DOSEN KU CUPU

DOSEN KU CUPU
Pack Up


__ADS_3

*****


Zira tanpak pucat, air mata yang ditahan dari tadi tumpah juga membasahi pipi mulus itu,gadis itu tidak tahu dimana letak kesalahannya sehingga nasibnya seperti ini.Pertunangan yang secara sepihak dibatalkan membuat keluarga besarnya malu dan dirinya terhina.


"Gue gak akan maafin tuh orang Hiks...Hiks...Hiks." ucap Zira sambil mengusap air matanya.Sasa hanya memandang sekilas tidak tau bagaiman lagi menguatkan hati sahabatnya itu.


"Udah lah Zi,anggap aja lo tidak mengenalnya seperti yang lo bilang tadi.Buang ke laut pria seperti itu,laki laki yang menjilat air ludah sendiri setelah ia membuangnya bukan terbaik yang buat lo Zi." Ujar Sasa


"Tapi gue bukan muna ya Zi,dia emang ganteng pria idaman setiap wanita,cool,pokoknya perfect,kaya lagi dan satu lagi cocok banget kalau sama lo.."ucap Sasa cengingiran.


" Iiih sebel...gue lagi sedih lo masih sempat sempat ngomong gitu." ucap Zira dengan cemberut.


"Lo cengeng sih." ujar Sasa matanya fokus mengarah ke jalan.


"Lo enggak ngerasain gimana sakit hati,makanya lo ngomong gitu." balas Zira.


Sasa hanya diam tidak mau menanggapi


karena dia tau sakit yang dirasakan sahabatnya itu.


Mobil memasuki pekarangan rumah Zira,sebelum keluar gadis itu membersihkan wajahnya dengan tisu agar kedua orang tuanya tidak curiga.Zira menatap sesaat mobil yang terparkir di depan rumahnya.


"Lo gak mampir." tanya Zira.


"Gak lah,jangan lupa ntar malam." ujar gadis itu mengingatkan Zira Zira hanya mengangguk.


Setelah mobil yang dikendarai Sasa pergi Zira segera masuk ke dalam rumah,ia akan mengemas barang barang yang di perlukan.Saat kaki jenjang itu menaiki tangga tiba tiba ia mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.Gadis itu mengurungkan niatnya dia berjalan sambil mengendap ngendap ke arah dapur.


Di sana duduk laki laki memakai baju kemeja warna marun dan celana dasar hitam sedang menyuap nasi.


"Om bagaaaas." teriak gadis itu.Suara gadis itu melengking sehingga yang punya nama reflek menyemburkan nasi yang berada dalam mulutnya karena kaget.


" Sorry..sorry.. om." ucap gadis itu sambil memegang dua telinganya takut dijewer bagas.


"Nih anak gak ada lembut lembutnya,pelankan suaranya kenapa Zi.ntar gak laku loh." ujar Bagas meneguk air putih didalam gelas dan menyuap kembali nasinya.


"Masa sih om,keponakan cantik om ini jadi primadona loh di kampus masa iya gak laku." ujar Zira mengedipkan sebelah matanya.


"Alah,mata mereka aja yang katarak.Cantik dari mana coba."ujar Bagas dengan senyum jahil.


"Iiiihh...sebel deh kalau udah ketemu om bagas." ucap Zira merengut.Fieta yang melihat dua orang di depannya hanya menggeleng geleng dan tersenyum.


"Bagaimana Zi,udah siap untuk tinggal sama eyang dan om??" Ujar pria itu sambil mengangkat alis nya sebelah dengan senyum jahil.


"Siap dooong." ucap gadis itu spontan.

__ADS_1


"Bagus lah,biar mami gak teriak teriak terus bangunin kamu." sambung Fieta maminya Zira.


"Enggak apa apa juga mi,olah raga mulut tiap pagi biar mami tu awet muda dan papi makin cinta." celetuk Zira dan mengambil lauk yang ada di atas piring Bagas.


Plaaak..


"Awww...sakit om."Ujar Zira cengengesan.


" Sangkain tangan kucing nakal tetangga." Ujar Bagas cuek.


"Sebel deh,masa aku cantik gini dibilang kucing.Gue cantik kan om?"celetuk Zira dan mengedipkan mata berulang kali.


" Hmmm.." ujar Bagas dan segera berdiri meninggalkan Zira.Karena kalau sudah ketemu Zira pasti ada aja yang di debatkan dan gak akan ada yang akan mengalah.


"Yaa...kecantikan gue enggak di akui si om kampret." batin Zira mencebikkan bibirnya.


