
..."Menemukan sebuah harmoni yang indah akan membuat cerita menarik dalam menghibur jiwa yang telah lama tergores akan luka"...
^^^-Reno Aditama Salkontara^^^
......................
Keesokan harinya, Aluna termenung menatap Reno yang tengah memegang tangannya. Hatinya trenyuh kala mendengar tangisan lelaki itu. Tangisan yang pecah kala meminta kedua orang tuanya kembali karena meninggalkan dirinya.
"Aluna, lo gamau cerita tentang luka lo?"
"Untuk apa aku menceritakan luka apabila ragamu sendiri sudah tersiksa, kak?"
"Gua suka sama suara lo pas cerita, gua ga kesiksa. Gua udah bahagia asal liat senyuman lo, Aluna.. Gua ga seburuk itu. Gua ga sesakit itu, Lun.."
"Lantas.. Apa yang kakak lakukan malam hari itu dengan sebuah tali tambang dan pisau? Lalu setelahnya luka ini? Katakan bagaian mana yang tidak buruk dan tidak sakit? Ada kalanya kita terlihat lemah karena lelah. Bukan memaksa kuat meski sudah sangat jelas bahwa kita tengah lelah."
Penuturan Aluna ada benarnya. Dan tutur kata Aluna itu mampu membuat Reno terhenyak sehingga imajinasinya terberai. Siasat yang telah larung dalam perasaan jahat membuatnya seperti orang gila.
"Aluna, sebenernya lo terbuat dari apa..? Lo sempurna apabila disebut sebagai manusia bisa, Lun.."
"Kak, aku terlahir hanya dari badai, riuh berisik dan banyak hal-hal yang sedih, bahkan.. Lembutnya tuturku terkadang tanpa sadar membuat hati orang lain merasa sakit. Amin yang serius dan bayangan-bayangan dosa kedua orang tua namun, aku yang terlibat.. Aku terlahir didasari rasa kebencian. Aku tumbuh dari keras kasarnya sebuah kerutan. Dan tercipta dari pilu, terasa aman namun palsu. Aku bukan seorang gadis sempurna yang memiliki segalanya karena aku penuh dengan dosa, kak. Tidak ada kata sempurna, karena aku hanyalah seorang insan penuh dosa dan luka."
Penuturan itu membuat Reno bergeming. Kata-kata yang tersirat banyak makna sehingga membuat semua orang tak percaya dengan semuanya bahkan, untuk sekedar menjawab saja Reno takut akan salah.
"Aluna, lo suka musik?" tanya Reno membuat Aluna menoleh lalu tersenyum simpul.
"Aku menyukainya, aku paling menyukai suara gitar, piano dan aku suka memainkan sebuah biola dengan iringan piano, rasanya aku seperti menjadi seseorang yang sangat bahagia diseluruh dunia," sahut Aluna dengan terkekeh pelan ketika memandangi Reno yang terlihat terkejut atas penuturannya.
"Lagu yang lo suka..?"
__ADS_1
"Aku suka semua musik. Musik yang menenangkan dan setiap iringan dan partiturnya dapat menjadi pelipur lara dalam rasa yang gelisah dan hati yang terpanah oleh sakitnya api asmara, apabila ada kesempatan.. Aku sangat ingin tampil didepan semua orang, aku ingin menunjukkan kepada semua orang untuk lagu yang telah aku tulis lama dengan semestaku, semua harmonisasi telah dilatih dan persiapkan namun.. Sepertinya aku tidak akan mendapatkan kesempatan tersebut.."
"Arlangga nulis lagi apa..? Gua bisa main piano, boleh gua tau lagunya..? Gua pengen dengerin lo main biola, boleh?"
Aluna tertawa pelan. Tatapannya sendu dan dengan tatapan sendu itu dia menganggukkan kepalanya pelan, "Boleh, tapi kak... Kakiku rasanya susah digerakkan, apa tidak masalah dengan hal ini..? Aku sangat ingin memainkan biola sambil berdiri agar sempurna, baiklah.. Ayo kita ke rumah sebentar saja," ajak Aluna dengan menarik perlahan tangan Reno.
Reno beranjak dari duduknya. Ia menggendong Aluna dipunggungnya dan saat sampai, Aluna diturunkan dan segera mereka menuju ke arah harmonisasi masing-masing.
......................
Ternyata tidak sulit untuk Reno menghafalkan dan memperlajari harmonisasinya sehingga, Aluna mengambil biola dan mereka memainkan musik tersebut dengan harmonisasi dan berusaha menyampaikan pesan yang ada didalam lagu tersebut.
