Dokterku Jodohku

Dokterku Jodohku
Ketemu


__ADS_3

Penyelidikanku dan Jevan untuk mengikuti mobil ayahku gagal. Kami tidak dapat menjangkau mobilnya karena


terhalang oleh rambu lalu lintas yang menghendaki mobil kami untuk berhenti sejenak, sementara ayahku telah melampaui kami. Alhasil kami pulang dengan tanpa adanya hasil yang diinginkan.


“Yuri, malam tadi kamu pulang jam berapa?” Tanya Mina sambil menyantap roti.


“Sepertinya jam sebelas, dan kamu sudah tertidur dengan pulas.” Jawabku tersenyum.


“Maaf, ya. Aku sudah lelah dan sangat ingin tidur, padahal semalam aku sedang menonton drama Korea.” Sahut Mina.


“Iya, aku mengerti. Dan sampai-sampai ponselmu masih memutar videonya sampai aku yang mematikannya.” Ucapku.


“Hahah… Benarkah? Aku kira sudah dimatikan, ternyata tidak.” Kata Mina sambil tertawa.


“Bagiku itu sudah biasa, kamu tidak ingat telah melakukan hal yang sama saat tidur di apartemenku?” Tanyaku.


“Hahah… Iya.” Jawab Mina semangat.


“Hari ini kita makan apa?” Tanya Mina tiba-tiba.


“Entahlah, nanti kita lihat hehe…” Kataku.


“Oh ya, Yuri. Malam tadi aku tidak sengaja melihat kamu bersama ayahmu, sepertinya sedang bertengkar. Maaf ya, aku juga tidak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan.” Kata Mina perlahan.


“Benarkah? Justru aku yang harusnya meminta maaf padamu karena telah membuat kebisingan seperti itu.” Jawabku.


“Padahal aku sangat ingin menyapa ayahmu saat itu, tapi tidak bisa.” Tutur Mina.


“Tidak apa-apa Mina, tidak penting juga.” Jawabku singkat.



“Nona, sarapannya sudah siap. Silahkan di makan.” Kata PRT itu.


“Baik, terima kasih bi.” Kataku.


“Ayo, Mina kita sarapan.”


“Wah, banyak sekali. Seperti tadi malam.” Ujar Mina tersenyum.


“Ayo makan. Ini ada sup daging sapi, tumis udang, tempe rica-rica, cumi goreng tepung, dan sebagainya.” Tuturku.


“Em… Lezat sekali, ini apa tadi?” Tanya Mina.


“Tempe, namanya tempe.” Jawabku.


“Oh, tem…pe…?” Ucap Mina.


“Ya benar hehe…”


“Coba saja aku bisa menemukan makanan ini dengan mudah di Korea, aku menyukainya.” Kata Mina semangat.


“Benarkah? Apa perlu aku menjualnya di sana? Hahah…” Tawaku.


“Boleh sekali hahah…” Jawab Mina.


“Oh ya, malam tadi Keila dan Audi sangat kesal tahu. Mereka gagal menjalankan rencananya gara-gara kamu tidak ada di rumah hahah… lucu sekali.” Ucap Mina.


“Tidak apa-apa, Mina. Mereka memang seperti itu, tapi nanti juga membaik.” Kataku sembari tersenyum.


Setelah selesai sarapan dan bebincang sedikit, aku mengajak Mina untuk berkeliling komplek rumahku yang menurutku lumayan asri. Di sini memang jarang penghuni komplek untuk keluar rumah pagi-pagi karena mereka kebanyakan pergi ke kantor dan tidak sempat untuk berjalan-jalan santai.


Jika dahulu aku tidak dapat keluar rumah dengan leluasa karena ada penyakit berada dalam tubuhku, kali ini aku akan menyempatkannya untuk keluar walaupun sebentar. Apalagi ketika aku tahu ada taman yang sangat hijau di sini, rasanya aku harus pergi ke sana.


“Yuri, bagus sekali ya? Hijau semua.” Kata Mina semangat.


“Iya, ini juga pertama kalinya aku datang kemari. Padahal aku sudah lama sekali tinggal di komplek ini.” Jawabku pelan.

__ADS_1


“Benarkah? Aku tidak percaya hahah…” Ujar Mina.


“Aku serius, Mina. Kan dulu aku sakit, jadi jika minta kemana pun tidak boleh.” Kataku.


“Iya juga ya? Kalau begitu, kita harus mengabadikan momen ini hahah… Aku akan mengirimkannya pada ayahku.” Ucap Mina sambil mengeluarkan ponselnya.


“Hahah… Baiklah, ayo.” Jawabku sambil mendekat



Beberapa saat kemudian…


“Yuri, Mina?”


“Jevan?” Kataku kaget.


“Hei.” Sapa Mina.


“Kamu sedang lari?” Tanyaku.


“Iya, aku ingin membuang lemak dalam tubuhku. Kemarin aku sudah banyak makan di rumahmu itu.” Kata Jevan.


“Halah, kamu bergaya sekali. Baru juga makan segitu banyaknya.” Jawabku.


