Dokterku Jodohku

Dokterku Jodohku
Kejanggalan


__ADS_3

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, sudah dua minggu lebih aku mondar-mandir kesana kemari melihat keadaan dokter Jae di rumah sakit. Hari ini kata dokter yang menangani dokter Jae, ia diperbolehkan untuk pulang. Ya walaupun memang dokter Jae tidak mau kembali ke rumahnya dengan alasan sangat rindu dengan


pekerjaannya itu. Ia berkata harus melanjutkan pekerjaannya sebagai seorang dokter, karena sudah lama ia tidak berlarian untuk menangani dan menyelamatkan pasien. Aku bukanlah siapa-siapa disini, jadi aku juga tidak berhak untuk melarang apa yang diinginkan oleh dokter Jae.


 


“Dokter, apa tidak sebaiknya pulang dulu saja?” Tanyaku.


“Yuri, saya sudah lama berbaring di sini. Jadi saya tidak ingin memperpanjang waktu, saya sudah sangat ingin bekerja kembali. Tanggung jawab saya sangatlah besar.” Jawab dokter Jae.


“Wah, dokter sudah seperti malaikat saja ya? Saya salut sekali. Tapi apakah dokter sudah sanggup? Bukankah tangan dan kakinya masih sering sakit?” Tanyaku lagi.


“Sudah tidak apa-apa. Sepertinya kamu lupa kalau saya ini dokter hehe, jadi saya bisa meminum obat dengan baik.” Jawab dokter Jae sembari tersenyum.


“Iya sih hehe..”


“Memangnya mengapa kalau saya bekerja lagi? Kamu khawatir ya?” Goda dokter Jae.


“Hah? Untuk apa saya begitu, dok? Ada-ada saja hihi…” Kataku pelan.


“Iya-iya, saya hanya bercanda.” Sahut dokter Jae.


“Jadi sekarang langsung kembali ke ruangan dokter?” Tanyaku lagi.


“Iya, sepertinya begitu.” Jawab dokter Jae.


“Aduh… Kalian ini asik bicara berdua saja. Memangnya aku nyamuk, ya di sini?” Kata Mina tiba-tiba.


“Eh, ada Mina?” Tanya dokter Jae.


“Jadi dari tadi dokter hanya melihat Yuri? Saya datang bersamanya padahal, aduh terserahlah.” Sahut Mina kesal.


“Hahah… Ada-ada saja, dokter Jae hanya bercanda kok. Maaf, ya Mina.” Kataku sambil memeluk Mina.


“Oh, ya. Harusnya ada Min Jae di sini ya? Kenapa dia belum datang, katanya mau menjemputku dasar pembohong.” Ucap  dokter Jae.


“Apa? Dokter Min Jae akan kemari?” Tanya Mina.


“Kenapa? Kok terlihat gugup?” Tanya dokter Jae.


“Tidak kok.”


Beberapa saat kemudian…


“Halo, semua…nya…” Sapa dokter Min Jae.


“Baru saja dibilang, ini langsung datang saja.” Kataku.


“Iya, kamu baru di bicarakan oleh Mina.” Sahut dokter Jae.


“Iyakah? Eh, ada Mina… Halo…” Sapa dokter Min Jae.


“Ah, dokter Jae mengada-ada saja.” Sahut Mina gugup.


“Ehem…” Kataku pelan.


 


Setelah dokter Min Jae datang, kami ber-empat pergi ke kantin untuk membeli kopi atau semacamnya. Kami cukup banyak membicarakan hal-hal yang tidak penting, hal-hal lucu, bahkan meggoda Mina dan dokter Min Jae agar mereka segera meresmikan hubungannya itu. Untuk apa berlama-lama jika mereka memang memiliki perasaan yang sama? Mereka sudah cocok menurutku, sama-sama pintar dan sama-sama lucu, bagiku mereka akan menjadi pasangan yang pas, sangat.

__ADS_1


 


“Dari tadi kalian berdua memojokkanku dan Mina. Jadi sekarang saya akan bertanya. Seperti apa gadis yang kamu suka, Jae?” Tanya dokter Min Jae tiba-tiba.


Dokter Jae tersedak, “Uhuk… Hah? Gadis?” Tanyanya.


“Iya, gadis idamanmu.” Sahut dokter Min.


“Em… Tidak berlebihan sih. Cukup dia perhatian padaku dan menyayangi orangtuaku, itu saja.” Kata dokter Jae sembari tersenyum.


“Wah… Hanya itu saja? Tapi sepertinya aku sudah mengetahui gadis itu siapa.” Kata dokter Min.


“Siapa?” Tanya Mina.


“Ya adalah, tidak perlu ku sebutkan. Dia memang sangat perhatian denganmu dan selalu khawatir, apalagi jika aku lihat dia sudah dekat dan sangat hangat kepada ibumu Jae.” Jawab dokter Min.


“Benarkah?” Tanyaku terbata-bata.


“Ehem…” Kata Mina.


“Ah, sudahlah. Min Jae, ayo kita kembali bekerja. Sepertinya banyak pasien yang harus ditangani.” Ajak dokter Jae.


“Kenapa tiba-tiba?” Tanya dokter Min.


“Aish…” Ucap dokter Jae sambil pergi meninggalkan meja makan.


 


Setelah kejadian dokter Min yang menggoda dokter Jae, aku merasa risih. Seakan-akan akulah yang dibicarakan oleh dokter Min. Tetapi aku tidak ingin menyimpulkan sesuatu dengan cepat. Jika aku perhatian dengan dokter Jae, ya itu karena aku ingin membalas budinya. Dan aku juga belum terlalu dekat dengan ibunya. Jadi itu semua bukanlah aku, ya.


