Dua Insan

Dua Insan
Tidak semua jalan akan lurus


__ADS_3

Hari ini, Reno tengah sibuk berada dikomputer dengan berusaha menghapus media video yang sudah tersebar luas diseluruh sosial media. Setelahnya, Reno datang dengan membawa makanan dan membujuk Aluna agar makan walau sedikit.


"Lun, makan ya? Lo udah ga makan tiga hari," ucap Reno dengan menatap Aluna yang tengah duduk diatas kursi roda.


Aluna hanya menggelengkan kepalanya. Ia menatap Reno seksama dan mencoba meraih tangannya sehingga, Reno yang peka langsung menunduk dan memberikan tangannya. "Mau diapain hm?" tanya Reno dengan mata merah menahan tangisnya.


"Pegang, boleh kan..?"


"Boleh. Pegang sesuka lo, sepuas lo, gua disini jagain lo, Luna."


"Kak, kalau Aluna nanti meninggal, Aluna bakal ketemu kak Arlangga engga..?"


"Iya. Lo bakal ketemu dia. Lo bakal peluk dia, lo bakal sama dia dan ga akan ada yang bisa misahin kalian berdua lagi.."


"Terus kak Reno sendiri disini dong..?"


DEG...


"Luna.. Jangan mikirin gua. Gua gapapa, kalau lo capek.. Istirahat aja ya.."


Aluna mengangguk. Ia masih memegang tangan Reno dan Aluna memakaikan sebuah gelang berwarna hitam. Gelang yang ia buat dari sisa kain sutra. "Kakak pakai ya..? Jangan dilepas! Sebagai tanda kita sekarang sahabat!" seru Aluna dengan tersenyum manis.


Reno mengangguk. Ia berpamitan untuk keluar dari ruangan tersebut dan menghampiri Andara yang tengah duduk diruang tunggu, "Om, Reno boleh nangis?" tanya Reno membuat Andara mengangguk.


"Boleh. Kenapa kamu mau nangis..?"


"Om tau gak? Tadi Aluna ngasih Reno gelang, dia bilang tanda sahabatan terus tadi dia nanya.. Kalau dia meninggal apa dia bakal sama Arlangga.. Om, kenapa anak kaya dia ibunya tega ngebuang..? Dia cuma butuh kasih sayang om.."


"Saya gatau. Kamu nangis aja disini, saya mau masuk."


Reno mengangguk. Andara mulai memasuki ruangan Aluna dan lagi-lagi ia harus menahan isakannya kala melihat Aluna yang tengah duduk diatas kursi roda itu melamun menatap ke arah luar jendela.


"Luna.."


"Papa, papa kapan datang? Papa tau tidak? Aluna sudah buat ini buat papa!"


"Buat apa sayang?"


Aluna memerintahkan Andara untuk mendekat lalu, Aluna meraih tangan Andara dan memasangkan sebuah gelang yang memiliki tulisan I LOVE FATHER tulisan yang dirajut dengan sempurna dan gelang yang indah.


"Ini buat papa?"


"Iya! Buat papa yang sudah menjaga Aluna! Sekarang papa sudah seperti ayahnya Aluna! Papa janji jangan pergi ya..? Aluna mau papa disini!"

__ADS_1


"Iya.. Papa janji. Papa janji ga akan ninggalin Luna."


"Papa.."


"Iya?"


"Aluna boleh minta tolong gak pa..?"


"Tolong apa? Apapun itu yang papa bisa.. Papa akan bantu."


"Tolong bilang bunda kalau Aluna sayang dia. Tolong ya..? Tolong buat bunda percaya kalau Aluna saya bunda, selamanya.."


Hening. Andara bergeming kala Aluna kembali tersenyum dengan menatap ke arah luar jendela dan menyentuh jendela tersebut.


"Pa.. Apakah putramu melihatku dari atas sana..? Apakah ia melihat bahwa cintanya ini tengah menantinya pulang...? Apakah ia melihat bahwa ratu kecilnya ini menanti dirinya pulang..?" tanya Aluna dengan lirih dan menatap ke arah luar jendela dengan nanar.