“Tapi makanan indonesia memang sangat lezat, jadi jangan di sia-siakan hehe…” Sahut Mina senang.


“Iya sih. Oh ya, kapan kalian kembali ke Korea?” Tanya Jevan.


“Mungkin lusa, iya kan Mina.” Kataku.


“Sepertinya, karena kita tidak bisa berlama-lama di sini. Pekerjaan dan kuliah masih menunggu.” Ucap Mina santai.


“Iya.”


“Ayo, ikut lari tidak?” Tanya Jevan.


“Iya, kamu saja Jev.” Sahut Mina.



Sekarang sudah jam dua siang, aku dan Mina masih di kamar dengan agenda yang sudah biasa yakni menonton drama Korea. Bukannya aku tidak ingin mengajak Mina berkeliling, hanya saja sebentar lagi akan datang dua manusia rusuh, yaitu Keila dan Audi. Mereka memaksa kami agar tidak pergi kemana-mana dulu, dan kami hanya pasrah.


“Yuri, Mina…” Panggil seseorang yang masuk ke kamarku.


“Keila, Audi? Sudah sampai ternyata.” Kataku sambil melihat mereka.


“Kalian sedang apa? Pastimenonton drama.” Kata Audi.


“Nah, itu tahu.” Kataku cepat.


“Bagaimana kalau malam ini kita adakan pesta barbeque?” Tanya Keila.


“Ayo, boleh sekali. Dan adakan di depan rumahmu, Yuri.” Sahut Audi.


“Apa? Ya sudah lah, ayo.” Jawabku malas.


“Kamu tidak suka, ya?” Tanya  Audi lagi.


“Suka kok, suka sekali.” Kataku cepat.


“Memangnya bahan-bahannya sudah dibeli?” Tambahku.


“Belum, maka dari itu kamimenjemput kalian kemari. Ayo, aku akan ajak Jevan juga.” Kata Keila.


“Baiklah, kami berdua akan bersiap. Kalian panggil saja Jevan.” Sahutku.


“Sip.”

__ADS_1



“Akhirnya kita bisa berkeliling bersama-sama setelah sekian lama, ditambah lagi dengan kehadiran Mina di sini semuanya terasa lengkap.” Tutur Keila semangat.


“Halah, bilang saja kalau mau meminta traktir.” Sahut Audi.


“Siapa bilang, itu pasti kamu kan?” Tanya Keila.


“Ya kamu lah.” Sahut Audi.


“Sudah-sudah, bukannya kalian berdua? Jadi jangan saling menyalahkan.” Ucap Jevan.


“Tepat sekali.” Kataku.


“Hahahah…” Tawa Mina.



“Karena kita sudah sampai, apa yang kita lakukan pertama kali?” Tanya Jevan.


“Makan dulu, yuk?” Ajak Audi.


“Nanti saja, setelah semua keperluan kita beli.” Sahutku cepat.


“Baiklah, kita bagi dua tim. Aku dan Jevan membeli ini, dan kalian bertiga beli yang ini.” Kataku sambil menunjukkan


catatan belanja.


“Baiklah, baik.” Jawab Keila dan Audi.



Sementara aku pergi bersama Jevan, tiba-tiba tak sengaja aku melihat seseorang yang tampaknya aku kenal.


“Jev, kamu lihat di sana? Yang tengah makan.” Tunjukku.


“Mengapa?” Tanya Jevan.


“Aku seperti mengenalnya, bagaimana denganmu?” Tanyaku lagi.


“Seperti…” Kata Jevan terbata-bata.


“Ayah!” Panggilku.


“Apa? Ayahmu?” Sahut Jevan.



“Dugaanku benar, ternyata memang ayah.” Kataku.


“Yuri? Jevan?” Sahut ayahku terkejut.


“Dan ini? Bibi? Bukannya bibi adalah sahabat Ibuku?” Tanyaku.


“Wah, aku sangat terkejut dengan suasana ini. Jadi selama ini bibi dan ayah bermain di belakang Ibuku? Jahat sekali. Aku tidak menduganya sama sekali, dan bibi juga. Bukankah bibi sangat dekat dengan Ibuku? Dan menurutku sudah seperti saudara kandung, tapi apa sekarang?” Tanyaku dengan nada tinggi.


“Yuri, tidak. Ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan, jangan salah paham.” Kata wanita itu.


“Sudah lah, bi. Jangan berbohong, aku memang sudah tahu semuanya. Jadi ini yang menyebabkan ayahku


tidak peduli dengan anaknya. Bahkan ketika anaknya meninggal pun.” Jelasku ketus.


“Yuri cukup!” Bentak ayahku.


“Lihat saja sifat ayah yang sekarang, suka membentak dengan seenaknya padahal memang salah.” Kataku.


“Yuri, sabar. Tidak baik membuat keributan di sini, ayo kita pergi.” Sahut Jevan pelan.

__ADS_1


“Aku benar-benar muak melihat kalian, sangat miris dan menjijihkan. Aku malu punya ayah yang tidak tahu diri seperti ini.” Tambahku sembari berjalan menjauhi ayahku.


__ADS_2