Dokterku Jodohku

Dokterku Jodohku
Undangan Terindah


__ADS_3

Pagi yang sangat indah akulalui, malam tadi aku sedikit bermimpi tentang Ibuku. Dan sekarang, aku mulai merasakan kerinduan yang amat berat hingga pada akhirnya aku duduk di meja kerjaku. Ku ambil sebuah buku catatan dan sebuah pena, aku hendak menulis sebuah bait-bait puisi sebagai obat penyembuh rindu ini.


Ibu,


Apa kabarmu?


Aku harap engkau selalu bahagia di sana


Lihatlah aku sekarang, aku sudah dapat melebarkan sayapku dengan mudah


Aku berharap engkau melihatku di sana


Ku tatap langit itu, seakan-akan aku melihatmu tersenyum padaku


Aku merindukanmu, selalu


Tak henti-hentinya aku berdoa dan bersyukur,


Itu semua hanya untukmu dan sang pencipta langit serta bumi


Jangan khawatir jika aku merasa lelah


Semua pengorbanan ini hanyalah sebuah balas budiku padamu


Kini aku tahu, bu


Betapa kejamnya dunia ini, aku sudah masuk ke dalamnya


Aku tidak akan takut dan cemas


Tenanglah, aku menyayangimu, Ibuku


( Seoul, 12 Januari 2021 )


“Yuri, apa yang kamu lakukan?” Tanya Mina


“Tidak apa-apa.” Jawabku cepat sambil menutup catatan.


“Aku lapar.” Tutur Mina.


“Mau sarapan apa? Aku punya lauk di kulkas, ambillah jika menginginkannya.” Kataku.


“Tidak mau. Kamu bisa membuat nasi… nasi… nasi apa ya? Aku lupa hehe…” Ucap Mina malu.


“Oh, nasi goreng?” Tanyaku.


“Nah, itulah maksudku.” Sahut Mina cepat.


“Baiklah akan ku buatkan.” Kataku


pelan.


“Yeay! Kamu memang yang terbaik.” Ujar Mina semangat.


Beberapa saat kemudian aku menyiapkan beberapa bahan yang akan dibutuhkan untuk memasak nasi goreng. Untung saja aku memiliki semua bahan, ya walaupun tidak lengkap. Seperti nasi, saus, cabai, tomat, sosis, garam, gula, dan beberapa bahan pendukung lainnya.


“Yuri, banyak sekali. Kamu serius bisa melakukannya?” Tanya Mina.


“Ya ampun Mina, kamu tidak usah cemas. Aku sudah biasa memasak nasi goreng, jadi kamu tinggal duduk saja ya?” Kataku sambil tersenyum.


“Hahah… Baiklah, aku tunggu ya?” Sahut Mina semangat.


Beberapa menit kemudian, bel berbunyi.


“Biar aku saja, Yuri. Kamu harus fokus memasak hehe…” Ujar Mina.


“Baiklah.” Sahutku sambil mengaduk nasi.



“Terima kasih.” Ucap Mina.

__ADS_1



“Ada siapa, Mina?” Tanyaku.


“Ehem, ini tadi kurir yang membawakannya kemari. Katanya dari… Ah kamu saya yang baca.” Kata Mina.


“Hah? Bunga? Aku kan tidak memesannya.” Sahutku.


“Ya memang tidak, lihat saja ada pengirimnya.” Jawab Mina.



“Dari siapa coba? Sepertinya romantis sekali.” Kata Mina menggodaku.


“Dokter Jae? Ah sebentar, nasi gorengnya!” Ucapku sambil mengaduk nasi gorengnya.


“Ini, sudah siap di makan.” Kataku.


“Yeay, thank you… Ayo makan.” Kata Mina semangat.


“Oh ya Yuri, bagamana perasaanmu?” Tanya Mina.


“Perasaan apa?” Kataku cepat.


“Kamu ini bagaimana sih, baru saja dikirim bunga oleh dokter Jae. Ya perasaanmu seperti apa.” Kata Mina sedikit kesal.


“Mina…” Panggilku.


“Kenapa? Eh, nasi gorengnya lezat. Nanti buatkan lagi ya?” Tanya Mina semangat.


“Iya tenang saja.” Kataku malas.


“Oh iya, kenapa tadi?” Tanya Mina.


“Tadi di dalam bunga ada suratnya. Dokter Jae bilang kita berdua harus datang di acara pernikahan saudaranya. Bagaimana?” Tanyaku.


“Hah? Benarkah? Kita harus pergi.” Jawab Mina semangat.


“Jangan seperti itu lah, kamu harus menghargai pemberian dokter Jae juga. Jadi, kita harus berangkat.” Kata Mina.


“Oh ya. Aku ingin bertanya padamu. Jadi kamu telah menceritakan semuanya pada dokter Jae? Mengenai teman lamanya itu?” Tanyaku tegas.