 


Aku dan Mina mengobrol cukup lama. Tak sadar oleh waktu, aku terlupa akan sesuatu. Sebenarnya aku memesan makanan sebelum datang ke rumah sakit, dan makanan itu rencananya akan ku berikan pada dokter Jae karena aku kira dia akan kembali ke rumah hari ini, eh ternyata tidak. Tidak lama aku mengingatnya, kurir makanan itu datang setelah aku beritahu posisiku ada di kantin. Tanpa berlama-lama, daripada makanan ini dingin, aku beranjak dari kursi ini dan segera mengantar makanan ini ke ruangan dokter Jae.


“Ke ruangan dokter Jae?” Tanya Mina.


“Iya, aku sudah terlanjur memesannya.” Kataku.


“Kalau begitu aku ke lantai bawah ya? Ada temanku di sana, kami memang rencnanya ingin bertemu. Nanti kabari aku saja jika sudah selesai, kita pulang bersama.” Jelas Mina.


“Oh, begitu. Baiklah, aku duluan ya?” Kataku.


“Siap.”



 


Setelah tadiaku melewati waktu yang canggung dengan dokter Jae, kini aku harus bertemu dengannya lagi karena makanan ini. Ketika aku sudah berada di depan ruangannya, aku melihat ke sekitar terebih dahulu. Ternyata tidak ada dokter Min, kalau ada bisa-bisa dia salah paham denganku.


“Permisi…” Kataku.


“Yuri? Ada apa?” Tanya dokter Jae.


“Em, ini dok. Tadi saya sudah terlanjur memesan ini untukmu, jadi di makan ya nanti? Maaf mengganggumu.” Kataku malu.


“Oh, tidak apa-apa. Sebaiknya jangan terlalu sering membawakan makanan untukku, saya


jadi tidak enak padamu. Duduklah dulu.” Kata dokter Jae.

__ADS_1


“Tidak kok, dok. Biasa saja, itu kan hanya makanan.” Jawabku sambil menduduki kursi.


“Oh, ya Yuri. Baru saja ibuku menelepon, dia menanyakanmu. Katanya kalau ada waktu luang, mampirlah ke rumah kami dan makan bersama sebagai ucapan terimakasih.” Jelas dokter Jae.


“Benarkah? Iya, nanti akan saya pikirkan.” Jawabku kaku.


Tiba-tiba ponsel dokter Jae berdering…


“Hyung…? Aku dengar ada yang memanggilnya dengan sebutan hyung, aku seperti mengenal suara itu, tapi ya sudahlah.



“Siapa, dok?” Tanyaku.


“Oh, ini? Adik laki-laki saya.” Jawab dokter Jae.


“Jadi dokter memiliki seorang adik laki-laki? Tapi saya belum pernah melihatnya.” Kataku pelan.


“Iya, dia sangat sibuk. Tapi dia pernah menjengukku waktu itu, hanya saja kamu sedang tidak bersama saya.” Jawab dokter Jae.


“Oh, begitu. Sayang sekali. Sudah kerja?” Tanyaku.


“Sudah, sambil berkuliah. Ya begitulah.” Kata dokter Jae.


“Wah, hebat sekali.” Kataku.


“Kalau begitu saya permisi ya? Barangkali dokter jug mau bekerja.” Kataku sembari berdiri.


“Kamu tahu sekali hehe… Kalau begitu terimakasih, ya? Nanti akan ku makan.” Ujar dokter Jae.


“Sama-sama, dok.”



 


Finally, aku dan Mina pergi dari rumah sakit yang sangat sering ku kunjungi beberapa waktu terakhir ini. Agenda kami selanjutnya adalah ke kampus, karena aku dan Mina sama-sama memiliki jadwal perkuliahan. Setelah itu, kami akan kembali ke apartemen, karena Keila dan Audi akan mempersiapkan kepulangannya ke Indonesia.


 


“Keila, Audi, kalian serius akan pulang ke Indonesia?” Tanyaku.


“Aku sih, masih ingin sekali berada di sini. Tapi bagaimana dengan pekerjaanku di Indonesia?” Kata Keila.


“Iya, pasti sudah menumpuk. Lagian waktu cuti kami hampir habis, nanti lain waktu kami kembali lagi. Tapi kamu juga jangan lupa pulang ke sana, ingat ayahmu Yuri hahah… Jangan main dengan oppa-oppa terus hahah…” Ledek Audi.


“Kalian hati-hati, ya? Jangan melupakanku, ya walaupun kita baru bertemu.” Sahut Mina.


“Kami tidak akan lupa dengan jasamu itu, Mina hehe… Kamu orang yang sangat baik.” Kata Keila.


“Nanti jika Yuri pulang ke Indonesia, jangan lupa ikut. Aku dan Keila akan membawamu berkeliling di sana, bagaimana?” Kata Audi.


“Kalau itu sudah pasti.” Jawab Mina semangat.


“Oh, ya aku punya pesan untuk Yuri.” Sahut Keila.


“Apa?” Tanyaku.


“Sepertinya kamu akan menikah dengan seseorang di sini hahah… Ya, dia sudah dekat denganmu dan sangat baik. Jangan lepaskan dia ya?” Tanya Keila sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


“Hah? Menikah? Siapa?” Tanyaku penasaran.


"Entahlah, pikir saja sendiri hahah..." Kata Keila.


__ADS_2