DOSEN KU CUPU

DOSEN KU CUPU
Bimbang


__ADS_3

Andra segera tersadar dari lamunannya dan membuang jauh dari ingatannya.


" Tunggu apa lagi, cepat sana keluar ! Andra kembali membentak dan menggebrak meja Zira membuat gadis itu berjingkat dari tempat duduknya.


Zira merengut kesal atas kekasaran Andra ia berjalan dengan kepala menunduk.


" Segera ke ruangan saya setelah jam saya usai di kelas ini" Perintah Andra lagi walau agak ragu karena kembali berduaan dengan Zira takut dirinya khilaf lagi.


Zira menghentikan langkahnya dan memutar badan ke arah Andra ,ia hanya membalas dengan anggukan dan dengan langkah terbirit birit keluar dari ruangan itu.


" Kalau sempat jadi suami gue,bisa bisa gue mati berdiri.untung ganteng meskipun penampilan lo bukan level gue." Omel Zira saat di luar ruangan.


" Amit amit cabang bayi deh kalo gue sama tuh dosen,arogan dan dingin banget orangnya.Bentar lagi gue kan sudah ada yang punya." batin Zira cekikian sendiri.


" Eh..tunggu..tunggu..setiap kali gue dengar suara dan tatapan matanya seolah olah gue pernah lihat deh,tapi siapa ya." tanya Zira dalam hati sesaat berfikir dan memutar bola matanya berulang kali dan menghentikan langkahnya.


" Ya tuhan... gue ingat,tunangan gue yang ganteng.semuanya persis tatapan,suara,tubuh atletisnya cuma penampilan mereka yang beda.Ada apa ini,setahu ku Om Andra tidak punya saudara kembaran.Gue harus segera cari tahu nih." kata Zira sedikit teriak dan menepuk pelan jidatnya membuat mahasiswa yang berlalu lalang geleng geleng kepala melihat kelakuannya.


Zira kembali menyusuri setiap lorong kelas menuju toilet,ia langsung cuci muka. Setelah cuci muka dia sedikit merapikan penampilannya yang sedikit kusut dan keluar dari toilet.


Buukkk....


Zira terjatuh saat tubuhnya menabrak tubuh laki laki di hadapannya,laki laki itu Ali teman Kevin.Ali membantu Zira berdiri kembali.


" Sorry Zi,lo gak apa apa kan? tanya Ali.


" Suntuy aja Li gue gak apa apa kok ,oh ya kak Kevin gimana kabarnya,gue gak pernah ketemu lagi tuh sama dia.Biasanya dia gak bisa hidup sehari tanpa gue." kata Zira sambil terkekeh .


" PD banget lo,gu...gue..enggak tahu.sorry" ucap Ali gugup dan segera berlalu dihadapan Zira membuat Zira curiga.


" Aneh nih orang, takut takut gitu jawab pertanyaan gue.Woi gue gak makan orang kok.Hm..pasti ada sesuatu yang disembunyikannya." kata Zira yang masih menatap punggung Ali,setelah Ali pergi ia segera ke ruangan Andra.


Saat tiba di depan pintu Ruangan Andra, Zira merasa bergedik ngeri.


" Bismillah, mudah mudahan hukuman gue gak berat berat amat." batin Zira dan mengangkat tangannya untuk mengetok daun pintu.


Tok...Tok...


" Masuk !" suara bariton terdengar dari balik daun pintu.


" Permisi pak." ucap Zira sesopan mungkin.

__ADS_1


" Tolong kamu rapikan kembali buku buku yang di lemari itu." Perintah langsung terlontar dari bibir seksi Andra yang tengah duduk di balik meja kerjanya dan mengarahkan telunjuk ke arah lemari yang terletak di pojok ruangannya.


" Ya ampuuuuun..gak ada basa basinya nih si cupu,suruh gue duduk dulu kek,bikinkan minuman dulu atau tawarin gue makanan enak kek,atau apa gitu.ini malah langsung main perintah,menyebalkan !" maki Zira dalam hati dan melangkah menuju lemari yang di tunjuk Andra.


" Banyak banget buku yang mau gue rapikan,bisa bisa gue telat pulang.Sial amat sih lo Zira " keluh Zira mentap buku buku yang berantakan.


" Enggak usah banyak omong kamu,Cepat selesaikan tugas mu kalau belum selesai kamu belum boleh pulang dan satu lagi.. saya tidak betah satu ruangan dengan bakteri sepertimu." ucap Andra sekali kali mengarahkan pandangannya ke arah Zira.


" What...gue di bilang bakteri??" Zira memututar bola matanya dan langsung manyun kesal.


" Aakkhh..Ini yang bikin aku gak tahan,biasa aja dong bibirnya." batin Andra dan mulai seperti cacing kepanasan.


" Hey kamu dengar saya nggak? " tanya Andra kembali mengalihkan pikiran dewasanya.


" Iya cupuuu.." gumam Zira lebih pelan.


" Kamu ngomong apa?" tanya Andra sedikit tersenyum melihat Zira kesal,mengerjain Zira merupakan kesenangan tersendiri sekarang bagi Andra.Entah kenapa dia mulai terbiasa dengan kebiasaan Zira yang suka ngedumel.


" Eit tajam banget pendengaran sicupu." kata Zira dalam hati.


" Kamu pikir saya budeg,hah ! ujar Andra kembali.


" Saya kan gak ngomong gitu pak,bapak sendiri yang ngomong." jawab Zira polos.


