Dua Insan

Dua Insan
Titik pasrah


__ADS_3

1 bulan berlalu dan Aluna juga tak ada tanda-tanda membuka matanya. Reno juga tetap setia menunggu. Setelah hari itu, Reno hilang rasa terhadap orang tuanya. Berhenti melukai dirinya namun, ia sekarang pemabuk dan perokok. Itu semua karena ia tak memiliki pelampiasan yang tepat untuk amarahnya.


"Reno, datang lagi ya?"


"Iya, om. Om Andara sama Mawar udah ketemu..?"


"Enggak ada kabar sama sekali soal mereka. Dan ponsel Andara juga mati. Saya juga gatau harus gimana selain pasrah sama semuanya. Pasrah sama keadaan dan entah bagaimana jadinya. Karena udah 1 bulan dan Aluna juga belum sadar.."


Masing-masing kalut dalam pikirannya. Tak lama setelahnya, Reno memasuki ruangan tersebut setelah Aluna dibersihkan dan dirapikan. Memang, semua alat yang menempel sudah dilepas, kondisinya stabil hanya saja, ia belum. juga bangun dari tidur panjangnya.


Kali ini, Reno benar-benar sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Karena mata Aluna tak juga terbuka sampai saat ini walau kondisinya sudah pulih.


"Om, kapan Aluna bangun..? Udah 1 bulan lebih 1 minggu Aluna disini. Dia udah tidur lama banget.. Dia ga capek ya om..? Harusnya dia bangun terus senyum simpul karena bisa liat cahaya matahari lagi," lirih Reno dengan menatap Aluna nanar.


"Entahlah.. Om. juga gatau kapan Aluna bakal bangun, karena walau kondisinya pulih, jantung Aluna lemah dan besar-kecil kemungkinan harus ada operasi biar dia bisa bertahan lebih lama tapi.. Om rasa ini cukup..? Bisa atau tidaknya. Ikhlas atau tidaknya, kita harus berusaha melepas agar Aluna tidak tersiksa lebih lama dalam hidupnya," sahut Sagara dengan menghela nafasnya gusar dan beralih menatap Aluna lekat.


Tubuh rapuh itu akhirnya lelah juga. Akhirnya lelahnya mendapat istirahat tanpa siksa yang menghampiri walau segores atau setetes air mata meski matanya terpejam, Reno yakin Aluna dapat mendengar semuanya.


Tak lama, Reno mulai bergeming. Menatap sekeliling, mencium aroma khas dari ruangan tersebut dengan bergidik ngeri sendiri. Apalagi saat melihat Aluna yang tadinya dipasangi banyak alat, itu membuatnya takut namun, untung saja alat-alat itu sudah dilepaskan.


"Ren, om tinggal ya..? Kamu sama Aluna dulu, om masih ada urusan," ucap Sagara membuat Reno menggeleng pelan.


"Enggak. Reno juga mau coba cari informasi buat kepergian itu gak mungkin sama sekali tanpa jejak, om. Karena ini bukan yang pertama kalinya."


Sagara terhenyak. Ia mematung kala mendengar Reno berbicara bahwa ini bukan yang pertama kalinya. Lantas.. Apakah dulu pernah seperti ini?


"Maksud kamu gimana, Reno? Boleh jelasin ke om dulu? Biar om bisa cerna semuaya, karena kata kamu ini bukan pertama kali..?"


"Iya om, bukan pertama kalinya. Dulu korbannya Arlangga, cuman ga sampai selama ini. Itu aja Arlangga ketemu pas hampir aja dibunuh sama cewek yang namanya Aliya. Dia kaya psikopat. Penampilannya kaya orang waras tapi otaknya orang gila, gata om.. Reno malah takut merema kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Tunggu.. Jadi dulu..?"


"Iya. Dulu pernah. Cuma Arlangga otaknya kan tuh anak encer, jadi bisa kepikiran apa aja yang emang kalau lagi genting. Disitu dia emang kaya orang gila karena Arlangga langsung lompat dari balkon dan ngehancurin kamar dulu. Cewek yang namanya Aliya ini tuh, dia kek marah dan ga terima. Katanya cintanya ditolak sama papanya Arlangga. Tapi dia kelihatannya udah bersuami.. Aneh kan..? Banget. Dan Reno curiga kalau misal ─"


......................


"Ayah, sakit..." suara Aluna yang lirih membuat Reno tak menyelesaikan ucapannya.


"Om..?" dengan cepat Reno menatap Sagara dan Sagara memeriksa Aluka dengan cepat.


