Dokterku Jodohku

Dokterku Jodohku
Pulang


__ADS_3

Tiba di Indonesia dengan amat sedih untuk yang kedua kalinya. Saat itu aku juga pulang pada saat mendengar berita bahwa Ibuku mengalami kecelakaan parah, hingga pada akhirnya meninggal dunia. Kali kedua yang membuat hatiku sakit ini juga ketika mendengar kabar jika kakakku satu-satunya yang meninggal dunia pula. Betapa mirisnya aku telah ditinggalkan oleh orang-orang tersayangku dan aku tidak berada disamping


mereka. Kini aku hanya punya ayahku yang hanya peduli dengan kebahagiaannya sendiri, bahkan aku pun tidak mendapatkan kasih sayangnya lagi.


Dunia dan lingkungan ini terasa ramai dan riuh, namun aku hanya merasakan kesendirian yang tidak dapat


tertolong. Melakukan apa saja pun, aku merasa kosong dan hampa. Bagaimana bisa aku bertahan dalam hidup yang seperti ini bentuknya?


Ketika tiba di bandara, lagi-lagi aku meminta Jevan untuk menjemput kepulangan kami. Perasaanku sudah


tidak karuan ketika mencoba mengingat sosok kakakku dulu.


Sampailah kami dirumahku yang sudah amat ku rindukan sejak lama. Suasana, keasrian, dan semacamnya belum


berubah sama sekali. Kali ini aku pulang tidak di sambut oleh ayahku sendiri, hanya ada pembantu rumah tangga yang menjemput kedatangan kami. Ternyata ayah sudah mempekerjakan orang lain di rumah ini, tidak seperti dulu ketika Ibu masih ada. Sayang sekali aku  tidak bisa melihat kakakku untuk yang terakhir kalinya, dia sudah di makamkan. Hari menunjukkan pukul 1 siang, dan tanpa memperdulikan apa pun aku langsung mengajak Jevan untuk mengantarkanku ke pemakaman.


“Jev, antar aku ke pamakaman sekarang ya? Tapi aku ganti pakaian dulu.” Kataku.


“Yuri, apa kamu tidak lelah? Setidaknya tunggu lah beberapa jam.” Sahut Jevan.


“Tidak apa-apa, aku sangat ingin menyapa kakakku.” Jawabku.


“Mina, kamu mau ikut? Atau bagaimana?” Tanyaku.


“Ikut. Aku harus selalu berada disampingmu, Yuri. Dimana pun itu.” Jawab Mina semangat.


“Terima kasih ya? Kalau begitu, ayo ganti pakaian dulu.” Ucapku.


“Ya sudah, bersiaplah.” Kata Jevan.


“Kalian mau dibuatkan minum?” Tanya PRT itu.


“Tidak usah, bi.” Jawab Jevan cepat.


“Ayah dimana, bi?” Tanyaku.


“Pasti ini nak Yuri, ya? Bapak dari tadi malam memang belum pulang.” Jawab PRT itu.


“Oh, baiklah terima kasih.” Jawabku sambil menuju kamar.



Berkemas dalam waktu singkat adalah keahlianku. Namun pikiranku hanya terfokuskan pada ketiadaan ayahku di


rumah ini. Bagaimana bisa dia pergi dengan seenak hatinya, padahal baru saja kemarin kakakku dikebumikan. Aku semakin ragu dan tidak percaya apakah ayahku benar-benar mengurus pemakaman kakakku, sementara dia selalu pergi seperti ini. Bukankah salah satu tugas dari seorang ayah adalah mengayomi anak-anaknya? Merangkul dan menasehati anak-anaknya jika melakukan kesalahan, kalau ini? Ayahku saja tidak bisa mencontohkan hal baik kepada anak-anaknya, jadi jangan salahkan kakakku saja karena dia sedikit nakal kalau ayahnya juga bersikap


egois sepert itu, hanya mementingkan dunianya sendiri. Banyak orang berkata bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, itu seakan-akan sangat cocok dengan kondisi keluargaku.


“Mina, sebaiknya kamu di rumah saja ya? Aku tidak enak jika kamu terus mengikutiku.” Kataku.


“Tidak, Yuri. Apa aku mengganggumu?” Tanya Mina.


“Tidak, maksudnya kamu istirahat saja daripada terus mengikutiku. Kamu pasti lelah, bukan?” Tanyaku.


“Tidak, aku serius. Aku akan selalu berada di sampingmu, jadi jangan merasa terganggu ya?” Tanya Mina lagi.


“Baiklah jika itu maumu, tapi terima kasih ya sebelumnya karena terus berada di sampingku.” Kataku sambil tersenyum.


“Iya, ayo keluar. Sepertinya Jevan sudah menunggu.” Jawab Mina semangat.


“Ayo.”

__ADS_1



Ketika aku dan Mina keluar dari kamarku, tampaknya Jevan sudah berganti pakaian dan menunggu kami. Tanpa


berleha-leha, kami langsung menuju ke pemakaman dengan mobil yang telah disiapkan oleh Jevan sebelumnya.


Di dalam perjalanan, aku memiliki banyak sekali pertanyaan yang telah tersedia di dalam benakku yang ingin kutanyakan pada Jevan.


“Jev, aku mau bertanya. Apa boleh?” Tanyaku pelan.


“Silahkan, Yuri.” Jawab Jevan.


“Apa ayahku mengurus pemakaman untuk kakakku?” Tanyaku perlahan.