Zira menyelesaikan hukumannya secepat mungkin,karena ia membantu maminya mempersiapkan untuk acara nanti malam.Mengingat itu Zira sangat senang dan bahagia karena ikatan antara dirinya dan Andra semakin jelas,ia akan menjadi milik Andra sepenuhnya dan begitu juga sebaliknya.


Zira senyum senyum sendiri mengingat betapa tampan dan maco nya tunangan pilihan orang tuanya,Zira salut atas pilihan orang tuanya.Zira tak menyadari dari tadi ada tatapan tajam yang selalu mengawasi gerak geriknya.


" Nih bocah mancing hasrat gue terus,pengen gue bungkam tuh bibir" erang Andra.


" Ehm...kapan selesainya kalau cuma melamun dan senyum senyum sendiri." suara itu kembali mengagetkan Zira.


" Apa sih mau nya,banyak ngomong salah diam juga salah.gue apain ya bagusnya nih orang" geram Zira menatap tajam Andra.


Pria itu berdiri dan bersandar di pinggir meja kerjanya sambil memperhatikan Zira yang sibuk menata buku.


" Ish...bapak kepo." ujar Zira bersungut.


" Turunkan pandangan mu,saya emang kepo.Jangan bilang kamu diam diam ngatain saya dalam hati."tanya Andra


" Gak boleh soudzon pak dosa tau,saya mah orang baik gak suka yang begituan." Jawab Zira.

__ADS_1


" Hebat akting lo Zi,padahal lo suka ngedumel sendiri dalam hati kalo dengan sicupu."batin Zira dan berusaha menahan tawanya.


" Terus..." tanya Andra balik.


" Serius nih bapak pengen tau?"


" Hm..kalau kamu tidak keberatan." ujar Andra dan mengangkat alisnya sebelah.


" gue kasih tau gak ya,gak apa apa lah mana tau mau dengar curhatan gue." ucap Zira dalam hati.


" Saya senyum senyum itu karena sedang membayangkan tunangan saya yang super ganteng pak dan hari ini kami akan bertunangan,bapak mah bukan apa apa di banding dia." Eit keceplosan lagi gue,dasar emang mulut nih.Zira menutup mulutnya.


Deg..


Andra kaget tenggorokannya tercekat dengan ucapan Zira,sebegitu senangnya kah gadis ini bertunangan denganya? Apa dia akan kecewa jika nanti tau kalau ia akan menolaknya? Andra menjadi pusing memikirkannya.Ia. menatap Zira begitu intens,Andra mengakui Zira gadis yang sempurna dari segi apapun tapi entah kenapa dia belum bisa menerimanya.kalau di tanya apakah Andra tertarik,ya jelas dia tertarik sebagi lelaki normal.Dia tau siapa Zira di kampus milik keluarga nya ini.


" Ooooh..saya kirain apa." Andra tidak peduli dengan omongan terakhir Zira dan langsung berbalik menuju sofa ia tidak mau membahasnya lagi.


" Alhamdulillah dia gak marah dengan omongan gue."


" Saya di jodohkan pak,walaupun saya sempat menolak tapi sisi lain saya berfikir bahwa saya harus menerimanya mungkin karena umur kami terpaut begitu jauh.saya sudah bertekat akan menerima pilihan dari orang tua saya tanda saya berbakti kepada mereka,apalagi kami sudah bertemu beberapa kali dan saya bahagia dengan pulihan orang tua saya." ucap Zira tersenyum menundukkan kepalanya Andra menghentikan langkahnya dan berbalik lagi kearah Zira.


" Kamu mencintainya?" tanya Andra dengan suara mulai serak dan memperhatikan Zira yang sibuk menata buku buku Andra.


" Huuuh...gimana ya pak,saya merasa nyaman aja bila berada di sampingnya dan..." Zira menghentikan ucapannya sesaat dan menarik nafas pelan wajahnya mulai merona dengan tetap menunduk.


" Dan apa ? Tanya Andra dengan suara pelan mata nya tak mau dari Zira.


" Ss...saya deg degan jika disampingnya dan pria itu selalu ada di ingatan saya dan mengganggu pikiran saya,apakah itu cinta saya tidak tau karena rasa ini pertama bagi saya." ucap Zira sambil memainkan jemari lentiknya.


" Dia mencintai mu? kata Andra menyelidik apa jawaban dari gadis itu.


"Bapak makin kepo deh" membuat Andra berdecak kesal kembali menatap Zira dengan tajam.


" He..he..maaf pak." menyatukan tangannya dengan mimik lucu.


" Saya serius" ungkap Andra.


" Saya gak tau, saat kami bertemu dia banyak diam dan selalu dingin dan tak pernah melirik saya,kalau dia gak suka dia boleh menolak kok walaupun saya kecewa.Saya gak mau memaksa hati seseorang menerima saya,karena saya yakin hati tidak perlu memilih ia tau kemana harus berlabuh ." Jawab Zira dengan entengnya.


Andra termangu dengan jawaban gadis di depannya,dia tidak menyangka pemikiran gadis yang terpaut jauh umurnya begitu dewasa dan bijak dalam bersikap.Mata nya tak henti henti memperhatikan setiap pergerakan Zira,pemilik rambut panjang yang tergerai indah itu masih membelakangi Andra, hatinya tersentuh dan mulai bimbang dengan keputusannya.

__ADS_1


******


__ADS_2