Zira mengikuti Bagas yang menuju ke arah ruang utama.Pria itu mengambil kunci mobilnya yang berada di atas meja.


"Eh..eh..lo mau kemana om?" tanya Zira menarik lengan Bagas.


"Mau ketemu seseorang." ujar Bagas


"Gue ikut ya oom?" rengek Zira membuat Bagas gemas.


Pletak..


"Segera pack up barang barang mu Zi,besok pagi kita sudah otw. Lagian om mau ke perusahaan teman om masa kuliah." jelas Bagas.


" Kenalin dong om ma gue." Ujar gadis itu sedikit manja.


"Ogah..mana mau pria dewasa tampan dan mapan dengan bocah ingusan seperti mu yang masih suka ngompol." ejek Bagas dan menjulurkan sedikit ujung lidahnya.


"Om Bagaaas,awas lo ya." teriak Zira mengejar mobil Bagas sedangkan Bagas terkekeh dalam mobil dan melajukan mobilnya sambil bersenandung kecil.Pria itu tersenyum senyum sendiri melihat mimik wajah Zira saat ia ledek.Walaupun Bagas adik angkat Baskoro tapi dia sangat menyayangi Zira,meledek Zira merupakan candu baru buat Bagas.


****


Andra masih sibuk membolak balik dokumen yang ingin di presentasikan besok pagi,kejadian saat dikampus tadi selalu memenuhi isi kepalanya.Ucapan Zira bahwa gadis itu sangat membencinya selalu terngiang ngiang ditelinganya.


Kecewa karena ditolak itu sudah pasti,kenapa selama ini ia tidak menyadari perasaan yang berbeda itu hanya untuk gadis itu bukan untuk Salsa.


Walaupun ia telat menyadari semua itu,ia akan memperjuangkan bagaimanapun cara dan resikonya.


"Seperti inikah rasanya saat kita mencintai tapi tidak dicintai kembali,sungguh menyedihkan." batin Andra pria itu menyugar nya dan menarik kuat.


Tok...tok..

__ADS_1


"Masuk."ujar Andra.


" Bos ada seseorang yang ingin bertemu."Ujar Jhon.


"Suruh masuk Jhon." perintah Andra.


"Bai...." ucapan Jhon teputus karena seseorang menyelonong masuk ke ruangan Andra.


" Ck...gak punya sopan santun."batin Jhon dan geleng geleng kepala.


"Hai bro,apa kabar? tanya seseorang yang bersandar di dinding sedangkan kedua tangannya terlipat di dada.


" Hai,lama tidak bertemu bro." balas Andra mereka saling berpelukan melepas rindu.


"Lo sehat kan Ndra." Ujar Bagas menepuk kecil pundak Andra.


"Seperti yang lo lihat bro." Ujar Andra.


"Menurut gue lo lagi gak sehat,coba lihat penampilan lo..kacau banget bro."celetuk Bagas dan hanya di balas kekehan oleh Andra.


" Mana Andra yang dulu gua kenal,yang selalu menjaga penampilan..hm?" tanya Bagas kembali.


Andra hanya tersenyum dan mengetuk ngetuk kecil meja agar apa yang ditebak Bagas tidak ketara.Pria itu mendesah berat seolah begitu berat beban yang dia pikul tapi itu memang benar,selain meraih Zira kembali dia juga harus mengambil hati orang tuanya.Bukan memanfaatkan Zira untuk berbaikan dengan keduanya tapi itu juga salah satu jalan untuk bersatu lagi dengan kedua orang tuanya.


"Woiii bengong aja loh."Ujar Bagas menepuk pundak Andra.


" Sorry bro akhir akhir ini gue lagi banyak masalah." ujar Andra.


"Sudah bisa gue tebak gak perlu lo jelaskan,dan gue dengar lo menolak gadis pilihan orang tua lo." tanya Bagas


"Hm..tu masalah terbesar gue sekarang." jawab Andra.


"Jangan bilang kalau lo baru menyadari perasaan lo,betulkan?" Selidik Bagas.


Andra hanya mengangguk dan mendesah berat


"Tumben lo ke sini?" tanya Andra.


"Hm..jemput keponakan,dia mau pindah kuliah."


"Ooh..sangakain gue lo mau antar undangan ke sini." ejek Andra.


"Kampret lo ngejek gue,sebelas duabelas kita kok." ucap Bagas tertawa.


Kedua pria dewasa itu asyik dalam perbincangan mereka karena sudah lama mereka tidak bertemu,sekretaris Andra hanya tersipu malu setiap mata nakal Bagas meliriknya.

__ADS_1


****


__ADS_2