DOSEN KU CUPU

DOSEN KU CUPU
Menyerah atau memperjuangkan


__ADS_3

Flashback On


Dentingan jarum jam yg menempel di dinding ruangan memecahkan keheningan di ruangan Andra,Jiwa serasa terpisah dari tubuh kekar nya.


Merelakan orang yang sangat dicintai hidup dengan orang lain adalah titik terlemah dan terburuk yang dia alami,berbeda dengan mantan kekasih nya dulu dia tidak pernah merasakan serapuh ini.


laki -laki gagah ini menyugar rambut dan mengusap wajahnya,pandangan mata tajam namun tetap sendu itu beralih ke figura yg terpajang di atas meja kerjanya.


Tatapan kosong dengan dada yang bergemuruh tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.Ibarat penyakit sudah masuk ke tahap komplikasi seperti itu lah perasaan yang di alami laki-laki dewasa tampan ini.


" Apakah tidak ada lagi kesempatan memperjuangkan cinta ini ? " lirihnya


" Semua sudah ku lakukan ,tidak ada satu cara pun


yang terlewatkan,Ya Robbi berikan hambamu ini jalan ..huuuufff....." batin Andra sambil menjambak-jambak rambutnya.


Jika di ingat-ingat bagaimana gilanya dia menyamar sebagai dosen di kampus Zira ingin rasanya tertawa sambil teriak


" Akuuuu... sitampaaan yang penuh pesona ini....gilaaaa."


Narsis emang tapi syukurlah itu belum terucap dan semua itu tidak mungkin dia lakukan karena wibawa sebagai seorang pemimpin itu lebih penting dalam hidupnya. Mungkin mulai saat itu benih-benih cinta sudah mulai bersemi tapi dia tidak menyadari karena lebih mementingkan ego.


Tatapan mata itu masih tak beralih memandang foto gadis yang sering dia sebut bocah dan menatap sekali lagi undangan yang sudah tidak utuh lagi .Dia meremas potongan demi potongan yang dari tadi tidak lepas dari genggaman jemari kokohnya dengan dada yang begitu sesak.

__ADS_1


Tes....


Tes...


Tes..


Tanpa di undang kelopak mata dan bola mata yang selalu menatap dingin dan datar itu akhirnya menyerah.


Hampir satu jam Andra merenungi semua yang sudah terjadi tanpa disadari di luar langit sudah mulai gelap rintik-rintik hujan mulai turun membasahi bumi.


Andra menghabiskan waktu berjam-jam di ruangan tanpa mengerjakan apapun,semuanya memang berawal dari kesalahannya sendiri,berawal dari keangkuhan,kesombongan yang dia tunjukkan terhadap gadisnya.


Andra mengklaim sendiri bahwa Zira adalah miliknya,kalau didengar asisten dan karyawannya mungkin dia disebut atasan gila.Penolakaan saat perjodohan yang dia tolak mentah-mentah sehingga mempermalukan Zira sekeluarga selalu menghantui hidupnya.


Tok...


Tok...


" Maaf bos, cuma mau tanya apa bos akan datang memenuhi undangan makan malam dari orang tua pak Bagas?" Jhon si asisten masih setia berdiri di depan pintu ruangan.


" Hmmm,aku lihat nanti.kalaupun datang aku akan datang sendiri tidak perlu kau temani."


" Huh...kepedean,siapa juga yang mau nemanin loh " batin Jhon menatap tak suka ke arah si bos.

__ADS_1


" Apa kau tuli...ada yang mau kau tanyakan lagi?Kalau tidak ada jangan merusak pandangan mataku dengan berdiri di sana" ucap Andra jengah.


" Emmm...tidak ada lagi bos,saya permisi pulang duluan." Jawab Jhon dengan perasaan dongkol dan menutup pintu ruangan begitu keras,sehingga membuat Andra berjingkat kaget.


" Huhh.. dasar asisten sialan pengen nempel terus,bikin gw tambah pusing" gerutu Andra.


" Aku mencintai mu Zira,jika kamu bahagia dengan pilihanmu... aku tidak akan menghalangi.bukankah mencintai seseorang itu tidak harus memiliki?


Aku akan mengikhlaskanmu walaupun berat dan entah sampai kapan aku bisa bertahan. Atau aku culik aja kamu sayang?"


Andra harus mengambil keputusan.Ya keputusan untuk mengikhlaskan atau memperjuangkan.


****


Di lain sisi gadis yang memakai piyama berbahan satin berdiri di balkon kamar dengan rambut terurai dan melambai-lambai mengikuti tiupan angin.


Gadis itu menatap langit yang cerah dan dihiasi bintang-bintang,sudah seminggu lamanya dia dipingit oleh keluarga besar,besok adalah hari yang bersejarah dalam hidupnya.


Tetapi entah kenapa hatinya tidak merasakan kebahagiaan untuk menyambut hari esok.


******


Hai...hai...🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2