Dua Insan

Dua Insan
Amin paling serius


__ADS_3

Aluna tersenyum tipis dan mengangguk. Ia mulai menyandarkan kepalanya pada bahu tegas semestanya. Ia hanya tersenyum tipis menahan tangis.


"Aluna... Apakah ada yang terasa sakit?"


"Ada."


"Dimana sayang?"


Aluna meraih tangan Arlangga dan Aluna meletakkan telapak tangan Arlangga ke arah dadanya. "Disini, kak.." lirih Aluna membuat Arlangga terhenyak.


"Siapa yang menyakiti hatimu? Apakah saya melakukan kesalahan sehingga membuat hati kamu sakit..?"


"Tidak. Hatiku terasa sakit karena jelas-jelas aku ingin bertemu bunda diwaktu yang tersisa.. Aku membayangkan dapat mendekap dan menatap paras ayu bunda.. Secantik apa dia..? Apakah dia akan akan mengakuiku sebagai putrinya jika saat itu tiba..?"


"Tidak ada yang perlu ditakutkan. Saya yakin.. Kamu akan melihat bunda tak lama lagi kamu akan didekap dengan mesra olehnya. Kamu akan mendapat apa yang kamu inginkan, saya yakin."


Aluna mengangguk. Ia mulai bersandar kembali dan menatap senja ditepi pantai dengan tenang. Hanya mereka berdua yang ada disana, menikmati indahnya senja dan langit jingga.


"Aluna.. Jika suatu saat saya menyakitimu.. Apakah kamu akan membenci saya..?"


"Untuk apa aku membencimu kak..? Meskipun hal itu terjadi aku tidak masalah. Karena aku dilahirkan dan dibesarkan berteman dengan luka dan duka sehingga aku lupa apa itu bahagia."


"...."


"Dan apabila aku yang menyakiti kakak.. Apakah kakak akan membenci dan memerintahkanku untuk pergi..?"


"Saya tidak akan membencimu. Saya akan tetap bersama denganmu karena saya yakin.. Kamu tidak akan pernah tega dan tidak akan pernah sanggup menyakiti saya, saya yakin seorang Aluna tidak akan pernah menyakiti semestanya."


Keduanya saling pandang. Arlangga mulai mengusap sudut bibir mungil yang berwarna pink milik Aluna dengan jempolnya. Menatap netra Aluna dengan tatapan yang penuh arti. Mengenggam tangan dan membelai rambut panjang belahan jiwanya dan memandangi dengan seksama paras ayu belahan jiwanya dengan lekat.


Begitu juga Aluna, Ia mulai menatap netra Arlangga dan memegang bahu milik Arlangga. Menatap paras rupawan semestanya yang sangat berarti dalam kehidupannya. Memandangi seksama sekujur tubuh Arlangga yang banyak luka lebam dan badan yang semakin hari semakin kurus.


"Aku sudah tak cantik lagi," ujar Aluna membuat Arlangga mengacungkan jari telunjuk pada bibir mungil Aluna dan menggelengkan kepalanya.


"Kamu akan tetap cantik meski kamu tak akan lagi muda, rambutmu tak lagi hitam, kamu akan tetap menjadi gadis tercantik dalam kehidupan saya, Aluna."

__ADS_1


Aluna tersenyum. Ia lalu berdiri dan mengajak Arlangga kembali ke rumah sakit dengan perasaan yang bahagia. Ia tak tahu bagaimana nasibnya apabila tidak bertemu dengan Arlangga. Ia tak pernah berpikir akan sehancur apa ia apabila kelak.. Arlangga meninggalkannya.


Keduanya memasuki ruangan. Karena kebetulan mereka sekamar. Hanya berdampingan pada bed dan mereka berdua saat sampai juga tak langsung berbaring.


Arlangga terlihat sangat sibuk menulis sedangkan Aluna, ia tengah merapikan rambutnya yang sudah menipis karena banyak yang rontok. Mengusap darah pada hidungnya yang mengucur dengan tiba-tiba. Meredakan rasa sakitnya dengan obat yang berada dinakas dan menenangkan dirinya pasca meminum obat pereda rasa sakit tersebut.


Sedangkan Arlangga, ia masih stay menemani Aluna dan saat ini, ia meletakkan pena dan juga secarik kertas yang bertuliskan dengan tinta hitam. Arlangga mulai berbaring dan memejamkan matanya erat. Ia harap esok hari ia masih dapat melihat dunia ini.


......................


2 minggu berlalu, Arlangga keadaannya semakin memburuk dan begitu juga dengan Aluna. Keduanya sangat lemah. Mereka meminta izin untuk tinggal dirumah selama 1 bulan ataupun lebih. Karena itu permintaan yang mungkin saja terakhir, Sagara menurutinya.


Saat hendak makan siang, Arlangga berlari ke kamar mandi dan hal itu membuat Aluna cemas. Ia menyusul namun, langkahnya terhenti saat mendengar Arlangga tengah muntah-muntah dan meneguk banyak obat disana. Tubuhnya lemah lalu, "Aluna! Aluna...!!" seru Arlangga membuat Aluna seketika memasuki kamar mandi tersebut.


