Dokterku Jodohku

Dokterku Jodohku
Kemarahan Ayahku


__ADS_3

Kepulangan ayahku membuatnya mengetahui semua dalang di balik kejadian yang menggemparkan. Siapa sangka kakakku berani menjadi seseorang yang tega melakukan perbuatan kejahatan pada adiknya sendiri. Dengan sekongkol dengan penjahat yang memang sudah mahir dibidangnya. Aku tidak menyangka kakakku dapat mengenal psikopat seperti itu, dan lebih tidak kuduga dia akan melakukan itu semua padaku.


Setelah ayahku mendengar semua percakapan kakakku di telepon, dia sangat marah. Bagaimana perasaan orangtua ketika mendengar langsung bahwa anaknya melakukan kejahatan, apalagi kejahatan itu tertuju pada keluarga sendiri. Amarah ayahku semakin memuncak, namun ia berusaha menahannya. Tak lama kemudian ayahku menghubungi Jevan untuk membicarakan semua yang telah diketahui. Ketika mereka berbicara ditelepon tampaknya Jevan sangat terkejut dengan semua kenyataan yang diberitahu oleh ayahku.


Ayahku berkata kepada Jevan agar merencanakan sesuatu untuk memastikan semua kecurigaan yang telah katakan oleh ayahku, rencana itu untuk mengetahui semua kenyataan apakah semua itu benar adanya atau hanya kesalahpahaman belaka.


Seusai Jevan menerima telepon dari ayahku, ia langsung bergegas keluar meninggalkanku. Dia bilang akan mengurus sesuatu yang mendadak, sementara aku hanya terdiam dan masih menonton drama korea di laptop ini. Aku juga sangat memaklumi Jevan karena memang dia memiliki banyak pekerjaan yang harus ditangan, karena itulah aku hanya mengganggukkan kepalaku ketika dia pergi.


Ketika Jevan meninggalkanku sendirian di sini, aku merasa hampa karena setiap kali dia mengunjungiku di ruang rawat ku ini pasti terasa ramai karena dia cukup cerewet. Menurutku Jevan juga sangat perhatian kepadaku, bayangkan saja tadi ketika aku menonton drama korea dan kemudian menginginkan makanan yang dimakan oleh aktor itu, dia langsung membelikannya untukku. Aku sudah menganggap Jevan sebagai kakakku sendiri, malah kenyataannya sangat miris bagiku karena kakak kandungku sendiri tidak peduli dengan keadaanku sekarang, aku juga tidak tahu dia ada di mana.


Mataku lelah melihat laptop dari tadi, itu pun karena aku sangat terbawa suasana dan keasyikan menonton drama korea. Setelah itu aku berbaring sejenak, namun aku malah terpikirkan oleh sosok ibuku. Biasanya di saat-saat seperti ini, dia selalu ada disampingku menyemangatiku, dan mendoakanku. Aku rindu masa-masa saat bersama ibuku dulu tapi tidak ada yang menyangka jika ibuku sudah tidak ada lagi karena kecelakaan menimpanya. Ibu, aku sangat merindukanmu.


“Ponselku? Siapa ya?” Tanyaku karena ponselku berdering.


“Mina?”


“Hei, Mina... annyeonghaseyo...” Sapaku.


“Annyeong, Yuri. Apa kabar? Kamu lupa ya denganku? Kenapa tak mengabariku, sudah lama sekali loh.” Tutur Mina semangat.


“Ya ampun, Mina. Maafkan aku, ya? Aku sampai lupa padamu.” Kataku.


“Iya tidak apa-apa. Oh iya, kenapa dengan wajahmu? Kok seperti lebam? Apa hanya efek saja?” Tanya Mina.


“Iya, hanya luka sedikit saja kok.” Kataku.


“Kamu di rumah sakit ya? Benar tidak?” Tanya Mina lagi.


“I... iya.” Jawabku.


“Ya ampun, kamu kenapa lagi Yuri? Sakit apa?” Tanya Mina penasaran.


“Beberapa hari lalu ada kejadian buruk menimpaku.” Kataku pelan.


“Hah?” Jinjjayo?” Tanya Mina.


“Jadi aku diculik dan aku disakiti, Mina. Tubuhku seperti tangan dan kakiku dilukai oleh penjahat itu, dia menyayatnya. Seperti psikopat di film-film.” Jelasku.


“Astaga. Gila sekali Yuri. Tapi sekarang kamu aman kan?” Tanya Mina.


“Iya, ayahku sudah menyelamatkanku.” Kataku.


“Bagaimana dengan penjahatnya? Apa sudah ditangkap?” Tanya Mina lagi.


