DOSEN KU CUPU

DOSEN KU CUPU
Tamu Om


__ADS_3

Zira terdiam dan tidak berkutik di tempat duduknya,gadis itu memandang dua pria yang berjalan ke arahnya.


"Ya ampuuun,nih dosen tau dimana rumah gue." batin Zira.


Arka melihat ekspresi wajah Zira penuh tanda tanya,Arka mengulum senyumnya bahwa prediksinya benar.Gadis itu tanpak kaget melihat keberadaannya di sini,dan mulut sedikit terbuka itu membuat Zira menggemaskan dimata Arka.


"Ayo nak silahkan duduk!" perintah eyang.


"Ngapain eyang nyuruh ni orang duduk,kenal aja enggak."batin Zira kembali.


" Eiitt...tunggu...tunggu,hm..maaf pak Arka ada perlu apa ke sini dan...dari mana tau kalau rumah saya di sini,jangan jangan pak Arka menguntit saya ya?" tanya Zira sambil memainkan jemarinya karena gugup.


"Ini rumah kamu ya,bukan rumah Bagas Prasetyo? kalau gitu saya salah alamat." ujarnya dan memandang Bagas setelah itu mereka tertawa lepas membuat Zira semakin bingung.


"Mari saya antar keluar pak." ujar Zira karena bingung melihat kedua pria itu masih terkekeh tanpa mencerna ucapan Arka.


"Eiitt...tunggu..kata pak Arka rumah siapa tadi? ya ampuuun **** gue kok kelewatan ya? jadi pak Arka itu? " ujarnya dalam hati.


"Gue ke PD an banget sih,aduuuh mau ditarok dimana muka gue." ucap Zira kembali wajah gadis itu mulai merah seperti udang rebus karena menahan malu.


"Eyang Zi mau ke kamar dulu ya,mau lanjutin yang tadi,permisi." Zira langsung berdiri kapan perlu dia ingin menghilang saja karena tidak tahan dengan tatapan Arka dan senyum licik yang terukir di bibirnya.


"Aduuuuh..bahaya nih,kok omongan gue gak bisa di filter ya." gadis itu membalikkan badan sambil mengelus elus dadanya.


"Eh..eh..mau kemana,katanya mau ngantar pak Arka nya keluar."ujar Bagas menahan tangan Zira.


"Hm...gak jadi deh om,om aja ya gue lagi banyak tugas." ujar nya memohon.

__ADS_1


"Enggak bisa dong,kata mu dia salah alamat harus tanggung jawab kamu,berarti kamu kenal kan?" ucap Bagas dengan senyuman licik karena momen yang tepat menjahilin Zira di depan dosennya.


Zira mendengus kesal karena Bagas mempunyai kesempatan untuk menjahilinnya,nampaknya gadis itu tidak bisa mengelak.


"Eyaaang selamatkan Zi." ujarnya dalam hati dan memandang eyangnya dengan tatapan memelas.


"Udah Bagas jangan di kerjain mulu Ziranya." ujar eyang putrinya,Bagas pun melepaskan tangan Zira.


"Yeee...trimakasih eyang putriku." ucap Zira gadis itu mendekati dan memeluk eyang nya.


"Zi..,ini Arka temen masa kuliah om mu mereka tiga sahabat yang satu lagi jarang berkunjung ke sini karena sibuk dan Arka ini cucu ku dari Jakarta dan dia kuliah di sini." penjelasan eyang Zira.


"Kalian udah saling kenal toh?" tanya eyang Zira kembali.


"Iya eyang putri,pak Arka dosen Zira." ujar Zira dengan menunduk,sedangkan Arka hanya mengangguk.


Zizi bersebelahan dengan eyang sedangkan di depannya Arka yang bersebelahan dengan Bagas.


" Zi tolong ambilkan nasi nya dong." ujar Bagas.Zira mengangguk dan beranjak dari duduknya dengan wajah kesel.


"Tumben gue di suruh,biasanya ngambil sendiri."batin Zira ngedumel.


" Sekalian sama piring Arka ya." ujar Bagas dan mengedipkan sebelah matanya dan memberikan piring kosong milik Arka dan eyang putri cuma geleng geleng melihat keponakan dan om yang seperti tom and jerry.


Zira mendelikkan matanya,dengan sedikit grogi gadis itu memberikan piring berisi nasi ke Arka.Laki laki itu selalu menatap Zira dengan lembut dan penuh cinta.Ya, Arka sudah jatuh cinta terhadap gadis di sampingnya.Arka tidak busa membonongi perasaannya,ia datang ke sini untuk bertemu Zira walaupun alasannya bertemu dengan sahabatnya sendiri.Arka akan memperjuangkan cintanya walaupun umur mereka terpaut terlalu jauh,Zira kembali duduk dan ikut makan bersama.


Zira tidak bisa makan lahap seperti biasa,karena setiap suap nasi masuk kemulutnya mata Arka tak lepas menatapnya.

__ADS_1


"Nih orang maunya apa sih,bikin gue gak bisa lebih leluasa aja." batin Zira ngedumel.


"Tapi nih cowok ganteng banget,aku jadi ingat Andra jika melihat postur tubuh pak Arka.Ngapain gue ingat lagi tuh ********,mudah mudan gak jadi nikah sama tuh cewek biar melajang seumur hidup." batin gadis itu lagi.


"Udah puas natapnya Zi,ntar keselek lo pak Arka nya." Ujar Bagas dan membuat Zira salah tingkah.


"Uhukkk....uhukk..." Zira langsung mengambil minuman tepat berada di depannya dan itu minum milik Arka.


"Apaan sih om." ujarnya manyun


"Nah buktinya,kamu yang keselekkan dan barusan kamu minum air siapa?" tanya Bagas dengan senyuman mengejek Arka hanya menggeleng geleng kecil.


"Hahh....jadi barusan aku minum air pak Arka,aduh maaf pak ni kita tukaran." Ujar Zira menyodorkan minumannya.


"Enggak apa apa kok,saya suka bekas minuman kamu." ujar Arka membuat pipi Zira merona.


"Cie...cie...suka ceritanya nih ya,suka bekas minumnya tau sama orangnya.kalau elo suka orangnya juga enggak apa apa?" Ujar Bagas cekikikan.


"Dua duanya." Ujar Arka keceplosan.


"Hah...beneran lo suka sama nih bocah." ujar Bagas dengan mata membulat sama dengan ekspresi Zira.


"Emang gue ngomong gitu barusan,kalau benar emang elo gak mau gue jadi ponakan lo." ujar Arka ceplas ceplos.


"Lo udah ketua an jadi ponakan gue." Ujar Bagas dan meninju lengan Arka dan mereka pun tertawa,eyang putri pun ikut tertawa.


"Beneran pak Arka suka sama gue nih?" batinnya dan tidak menghabiskan makanannya.Gadis itu langsung menuju kamarnya,karena merasa jengkel melihat dua pria tua asik cekikikan.

__ADS_1


*****"


__ADS_2