Hati Aluna seolah hancur kala melihat Arlangga menangis sejadi-jadinya seusai didekap olehnya. "Saya gamau mati, Aluna.. Saya gamau mati, saya mau sama kamu..! Saya gamau mati..," ujarnya dengan menangis tersedu-sedu dan mendekap tubuh Aluna erat. Membuat Aluna hanya bisa menangis dalam diam.


"Kakak akan sembuh..."


"Kakak ga akan mati.. Kakak harus sembuh ya..? Kakak ga boleh tinggalin Aluna.. Kalau kakak cape, kakak tidur aja ya..? Jangan nyerah sekarang, okay..?" ucap Aluna dengan nada bergetar menahan isakan. Senyuman tipis dari bibirnya ia tunjukkan agar Arlangga tidak melihat tangisannya.


"Pa, ada apa?!" tanya Aluna segera setelah membantu Arlangga merebahkan tubuhnya.


"Aluna... Ayah kamu.."


"Ayah..? Ayah kenapa?! Ayah kenapa?!"


"Ayah kamu gugur dalam tugasnya, Aluna."


DEG...!!!


Bagai tersambar petir disiang bolong. Tubuh Aluna seketika merosot dilantai dengan tatapan kosong. Saat peti jenazah Pratmana tiba, Aluna langsung berlari dan menghampiri peti tersebut.


"AYAHHH...!!!!!!" jeritnya dengan langsung menerjang tubuh siapapun yang berada disana. Hatinya seolah diremuk-remuk.


"Kak..!! Ayah gak mungkin, kak..!! Gak mungkin ayahku janji akan kembali, ayah gak mungkin, kak..!! Ayo bilang kalau itu bukan ─"

__ADS_1


Grep!!


"Aluna.. Tenang sayang..," lirih Arlangga yang bangkit dan menahan tubuh Aluna yang merosot tiba-tiba. Ia tak tahu menahu pasal kabar yang menyakitkan itu akan datang secepat ini.


"Gak mungkin ayah, kak.."


"Iya sayang, bukan ayah.. Bukan..."


"Bukan ayah kan?! Ayah gak mungkin tinggalin Aluna dengan cara kaya gini..!! Ayah ga mungkin ingkar janjinya. Ayah ga mungkin pergi secepat ini!!"


Arlangga hanya mendekap dan menenangkan belahan jiwanya. Ia tahu sehancur apa hati Aluna sekarang, setelah 3 adiknya.. Sekarang ayahnya. Ia kehilangan 4 orang yang selalu bersama dengannya.


"Arlangga, tenangkan istrimu. Karena dalam peti ini hanya ada baju tanpa jasad ayahnya," lirih Andara membuat Aluna semakin menangis sejadi-jadinya.


"ENGGAK...!!!! KENAPA LAUT MERENGUT SEMUANYA?! APAKAH JASAD AYAHKU DAN ADIKKU TIDAK BISA DITEMUKAN?!" jerit Aluna tak terima. Ia langsung bangkit dan berlari sekuat tenaganya.


Setibanya, Aluna langsung mengepalkan tangan dan berteriak sekencang-kencangnya.


"LAUT...!!!! TOLONG JANGAN SEMBUNYIKAN AYAH DAN KETIGA MALAIKATKU..!! TUNJUKKAN LAH MEREKA AGAR AKU BISA MELEPASKAN KEPERGIANNYA..!!! JANGAN MERENGUT MEREKA HANYA KARENA KESALAHAN BODOH..!!! APAKAH KAU RELA APABILA AKU MERENGUT SALAH SATU DARI KALIAN?! KENAPA KAU HARUS MENYEMBUNYIKAN EMPAT JASAD ORANG YANG AKU SAYANG SEKARANG?! KEMBALIKAN MEREKA....!!!!!! APAKAH SIASAT DAN KEBAHAGIAAN AKAN SELALU TERENGUT DARIKU?! AKU HANYA INGIN MERASAKAN KEBAHAGIAAN ITU...!!!!!"


Deg...


Arlangga tidak menyusul. Ia memutuskan untuk menunggu Aluna tenang dan membiarkan Aluna menangis sejadi-jadinya disana. Menangis karena meminta keadilan kepada takdir yang tak pernah berkehendak kepadanya.


"AKU LELAH, TUHAN...!!!!"


"Pa, biarkan dia.. Biarkan dia mengungkap rasa kecewanya.. Jangan melarangnya. Biarkan dia meluahkan semua rasa kecewanya."


"Arlangga.. Apakah kamu tidak akan menyusulnya?"


"Tidak. Biarkan saja.. Biarkan dia menumpah ruahkan semua yang menganjal pada hatinya. Dendam, amarah, kecewa, rasa sakit, biarkan dia meluahkan semuanya.. Jangan mencegahnya karena sudah tak ada lagi yang bisa membuatnya utuh seperti sedia kala, pa.."


"Wajahmu sangat pucat, Arlangga.."


"Pa.. Jaga Aluna."

__ADS_1


To be continue!


__ADS_2