Dokterku Jodohku

Dokterku Jodohku
Kembali ke Korea


__ADS_3

Sudah beberapa minggu aku pulih dari keadaanku yang amat buruk. Luka ditangan dan kakiku telah sembuh, ya walaupun meninggalkan bekas. Seperti apa ya? Pergi namun meninggalkan bekas? Entahlah.


Kini kehidupanku berubah drastis setelah kakakku masuk ke dalam penjara akibat ulahnya itu. Begitu aku mengetahui bahwa kakakku adalah pelaku di balik penculikaku, aku sangat syok dan tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya berpikir bagaimana bisa dia melakukan itu semua karena terlalu membenciku?


Sebenarnya aku sudah memaafkannya, namun ayahku tidak akan membiarkan kakakku keluar dari penjara. Sebab dia menginginkan agar kakakku berubah dari sifatnya yang angkuh dan keras kepala itu. Beberapa kali aku mengunjunginya disana, dia bahkan tidak ingin melihat wajahku. Katanya aku hanyalah benalu dalam hidupnya dan tidak tahu diri. Dari dulu hingga sekarang aku belum mengetahui alasan mengapa dia bersikap begitu padaku. Semoga kakakku dapat merenungkan kesalahannya disana, dan berubah menjadi orang yang lebih baik lagi.


Sudah pas waktuku untuk berada di Indonesia, itu artinya aku harus kembali lagi ke Korea. Karena ayahku sudah mengetahui hal itu, dia hanya bisa mendoakanku agar aku bisa sukses disana. Aku juga sudah mengatakan bahwa aku akan kuliah sambil bekerja, ya semua itu aku lakukan untuk memenuhi kebutuhanku sendiri tanpa membebani ayahku, karena selama ini aku sudah banyak merepotkannya.


“Yuri, disana kamu harus tetap berhati-hati dan jaga kesehatan. Walaupun ayah tidak mengawasimu, ya?” Tanya ayahku.


“Iya, ayah. Yuri akan berusaha memenuhi keinginan ayah, Yuri akan memperjuangkannya hehe...” Kataku.


“Baiklah, ayah percaya padamu.” Sahut ayahku.


“Yah, ayah harus rutin mengunjungi kakak ya? Jangan abaikan dia, bagaimanapun dia tetaplah keluarga kita. Dan satu lagi, jangan terlalu keras padanya.” Tuturku.


“Iya, jangan khawatir.” Sahut ayahku.


“Oh iya, Jevan akan mengantarmu ke Korea.” Tutur ayahku.


“Apa? Mengantarku? Buat apa, yah? Aku kan bisa sendiri, waktu itu juga aku pulang sendiri. Tidak usah lah, ayah. Kasian Jevan.” Kataku.


“Kamu ini, bukannya bersyukur ada yang mau mengantar. Ya sudah kamu bilang saja dengan Jevan, ayah tidak enak memberitahunya.” Jawab ayahku.


“Iya iya.”


...


Setelah ayah memberitahuku kalau Jevan akan mengantarku, aku langsung menghubunginya.


...


“Halo, Jev? Kamu dirumah?” Tanyaku.


“Iya, baru saja sampai. Ada apa?” Sahutnya.


“Bisa ke rumahku tidak?” Tanyaku lagi.


“Bisa, sebentar lagi ya?” Jawabnya.


“Iya.”


...


“Ada apa, Yuri?” Tanya Jevan.


“Jadi begini, kata ayah kamu mau mengantarku ke Korea? Apa benar?” Tanyaku.


“Iya, Yuri. Kasihan kamu sendirian, biar aku temani ya?” Kata Jevan.


“Hm... sepertinya tidak usah, Jev. Aku tidak ingin merepotkan orang lain, aku juga bisa sendiri.” Kataku.


“Yuri, jangan begini dong... aku khawatir denganmu. Apalagi pergi sendirian.” Sahut Jevan.


