Dokterku Jodohku

Dokterku Jodohku
Pesta


__ADS_3

Tidak kusangka akan menjadi seburuk ini. Sahabat Ibuku sendiri telah bermain di belakang dengan ayahku. Kami mengadakan sebuah pesta kecil saat ini, namun tetap saja aku merasakan kekosongan dan kegelapan dalam hidupku. Suasana bahagia? Tidak menghampiriku sama sekali.


“Yuri, sedang apa? Kemarilah.” Panggil Mina.


“Iya, nanti.” Jawabku.


“Ini, makanlah dagingnya nanti dingin.” Ucap Mina sambil memberikan makanan.


“Terima kasih.” Sahutku.


“Kamu kenapa? Terlihat bingung, bukannya mau mencampuri urusanmu.” Kata Mina.


“Kemarin saat kita membeli bahan-bahan keperluan, aku dan Jevan bertemu dengan ayah di sebuah restoran. Dan yang lebih mengagetkannya lagi, dia sedang bersama wanita itu, sahabat Ibuku dulu. Aku sangat sedih, Mina. Mereka menghianati Ibuku.” Jelasku perlahan.


“Benarkah? Sabar, ya? Semoga mereka di bukakan pintu hatinya.” Kata Mina sambil mengelusku.


“Iya, maaf aku jadi cerita soal ini.” Sahutku.


“Tidak apa-apa, aku sangat mengerti keadaanmu sekarang. Tapi jangan larut dalam kesedihanmu itu, ayo kita bergabung bersama mereka.” Tutur Mina.


“Iya, ayo.” Kataku sambil berdiri.



“Bagaimana pestanya? Seru kan?” Tanya Keila.


“Sepertinya ada yang kurang, tapi apa ya?” Sahut Audi.


“Aku tahu.” Sahutku cepat.


“Apa?” Tanya Audi.


“Tidak asyik jika hanya makan-makan seperti ini. Ada baiknya kita menonton musik video (MV) idola kita.” Kataku.


“Kamu benar, kita harus siapkan layar yang besar. Nanti akan aku putarkan lagu-lagu hits.” Kata Keila.


“Layarnya ada tidak?” Tanya Audi.


“Em, lihatlah di kamarku. Ada di sana layarnya.” Jawabku.


“Kalau begitu, biar Jevan yang mengurusnya. Iya kan, Jev?” Tanya Audi semangat.


“Aku lagi, terserah kalian saja.” Jawab Jevan malas.


“Yes, ayo Jev. Aku akan membantumu.” Sahut Keila.


 …


5 menit kemudian…


“Ini dia layarnya, selanjutnya akan kita tata dengan rapi agar kita bisa menonton dengan leluasa.” Kata Keila.


“Tunggu, sebelum menata semua ini aku akan bertanya pada kalian semua.” Kata Jevan.


“Apa?” Sahutku.


“Sebenarnya apa sih yang kalian lihat dan kalian sukai dengan oppa-oppa Kore itu? Aku samai bingung mengapa banyak orang yang menyukainya.” Tutur Jevan bingung.


“Ahahah… Begitukah pertanyaannya?” Kata Audi.

__ADS_1


“Iya, Jevan lucu sekali hahah…” Sahut Keila.


“Jev, hati-hati loh. Di sini juga ada orang Korea, untung saja dia tidak tahu kamu berbicara apa. Kalau tidak?” Tambahku.


“Iya, aku tahu. Tapi jawab dulu pertanyaanku.” Jawab Jevan.


“Apa menyukai sesuatu harus memiliki alasan?” Tanyaku.


“Woahh… Jawaban yang menakjubkan.” Sahut Keila sambil tepuk tangan.


“Yuri benar. Memangnya salah ya, Jev? Mereka kan sangat tampan, berbakat, ramah, aduh… Intinya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.” Tambah Audi.


“Lalu apa lagi?” Tanya Jevan.


“Sebentar, aku akan tanya langsung pada orang yang asli Korea. Mina, bagaimana menurutmu mengenai idol K-pop pria? Mengapa kamu menyukainya.” Kataku.


“Hah? Pertanyaan retorika, dan sebenarnya tidak di jawab juga fine-fine saja.” Kata Mina.


“Hahahah… Mina pintar sekali, aku setuju.” Sahut Audi sambil tertawa lepas.


“Jadi mengapa aku menyukainya? Sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak menyukainya, karena mereka sangat mengagumkan.” Ucap Mina sambil tersenyum.


“Wah, jawabanmu sama dengan Yuri.” Kata Keila.


“Bukannya Yuri yang bertanya?” Tanya Mina.


“Bukan. Itu Jevan yang menanyakannya.” Sahut Audi.


“Jadi bagaimana, apakah kamu sudah puas?” Tanya Keila.


“Sudahlah, aku tidak mengerti kalian.” Sahut Jevan malas.



Bersantai sembari bersenandung di malam hari sangatlah menyenangkan, apalagi duduk bersama dengan


teman-teman terdekat. Tanpa mereka, mungkin aku masih merasa sedih dan murung. Namun aku tahu betul bagaimana sikap mereka padaku. Mereka tidak akan membiarkanku untuk berdiam diri dan bersedih, layaknya dahulu pada saat aku masih sakit keras. Jevan, Keila, maupun Audi sangat peduli dengan kondisiku.


Sebenarnya aku juga masih bingung mengapa mereka bisa bersikap begitu baik padaku, padahal banyak orang


yang berkata bahwa aku akan membawa kesialan bagi siapa pun yang dekat denganku.


