
Hidup sendiri di negeri orang bukanlah hal yang mudah, seringkali aku merasa sunyi, kesepian, gundah, bahkan meneteskan air mata. Padahal suasana Seoul cukup ramai, memiliki pemandangan yang sangat indah, dan banyak orang-orang yang baik berada di sekitarku. Di sela-sela waktu, terkadang aku teringat dengan ibuku. Teringat dulu, ketika aku masih menjadi wanita lemah dan tidak berdaya dibandingkan dengan orang lain pada umumnya. Pekerjaanku hanyalah merepotkan orang lain termasuk ibu dan ayahku, bahkan kakakku saja masih membenciku sampai sekarang.
Aku penasaran bagaimana keadaan ayah dan kakakku seperti apa, sudah lama sekali aku berada d Korea ini, tujuannya ya tidak lain dan tidak bukan untuk menempuh pendidikan yang sangat di idam-idamkan oleh orang lain juga. Sesekali aku menghubungi ayahku untuk mengetahui bagaimana keadaannya, namun lain halnya dengan kakakku. Bagaimana bisa aku menghubunginya, jika pada kenyataannya dia memblokir segala aksesku terhadapnya. Tapi ya sudahlah, aku tidak apa-apa.
Belakangan ini, aku merasa ada yang aneh dengan diriku. Seringkali aku merasakan sakit pada kepala belakangku. Walau memang aku sering tertawa dan bahagia di hadapan orang lain, namun rasa sakit itu sangat aku rasakan. Apakah terjadi sesuatu denganku? Tapi tidak, itu hanya sakit kepala biasa. Jika aku meminum obat, rasa sakitnya sudah hilang.
Hari ini aku memiliki janji dengan dokter Jae. Katanya dia akan mentraktirku makan siang di kafe dekat apartemenku. Sejujurnya aku sedang tidak enak badan, namun tidak baik juga menolak tawaran dari dokter Jae.
“Dokter Jae? Sudah sampai? Masuklah dulu.” Kataku.
“Terimakasih.”
“Mina tidak di sini?” Tanya dokter Jae.
“Hari ini dia membantu ayahnya di kantor, baru saja dia pergi dari sini.” Jawabku sambil mengambil minuman.
“Kalian sangat dekat ya?” Tanya dokter Jae lagi.
“Begitulah. Mina sangat baik, sesampainya aku di Korea dia semua yang mengurusnya. Tepatnya ketika aku melakukan pengobatan, dari situlah kami menjadi dekat layaknya saudara sendiri.” Jelasku.
“Oh begitu.”
“Mengapa bertanya, dok?” Tanyaku.
“Tidak, hanya ingin.” Jawab dokter Jae sambil minum.
…
“Mau makan siang apa?” Tanya dokter Jae.
“Kalau saya terserah saja, yang penting makan hehe…” Jawabku.
“Ya sudah, kalau begitu ayo.” Ajak dokter Jae.
“Ayo.”
…
Aku dan dokter Jae meninggalkan apartemen dan dokter Jae meminta rekomendasiku untuk makan dimana. Alhasil, aku menyarankan untuk pergi ke kafe yang sangat indah, tepatnya kafe yang mempertemukan aku dengan idolaku, Jaehyun pada waktu kemarin. Awalnya dokter Jae menertawakanku karena hal itu, namun pada akhirnya
dia menuruti kemauanku.
“Memangnya apa sih yang kamu banggakan tentang idolamu itu? Apa bagusnya?” Tanya dokter Jae.
“Ih, dokter jangan seperti itu. Jaehyun adalah orang yang sangat berharga bagiku hahah… Karena dia, aku bisa sampai ke sini.” Kataku.
“Memangnyaapa yang dia lakukan sampai kamu bisa ke sini?” Tanya dokter Jae.
“Ya tidak melakukan apa-apa. Hanya saja dia telah memberikannku motivasi dan semangat agar aku terus berkarya.” Jelasku.
“Sudah sampai, ayo. Jangan bicara melulu.” Kata dokter Jae.
“Kan dokter yang bertanya tadi, ah sudahlah.” Sahutku kesal.
…
__ADS_1
“Pesan apa? Tunggu di sini, biar saya saja.” Kata dokter Jae.
“Disamakan saja, biar cepat.” Jawabku.
“Baiklah.”
…
Akhirnya dokter Jae membawakan beberapa makanan dan minuman terfavorit di kafe ini. Diantaranya steak, pasta, jus mangga, dan air putih. Kami langsung melahap makanan itu dengan cepat.
“Bagaimana? Sudah kenyang? Atau mau menambah porsi?” Tanya dokter Jae.
“Sudah, dok. Porsi saya tidak sebesar itu hehe…” Kataku.
“Oh iya, selama ini kita berbicara sangat formal seakan-akan baru kenal saja. Mulai sekarang bicara santai saja, jangan panggil dokter terus ya? Seperti antara pasien dan dokter saja.” Jelas dokter Jae.
“Begitukah? Lalu harus panggil apa? Kakak?” Tanyaku.
“Kamu memanggil idolamu siapa? Si Jaehyun itu.” Tanya dokter Jae.
“Em… Jaehyun Oppa. Lalu?” Tanyaku lagi.