"Aluna.. Mana yang sakit?"


Hening.


Aluna bergeming. Mencoba mencerna yang terjadi, mendengarkan suara Reno dan Sagara secara bersamaan membuat kepalanya pusing.


"Ini dimana? Papa mana?"


"Hah?!"


"Iya, belum. ketemu."


Baru juga sadar, Aluna pingsan lagi. Udah paling bener mereka tadi ga jawab pertanyaan Aluna aja. Baru sadar langsung pingsan, ga lucu. Apalagi Reno langsung panik bukan kepalang. Itu membuat Sagara juga bimbang.


"Aluna! Lun, hey bangun anjir! Lo jangan buat gua takut, Luna!"


"Aluna, bangun!"


Berkali-kali Reno mengguncang tubuhnya namun, nahas. Aluna juga tak kunjung terbangun. Ini semua karena shock. Apalagi tekanan jantungnya belum normal.

__ADS_1


"Lun lo tau..?"


"Gua belakangan ini, gua ga bisa tidur nyenyak dan gua ga bisa nelen apapun. Lo tau..? Gua cuma bisa natap lo dan gua cuma bisa nahan raga gua yang layaknya sekarat tapi gua cuman sabar.. Sabar nunggu sampai nantinya lo bakal sama gua. Dan gua harus nerima kenyataan kalau lo ternyata separah ini.. Kalau lo jadi gua.. Lo bakal ngapain Lun..?"


"Bangun dulu, gua gamau lo tidur lagi.."


Beberapa jam setelahnya, Aluna kembali sadar namun, ia tak mengucapkan apapun. Ia hanya memandangi sekitar dan mengusap-usap kepalanya. Takut apabila rambutnya yang cantik itu hilang.


"Kak Reno, rambut Aluna masih cantik kan..?" tanya Aluna dengan tersenyum simpul.


"Masih kok, masih. Lo cantik walau tanpa rambut sekalipun, Luna," sahut Reno dengan mengusap-usap kepala Aluna lembut.


"Benar..? Kalau tidak cantik, tidak apa. Nanti Aluna akan potong rambut Aluna biar cantik lagi, Aluna mau rambut Aluna ada bunga-bunganya! Terus nanti Aluna jadi tuan putri yang dijaga sama rajanya!" seru Aluna membuat Reno tersenyum tipis. Ia senang apabila Aluna melupakan hal yang tadi.


"Iya, lo cantik walaupun lo ga punya rambut, Lun.. Lo cantik."


"Tangan kakak kenapa..? Apakah masih sakit? Aluna baru melihatnya.. Luka baru ya kak..? Dimana yang sakit??" tanya Aluna cemas dengan menatap lekat mata Reno.


"Gua gapapa, cuma luka kecil. Asal lo bahagia.. Rasa sakit gua hilang, Lun."


"Kak Reno selalu jagain Aluna disini setiap hari..? Aluna ngrepotin ya? Maaf.. Maaf banget Aluna ngrepotin kakak.."


"Enggak. Lo gak ngrepotin sama sekali, gua suka lo repotin. Jangan berhenti repotin gua ya? Gua suka direpotin sama lo, gua suka dibutuhin sama lo, gua suka senyuman lo, gua bakal jagain lo demi Arlangga. Gua emang ga bisa jadi semesta lo, tapi gua bisa jagain lo."


Aluna bergeming, ia mulai memberanikan diri mengusap pipi Reno lembut, "Kak, terimakasih ya..? Lukanya sakit? Aluna dengar kok.. Aluna tau itu semua karena masalah keluarga kan..? Karena dari mata kakak, kakak ga bisa bohong kalau kakak lagi sakit.. Ga bisa diobatin? Biar mengering dulu ya..? Jangan dilukai lagi, biarkan raga kakak beristirahat karena kakak hanya sendiri yang bisa mengerti kakak. Masalah yang mengeruh dan perasaan rapuh itu belum separuhnya, tak apa.. Tidak semua manusia bisa mengambil jalannya sendiri," ujar Aluna membuat Reno termangu. Tangan Aluna yang lembut itu menyentuhnya dan itu membuat Reno merasa damai.


"Semua tidak harus sesuai dengan ekspektasi kakak dan ga semua ini harus sesuai apa yang kakak mau."


"Lo juga bertahan ya..? Kita kuat sama-sama."

__ADS_1


"Kalau misal aku pergi duluan..?"


To be continue!


__ADS_2