
Rugi rasanya jika pergi ke negara lain, lalu pulang ke negara sendiri dengan tangan kosong, maka akan terasa hampa. Aku dan Mina membawa beberapa oleh-oleh dari Indonesia untuk ayah Mina, dokter Min, dan dokter Jae. Entah mengapa aku terus memikirkan dokter Jae yang jelas-jelas sebentar lagi akan menjadi milik orang lain. Oh ya, rasanya aku waktu itu berusaha menjauh darinya, namun apa yang aku lakukan sekarang? Membelikan oleh-oleh untuknya, padahal aku sedang menjauhinya. Hal ini terjadi karena aku terus memikirkannya, sampai akhirnya ya beginilah.
Tepat di hari ini aku dan Mina akan kembali ke Korea, namun satu hal yang membuatku merasa sedih. Sampai saat ini ayahku belum juga kembali ke rumah, padahal rumah ini adalah miliknya sendiri. Waktu lalu aku berharap agar dapat berbaikan dengannya, tapi ternyata tidak bisa dilakukan. Suasana semakin tidak mengenakkan karena aku mengetahui kenyataan pahitnya. Seharusnya saat aku kembali ke sana, semuanya sudah baik-baik saja. Namun aku juga tidak dapat memaksakan semua ini. Idealnya ayahku dapat menyapa Mina yang selama ini membantuku, dan tidak lupa juga agar dapat mengantarku ke bandara, tapi ya sudahlah.
“Yuri, Mina, tidak bisakah kalian tinggal beberapa hari lagi? Aku masih merindukan kalian.” Tutur Keila.
“Iya, aku juga belum puas bermain dengan kalian.” Sahut Audi.
“Keila, Audi, maaf sekali ya? Tapi saat ini bukan waktunya untuk bermain-main, urusanku di sana masih belum usai, begitu pun dengan Mina.” Jawabku.
“Aku akan sangat merindukan kalian berdua.” Ucap Mina sambil tersenyum.
“Iya, terima kasih Jev atas semuanya. Semoga kalian juga selalu sehat.” Jawabku.
“Tentu, itu harus. Aku akan selalu sehat walaupun kita sangat jauh.” Kata Keila sedih.
“Jangan lupa kabari kami saat kalian sampai.” Sahut Audi.
“Iya, tenang saja.” Kataku.
“Oh ya, terima kasih ya semuanya atas semua jamuannya. Aku ingin kembali ke Indonesia lagi lain kali.” Tutur Mina semangat.
“Tentu, Mina. Harus.” Jawab Audi.
“Hati-hati ya, bye….” Sahut Keila sambil melambaikan tangannya.
…
Berat rasanya meninggalkan tempat kelahiranku lagi. Di tambah dengan masalah antara aku dengan ayah, semuanya menjadi beban pikiran bagiku.
Kembali ke Korea merupakan tujuan utamaku untuk meneruskan bagaimana masa depanku akan terbentuk. Selama ini aku sudah cukup bekerja keras menempuh pendidikan, tak lupa pula aku mencoba bekerja walaupun hanya sebentar.
Aku dan Mina tiba di Seoul, Korea tepat pada siang hari dengan cuaca yang panas namun masih terasa dingin. Seperti biasa, dengan penuh kedermawanannya, lagi-lagi ayah Mina menjemput kami.
“Syukurlah kalian telah kembali ke sini.” Tutur ayah Mina.
“Iya, ayah hehe…” Jawab Mina.
“Terima kasih ya, paman. Lagi-lagi aku dijemput dengan anda.” Kataku.
“Ah sudah lah. Bukan hal yang besar hahah…” Jawab ayah Mina sambil tertawa kecil.
“Ayo masuk mobil, ayah sudah sangat merindukan putri ayah yang satu ini.” Kata ayah Mina.
“Ih ayah…” Sahut Mina terkekeh.
…
“Ayah, tahu tidak?” Tanya Mina.
__ADS_1
“Apa?”
“Di Indonesia itu, makanannya enak-enak sekali. Aku sangat menyukainya.” Tutur Mina semangat.
“Benarkah?” Tanya ayah Mina.
“Iya aku saja sampai ingin membawanya, tapi tidak bisa karena takut basi nantinya.” Kata Mina sedih.
“Iya ayah mengerti, lain kali saja kamu ke sana lagi jka menyukainya.” Sahut ayah Mina.
“Paman, aku saja sampai menggelengkan kepala ketika Mina sangat menyukai makanan di sana. Dia selalu ingin makan dan makan haha…” Sahutku sambil tertawa.
“Baguslah dia menyukainya, makanlah dengan banyak. Ayah tidak ingin kamu kurus.” Sahut ayah Mina.
“Ayah…” Rengek Mina.
“Paman, apa perlu aku membuka restoran Indonesia di sini? Agar Mina dapat makan setiap hari dengan puas hahah…” Godaku tertawa.
“Wah, bagus itu idemu. Jika memang benar, paman akan membantumu untuk mengurus segala keperluannya.” Sahut ayah Mina.
“Hah? Aku bercanda paman.” Kataku.
“Tidak bercanda pun paman setuju. Ini akan menjadi peluang bisnis lagi di sini, lagi pula restoran Indonesia di sini sangat langka dan bahkan sangat sulit untuk di cari.” Kata ayah Mina.