Teringat sesaat olehku, ketika aku masih bersekolah. Karena penyakit itu yang terus mengangguku, aku


sempat di bully karena memiliki fisik yang lemah dan tak berguna. Bagaimana tidak? Pelajaran olahraga pun tidak bisa ku ikuti, apalagi upacara bendera, dan kegiatan lainnya yang akan menghabiskan tenaga. Aku selalu berada di UKS untuk berbaring, sementara teman yang lainnya pergi. Pernah di bilang cupu, perempuan sial, penyakitan, perempuan lemah, menyusahkan, di sumpahi supaya meninggal dengan cepat, dan lain sebagainya.


Luka itu tidak akan pernah hilang di benakku, dan akan selalu membekas menemani ingatanku yang kelam.


“Guys, sudah malam. Sepertinya aku harus pulang.” Kata Jevan.


“Ya ampun, rumahmu ada di depan mata Jev. Nanti saja.” Sahut Keila.


“Ya aku juga tahu, tapi Ibuku sudah mengirim pesan.” Jawab Jevan sambil tersenyum.


“Ya sudah, hati-hati dijalan ya Jev?” Tutur Audi.


“Kalian tidak mau diantar pulang?” Tanya Jevan.


“Tidak usah Jev, mereka akan menginap di sini.” Sahutku cepat.

__ADS_1


“Iya, kami akan tidur ber-empat.” Sahut Audi.


“Hah?” Kata Jevan kaget.


“Apa? Mau ikut?” Tanya Keila sambil tertawa.


“Gila, ya sudah aku pulang dulu. Bye.” Sahut Jevan sambil meninggalkan kami.



“Yuri, lihatlah Mina. Dari tadi dia mengajak kita berfoto, selfie, dan sekarang dia masih makan saja. Apa perutnya tidak terasa penuh? Aku saja sudah tidak tahan lagi, rasanya mau meledak.” Kata Audi.


“Tidak apa-apa, itu aku yang menyuruhnya. Biarkan dia makan sepuasnya, karena di Korea tidak ada yang seperti itu.” Jawabku sambil tertawa.



Tidur bersama teman adalah salah satu impianku sejak lama. Aku ingin merasakan bagaimana jika tidur bersama teman-temanku ini. Apalagi dengan hadirnya Keila dan Audi di sini, pasti akan sangat berbeda rasanya.


Saat ini kami sudah membersihkan diri, sudah menggosok gigi, mencuci wajah, dan sudah mengenakan piyama tidur.


“Yuri, Mina, Keila… Aku yang paling kiri ya? Aku tidak mau di tengah-tengah kalian, bisa-bisa kepanasan.” Kata Audi.


“Iya- iya, biar aku saja yang di tengah. Sudah berbaringlah kalian semua.” Kataku.



Saat ini aku sudah berada di antara Mina dan Keila. Ternyata apa yang dikatakan oleh Audi benar, sekarang aku merasakan kepanasan walau sudah memakai AC. Tubuhku terasa pegal karena tidak bisa bergerak, tidak hanya itu aku juga susah untuk bernapas.


Tidak ku sangka nasibku akan begini, kaki milik Keila menindih kakiku, sementara tangannya mengenai wajahku. Sungguh hari ini au sangat malang bia berdekatan dengan Keila. Tadinya aku ingin tidur lebih cepat, malah mengurusi kaki dan tangan Keila yang kurang ajar.



Pagi telah menyambutku yang kurang beruntung ini. Tidurku tidak nyenyak dan aku bangun di jam lima pagi,


sedangkan aku tidur jam tiga pagi. Mataku masih mengantuk, namun ketika aku mendengar bibi sedang masak, aku menghampirinya dan membantunya.


“Bi, sedang masak apa?” Tanyaku.


“Eh nona, sudah bangun?” Tanya PRT itu.


“Iya, aku tidak tidur dengan nyenyak.” Jawabku.


“Ini bibi masak sup bayam, nanti bibi juga akan buatkan nasi goreng dan ayam goreng tepung.” Kata PRT itu.


“Apa bibi sanggup membuat semua itu?” Tanyaku.


“Ya sanggup lah nona, ini sudah kerjaan saya sehari-hari. Jadi nona duduk saja, nanti saya buatkan susu.” Kata PRT itu.


“Ya sudahlah.”



Bibi telah menyiapkan makanan dengan rasa yang sangat menggiurkan di lidah. Saat ini sudah pukul tujuh pagi, namun teman-temanku belum bengun juga. Akhirnya aku yang membangunkan mereka karena sarapan sudah siap. Membangunkan seseorang di pagi hari sudah pernah aku lakukan, saat ini aku hanya perlu membangunkan manusia yang sangat rusuh dan hobi sekali tidur, siapa lagi kalau bukan Keila dan Audi.


Sungguh, membangunkan mereka berdua sangatlah sulit. Untuk Mina, dia sudah terbangun ketika aku masuk ke


kamar. Sedangkan Keila dan Audi sangat memeras tenaga pagiku ini. Butuh waktu 15 menit untuk membangunkan mereka dari tidurnya, sangat lelah aku.


Selepas kami sarapan, kami hanya bersantai ria. Hingga pada jam 10 pagi, kami berencana pergi keluar untuk berkeliling. Hal itu karena aku dan Mina akan kembali ke Korea besok pagi. Kami bermain kesana kemari, karoke, berbelanja, kuliner, dan masih banyak yang kami lakukan untuk menghibur Mina. Semoga di suka dengan apa yang kami lakukan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2