“Benar, Jev. Benar, aku tidak apa-apa. Terimakasih sebelumnya mau mengantarku, tapi aku baik-baik saja kok.” Kataku.


“Ya sudah lah kalau memaksa, tapi kamu hati-hati ya? Tapi aku akan mengantarmu ke bandara, boleh kan?” Tanya Jevan.


“Iya, boleh. Jam 4 sore ya?” Tanyaku.


“Siap.” Sahut Jevan.


Setelah pembicaraan itu, aku mengajak Jevan untuk mengunjungi kakakku di sel tahanan. Ya walaupun kak aku sudah berlaku jahat padaku, tapi aku harus pamit kepadanya karena bagaimana pun dia adalah kakakku, entah bagaimana nanti hasilnya aku akan tetap menerimanya sebagai kakakku.

__ADS_1


Ketika kami sampai di kantor polisi, aku udah Jevan cukup menunggu lama untuk bertemu kakakku. Tampaknya dia menolak kedatanganku, tapi setelah beberapa saat kakakku datang menemuiku, dia terlihat masih marah dan kesal karena melihat kehadiranku di sini.


“Mau apa kamu kesini lagi?” Tanya Calvin.


“Kak, aku mau pamit. Aku mau berangkat ke Korea hari ini, rencanaku untuk berkuliah disana sudah mantap. Kakak tetap sehat ya disini?” Tanyaku.


“Apa sih? Pergi ya tinggal pergi, jangan sok peduli. Aku tidak butuh kepedulianmu, dan jangan sok akrab.” Sahut Calvin.


“Kak, setidaknya hargai Yuri. Dia sudah rela membela diri untuk datang kesini, tapi ini balasannya?” Tanya Jevan kesal.


“Sudah, Jev. Tidak apa-apa kok.” Kataku.


“Ah! Sudahlah, terserah kalian.” Sahut Calvin sambil meninggalkanku dan Jevan.


...


“Tidak apa-apa, Jev. Suatu saat dia pasti berubah, ayo pulang.” Kataku sambil tersenyum.


...


Kunjunganku terhenti disana, aku dan Jevan memutuskan untuk kembali ke rumah. Ketika sampai disana, ada tamu spesial yang datang.


“Keila? Audi?” Tanyaku kaget.


“Yuri!!!! Aku rindu sekali ...” Teriak Keila.


“Kamu sudah sehat kan?” Tanya Audi.


“Aduh... kalian ini, ya sudah lah.” Kataku.


“Maafkan kami ya karena baru bisa mengunjungimu sekarang. Soalnya dari waktu kamu pulang, aku dan Audi sedang berada diluar kota.” Jelas Keila.


“Iya tidak apa-apa, memangnya kalian kemana?” Tanyaku.


“Biasa lah, ada projek hehe...” Sahut Audi.


“Saat itu aku tidak menghubungi siapa pun, kecuali ayah dan Jevan. Maaf ya? Aku sangat syok soalnya.” Jelasku.


“Katanya kamu terluka? Siapa yang berani melukaimu, Yuri?” Tanya Audi.


“Kakakku.” Kataku.


“Hah? Gila!” Sahut Keila.


“Dia menyuruh orang untuk melukaiku. Tapi sudahlah, aku sekarang baik-baik saja kok.” Kataku lagi.


“Wah, tega sekali ya? Sekarang mana kakakmu?” Tanya Audi.


“Penjara.” Sahutku.


“Hah? Oh...” Sahut mereka berdua kaget.


...


“Oh iya, hari ini aku akan kembali lagi ke Korea. Aku mau berkuliah disana, di SNU.” Ucapku.


“Apa? SNU? Wah, tega sekali kamu meninggalkan kami lagi? Yuri...” Kata Audi.


“Kamu bohong kan?” Tanya Keila.


“Benar kok. Itu kan mimpiku dari dulu, maaf ya?” Tanyaku.


“Hm... nasib ya? Kita selalu terpisah.” Ucap Keila.

