Dokterku Jodohku

Dokterku Jodohku
Hari yang Melelahkan


__ADS_3

Terbangun sebelum jam enam pagi adalah sebuah hal yang mencengangkam bagiku. Biasanya aku bangun dari tidurku sekitar pukul delapan pagi, atau bahkan di jam sepuluh. Hari ini aku merasa tidak nyenyak sama sekali, tidak seperti biasanya. Tak sengaja aku membuka ponsel, dan disana sudah ada beberapa pesan yang masuk. Ternyata semua pesan itu dikirim malam tadi, itu semua karena aku tidak memegang ponselku karena keasyikan menonton variety show di televisi milikku. Ada beberapa pesan dari grup obrolan seperti biasanya yang selalu berisik, namun kali ini ada pesan dari Jevan, tidak biasanya. Tanpa berlama-lama, aku langsung membaca isi pesan dari Jevan.


*From : Jevan


Yuri, apa kabarmu? Semoga baik-baik saja ya? Aku sudah lama ingin menghubungimu, tapi aku ragu akan hal itu. Entah mengapa, aku terus memikirkanmu sampai saat ini. Aku ingin memberitahu sesuatu, tapi aku tidak yakin. Namun aku sudah sangat risih untuk menahan ini semua.


Baiklah akan ku beritahu.


Jadi, sudah lama kejadian ini terjadi. Sekitar dua bulanan atau lebih, aku tidak tahu tepatnya. Aku seringkali melihat ayahmu pergi dengan seorang wanita, aku tidak mengenalnya. Mereka sering pergi bersama dan tampak sangat bahagia satu sama lain. Tidak jarang pula, ayahmu membawa wanita itu ke rumahmu. Aku sering menyaksikannya sendiri. Maaf telah memberitahumu soal ini, tapi aku kira kamu harus mengetahuinya.


Sekali lagi aku minta maaf, jika ada yang ingin kamu tanyakan, hubungi saja aku*.



Apa? Ayahku seperti itu? Aku tidak yakin soal semua yang dikatakan Jevan. Tetapi tidak mungkin bagi Jevan untuk berbohong. Ayahku sangat hangat orangnya, peduli, dan perhatian. Masa iya dia berpaling pada wanita lain dengan cepatnya, padahal ibuku belum lama meninggalkan kita semua. Apa ayahku tega melakukan semua itu? Begitu cepatkah?


Pagi-pagi aku sudah di suguhkan oleh hal-hal yang buruk seperti ini, aku sangat sedih. Sebaiknya aku harus menghubungi Jevan untuk memastikan hal itu.



“Halo, Jev?” Tanyaku.


“Yuri? Aku terkejut kamu meneleponku pagi-pagi. Ada apa?” Tanya Jevan.


“Iya, Jev. Maaf sudah menganggumu, aku hanya ingin bertanya soal pesanmu malam tadi. Maaf ya, semalam aku tidak memegang ponsel. Dan baru tadi aku membaca pesan darimu.” Jelasku.


“Oh soal itu, tidak apa-apa. Apa yang ingin kamu tanyakan?” Kata Jevan.


“Kamu masih berbaring ya? Maaf, ya.” Kataku pelan.


“Tidak, ini aku sedang menyiram tanaman di taman. Biasalah, aku harus menuruti apa yang ibuku suruh hehe.” Jawab Jevan.


“Wah, sangat berbakti sekali.” Kataku.


“Jadi, sudah berapa lama kamu melihat ayahku seperti itu? Apa kegiatannya selama ini?” Tanyaku penasaran.


“Maaf, Yuri. Sebenarnya aku tidak mau memberitahumu, tapi menurutku kamu harus tahu itu.” Jawab Jevan cepat.


“Iya, aku mengerti.” Jawabku singkat.


“Sudah lama sih, aku perhatikan ayahmu begitu. Kamu tidak apa-apa kan?” Tanya Jevan lagi.


“Aku hanya sedih, Jev. Ibuku belum lama meninggal, tapi ternyata ayah sudah begitu cepat melupakannya.” Kataku.


“Iya. Aku sempat terkejut dan tidak percaya, tapi memang itu kenyataannya.” Kata Jevan perlahan.


“Aku tidak menyangka ayah akan berubah dengan cepat.” Sahutku lagi.

__ADS_1



“Yuri, tunggu sebentar. Sepertinya wanita itu datang ke rumahmu.” Kata Jevan tiba-tiba.


“Apa? Ambil fotonya, Jev. Aku ingin lihat.” Kataku cepat.


“Baiklah.”



“Sudah aku kirimkan.” Kata Jevan.


“Terimakasih ya, aku sempat ragu dengan perkataanmu. Maaf juga karena telah menganggumu.” Tuturku.


“Iya santai saja. Kalau kamu butuh sesuatu, katakan saja padaku dan jangan sungkan. Kita sudah lama berteman.” Ucap Jevan mantap.


“Oh ya, kapan kamu kembali ke Indonesia? Sudah lama sekali tidak melihat wajahmu itu.” Tambah Jevan.