“Hehe… Ya maaf, aku tidak bisa membiarkan itu semua. Karena temanku yang satu ini juga harus mendapatkan


kebahagiaan dari dokter Jae. Dan memang teman lamanya itu bukanlah tunangannya.” Jelas Mina.


“Tapi Mina,” Kataku.


“Sudahlah, jangan dipikirkan terus.” Kata Mina sambil menggandengku.


Tiba-tiba ponselku berdering.


“Halo…” Jawabku.


“Bagaimana, sudah terima bunganya?”


“Sudah. Terima kasih ya Jae oppa. Seharusnya tidak usah mengirimkan hal semacam itu.” Kataku.


“Tidak apa-apa, kan sekali-kali juga. Atau kamu tidak menyukainya?” Tanya dokter Jae.


“Ah tidak kok, aku sangat menyukainya.” Jawabku cepat.


“Baguslah. Oh ya, jangan lupa malam ini ya? Aku dan Min Jae akan menjemput kalian jam 7, berdandanlah secantik mungkin.” Tutur dokter Jae.


“Tapi, sepertinya tidak usah. Lagi pula kami tidak mengenalnya.” Kataku pelan.


“Aku bingung akan mengajak siapa ke acara pernikahan itu, jadi aku mengajakmu. Ayolah…” Kata dokter Jae.


“Oh begitu, baiklah.” Jawabku pelan.


“Yes.” Sahut dokter Jae.

__ADS_1


“Tapi tidak ada yang marah kan?” Tanyaku lagi.


“Ya ampun, siapa juga yang akan marah.” Jawab dokter Jae.


“Kalau begitu sudah dulu ya.”


Kataku.


“Baiklah, sampai jumpa nanti malam.” Sahut dokter Jae.



“Ehem… Sebentar lagi sepertinya akan terjadi sesuatu yang menyenangkan.” Tutur Mina.


“Mina, ada-ada saja.” Kataku.


“Kalau begitu, kita harus memilih pakaian sekarang. Kamu harus terlihat cantik di depan dokter Jae.” Ucap Mina Semangat.


“Bilang saja kamu senang akan bertemu dokter Min, iya bukan?” Tanyaku.


“Hehe… Itu juga.”


Pada akhirnya aku dan Mina tidak menemukan pakaian yang pas untuk dikenakan malam ini. Kami berdua dengan sangat berat, terpaksa harus membelinya di toko pakaian terdekat.


Aku memang sedikit menyusahkan Mina, karena baru pertama kali datang ke acara pernikahan seperti ini. Apalagi ini juga pertama kalinya aku diajak oleh seorang pria setelah sekian lamanya, hal ini membuatku pusing.


Entah mengapa aku merasa gugup dan jantungku terasa mau lepas dari asalnya hahah…


Hanya pergi sebentar untuk memilih pakaian bukanlah hal yang mudah. Kenyataannya aku dan Mina menghabiskan banyak waktu di beberapa toko. Dan pada akhirnya kami pulang ke apartemen sekitar jam 5 sore, menakjubkan bukan?


Sekarang aku bisa merasakan bagaimana persiapan seorang wanita yang hendak bertemu seorang pria yang dia suka, Mina adalah contohnya. Aku sangat pasrah ketika Mina menyuruhku untuk melakukan ini dan itu, yang aku tahu pasti, dia sangat memahami hal ini dengan baik.


“Yuri, kamu duduk saja. Biar aku yang meriasmu.” Tutur Mina.


“Baiklah, aku mau yang natural saja.” Kataku.


“Siap.” Jawab Mina.



“Halo?” Kata Mina yang mendapat telepon.


Dia memberitahuku untuk diam, dan sepertinya aku tahu. Pasti itu dokter Min, karena terlihat jelas dengan raut wajahnya yang sangat senang dan bahagia.



“Sudah?” Tanyaku.


“Sudah hehe… Ayo lanjut.” Kata Mina.



Tidak terasa sebentar lagi sudah mau pukul 7 malam, artinya dokter Jae akan menjemput kami.


Bel pun berbunyi.


“Hei…” Sapa dokter Jae.


“Halo, dok. Yuri sedang di dalam, mau masuk dulu? Eh, ada dokter Min juga.” Tanya Mina.


“Tidak usah, kami tunggu di sini saja. Jika sudah selesai, keluarlah.” Kata dokter Jae.


“Ayo, berangkat.” Sahutku tiba-tiba.


“Yuri? Ini benar kamu?” Tanya dokter Jae.


“Ya iyalah, dok. Bagaimana?” Tanya Mina.


“Cantik, sangat cantik.” Kata dokter Jae yang tidak mengedipkan matanya.


“Kamu juga cantik, Mina.” Sahut dokter Min.

__ADS_1


...


__ADS_2