__ADS_1


“Iya, Kei. Tapi tidak apa-apa lah, jadi kalau kita ke Korea tidak perlu menginap di hotel. Apartemen Yuri kan ada? Iya kan?” Tanya Audi sambil tertawa.


“Hahah... kamu benar juga.” Sahut Keila.


“Tenang saja, jadi kalau kalian mau kesana hubungi aku saja. Nih, aku berikan alamatnya.” Kataku sambil memberikan alamat apartemenku.


“Siap.”


“Berangkat jam berapa?” Tanya Audi.


“Empat.” Sahutku.


...


“Oh iya. Ceritakan dong bagaimana kejadian saat kamu tidak sengaja bertemu Jeno dan member Red Velvet. Aku penasaran...” Kata Keila.


...


Aku pun menceritakan semua hal aneh yang menimpaku saat itu. Mulai dari bertemu dokter tampan, bertemu idol K-Pop, dan sebagainya. Respon Keila dan Audi juga bukan main, mereka sangat histeris. Apalagi setelah aku menunjukkan foto bersama kami, mereka kesal juga hahah!


Baru sekarang aku bisa berkumpul lagi dengan teman setiaku, dan rasanya indah sekali.


Berjam-jam aku dan teman-temanku bercengkrama, sekarang saatnya untukku untuk berberes pakaian dan keperluan tambahan yang akan ku bawa ke Korea. Jangan sampai ada yang tertinggal satupun, karena akan susah untuk mengurusnya nanti. Audi dan Keila belum pulang, mereka masih ingin bersamaku dan membantuku. Oleh karena itu, mereka membantuku untuk bersiap-siap dan menunggu kedatangan Jevan serta ayahku. Mereka semua ingin mengantarku ke bandara, padahal aku sendiri juga bisa. Tapi apa boleh buat jika mereka semua memaksa, aku pasrah hehe...


“Sudah siap-siap?” Tanya Jevan tiba-tiba.


“Sudah, Jev.” Kataku.


“Eh ada Audi dan Keila. Sudah lama?” Tanya Jevan lagi.


“Sudah, Jev. Kami ikut ya, mengantar Yuri?” Tanya Audi.


“Boleh, ya sudah ayo masuk mobil semuanya. Barang-barang Yuri biar aku saja yang bawa.” Kata Jevan sambil tersenyum.


“Siap.”


“Ayah mana ya, Jev?” Tanyaku.


“Katanya dia langsung ke bandara dari kantor.” Jawab Jevan.


...


Akhirnya kami berangkat ke bandara dengan penuh semangat. Di dalam mobil, jika ada Audi dan Keila, semuanya jadi heboh dan berisik. Tidak ada yang menandingi mereka, tapi aku sangat menyayanginya.


“Yuri... sebenarnya aku ingin ikut kesana tahu.” Tutur Keila.


“Iya, aku juga.” Sahut Audi.


“Iya, nanti sewaktu-waktu kan bisa.” Kataku.


“Nanti saja bersamaku kesana.” Sahut Jevan.


“Kapan?” Tanya Audi dan Keila serentak.


“Kalau ada urusan pekerjaan.” Jawab Jevan.


“Yah...”


...


Beberapa waktu kemudian, akhirnya kami sampai di bandara tepat waktu. Untung saja perjalanannya tidak macet, dan ayahku juga sudah berada disana. Aku pamit dengan mereka semua, air mataku menetes ketika melihat wajah ayahku. Jika aku tidak ada di sampingnya, dirumah dia akan sendirian, memasak sendiri, pokoknya semuanya sendiri. Aku jadi merasa bersalah dengannya. Maafkan aku, ayah.


“Aku pamit ya, semuanya...” Kataku sambil melambaikan tanganku.

__ADS_1


“Iya, hati-hati ya Yuri... kami menyayangimu.” Sahut Audi.


“Jev, jaga ayahku ya.” Kataku lagi.


__ADS_2