“Entahlah, Jev. Urusanku masih banyak di sini, kuliahku juga masih berjalan.” Jawabku.


“Yah, begitu. Baiklah.” Kata Jevan.


“Iya, Jev. Sudah dulu ya.” Kataku.


“Baiklah, jaga kesehatanmu.” Jawab Jevan.



Aku harus menelepon ayah.



“Ayah, halo.” Sapaku.


“Yuri? Sudah lama ayah tidak mendengar suaramu.


Ada apa? Mau meminta uang?” Tanya ayahku.


“Tidak, ayah. Yuri masih punya. Ayah bagaimana kabarmu?” Tanyaku.


“Baik, bagaimana denganmu?” Tanya ayahku.


“Kabarku sedikit buruk, yah.” Kataku.


“Loh, mengapa? Siapa yang membuatmu sedih?” Tanya ayahku lagi.


“Ayah, apakah ayah sudah berubah begitu cepat?” Tanyaku.

__ADS_1


“Apa maksudmu?” Tanya ayahku.


“Apa ayah sudah lama bersama wanita itu, setelah ibu tidak ada lagi. Ataukah jauh sebelum ibu tidak ada, ayah memang sudah bersama dengan wanita itu?” Tanyaku.


“Yuri! Apa yang kamu bicarakan? Ayah tidak mengerti.” Kata ayahku.


“Ternyata ayah tidak peduli dengan kami semua, ayah hanya berpura-pura baik saja.” Ucapku ketus.


“Yuri!” Tegas ayahku.


“Sudahlah, ayah. Aku tahu semuanya, jangan sembunyikan lagi wanita itu.” Kataku sambil meneteskan air mata.


“Apa ayah tidak merindukan ibu? Atau ayah memang sudah melupakannya? Ayah tega sekali.” Tambahku.


“Sudah bicaranya?” Tanya ayahku.



“Ayah memang sudah bahagia bersama wanita ini, kamu jangan menyalahkan ayah seharusnya. Apa salah ayah? Ayah juga berhak untuk mendapatkan kebahagiaan sendiri, kamu jangan mengatur ayahmu ini.” Jelas ayahku.


“Aku tidak mengaturmu, ayah. Aku hanya bertanya.” Kataku tegas.


“Baiklah, ayah akan jujur. Ayah memang sudah lama dengan wanita itu, jauh sebelum ibumu meninggal. Ayah bosan hidup bersama ibumu, dia hanya memikirkanmu saja. Setiap hari mengurusi dirimu yang sakit-sakitan, memang tidak ada gunanya. Setiap hari terlihat kusam dan dekil, ayah malas dengan semua itu. Ayah pulang dari kantor seharusnya di sambut, lah ini malah tidak diperdulikan.” Jelas ayahku cepat.


“Jadi ini yang ayah sembunyikan selama ini? Ayah hanya berpura-pura sayang dan peduli pada ibu, untung saja ibu tidak mengetahuinya. Ayah sangat tega.” Kataku.


“Halah, kamu diam saja. Kamu itu tidak tahu apa-apa, dan jangan sok tahu tentang ayah.” Tegas ayahku lagi.


“Kamu pikir ayah dan ibumu selama ini baik-baik saja? Selalu harmonis dan hangat? Kamu salah, Yuri. Kamu saja yang tidak tahu bagaimana keadaan ayah dan ibumu di belakang.” Jawab ayahku kuat.


“Jadi ibu sudah tersakiti selama hidupnya? Ayah memang kejam!” Kataku sambil menangis.


“Buat apa kamu menangis, sudah tidak ada gunanya Yuri. Jangan terlalu bodoh, jalani saja hidupmu itu.” Kata ayahku.


“Cukup, ayah! Cukup!” Tegasku.



Panggilan berakhir.


...


Tidak ku sangka ayahku akan berbuat kejam seperti itu. Menduakan ibuku adalah hal yang sangat keji bagiku. Tega-teganya dia berpaling dengan wanita lain, dan tidak ku sangka pula ibuku telah tersakiti selama ini. Jika saja aku tahu bahwa ibuku memang tersakiti oleh ayah, aku akan membuatnya lebih bahagia, bukan malah membuatnya susah ketika berada di dekatku.


Baru kali ini aku melakukan perdebatan yang panjang dengan ayah kandungku sendiri, aku merasa sangat miris. Aku kira selama ini ayahku memang sangat mencintai ibuku dan menyayangiku dengan sepenuh hatinya, namun kenyataannya tidaklah demikian. Ternyata keluarga yang harmonis dan hangat adalah sebuah angan-anganku saja.


Jika aku sadar dari dulu, aku akan memperlakukan ibuku dengan baik. Baru aku sadari bahwa ayahku memang tidak peduli dengan kami. Ternyata dia tidak sibuk dengan pekerjaannya, melainkan dengan wanita lain. Pantas saja ketika aku melakukan pengobatan di Korea, tidak sedikit pun ayah menghubungiku atau ibuku. Dan ternyata ibuku memang menutupi semua kesedihannya, dengan mengatakan kalau ayah memang sibuk bekerja.

__ADS_1


__ADS_2