"Iya. Putra saya tau bahwa kamu menantinya Aluna, dan putra saya juga menantimu. Selalu, walau.. Saya harap kamu bertahan sebentar lagi."


"Pa.. Mengapa Aluna dipertemukan dengan Kak Arlangga apabila harus dipisahkan..?"


"Karena Tuhan sudah mengatur bagaimana jalan dan bagaimana akhir kehidupanmu kelak, Aluna.. Saya harap kamu sabar. Sabar menghadapi semua masa pemulihan dan penyembuhan."


"Apakah Aluna kurang sabar dalam penantian yang panjang ini..? Apakah Aluna kurang sabar menerima nasib dan apakah Aluna kurang sabar dalam menanti jasad tiga malaikat kecil yang Aluna jaga dan sosok perisai yang menyayangi Aluna... Kapan jasad mereka akan ditemukan? Aluna hanya menangisi makam yang seolah-olah terdapat jasad didalamnya padahal.. Itu semua kosong. Berharap kekalnya bahagia namun, semua itu hanya halusinasi saja. Jawab pa.. Aluna kurang sabar apa..?"


Jelas. Andara tidak bisa menjawab sama sekali pertanyaan Aluna. Ia juga tak bisa membujuk dan menyalahkannya bukan..? Semua yang telah terjadi sudah takdir dan Aluna seperti ini.. Itu juga takdir.


......................


"Pa, saya tertarik dengan seorang gadis yang baru saja saya temui," ucap Arlangga dengan merebahkan tubuhnya diatas sofa.


"Benarkah? Siapa gadis itu nak?" tanya Andara dengan penasaran.


"Nama dia.. Aluna Pragya Laksamana. Cantik kan..? Dia sangat mirip dengan mama.. Dia sangat mirip. Suaranya lembut, parasnya yang ayu membuat Arlangga merasa mama kembali hadir dalam kehidupan ini, pa.. Dia hari ini datang kepada saya dengan rambut yang rapi, hiasan pada kepalanya itu sangat cantik.. Dia sangat mirip dengan mama," sahut Arlangga dengan tersenyum hingga lesung pipinya terlihat.


Andara tercekat. Ia tak mengira Arlangga akan bertemu dengan Aluna. Karena, ia pikir Aluna sudah benar-benar dibuang oleh Aliya. Nyatanya? Pratmana masih merawat putrinya itu dan melindunginya.


"Bagaimana kalian bisa bertemu?"


"Awalnya saya hanya mengejarnya karena dia menangis tersedu-sedu dengan pakaian yang kotor dan wajahnya yang penuh dengan tepung, pa. Lalu saat ia menoleh, saya terpana dengan paras ayunya. Dan saya membantunya membersihkan diri, membelikannya seragam dan menolak uang gantinya. Dia berterimakasih dan setelahnya, saya mengajaknya ke sebuah taman bunga. Waktu disana... Saya tidak percaya bahwa ternyata gadis kecil itu menyukai bunga mawar putih dan tulip. Tak hanya itu, ia juga merangkai mahkota dan ia memakainya. Itu terlihat sangat cantik.. Paras ayunya sama. Sangat mirip dengan mama."


"Tangannya sangat halus. Suaranya lembut, mata biru muda itu membuatnya semakin cantik. Tak hanya itu, wanginya perpaduan bunga lily dan wangi bayi. Papa tau kan? Wanginya seperti wangi bayi yang habis dimandikan, sangat harum. Bibir merah muda dengan porsi tubuh yang mungil itu sangat lucu. Bahkan, ia lebih kecil dibanding dengan Mawar, dia gadis yang manis. Senyumannya sangat manis, auranya sangat positive dan tidak lupa dengan telinganya yang selalu disumbat dengan earphone, suaranya merdu saat bernyanyi."


"Iya, papa tau wangi bayi seperti apa. Lanjutkan ceritanya, papa akan dengar."

