Dua Insan

Dua Insan
Kilas balik end (Segala rahasia hati)


__ADS_3

"Bawa saja Arlangga dengan kamu!"


"Mas! Kamu kenapa?!"


"Saya muak, Angelica! Saya muak..!! Setiap hari melihat kamu, setiap hari mendengar semua cerita mama bahwa kamu tidak baik! Saya muak!"


Hening.


Angelica bergeming. Ia tak membayangkan bahwa akhirnya akan seperti ini, "Ini jalan yang terbaik..? Kamu boleh ceraikan aku, setelah.. Anak ini lahir, mas," tukas Angelica dengan tersenyum tipis.


Ya. Semua setuju dengan usulan itu. Bahkan, Arlangga sangat takut dengan papanya yang selalu mengamuk itu. Setiap saat. Setiap waktu.


"Pa..!! Jangan jahat-jahat sama mama!"


"Kamu ngerti apa?! Udah diem. Jangan buat saya hilang kesabaran."


"Papa boleh pukul Arlangga, papa jangan pukul mama!"


Jelas. Angelica tersenyum tipis dengan terpapang jelas rasa bangganya kepada putranya.


Beberapa bulan berlalu, perut Angelica semakin besar dan Arlangga juga semakin mengerti tentang apa yang terjadi. Ia tidak menyusahkan mamanya. Hidup mandiri dan sangat disayang cinta pertamanya hingga...


"Arlangga.. Jangan nyusahin papa ya sayang..? Karena suatu saat.. Kamu pasti mengerti kenapa kamu harus kuat sampai nanti. Kalau kamu terluka.. Jangan langsung membasuhnya, nikmati luka itu sampai akhirnya saat lukanya sangat sakit.. Baru kamu basuh luka itu dengan obat. Kamu pasti bakal temuin nama didalam diri seseorang, Arlangga janji tidak boleh nakal ya?"


"Iya mama! Arlangga tidak akan bakal dan Arlangga janji tidak akan bisa sembuhin luka Arlangga sendiri!"


Angelica tersenyum kala melihat putranya itu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana ia apabila putranya tidak ada. Pasalnya banyak sekali cacian, makian yang diterima namun, yang tetap menguatkannya adalah Arlangga.


"Arlangga, kelak kamu akan menjadi orang tua seperti mama. Dan mama harap.. Kamu megah dengan kehidupanmu dan mama harap.. Bentakan mama tidak mematahkanmu ya syaang..? Mama tau dunia akan menghakimi tapi kamu harus kuat dan hebat. Jalanmu yang terkadang tidak searah dan indah.. Berjanji Arlangga akan tetap jadi diri sendiri ya..?"

__ADS_1


"Iya mama! Arlangga janji.. Arlangga tidak akan pernah benci siapapun didunia ini!"


Angelica bersalin dengan didampingi Arlangga. Angelica tak tega apabila harus menjambak jadi, ia hanya mengenggam erat tangan putranya sampai anaknya terlahir didunia ini.


Tubuh Angelica lemas. Matanya terus terpejam dan saat hendak tertidur.. Angelica mencium terlebih dahulu kepala putrinya dan gengaman tangannya mulai terlepas.


"MAMA..?! MAMA KENAPA?! MAMA BANGUN, MA..!!!! DOKTER, KENAPA MAMA TIDAK BERNAFAS?!"


"Nak.. Mama kamu sudah berpulang, turut berduka cita."


"Mama..? Mama kenapa tidak bangun, ma...? Mama!! Arlangga berhasil jadi peringkat satu. Mama pasti bangga kan..? Mama.."


Isak tangis Arlangga membuat semua dokter disana merasa iba. Dan ya. Papanya merawatnya dan adiknya dengan penuh kasih.


"Pa.. Mama kemana?"


"Arlangga.. Mama kamu sudah bahagia diatas. Menyatu bersama bintang dan bulan."


"Iya sayang, cantik seperti mama."


