Dua Insan

Dua Insan
Kejamnya manusia


__ADS_3

Andara, Aluna, Mawar dan Sagara langsung menuju ke arah gedung yang diinformasikan oleh Mawar dengan nafas yang tersengal-sengal. Aluna hanya ikut. Ia tidak ada tujuan dan untuk penembakan.. Arlangga sudah pernah bilang untuk hal ini.


"Pa.. Siapa nama lengkap yang dimaksudkan oleh Mawar?"


"Septiana Agustina."


"Istri papa..?"


"Bukan. Dia hanya mama sambungnya anak-anak, ada apa, Aluna..? Kau mengenalnya..?"


"Dia adalah yang menyelamatkanku dari maut, pa.."


"PAMAN, HENTIKAN MOBILNYA!"


"Ada apa?!"


"Hentikan saja!"


Sesuai perintah Aluna. Sagara menghentikan mobilnya dan hanya mematuhi Aluna akan bagaimana. Aluna kemudian mengambil alih setir dan mengemudikan mobil itu dengan kecepatan max. Seolah tak percaya akan hal itu, Andara dan Sagara hanya termangu melihat cara Aluna berkendara.


Sesampainya, Aluna langsung keluar dan ia sangat ingat. Ini adalah tempat saat ia umur 5 tahun nyaris saja tertembak.


"Aluna.. Kenapa kamu seperti mengenal tempat ini?"


"Karena ini tempat aku nyaris dibunuh, pa."


Singkat, padat dan jelas. Aluna langsung memasuki ruangan tersebut dan mengambil sebuah pedang yang berada disudut. Aluna dan Andara mulai berpencar. Aluna mulai memasuki sebuah ruangan yang jelas ruangan itu adalah ruangan gelap.


"Kak Luna, awas!"


SRAK!


Gila! Aluna dengan sekali tebasan memengal kepala orang yang nyaris mendekatinya. Seolah ia sudah terbiasa memegang pedang tersebut. Dengan lihai tangannya menggunakan pedang itu tanpa hambatan sama sekali.


"Kak Tina sudah ketemu belum?!"


"Sudah kak, ayo keluar!"


"Pegang aku erat."


"Hah?! Apa yang ─ KAK ALUNA, JANGAN GILA KAK..!!!"


Bugh!

__ADS_1


"Kamu ngapain?" tanya Aluna membuat Mawar cengo. Ia tak mengira Aluna seberani itu bahkan, melompat dari atas balkon tadi sangat bahaya.


"Kak, kakak kenapa..?"


"Sedikit pusing.."


Mendengar itu, Mawar dengan sigap menggendong tubuh Aluna dan membawa Aluna ke dalam mobil. Setelahnya, Sagara segera mengemudikan mobil tersebut ke rumah Aluna. Rumah yang penuh luka dan sangat gersang.


"Aluna, kamu sudah dewasa sekarang, dek.."


"Kak, kenapa bisa..?"


"Ceritanya sangat panjang sayang, gimana kondisi kamu? Sudah membaik kan..? Kakak yakin kamu sudah sembuh, iya kan..?"


"Tidak kak.. Impian Aluna semua hancur. Semua harapan Aluna pupus, penyakit Aluna semakin hari semakin buruk.. Dan sekarang.. Aluna dikeluarkan dari kampus, kak.."


"Bagaimana bisa sayang? Ada apa?"


"Cerita panjang.."


"Aluna.. Ceritakan sayang, ada apa..?"


"Semua penghianat! Semua khianati Aluna, kak..! Bahkan, mereka memfitnah Aluna padahal.. Mereka yang lucuti Aluna ma..! Video itu disebar hingga bunda pergi lagi dari Aluna.. Kalung pemberian kak Arlangga ditarik hingga putus.. Tubuh Aluna dipotret mereka, gelang pemberian Mahendra diputusin.. Mereka membuat Aluna seolah paling berdosa kak.. Bukankah mereka juga manusia tapi kenapa..?"


"Aluna tau..? Dulu kakak juga seperti Aluna. Putus asa dan tidak berarti namun, kakak waktu itu masih memiliki ibu yang mendukung hingga akhir. Untuk Aluna.. Jangan menyerah ya..? Perjalanan hidupmu masih panjang. Masih ada banyak sekali hal yang perlu kamu mengerti, sayang.. Apa memang Aluna mau menyerah sekarang..?"


"Aluna capek.. Aluna juga manusia, kak.. Aluna juga manusia yang memiliki hati! Apakah mereka tidak tau ini menyiksa Aluna..?"


......................


Hening. Septiana mulai menghela nafasnya dan merebahkan tubuh Aluna dipangkuannya. Mengusap kepala Aluna sehingga Aluna menangis tersedu-sedu dengan sentuhan lembutnya.


"Kakak tau kamu tidak pernah mendapatkan ini.. Kakak tau kamu tidak pernah mendapat kasih sayang cukup. Kakak tau semua yang hancur sudah tak bisa diperbaili dan mama lebih tau bagaimana perasaan kamu setelah semua kejadian itu menimpa, Aluna.."


"Kak.. Aluna capek, Aluna mau istirahat.."