“Hm... dia lolos, Mina. Tapi ayahku akan mencarinya sampai dapat.” Sahutku.


“Syukurlah, kamu hati-hati ya?” Kata Mina.


“Iya, terimakasih.”


“Oh ya, kenapa tiba-tiba menghubungiku?” Tanyaku.


“Aku mengingatmu dan bibi, makanya aku menghubungimu. Soalnya aku mencoba menghubungi bibi, tapi ponselnya mati. Ya sudah.” Jelas Mina.


“Bibi mana? Aku ingin bicara.” Tambahnya.


“Jadi... setelah kecelakaan itu, ibuku meninggal, Mina. Dia sudah pergi meninggalkanku.” Kataku pelan.


“Hah? Bibi... meninggal? Ya ampun... bibi... Yuri maafkan aku ya, aku tidak tahu hal itu.” Kata Mina sambil bersedih.

__ADS_1


“Iya tidak apa-apa.”


Percakapanku dan Mina lewat panggilan video itu, banyak bercerita hal-hal yang sedih dan menyentuh. Aku tidak menyangka Mina akan menceritakan pengalaman pahit dan menyedihkan di dalam hidupnya. Cerita perjalanan hidupnya, ibunya yang telah tiada, dan masih banyak lagi. Tidak terasa kami berbicara cukup lama, saat ini tepat sudah dua jam kami terhubung.


...


“Jevan, setelah ini kita harus menyelidiki kasus ini. Paman ini tidak percaya dengan Calvin, maka dari itu kita harus membuktikannya.” Tutur ayahku.


“Iya, paman. Saya mengerti, paman tenang saja. Saya akan mengutus orang untuk menyelidiki semua ini. Daripada kita terus dihantui keraguan dan kecurigaan.” Jawab Jevan.


“Baiklah, paman percaya padamu. Jangan lupa kabari berita terbarunya ya?” Tanya ayahku.


“Siap paman.”


...


Segala rencana telah berjalan, ayahku dan Jevan sudah melakukannya. Mereka hanya ingin memperjelas siapa pelaku di balik kasus yang menimpaku. Semua cara dijalankan dengan seksama dan rinci, jangan sampai terjadi kesalahan sedikitpun. Dan satu lagi, target rencana ini adalah kakakku sendiri, Calvin, jadi harus berhati-hati dan jangan sampai ketahuan.


“Paman, apakah paman bisa mengecek ponsel Calvin?” Tanya Jevan lewat panggilan telepon.


“Paman akan usahakan itu, nanti paman kabari lagi. Sekarang Calvin sedang di Toilet, jadi paman tutup dulu ya?” Tanya ayahku.


“Iya, paman. Hati-hati ya?” Kata Jevan.


...


Ayahku segera bergegas ke kamar kakakku, ini adalah kesempatannya untuk mengecek ponsel milik kakakku.


Setelah masuk ke kamar kakakku dengan penuh hati-hati, sampai jantung pun berdegup kencang, ayahku berhasil mengecek ponsel kakakku. Ayahku mendapati sejumlah chat dengan beberapa orang, entah siapa. Mereka membicarakan mengenai rencana yang akan dijalankan. Tidak hanya itu, dalam ponsel tersebut ayahku juga menemukan jejak panggilan via telepon dengan orang yang sama dengan orang yang ada di chat-nya.


Ayahku semakin yakin kalau kakakku adalah dalang dibalik semua kejadian ini. Tidak melewatkan kesempatan itu, ayahku mencoba untuk menyalin nomor telepon yang sering dihubungi oleh kakakku. Sesudah itu, tanpa berlama-lama dia langsung keluar kamar.


“Ayah? Sedang apa dikamarku?” Tanya Calvin.


“Eh, kamu. Tidak... ayah mencarimu tadi, tapi tidak ada. Di panggil pun tidak ada jawaban.” Jelas ayahku.


“Aku ke kamar mandi tamu tadi. Kamar mandiku rusak.” Jawab Calvin.


“Sudah lama? Kok tidak bilang?” Tanya ayahku.


“Baru hari ini sih, yah.” Sahut Calvin.


“Ya sudah, nanti ayah panggil kuli.” Kata ayahku.


...


“Memangnya ada apa mencariku?” Tanya Calvin.


“Ayah ingin tanya kerjaanmu saja. Bagaimana? Lancar tidak?” Tanya ayahku.


“Ya begitulah. Tumben ayah menanyakan itu.” Kata Calvin.


“Kalau begitu ayah keluar dulu.” Sahut ayahku cepat.


...


Begitu selesai berbicara dengan Calvin, ayahku langsung keluar rumah untuk bertemu dengan Jevan. Mereka sudah berjanji untuk bertemu di suatu tempat.


