
Hari ini, Aluna mendatangi pemakaman tanpa jasad. Aluna menangis tersedu-sedu seolah-olah pada makam itu terdapat jasad 3 adik yang telah ia rawat selama ini. Ia sayang dan jaga selayaknya permata.
Pratmana hanya bisa menunggu Aluna dan menyembunyikan kesedihannya. Apa yang bisa ia lakukan saat putrinya hancur seperti itu..?
"Aluna.."
"Berangkat saja, ayah. Aluna tidak apa.. Sementara, Aluna akan diam dirumah sakit."
Pratmana mengurai peluk dan mengantarkan Aluna ke rumah sakit. Aluna berjalan dengan tatapan kosong dan memasuki ruang Anggrek. Ruang dilantai 3 nomor 14 tempat Arlangga dirawat.
Aluna memasuki ruangan tersebut dengan langkah gontai. Pandangannya kabur dan nuansa putih membuat Aluna bergidik ngeri saat melihat banyak alat yang menempel pada tubuh Arlangga.
"Selamat pagi, kak.. Kakak sudah makan?"
"Seharusnya saya yang bertanya, kamu sudah makan..? Kamu terlihat sangat berantakan sayang.. Lepaskan ya..?"
"Kepada siapa aku harus mengadu kak..? Siapa yang harus aku salahkan setelah ini? Siapa yang akan menapung semua ceritaku..? Aku tidak pernah ingin mendapati takdir yang sangat kejam ini. Aku tidak ingin semua derita ini kekal dalam hidup kak.. Izinkan aku meneduhkan ragaku kepadamu.. Lalu ikat aku.."
"Saya sudah mengikat. Kita telah terikat. Kamu bisa berpulang kepada saya, menceritakan semua kepada saya apa yang kamu lalui dan kamu bisa meluahkan segala amarah dan keluh kesahmu, Aluna.. Ketahuilah. Kamu tidak sendiri disini.. Ada saya," ujar Arlangga dengan mengusap pipi gadisnya lembut.
"Menetap pada rumah sakit ini selama 1 tahun atau akan keluar dan menyambut hari baru bersamaku, kak..?"
"Saya besok harus cuci darah," sahut Arlangga dengan tersenyum dan menatap teduh Aluna.
"Aluna, saya harap kamu mau kembali berobat."
Hati Aluna tergerak. Ia ingin kembali berobat dan berjuang bersama dengan sang kekasih. Saling menjaga dan saling mendegarkan cerita satu sama yang lainnya.
__ADS_1
"Kak, apa metafora kehidupan ini..?"
"Kehidupan ini hanyalah ilusi, Aluna. Tidak ada yang akan kekal dalam kehidupan ini dan apabila kamu ingin mengerti.. Kita berdua diciptakan untuk saling melengkapi. Matahari bersama bulan. Bumi bersama dengan langit dan tata surya, hujan dengan petir, gunung dengan lembah, ikan dengan air dan saya dengan kamu."
Blush...
Pipi Aluna merona mendengar ucapan Arlangga yang menyirat arti itu. Sehingga tak lama setelahnya, keduanya memutuskan pergi untuk cuci darah dan berobat lalu menghabiskan sisa hidupnya didalam rumah sakit. Meski, mereka bisa berjalan-jalan bebas namun tetap saja, mereka tidak bisa sesuka hati akan pergi seperti saat mereka sehat.
"Paman, saya izin keluar dengan Aluna ya..?"
"Jangan terlalu jauh," peringat Sagara diangguki oleh Arlangga.
Keduanya langsung pergi dengan bergandengan tangan. Mereka pergi ke taman belakang lalu duduk berdampingan. Saling pandang dan Arlangga mengenggam jemari Aluna dan mengusap punggung tangan Aluna yang tersemat cincin.
"Ratu kecil saya tetap cantik. Kamu cantik mau seperti apapun, kamu tetap cantik. Dan selalu cantik."
"Kak, apa ada yang sakit..?"
"Apa yang akan kakak ceritakan kepada putri kita nanti..?"
"Saya akan menceritakan tentang betapa kuatnya seorang Aluna yang berjuang mencari kebahagiaannya."
......................
