Dokterku Jodohku

Dokterku Jodohku
Rancangan Yu-Mi


__ADS_3

Rencanaku untuk membuka tempat makan khas Indonesia di Korea ternyata berlanjut. Awalnya aku hanya


bercanda mengatakan rencana itu kepada ayah Mina, namun ia menanggapinya dengan serius. Ayah Mina berkata bahwa ini akan menjadi  bisnis yang memberikan peluang yang sangat besar, di Korea tentunya. Ayah Mina telah menghubungiku beberapa kali hanya untuk menanyakan apakah aku akan benar-benar membuka usaha tersebut. Ia tentunya akan membantu segala persiapan apapun yang nantinya diperlukan. Melihat respon ayah Mina yang begitu antusias, aku merasa hal ini dapat memberikan dampak yang baik untukku. Barangkali nantinya aku bisa menjadi orang yang sukses, seperti halnya yang aku ingin-inginkan selama ini.


Aku telah memikirkan rencana usaha ini dengan matang. Aku memutuskan untuk membuka usaha bersama dengan


Mina. Aku berpikir bahwa membuka usaha dengan Mina adalah keputusan yang tepat, mengingat Mina sangat paham mengenai pasar bisnis di Korea itu sendiri. Kami berdua memutuskan untuk berkolaborasi, membangun restoran makanan khas Indonesia di tengah-tengah Kota Seoul yang ramai.


“Mina, menurutmu apa rencana yang kita susun ini akan berhasil?” Tanyaku penasaran.


Mina tersenyum, “Aku yakin, rencana kita akan berjaan dengan baik. Selama kita selalu berkomunikasi dengan baik mengenai setiap step yang akan kita tempuh. Percayalah, Yuri.”


“Kamu benar. Sekarang apa yang harus kita lakukan?” Tanyaku lagi.


“Untuk saat ini, ayahku tengah melihat tempat yang akan menjadi lokasi restoran kita. Kita di sini hanya perlu mengurus strategi pemasarannya seperti apa, apa saja menu makanan yang akan di jual, bagaimana kita mencari staf, dan hal-hal yang diperlukan nantinya. Menurutmu bagaimana?” Tanya Mina serius.


“Menurutku untuk strategi pemasarannya, kamu sepertinya menguasai hal itu haha...,  iya bukan?” Kataku.


“Aku serahkan sepenuhnya denganmu, Mina. Kamu lebih mengetahuinya dibandingkan aku, mulai dari kebiasaan


orang Korea, budaya, dan sebagainya.” Tambahku.


“Baiklah, aku siap mengurusnya. Tapi kamu juga harus mambantuku hehe, kan tidak mungkin aku mengerjaannya sendirian.” Jawab Mina sembari meringis.


“Iya, tenang saja.”


“Oh ya, bagaimana kalau tentang menunya tadi, kita sajikan makanan Indonesia yang pernah kamu makan di


Indonesia? Ada nasi goreng, soto ayam, sate ayam, bakso, mie ayam, mie goreng, apa


lagi ya? Dan untuk camilannya kita sediakan seperti gorengan, mungkin nanti aku


akan hubungi Jevan untuk memberikan saran untuk menunya, bagaimana?” Kataku.


“Aku setuju. Kalau tidak, kita sediakan secara sedikit demi sedikit. Maksudnya menunya ditambah secara berkala saja.” Jawab Mina.


“Boleh kalau begitu.” Sahutku.


“Yuri, bukannya Jevan punya bisnis juga di Korea? Kalau kita bingung, apalagi mengenai stafnya. Kita tanyakan saja padanya nanti, terlebih lagi untuk chef-nya harus yang benar-benar tahu tentang semua menu yang akan kita sajikan. Orang Indonesia lebih bagus menurutku.” Tutur Mina serius.


“Ya, benar sekali. Aku juga memikirkan itu dari tadi.” Sahutku cepat.


Pembicaraan kami berlanjut ke tahap yang lebih serius. Tentunya pembahasan mengenai pembukaan restoran


harus dibicarakan secara intens. Oh ya, untuk tempatnya sudah didapatkan oleh ayah Mina.


“Yuri, apakah sebaiknya kita mengisi perut yang kosong ini? Aku sudah lapar.” Rengek Mina sembari memegang


perutnya.

__ADS_1


“Hahah… kamu lapar? Kenapa kita tidak pergi makan dari tadi? Mau makan apa kali ini?” Tanyaku.


Mina menghela napas, “Apa ya? Aku bingung, apa kita ke restoran langganan kita?”


“Baiklah, ayo berangkat.”



Jujur, aku merasa sangat senang sekarang. Satu persatu keinginanku selama ini akan segera terwujud. Ya seperti yang kalian tahu, bahwa dulu aku hanya bisa diam di dalam rumah, tidak melakukan apapun. Ah sudahlah, aku tidak mau memikirkannya lagi.


“Mina, tadi aku sempat menghubungi Jevan. Katanya dia akan ke Korea lagi untuk urusan bisnisnya minggu depan, dan sepertinya itu waktu yang tepat untuk menanyakan usaha kita padanya. Bagaimana? Tidak terlalu lambat kan?” Tanyaku.