“Paman? Bagaimana?” Tanya Jevan.

__ADS_1


“Ini, paman dapat nomor ini dari ponsel Calvin. Paman yakin kalau itu adalah orang yang disuruh oleh Calvin untuk menyakiti Yuri. Oleh karena itu, kita harus menjebak orang inu untuk masuk ke perangkap kita. Setelah itu dia pasti akan masuk ke penjara.” Jelas ayahku.


“Baik, paman. Saya mengerti semuanya.” Jawab Jevan.


...


“Jadi, saya akan menghubungi nomor ini. Kemudian, saya akan mengaku kalau saya adalah Calvin, setelah itu kita ajak bertemu. Bilang saja akan memberikan sejumlah uang yang besar. Dan jangan lupa, kita hubungi polisi.” Papar Jevan semangat.


“Bagus. Paman suka idemu.” Sahut ayahku.


...


Seusai percakapan itu, semua rencana berjalan. Jevan sudah meluncur untuk melakukan aksinya. Nomor yang dihubungi oleh Jevan setuju ingin bertemu, dan langkah selanjutnya ayahku akan menghubungi polisi.


...


“Paman, rencana selesai. Saatnya kita menghubungi polisi.” Kata Jevan.


“Baik. Paman sudah menghubunginya, saatnya kita menuju ke lokasi.” Jawab ayahku.


“Tapi paman, apakah kita harus memberitahu Yuri tentang ini semua?” Tanya Jevan.


“Nanti saja, biarkan Yuri istirahat.” Jawab ayahku.


“Baiklah.”


...


Lokasi pertemuan antara ayahku, Jevan, dan penjahat itu sudah ketemu. Tampaknya penjahat itu sudah sampai disana dan tengah menunggu kedatangan Calvin yang membawa sejumlah uang untuknya. Namun siapa sangka yang datang bukanlah Calvin, melainkan polisi. Dia sangat terkejut melihatnya dan ingin segera kabur, ketika penjahat itu berusaha untuk melarikan diri dan terburu-buru, polisi mencegahnya. Walaupun penjahat itu terkena tembakan di kaki kanannya karena berusaha lari dari lokasi.


Ayahku, Jevan, dan penjahat itu sudah sampai di kantor polisi. Polisi berusaha menginterogasi penjahat itu walaupun kakinya sedang terluka, mereka melakukan itu karena luka yang dialami oleh penjahat itu tidak begitu serius. Hanya di perban saja sudah cukup menurutnya.


“Maaf, pak. Saya tidak ada hubungannya dengan kasus itu, bapak salah tangkap.” Kata penjahat itu.


“Tidak ada penjahat yang mengakui kalau dirinya bersalah! Sudah, mengaku saja lah! Jangan buang-buang waktu.” Sahut ayahku marah.


“Maaf, pak. Tenang dulu ya. Saya akan bertanya lagi.” Sahut polisi itu.


“Saya disuruh, pak.” Ujar penjahat itu.


“Siapa yang menyuruhmu melakukan kejahatan ini?” Tanya polisi itu.


“Namanya Calvin. Saya hanya dibayar olehnya untuk melukai orang yang bernama Yuri. Dan saya menjalankan perintah itu saja, saya juga butuh uang. Terlebih lagi, saya sangat suka melukai orang. Jadi itu adalah tugas yang gampang dilakukan.” Jelas penjahat itu.


“Beraninya kamu! Kurang ajar! Kamu tahu Yuri itu siapa? Dia adalah adiknya Calvin.” Sahut ayahku sambil marah.


“Siapa peduli?” Sahut penjahat itu.


...


Setelah perdebatan panjang, polisi melakukan penangkapan terhadap kakakku. Saat itu kakakku masih berada di rumah, dan itu sangat mudaah dilakukan. Karena biasanya dia entah pergi kemana.


Calvin merasa marah besar, saat ini dia sudah berada di kantor polisi. Semua pernyataan penjahat itu mengenai kakakku adalah benar. Kini kakakku sudah ada di balik jeruji besi dengan penuh kemarahan.


“Calvin! Lihat apa yang telah kamu perbuat? Ini semua karena kamu bodoh! Bisa-bisanya melukai adikmu sendiri? Memang tidak ada otak kamu! Sekarang nikmati semua ini.” Tutur ayahku dengan kemarahan yang memuncak.


“Ayah! Tega sekali menjebloskan anaknya sendiri ke sini! Ayah selalu membela anak sial itu, sementara aku? Dibiarkan begitu saja.” Sahut kakakku.


“Masih melawan juga kamu! Dasar anak tidak tahu diri!” Teriak ayahku.

__ADS_1


__ADS_2