Suasana hening pada malam hari. Aluna hanya bisa menatap nanar sekitar dan terpaku kala melihat tubuhnya yang semakin kurus, berat badannya setiap hari turun, wajahnya semakin pucat dan cincin yang diberikan Arlangga mulai terasa kebesaran.
"Nanti kita beli yang kecil ya," ujar Arlangga diangguki oleh Aluna. Keduanya harus menghabiskan waktu dalam rumah sakit. Mengabaikan semua perasaan sehingga Aluna hanya bisa memohon untuk diberikan waktu yang sedikit panjang.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Aluna dan Arlangga dibawa ke sebuah tempat dan Andara menikahkan keduanya. Jelas saja hal itu membuat Aluna dan Arlangga tak percaya.
"Berbahagialah kalian berdua.. Jangan terluka ya? Arlangga.. Jaga Aluna. Jaga istri kamu mulai hari ini, esok, lusa dan selamanya. Pernikahan ini sah dan kalian sudah resmi menjadi pasangan abadi."
"Pa.. Apakah papa tau..?"
"Arlangga.. Papa tau semuanya. Bahagia selalu ya? Jangan sampai terluka separah kemarin."
Pesan Andara membuat Arlangga mengangguk dan bersyukur karena memiliki sosok ayah yang bersamanya meski ia sempat membenci ayahnya.
Aluna dan Arlangga saling pandang. Diusia mereka yang masih belia sangat sulit apabila harus menghadapi semua seorang diri.
"Aluna.. Saya tidak akan pernah meninggalkanmu.. Kita sudah menyatu. Jiwa kita telah melebur dalam kesucian cinta yang seharusnya. Kamu tidak perlu cemas, karena kamu sudah memiliki tempat untuk berpulang.. Kamu sudah memiliki tampat untuk bersandar, kamu sudah tak lagi seorang diri, saya disini untuk bersama denganmu.. Menetap lebih lama dari kemarin. Saya tau... Kesalahan saya adalah membiarkanmu jatuh cinta kepada orang yang salah namun, saya tidak akan menyesal karena memilikimu. Sekarang... Kamu milik saya seutuhnya.."
"Sekarang.. Kita bisa menatap rasi bintang dan bulan yang indah dimalam hari. Aku tak akan sendirian lagi mulai sekarang karena aku punya kakak.. Kak, janji ya..? Kita akan selalu sama-sama sampai akhir hayat..? Kita akan selalu bersama hingga akhir.. Berjanjilah untuk menetap bersamaku. Menjalin kisah yang sempurna bersama."
Arlangga tersenyum. Ia mulai menarik tangan Aluna keluar dari ruangan tersebut dan mereka menuju ke arah pantai yang tak jauh dari rumah sakit tersebut.
"Kak, kakak melihatnya.. kan?"
"Iya. Saya melihatnya, sangat indah bukan..? Akan lebih indah apabila suatu hari kita disini bersama dengan keluarga dan saling merangkul, kamu mengendong putri cantik dan saya menjaga kalian berdua," ucap Arlangga dengan melirik Aluna dan mengenggam jemari Aluna erat.
"Kak.. Bagaimana jika aku pulang terlebih dahulu daripada kamu..?"
"Saya akan menunggu kamu pulang ditempat ini. Saya akan selalu pergi ke rumah barumu dengan membawa bunga tulip dan mawar putih lalu.. Saya akan menceritakan semua hari-hari saya tanpa kamu dan kehancuran saya setelah kamu tiada, lalu.. Apa yang akan kamu lakukan apabila saya yang pulang duluan..?"
"Aku akan menunggu kakak setiap hari, aku akan mengenakan baju pengantin untuk mengunjungi rumah baru kakak, aku akan membawa sebucket bunga yang sangat kaka sukai. Bunga mawar, setelah itu.. Aku akan menceritakan bagaimana kehancuran seorang Aluna yang kehilangan semestanya, aku akan menceritakan semua hari-hari yang aku lalui setiap hari, setiap saat, setiap detik dan setiap waktu, kak. dan aku akan menceritakan kepada seluruh alam semesta tentang kisah seorang Arlangga dan Aluna yang tak amerta..," sahut Aluna dengan tersenyum dan memejamkan matanya sekilas menatap paras rupawan Arlangga dengan lekat.
__ADS_1
"Aluna, jangan menangis ya..?"
To be continue!