"Tidak sekarang, Aluna. Belum waktunya kamu beristirahat. Akan ada waktunya untuk kamu istirahat namun, bukan sekarang. Untuk sekarang.. Aluna bisa seperti ini, Aluna kalau sakit bilang kakak ya..? Kakak yang akan menjaga Aluna mulai sekarang.. Aluna mau dijaga kakak kan..?"


Aluna menganggukkan kepalanya. Ia tak bisa mengatakan sepatah katapun terkecuali menahan isakannya dan menahan agar tangisannya tidak pecah detik itu juga. Karena Aluna tau, ia tidak terbiasa menangis didepan seseorang terkecuali kepada Arlangga.


"Kalau ada yang rusak.. Kita beli yang baru. Kalau ada yang hancur.. Kita perbaiki lagi. Semua yang terasa menyakitkan tak akan terlepas dari kehidupan karena dalam dunia ini manusia itu kejam."


"Dalam netramu.. Kakak melihat kesedihan yang sangat mendalam. Apakah Aluna bahagia dengan kehidupan Aluna sekarang..?"

__ADS_1


"Tidak.. Tidak! Aluna marah, Aluna tidak suka! Aluna tidak suka dengan takdir ini kak..!!! Aluna marah! Tapi Aluna bisa apa..? Aluna hanya insan biasa kak.."


"Rumah tidak selalu berbentuk bangunan, sayang."


Aluna hanya terpaku. Perlahan air matanya luruh dan membasahi rok milik Septiana yang tengah mengusap-usap kepala miliknya dengan lembut. Membelai dan memberikan ketenangan yang diinginkan.


"Tangannya jangan dilukis lagi ya..? Nanti ga cantik lagi, kakak obati setelah ini.. Aluna melukis dikanvas saja ya sayang..?"


"Kak.. Aku boleh minta sesuatu..?"


"Peluk aku, kak.. Peluk aku.."


"Kemari sayang, kamu boleh minta peluk sepuas kamu, tumpah ruahkan semua rasa sakitmu. Kemarilah..," titah Septiana membuat Aluna bangkit dan langsung menerjang tubuh Septiana.


Aluna menangis sejadi-jadinya dengan meremat baju belakang Septiana namun, Septiana tidak melawan atau melarang Aluna. Karena ia tau luka Aluna sudah terlalu lama dipendam. Septiana memeluk erat tubuh mungil Aluna dengan mengusap-usap punggung belakang Aluna dan hal itu membuat Aluna bisa menangis dan menumpah ruahkan semuanya dengan isak tangis yang menyakitkan.


"Kak Arlangga sudah janji menemani Aluna sampai akhir.. Dia sudah berjanji untuk menetap kenapa ia pergi..? Kenapa tidak ada yang kembali pulang ke pelukan Aluna..? Kenapa..??"


"Aluna sayang.. Tidak apa. Menangislah sampai hatimu lega setelah itu, janji bangkit lagi ya..? Tidak adalah salahnya terkadang kita menangis karena orang yang tidak bisa menangis sesunguhnya adalah orang yang lemah."


Aluna masih memeluk Septiana hingga saat Septiana menguncang tubuh Aluna, ia terkejut karena tubuh Aluna lemas dan terdapat darah yang keluar dari hidung dan mulutnya.


"DOKTER SAGARA, TOLONG..!!! TOLONG DOK!!!"


"ADA APA?!"


"TOLONG ALUNA, DOK..!!! NAFASNYA, DENYUTNYA HILANG-DATANG, DOK TOLONG ALUNA..!!" jerit Septiana dengan sangat panik lalu menggendong tubuh Aluna dan Aluna dilarikan ke ruang ICCU setelah sampai dirumah sakit.


Aluna segera ditangani dan setelahnya, Aluna dipindahkan pada ruang sebelumnya. Ruangan tetap Aluna adalah diruang tersebut.


"Kak.. Kenapa harus kakak..? Kenapa harus kaka..? Seharusnya kakak mengajakku pergi kak.."


"Sambil mendengar cerita, bukan dengan cara seperti ini.."


"Menemukan rasi bintang dan bulan dilangit.. Kalung yang kamu berikan putus kak.. Tidak bisa disambung dan sekarang aku harus pulang kemana..?"


"Kak.. Kamu telah mengikatku namun, kamu lupa bahwa setelah diikat tali itu akan terlepas apabila tidak diikat kencang."


Ucapan-ucapan itu membuat Sagara dan Septiana hanya mampu menatap iba ke arah Aluna. Tatapan kosong Aluna sudah menjelaskan semuanya. Ia begitu kesepian dan hampa. Suara lirih Aluna sudah menunjukkan bahwa Aluna belum terbiasa akan kehilangan seseorang. Untuk menetap, Aluna hanya akan seorang diri berjuang melawan penyakitnya.


..."Arlangga.. Lepaskanlah Aluna dan terbanglah tinggi.. Jangan membawa Aluna dan terus mengurung Aluna dalam penjara sesal yang tak ada artinya. Jangan membuatnya merasa hampa setelah sekian lama, Lepaskan Alunamu dan terbanglah mencari syurgamu, Arlangga.. Jangan menjerat gadis tak berdosa ini dengan rindumu.."...


^^^-Reno Aditya Pramana^^^

__ADS_1


To be continue!


__ADS_2