“Nah, panggil seperti itu. Oppa sama saja artinya dengan kakak laki-laki.” Kata dokter Jae semangat.
“Baiklah, Jae Oppa?” Tanyaku.
“Iya.”
…
Tiba-tiba aku merasa sakit kepala dan pusing, sangat pusing. Rasanya sangat berat sekali, dan…
Brukk!!!...
“Yuri!!! Kamu kenapa?” Tanya dokter Jae.
Tidak lama setelah itu, dokter Jae membawaku ke rumah sakit seperti biasanya. Mengendaraimobil dengan kecepatan tinggi adalah pilihannya saat ini, semetara aku tidak sadarkan diri.
…
“Yuri, sudah sadar ternyata.” Kata dokter Jae.
“Aku dimana, dok?” Tanyaku begitu sadarkan diri.
“Rumah sakit. Tadi kamu pingsan di kafe, aku ingin bertanya.” Kata dokter Jae.
“Sebenarnyasejak kapan kamu sakit seperti tadi?” Tanya dokter Jae.
“Em… Aku tidak tahu kapan pastinya, tapi sudah sangat sering. Memangnya kenapa, dok?” Tanyaku.
“Kenapa tidak mengatakannya padaku?” Tanya dokter Jae.
“Ya karena ini tidak serius, jadi ketika sudah minum obat pun sakitnya hilang dengan sendirinya.” Kataku.
“Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu? Jangan dengan gampang menyimpulkan sesuatu.” Jelas dokter Jae.
“Lantas mengapa, dok. Saya juga biasa saja, jadi tidak usah berlebihan.” Kataku ketus.
“Kamu tidak sadar sudah melakukan operasi dua kali?” Tanya dokter Jae.
“Aku tahu, lantas mengapa?” Tanyaku lagi.
“Aku khawatir, kamu tahu?” Tanya dokter Jae dengan nada tinggi.
__ADS_1
“Hah?” Kagetku.
“Ah sudah, lupakan.” Kata dokter Jae.
“Kita tunggu saja hasil CT-Scan nya.” Tambah dokter Jae.
“Untuk apa, dok? Aku tidak membutuhkannya, aku ingin pulang saja.” Kataku sambil
berjalan.
“Yuri, kamu gila? Kamu sudah sering sakit kepala, tapi malah membiarkannya. Setidaknya kita tunggu hasilnya bagaimana.” Kata dokter Jae.
“Terserah.” Kataku sambil meninggalkan dokter Jae.
…
Sesampainya di apartemen…
Aku kenapa ya hari ini? Kok sangat emosional sekali. Apakah aku terlalu keras dengan dokter Jae? Apa dia marah padaku? Jujur, aku tidak bermaksud untuk marah-marah kepadanya, aku jadi merasa bersalah. Apa yang
harus aku lakukan?
Aku harus memberinya pesan.
To : Dokter Jae
Jae oppa, maafkan aku karena marah-marah tadi. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk melakukannya, hanya saja aku kelepasan. Entah mengapa aku sangat kesal. Aku tidak ingin lagi membuat orang lain repot gara-gara aku, aku sangat tidak menginginkan hal itu. Sekali lagi, maafkan aku.
Send.
Beberapa saat kemudian, dokter Jae pun membalas…
From : Dokter Jae.
Iya, Yuri. Aku mengerti perasaanmu seperti apa, jadi santai saja. Sebenarnya aku juga sudah mengetahuinya, kamu bukanlah orang yang pemarah. Kamu hanya terselimuti oleh emosionalmu saja, aku paham dan aku tidak marah. Jaga kesehatanmu ya.
Apa ini? Apakah dokter Jae baik-baik saja karena perilaku-ku tadi? Oh, ya bagaimana hasil CT-Scan nya ya? Aku harus tanyakan itu.
To : Dokter Jae
Oh, ya Jae oppa. Bagaimana hasil CT-Scan nya? Apakah baik-baik saja?
Send.
Tiba-tiba dokter Jae meneleponku…
“Jae oppa? Bagaimana?” Tanyaku.
“Jadi… em…”
“Iya, bagaimana?” Tanyaku lagi.
“Jadi memang kamu seringkali merasa sakit kepala karena ada gumpalan kecil di kepalamu, gumpalan darah. Tapi tidak buruk, dapat disembuhkan jika meminum obat.” Jelas dokter Jae.
“B… Benarkah? Apa tidak akan serius? Aku takut.” Kataku pelan.
“Tidak, Yuri. Kamu tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Besok kamu datang ya, ke rumah sakit. Aku akan memberikan obat untukmu, atau nanti aku akan menemuimu.” Kata dokter Jae.
“Tidak usah, biar aku saja yang ke sana. Terimakasih, Jae oppa.” Kataku.
“Sama-sama, oh ya jangan meminum obat yang biasa kamu minum ya? Jika sakit lagi, lebih baik kamu berbaring dan tidur.” Jelas dokter Jae.
“Baiklah.”
…
__ADS_1
Apa ini? Kenapa ada hal-hal semacam itu lagi? Apa memang aku sudah ditakdirkan untuk sakit-sakitan seperti dulu? Mengapa tuhan tidak adil padaku? Mengapa aku selalu menderita?