“Iya Yuri, aku setuju dengan ayah. Lagi pula kamu juga kan memiliki banyak kenalan di Indonesia, apa salahnya jika tidak mencoba hal itu.” Sahut Mina.
“Ah, iya akan ku pikirkan.” Kataku pusing.
“Ayah? Em, dia baik-baik saja paman, sepertinya.” Jawabku pelan.
“Kok sepertinya? Memangnya tidak bertemu?” Tanya ayah Mina lagi.
“Tidak sempat ayah, dia sangat sibuk. Dia sedang berada di luar kota.” Sahut Mina cepat.
“I… Iya paman.” Kataku.
“Ayahmu memang orang yang hebat ya, Yuri. Paman sangat salut dengannya. Nanti paman akan menghubunginya.” Kata ayah Mina.
“Hah? Oh, baiklah paman.” Kataku pelan.
…
Hari ini aku di apartemen sendirian tanpa adanya Mina. Katanya dia akan mengurus sedikit masalah yang saat itu ditinggalkan ke Indonesia. Aku beristirahat dengan sangat cukup, dan ini sudah malam hari. Namun ketika aku melakukan segala hal, pikiranku tidak bisa fokus, sepertinya karena lapar.
Aku memutuskan untuk keluar apartemen dan menuju ke kafe untuk membeli burger kesukaanku di sana. Berjalan kaki adalah pilihanku, sebab jaraknya sangat dekat dengan apartemenku. Terlihat dari luar, suasana kafe tidak sangat ramai dan barangkali hanya mereka yang hendak belajar di sana. Selama ini aku melihat banyak sekali siswa, mahasiswa, atau bahkan mereka yang telah bekerja, memutuskan untuk melanjutkan kegiatannya
seperti belajar itu di kafe dan merek amemang benar-benar belajar dengan serius. Beda sekali dengan Indonesia, jikalau belajar bersama di mana pun baik itu di rumah, di kafe, bukannya dengan serius di garap, eh malah bergosip sana sini dan malah tidak jadi belajar. Tapi ya sudah lah, itulah uniknya Indonesia.
Ketika aku datang ke kafe, tanpa berlama-lama aku memesan burger dengan porsi jumbo dan minuman soda seperti biasanya. Aku sangat menyukai mereka, entah mengapa.
__ADS_1
Aku memutuskan untuk duduk di dekat pintu masuk agar dapat melihat suasana malam yang begitu indah di Seoul. Tampaknya aku sudah sangat lama berada di lingkungan ini sehingga aku merasa sangat nyaman dan damai.
Perjuanganku akan dimulai kembali di sini, dan aku harus berusaha dengan keras. Aku harus mencari uang lebih giat lagi, karena sekarang aku tidak mau menggantungkan hidupku dengan reputasi ayahku. Tapi jika dipikir lagi, ayahku memang sekarang tidak akan peduli lagi dengan keberadaanku.
Tiba-tiba ada seseorang yang duduk di depanku.
“Jae oppa?”” Tanyaku kaget.
“Ternyata benar kamu ada di sini.” Sahutnya.
“Kamu cepat sekali kembali ke Korea.” Ucap dokter Jae.
“Iya, urusan di sini juga masih banyak.” Sahutku.
“Tahu dari mana aku pergi?” Tanyaku.
“Mina yang memberitahuku.” Kata dokter Jae sambil minum.
“Kalau begitu, aku mau pulang dulu ya? Hari sudah malam.” Kataku sambil berdiri.
“Tunggu.” Ucap dokter Jae sambil memegang lenganku.
“Ada apa ya? Sepertinya aku harus kembali.” Kataku cepat.
“Dududklah sebentar.” Kata dokter Jae.
“Apa benar kamu menghindariku?” Tanya dokter Jae.
“Hah? Tidak, siapa bilang begitu.” Jawabku pelan.
“Jangan berbohong, aku sudah tahu semuanya.” Sahut dokter Jae.
“Memangnya mengapa kamu menghindariku? Apa karena teman lamaku?” Tambahnya.
“Tidak, tidak. Aku hanya sedang banyak urusan saja.” Kataku.
“Mina sudah mengatakan semuanya. Katanya semua itu karena teman lamaku yang sedikit mengusikmu, iya kan?” Tanya dokter Jae lagi.
“Tidak kok.” Kataku.
“Yuri, dia bukan siapa-siapaku. Dia memang begitu, suka sekali mencampuri urusan orang lain. Apa lagi tentang pertunangan, siapa juga yang akan bertunangan dengannya? Dia memang selalu mengada-ada sejak dulu.” Jelas dokter Jae.
“Tidak apa-apa kok, lagi pula aku juga tidak berhak mengetahui kehidupan kalian. Aku juga bukan siapa-siapa di sini, dan jangan menjelaskan semua itu juga.” Kataku perlahan.
“Yuri, jangan begitu. Aku jadi tidak enak padamu, aku minta maaf atas nama teman lamaku itu ya?” Kata dokter Jae.
“Iya sudah aku maafkan, tidak apa-apa. Kalau begitu aku pulang dulu ya? Selamat malam.” Kataku sambil berdiri dan meninggalkan kafe.
…
__ADS_1
Ternyata mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. Apa aku terlalu cuek? Ah tidak.