memaksa.” Ucapku.
“Untuk saat ini saya bukan seorang dokter, tapi sebagai pasien hehe.” Sahut dokter Jae.
“Dokter bisa saja hehe…”
…
Akhirnya aku bersama dengan dokter Jae menuju ke kantn rumah sakit. Ini adalah pertama kalinya aku kemari, aku tidak menyangka aka nada kantin yang semegah ini. Baru kali ini aku melihatnya. Sementara dokter Jae menungguku di meja makan, aku pergi memesan makanan. Karena dokter Jae merekomendasikan Jjangmyeon atau mie khas Korea yang katanya sangatlah lezat di sini, aku memutuskan memesannya beserta dengan pangsit dan jus mangga kesukaanku.
“Dokter serius mau menemaniku makan? Atau mau ku pesankan sesuatu?” Tanyaku.
“Tidak usah, nanti giliranmu yang akan menemani saya makan hehe… Jadi makanlah.” Jawab dokter Jae.
…
“Bagaimana? Lezat bukan?” Tanya dokter Jae.
“Iya, dok. Baru kali ini saya memakan Jjangmyeon yang enak sekali.” Jawabku sambil menyantap makanannya.
…
Akhirnya kami kembali ke ruang rawat…
“Yuri,kamu tidak ada acara ya hari ini?” Tanya dokter Jae.
“Kebetulan tidak, dok. Hari ini saya libur kuliah juga, memangnya ada apa?” Tanyaku.
“Tidak, takutnya saya mengganggu jadwalmu.” Jawab dokter Jae.
“Tidak kok.”
…
“Wah wah… Kalian sudah kembali?” Tanya dokter Min Jae yang datang.
“Sudah, dok.”
“Yuri, hari ini Mina dimana ya?” Tanya dokter Min Jae.
“Entahlah, kemarin dia ada urusan di kantor. Tapi entah untuk hari ini, coba hubungi saja.” Kataku.
“Min Jae, kalau memang menyukai Mina… Ya katakanlah, jangan sampai di ambil oleh orang lain hehe.” Tutur dokter Jae.
“Kamu ini, nyambung saja.” Sahut dokter Min Jae.
“Em, dokter Min. Sepertinya kalian suka satu sama lain, mengapa tidak menyatakan perasaanmu? Hahah…” Godaku pada dokter Min Jae.
__ADS_1
“S… Siapa bilang begitu?” Tanya dokter Min Jae gugup.
“Sudahlah, setiap orang juga tahu jika ekspresi wajahmu begitu hahah…” Sahut dokter Jae.