Jevan diam sejenak…


“Jev…?” Kataku.


“Sebenarnya, ketika rumah sakit mengabarkan kalau kakakmu meninggal… Aku tahu dari ayahmu, dia yang menghubungiku.” Kata Jevan.


“Lalu?” Tanyaku.


“Aku sangat terkejut dan berencana untuk datang langsung ke rumah sakit, namun ayahmu menolak. Dia


bilang tidak usah pergi ke sana, dan pada akhirnya dia menyuruhku untuk menyiapkan semua keperluan pemakaman kakakmu.” Tutur Jevan.


“Benarkah? Lalu?” Tanyaku penuh rasa penasaran.


“Ya aku siapkan semuanya. Kakakmu di bawa oleh mobil ambulance, namun tidak dengan ayahmu. Dia tidak datang ke pemakaman, bahkan hingga pemakamannya selesai. Aku juga sangat khawatir dengan ketidakhadiran ayahmu, aku takut terjadi sesuatu. Tetapi ketika aku tanyakan pada petugas rumah sakit,


katanya ayahmu pergi begitu saja setelah mengurus keperluan di rumah sakit.” Jelas Jevan.



tidak tahu bagaimana nasib kakakku. Pasti dia pergi dengan wanita itu, aku yakin.” Kataku ketus.


“Jangan cepat mengambil kesimpulan, Yuri. Barangkali ada hal yang penting dan mendesak terjadi, jadi tenang ya?” Tanya Jevan.


“Bagaimana aku mau tenang? Apa lagi hal yang penting selain anaknya sendiri?” Tanyaku.


“Iya-iya, sabar. Lihatlah wajah Mina, tampak kebingungan melihat kita berdua.” Jawab Jevan pelan.


“Eh, Mina. Maaf ya, kami asyik berbicara berdua.” Kataku.


“Tidak apa-apa, aku tahu itu hal yang penting.” Kata Mina sambil tersenyum.


“Kamu memang teman terbaikku, Mina.” Jawabku sembari tersenyum.



“Di mana, Jev?” Tanyaku.


“Itu, di sana.” Tunjuk Jevan.


Kami telah sampai di lokasi pemakaman. Jevan memang terbaik dan tahu apa yang aku inginkan. Aku melihat


bahwa makam kakakku berdampingan dengan Ibuku sendiri, lagi-lagi air mataku menetes dengan derasnya.


“Yuri, sabar ya? Tenanglah.” Kata Mina sambil menepuk punggungku.


“Aku sudah tidak punya siapa-siapa, Mina. Aku sangat merindukan mereka.” Jawabku sesegukan.

__ADS_1


“Iya aku mengerti, tapi kamu masih punya aku Yuri. Aku akan menemanimu, selalu.” Jawab Mina sambil tersenyum


“Masih ada aku juga.” Sahut Jevan.


“Terima kasih, ya.” Kataku.


“Tetap tersenyumlah, Yuri. Tunjukan pada Ibu dan kakakmu kalau kamu adalah wanita yang kuat.” Tutur Jevan.


“Iya, biarkan mereka tenang di alam sana.” Sahut Mina.


“Kalian benar, aku harus kuat menghadapi semua ini.” Jawabku semangat.



“Kita sudah lama di sini, ayo pulang.” Ajak Jevan.


“Ibu, kak. Aku pulang dulu ya? Kalian harus tenang di sana, dan aku akan selalu menjadi anak dan adik yang


kuat untuk kalian. Sampai jumpa di lain waktu, aku selalu mengingat kalian.” Kataku.



Di dalam perjalanan…


“Jev, sekali lagi terima kasih ya atas semua yang telah kamu lakukan untuk keluargaku. Aku tidak tahu


harus bagaimana jika kamu tidak ada di sini, Cuma kamu yang bisa ku percaya.” Tuturku.


“Iya, Yuri. Kamu bisa meminta bantuanku kapan pun, jadi jangan sungkan.” Jawab Jevan.


“Iya, aku akan mengingat semua bantuanmu.” Kataku tersenyum.


“Oh ya, Mina. Bagaimana perasaanmu setelah sampai di Indonesia?” Tanya Jevan.


“Aku senang sekali, dan tidak sabar melihat hal-hal lainnya di sini.” Jawab Mina semangat.


“Baiklah, aku bisa membantumu berkeliling.” Kataku.


“Aku juga.” Sahut Jevan.


“Oh satu lagi, tadi saat di pemakaman… Keila dan Audi mengirimiku pesan. Katanya mereka akan segera menemui


kalian, biasalah.” Tutur Jevan.


“Ah iya, mereka meneleponku tadi.” Sahutku.


“Tapi sebaiknya kalian istirahat hari ini, tidak baik memaksakan kelelahan kalian. Besok saja


berkelilingnya, ya?” Kata Jevan.


“Iya, Jev kamu benar.” Sahutku pelan.


“Kalau rumahmu di mana, Jev?” Tanya Mina.


“Ah iya, rumahku tepat di depan rumah Yuri. Aku pikir kamu sudah melihatnya.” Jawab Jevan.


“Oh ya ya, aku ingat. Pantas saja kalian sangat dekat.” Kata Mina lagi.


“Bukan dekat lagi, kami sudah seperti saudara kandung hehe…” Sahutku cepat.


“Mina, kamu harus bersiap-siap mendengar kebisingan jika bertemu dengan Keila dan Audi.” Tuturku.

__ADS_1


“Hahah… Kamu benar.” Sahut Mina.


__ADS_2