❝Pada pertama bertemu.. Itu adalah hari dimana aku mulai menyukaimu. Ingin mencintai dan ingin memilikimu.. Setiap harmonisasi dalam lagu ini ada dirimu... Kedua insan yang telah menyatu dan melebur menjadi jiwa yang sama itu ternyata nyata. Dengarkanlah apa yang akan aku sampaikan dalam harmonisasi ini.. Jadilah keutuhan dalam setiap melodi, jadilah pembimbing disetiap langkahku dan jadilah kebahagiaanku..❞
❝Pada bulan april kamu mengingkari janji.. Pada bulan kelahiranku kau mengingkari janji ini. Terberai seluruh anganku dalam harapan akan terus bersama denganmu. Hancur sudah seluruh pendirianku kala melihatmu yang melupakanku kala itu... Hatiku sangat ingin meneriakkan kata namun bibirku tidak sanggup berbicara, dengarkan.. Dengarkan harmoni yang hilang ini.. Harmoni yang tak pernah aku selesaikan... Harmonisasi yang hilang dan harmonisasi yang mampu menghanyutkanku dalam angan untuk mendekap ragamu sekali lagi, Arlangga...❞
❝Isak tangis yang telah usai menjadi suka, aku harap lukamu akan segera menghilang.. Aku harap kita bisa bina bersama setelah aku menyadari bahwa ternyata.. Aku mencintaimu, menyadari bahwa semua dalam dunia ini tak semua harus sesuai dengan keinginanku.. Luka yang telah kau balut setiap harinya.. Bisakah aku melewati ini seorang diri setelah kau tiada nanti..??"
❝Bahagialah.. Berbahagialah dan terlelaplah apabila kau telah lelah menghadapi dunia yang kejam ini seorang diri.. Menghadapi dunia yang membuatmu sakit ini, membuat duniamu menjadi nirwana yang telah kau idamkan, aku menyelesaikan lagu ini atas dasar.. Aku akan merelakanmu apabila kamu sudah tak sanggup dengan lukamu..❞
Ting!
Tak terasa air mata keduanya terus menetes, terhanyut dengan lagu-lagu yang mereka bawakan. Masing-masing memiliki pesan dan Aluna tak menyangka bahwa Reno yang akan membantunya menyelesaikan lagu dengan makna tersendiri.
"K - kak..."
Brugh!
Reno dengan sigap menopang tubuh Aluna yang tiba-tiba lemas. Dengan perlahan Reno mengusap kepala Aluna dan mencoba membantu Aluna berdiri namun, nahas. Kaki Aluna rasanya kaku dan sulit untuk berdiri.
__ADS_1
"Aluna, hey.. Kalau ga kuat jangan dipaksa," ujar Reno dengan menopang tubuhnya, meletakkan biola yang tadi Aluna pegang.
Aluna tak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis saat Reno menggendongnya dan membawanya ke kamar. Aluna direbahkan namun, ia menolak. "Kak, tidak apa.. Memang sudah waktunya," lirih Aluna dengan tersenyum tipis.
"Maksud lo apa..? Gua yakin lo sembuh, kok."
"Kak.. Aluna ada satu permintaan," lirih Aluna membuat Reno menoleh dan dengan sigap ia menatap mata Aluna.
"Apa permintaan lo, Aluna..?"
"Ayo cari.. Papa dan Mawar.. Apapun resikonya, Aluna terima.. Apapun resikonya, Aluna hanya ingin melihat papa dan juga Mawar didalam waktu Aluna yang tinggal sebentar ini," lirih Aluna jelas membuat Reno menahan tangisnya.
"Lun.. Lo yakin keputusan lo udah bulat..? Resikonya banyak Lun, mending lo sembuh dulu ya?"
"Kak, ini keputusan yang Aluna ambil.. Kakak terima ya..? Kalaupun kakak gamau, biar Aluna yang mencari jejak papa dan Mawar, karena.. Aluna sudah memutuskan dan keputusan ini bulat."
Reno tak sanggup lagi. Ia hanya mampu menahan isakannya didepan Aluna yang jelas sedari tadi sudah memuntahkan darah dan hidungnya meninggalkan jejak darah. Hatinya terasa sangat sakit kala melihat orang yang ia cintai sedari dulu semenderita ini sekarang.
"Aluna.."
Mendengar panggilan itu, Aluna memegang tangan Reno dan mengenggam tangan tersebut sedikit erat. "Kak.. Udah ya..? Jangan nangisin aku, kakak bisa dapat yang lebih baik daripada aku, kakak bisa menemukan sahabat selain aku, kakak bisa menemukan rumah nanti selain aku.. Aku capek, kakak mau turutin permintaan terakhirku, ya..?" tanya Aluna lagi dengan lirih dan membuat air mata Reno lolos tanpa aba-aba begitu saja.
"I - iya.. Gua bantu, gua bakal bantu lo cari papa Andara sama Mawar.. Gua bantuin.."
"Kalau misal terjadi apa-apa sama aku, kak Reno harus ikhlas dan lepas ya..?"
"Aluna.."
To be continue!
__ADS_1