Sungguh! Tak ada yang bisa diucapkan dari mulut Andara. Hanya ada sepatah kata karena ia tak percaya akhirnya akan seperti ini.


"Maafkan papa, Arlangga.."


.................


"Aliya.. Ada yang terasa sakit..?"


"Kak.. Makasih ya karna udah nerima aku..? Nerima cewek rusak kaya aku, nerima aku tanpa memandang masalaluku.. Makasih, kak.."

__ADS_1


"Makasih buat apa? Kamu istri saya. Tanggung jawab saya. Yang artinya saya sudah bersedia menjadi suami kamu. Saya diajarkan papa bahwa saya tidak boleh menyakiti seorang perempuan apapun alasannya. Itu masalalu yang harus dilupakan. Maupun masalalu kamu seburuk apapun itu.. Kamu tetap ratu dimata saya. Ratu yang harus saya jaga sampai akhir hayat."


Deg..!!


Aliya tak percaya suaminya akan mengatakan kata yang membuat hatinya luluh. Ia mulai memeluk erat tubuh Pratmana dan menangis sejadi-jadinya.


"M - maaf...!! Seharusnya aku gak sebodoh itu kak, aku ga akan sebodoh itu... Aku hanya takut..! Maaf.. Maaf.. Maafin aku, Maaf..!!"


"Jangan meminta maaf lagi. Saya tidak suka kamu terus meminta maaf seperti ini, sudah ya..? Apapun itu semua ini hanya kesalahan."


Aliya mengangguk. Ia tak percaya akan mendapat suami yang sangat sempurna seperti sosok Pratmana yang menerima semua segala kekurangannya. Tak pernah meninggalkan dan kasar dengannya. Tutur kata yang selalu lambut, perilaku agung kepadanya.. Aliya bersyukur.


"Terimakasih, kak.. Terimakasih karena sudah menjadi lelaki terhebat.."


"Dan terimakasih karena telah menjadi sosok wanita terkuat kedua setelah mama. Terimakasih, atas kehadiranmu Aliya."


Kan? Keduanya tak akan terpecah belah hanya karena masalah yang kelam. Apalagi Pratmana juga sudah menerima Aluna jadi, tidak jadi masalah apabila Aliya belum bisa menerima Aluna dengan baik karena traumanya


Disisi lain... Pemakaman yang gersang membuat hati Andara tergerak. Ia meletakkan bucket bunga tulip putih sebagai permintaan maaf kepada istrinya.


"Sayang.. Saya datang. Maaf ya..? Maafin semua kesalahan saya. Sekarang Arlangga dan Mawar sudah mulai beranjak dewasa meski.. Saya sering melihat Arlangga kerap menangis karena merindukan kamu, saya hanya bisa menerima.. Saya tidak bisa menenangkan atau melarangnya menangis bukan..? Pria juga berhak menangis.."


"Sudah tidak sakit kan..? Maaf.. Saya kasar karena saya tau kamu tidak menyerah dan memaksa bertahan walau kamu lelah. Saya tau rasa sakit kamu, saya tau apa yang kamu sembunyikan dan saya tau apa yang kamu rasakan.. Saya hanya diam dan seolah-olah tidak peduli agar kamu menyerah. Dan ya..? Bodohnya saya adalah melepaskanmu."


bulir-bulir air mata mulai berjatuhan dari pelupuk mata Andara. Rasa sesalnya tak akan kunjung menghilang sampai kapanpun.


"Saya tidak akan menikah lagi. Karena tidak ada wanita yang tulus sepertimu, saya akan tetap mencintaimu sampai akhir. Sampai saat nanti kita akan dipertemukan disurga. Saya harap kamu tidak membenci saya, ya..? Karena Arlangga sudah membenci saya."


Andara mulai meletakkan sebuah bucket bunga tulip dan meninggalkan pemakaman itu dengan langkah yang lunglai dan hati yang berat.

__ADS_1


"Suatu saat kalian berdua akan mengerti mengapa kita menjauh, Aluna dan Arlangga."


To be continue!


__ADS_2