__ADS_1


Arlangga lagi-lagi tersenyum dan ia mulai merubah posisinya menjadi posisi duduk. Sedangkan Andara, ia selalu menatap mata putranya yang tengah bercerita.


"Lalu saya mengantarkannya pulang, rumahnya dan desain detailnya hampir sama seperti rumah kita. Ada dua gadis kecil dan satu anak laki-laki yang berusia tak jauh darinya datang lalu mencium pipinya dan itu membuat saya cemburu. Padahal dia bukan siapa-siapa saya, tapi.. Sepertinya saya mencintainya walau terkadang dia takut dengan saya."


"Apakah kamu menakutinya?"


"Tidak! Saya hanya mendekatinya saat itu dan dia menangis histeris lalu saat sudah tenang, dia meminta maaf dan.. Kedua lengannya itu penuh luka goresan dari cutter pa, Badannya banyak lebam, dan waktu itu saat ia tak sengaja terjatuh dari kursi, kakinya terkilir dan kakinya memar seperti habis dipukuli, apakah Aluna juga memiliki penyakit yang sama seperti saya pa..?"


Andara tersenyum. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan mengusap lembut kepala putranya, "Tidak sayang.. Penyakit kalian berbeda," sahut Andara dengan menatap teduh putranya.


......................


Esok harinya, Aluna tengah duduk dengan tenang ditaman lalu, "Selamat pagi, Aluna," sapa Arlangga dengan mengulas senyuman hingga lesung pipinya terlihat.


"Selamat pagi juga, kak" sahut Aluna dengan tersenyum tipis.


Arlangga kemudian bersimpuh didepan Aluna. Memberanikan diri untuk menyentuh dagu Aluna namun, "Aluna, kenapa dengan wajahmu?!" tanya Arlangga dengan cemas.


Aluna hanya menggelengkan kepalanya samar dengan menatap mata Arlangga. "Aku tidak apa, hanya terjatuh," sahut Aluna dengan tertawa kecil.


"Obati ya?"


"Aku tidak apa-apa, biarkan saja.. Nanti hilang sendiri."


"Aluna, jangan berbohong.. Siapa yang menyakitimu..? Apakah Bianca dan teman-temannya lagi..?"


"Iya.."


Arlangga menghela nafasnya gusar. Ia mulai mengusap wajah Aluna dengan lembut dan tersenyum simpul, "Kembalilah ke kelas, jangan mengatakan apapun dan jika ada hal seperti ini.. Jangan jadi dirimu sendiri," titah Arlangga membuat Aluna sedikit binggung.


Setelahnya, Aluna benar-benar kembali ke kelas dan melihat kekasihnya bercumbu dengan Jovanka.


Patah.


Hati Aluna seolah terkoyak menyaksikan hal tersebut dan saat ini, Aluna tengah mematung. Bekal yang ia pegang terjatuh. Padahal, ini adalah aniversarry mereka yang ke 1 tahun. Tapi, kejutannya sangatlah luar biasa.


Air mata Aluna lolos tanpa aba-aba walau mereka tau Aluna disana, mereka melanjutkan aksi mereka sehingga membuat Aluna langsung keluar kelas dan hatinya semakin sakit saat melihat Arlangga terjatuh dari lantai 3.


"KAK ARLANGGA KENAPA..?!" tanya Aluna cepat.


"Dia sepertinya melompat dari lantai tiga, atau mungkin ini kecelakaan," sahut Reno dengan sibuk menghubungi ambulans dan setelah Arlangga sadar, Arlangga lupa segalanya dan hanya menginggat sosok sang mama. Hanya ingatan menyakitkan yang ia ingat dan ia.. Melihat Aluna hari itu, mengulangi perkenalan.


..."Selain lembaran yang baru engkau jalani, kamu menangung kembali luka lamamu, semestaku."...

__ADS_1


^^^-Aluna Pragya Laksamana^^^


******To be continue******!


__ADS_2