Mina menelan makanan yang ada di mulutnya, “Tidak juga sih. Sebelum Jevan kemari, mungkin ada baiknya kita mematangkan rencana secara keseluruhan agar nantinya Jevan juga bisa melihat gambaran kedepannya seperti apa. Iya bukan?”


“Okey, aku sangat setuju.” Sahutku cepat.


Selang beberapa waktu kami makan, Mina mendapatkan telepon mendadak dari kantornya. Alhasil, ia harus datang ke kantor dan aku ditinggalkan sendirian di restoran.


Saat ini jam menunjukkan pukul satu siang, dan tampaknya para pelanggan restoran ini semakin bertambah. Aku


yang duduk di sudut dekat jendela masih menikmati suasana saat ini. Duduk sendirian ternyata tidak buruk, dan sekarang aku memutuskan untuk menonton acara variety show sembari menikmati cake red velvet di tambah dengan ice coffee yang menyegarkan tenggorokanku di siang hari.


Saat aku hendak menyuap cake yang super manis, tiba-tiba datang rombongan dokter. Ya, aku melihat mereka


yang masih mengenakan seragam putihnya itu. Aku menyadari, ternyata salah satu dari mereka adalah dokter Jae. Sudah cukup lama aku tidak melihatnya secara langsung begini. Aku kembali menonton acara kesukaanku di ponsel milikku setelah sekilas melihat dokter Jae.



“Dokter?” Tanyaku kaget.


“Kamu sendirian?” Tanyanya lagi.


“Tidak, tadi aku bersama Mina. Hanya saja ia harus kembali ke kantor, ada urusan mendadak.” Jawabku sambil


tersenyum kikuk.


“Mau aku temani? Aku baru saja memesan makanan.” Tanya dokter Jae.


“Emm, tidak usah. Dokter makan saja dengan rekan-rekan yang lainnya, tidak enak juga dengan mereka. Barangkali kalian jarang makan bersama seperti sekarang.” Jawabku cepat.


“Kebetulan meja kami ada di belakangmu sedikit. Atau kamu bergabung saja bersama kami ya? Tidak apa-apa


kok, santai saja.” Tutur dokter Jae.


Hah? Gila saja, masa aku bergabung dengan mereka? Tidak, ini tidak benar.


“Tidak apa-apa, aku di sini saja. Benar-benar tidak apa-apa kok, aku juga sambil menonton acara kesukaanku.”


Sahutku cepat.

__ADS_1



“Jae, ayo makan. Makanannya sudah datang.” Panggil salah satu rekan kerja dokter Jae.


“Baiklah, tunggu sebentar.” Sahut dokter Jae.


“Kalau begitu, aku ke sana dulu ya Yuri? Benar ya tidak apa-apa?” Tanya dokter Jae.


“Iya, benar. Sudah sana, mereka menunggumu dari tadi.” Sahutku sambil tersenyum.



Akhirnya dokter Jae mendatangi rekan-rekan kerjanya. Aku sampai malu dilihat mereka.


Sekarang aku hanya menelan setiap makanan yang masuk ke dalam mulutku, dan telingaku mendengarkan apa yang  dibicarakan oleh para dokter itu, habisnya aku sangat penasaran.


“Jae, itu siapa? Pacarmu?” Tanya salah satu dari mereka.


What? Apa aku tidak salah dengar? Mereka membicarakanku sekarang?


“Namanya Yuri, dulu dia adalah pasienku. Kami sudah kenal cukup lama.” Jawab dokter Jae.


Oh, ternyata aku hanyalah seorang pasien bagi dokter Jae? Memang benar sih, tidak ada yang salah juga. Aku terlalu berharap jauh kali ini.


Mendengar percakapan panjang mereka, aku menyelesaikan makan siangku dengan cepat dan segera meninggalkan restoran ini. Entah mengapa sikapku menjadi seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh orang tuanya. Ya, aku sedikit kecewa dan emosi. Aku juga bingung mengapa bisa menjadi seperti ini.



Aku kembali ke apartemenku dan hendak mengerjakan beberapa tugas kuliahku yang sudah menumpuk. Aku sudah duduk di meja kerjaku selama 30 menit lamanya, namun kerjaanku hanyalah melamun. Pikiranku saat ini entah kemana, namun lamunanku terhenti ketika ponsel milikku berdering.


“Iya, dok? Ada apa ya?” Jawabku.


“Kamu sudah pergi?” Tanya dokter Jae.


“Iya, tiba-tiba aku ingat banyak tugas kuliahku yang menumpuk.” Jawabku.


“Padahal tadi aku ingin berbicara sebentar, ya sudah kalau begitu lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku juga akan kembali ke rumah sakit.” Sahut dokter Jae.


“Bicara tentang apa ya dok?” Tanyaku penasaran.


“Emm, tidak apa-apa kok. Hanya ingin bicara santai saja.” Jawabnya.


Akupun menjawab, “Baiklah kalau begitu, aku tutup dulu.”


“Baiklah, sampai jumpa.”



Setelah melakukan panggilan telepon dengan dokter Jae, aku merasa aneh. Kenapa aku jadi seperti ini? Mengapa

__ADS_1


aku harus kesal dengannya? Perasaan apa sih ini? Rasanya dokter Jae juga tidak melakukan kesalahan yang besar. Apa aku terlalu berlebihan menganggap pembicaraan para dokter siang tadi? Ah, entahlah.


__ADS_2