
Pemakaman usai. Aluna hanya menatap makam yang penuh bunga tersebut. Aluna tak pernah membayangkan bahwa pertemuan adalah tanda kisah berakhir.
Pantai dengan sejuta cerita. Menjalin kisah asmara berjanji selamanya namun, sirna. Aluna tak lagi tersenyum. Ia menangis sejadi-jadinya dipemakaman tersebut.
Penderitaan yang tak bisa diungkap dengan kata-kata. Penantiannya yang sia-sia dan impiannya yang sirna. Janji akan bersama namun nyatanya hanya ilusi belaka.
Tangisan Aluna membuat semua yang berada dipemakaman tersebut menahan isak tangis. Gadis sejuta luka tanpa bahagia kini ditinggalkan sang semesta.
Aluna duduk termangu diatas bed ruangannya. Ia terpaku menatap sekitar dengan air mata yang masih berjatuhan tanpa isakan. Senyuman yang tadinya selalu hadir sekarang menghilang.
Aluna hanya mengingat bahwa ia harus membuka satu surat yang berada dinakas. Dimana surat tersebut dibungkus rapi.
Aluna mulai membuka surat tersebut dan membacanya.
...Isi surat;...
...Perihal Hujan dan Rasa....
...Dalam keheningan malam penuh rasa iba aku menemukannya. Gadis manis dengan sejuta senyuman membuat saya merasakan apa itu kehidupan. ...
...Hai... ...
...Apabila engkau membaca ini, percayalah. Saya sudah tidak disampingmu lagi. Saya sudah tidak bisa engkau temui dan engkau cari lagi. Sepeninggal saya kamu hanya perlu menjaga dan selalu berjuang demi kehidupanmu selanjutnya akan bagaimana. ...
...Saya akan tetap mencintaimu dan saya akan tetap menjagamu dari kejauhan. Walau saya tidak ada disana menemanimu, saya ada didalam hatimu. Dalam lubuk hati yang terdalam saya selalu berharap kamu bahagia meski tanpa saya. Kehadiran saya mungkin selalu kamu butuhkan namun, kehadiranmu menjadi kekuatan bagi saya. ...
...Kamu cantik setelah mama. Kamu cantik dan kamu berhak bahagia, saya menyayangimu Aluna. Saya tidak akan pernah pergi terkecuali saya akan pergi ketika maut menjemput saya. ...
...Pertama kali bertemu denganmu, saya sudah merasakan hal yang berbeda. Saya merasa bahwa saya sanggup dan bisa menemanimu sepanjang hari, saya merasa bahwa saya bisa selalu bersamamu. Walau saya tau.. Suatu saat saya akan kalah dengan penyakit sialan yang bersemayam dalam tubuh ini. ...
...Gagal ginjal. ...
...Itu penyakit yang selama ini menyiksa saya selama ini dan setelah bertunangan deganmu, saya seolah terlepas dari rasa lelah, saya terbebas dari rasa sakit walau saya tau.. Semua yang kamu sembunyikan lebih sakit daripada saya. ...
...Kita.. Menikah ya..? Saya sudah belikan kamu baju pengantin yang sangat cantik dan indah untuk kamu, pakai itu jika kamu sudah siap menjadi pengantin tercantik dalam kehidupan saya. ...
...Saya sudah menyiapkan bunga-bunga yang sudah saya susun dengan cantik disebuah tempat yang harus kamu temukan. Kamu harus bisa dan harus berusaha agar kamu tidak tersesat pada jalan yang salah. Saya hanya akan menutup surat ini dengan satu kata.. ...
__ADS_1
...Bahagia selalu, ratu kecilku. ...
...-Tertanda Arlangga, semestamu...
......................
Bulir-bulir air mata mulai terjatuh dengan surat yang diremas dengan sangat kuat oleh tangannya. Tatapan kosong nan hampa seolah tanpa kehidupan. Wajah sayu dan air mata yang terus mengalir membuatnya semakin hancur.
"Bagaimana bisa aku bahagia sedangkan engkau telah berpulang ke pangkuan Tuhan, semestaku..? Sekarang aku hanyalah bagai sebuah bunga tanpa tangkai yang gugur dan siap diterbangkan oleh angin.. Tanpa kamu aku ini apa..? Aku hanya gadis sejuta luka yang menutupinya dengan senyuman bodoh seolah tak terjadi apa-apa."
"Aku hanya ingin mendekapmu.. Memeluk dan menciummu seperti malam itu. Jangan meninggalkanku dengan cara seperti ini.. Bawa saja aku kemanapun engkau mau.. Bukankah kita bermimpi memiliki putri yang mengemaskan..? Lantas mengapa kau yang meninggalkan..? Aku tidak memaksamu namun, aku tidak rela dengan kepergianmu.."
Sunyi.
Hanya terdengar suara gemerisik dari arah luar. Suara dedaunan dan suara hujan yang menguyur dengan deras. Tatapan kosong seolah tak ada semangat untuk menjalani kehidupan. Badannya bergetar hebat dan suara berisik pada kepalanya membuat pendirian yang kuat itu runtuh berantakan.
Semua suara Arlangga bagaikan boomerang yang terulang setiap saat, setiap detik dan setiap waktu. Hidupnya seolah penuh kelabu.
"Perasaan yang jahat itu akan membawamu pada kebahagiaanmu, Aluna."
"Kak Arlangga?!"
"Pa..."
"Saya tau sayang.. Saya tau beratnya melepaskan kepergian suamimu tapi jika tidak.. Apakah kamu akan membuatnya terpenjara dalam kesedihanmu..? Lepaskan dia dan biarkan dia menemukan kebahagiaannya, Aluna.."
"Lantas.. Bagaimana dengan aku pa..? Siapa kebahagiaanku sekarang..? Ayah gugur, ketiga adikku tak ditemukan dan apakah aku harus mencari bunda..? Bunda yang meninggalkanku tanpa mempedulikan bahwa putrinya ini tengah sekarat..?"
"Luna.."
Hening. Tak ada sahutan ataupun jawaban sepatah katapun dari Aluna. Ia hanya melamun dengan menundukkan pandangan dan menatap kosong sekitar.
Andara keluar dari ruangan tersebut. Ia mulai mendekat ke arah Mawar dan meminta Mawar memasuki ruangan Aluna.
Mawar perlahan mulai melangkahkan kakinya dan terdiam tatkala melihat keadaan Aluna yang sangat kacau.
"Kak Luna.. Makan dulu," titah Mawar lirih namun tak didengar oleh Aluna.
__ADS_1
"Kak, aku denger kaka mau masuk ke universitas baru itu kan?! Nanti kita berangkat bareng ya??"
Aluna hanya diam. Ia tak mengucapkan sepatah kalimatpun. Hanya tawa kecil hambar yang menyayat hati, tersenyum dengan air mata yang mengalir. Melihat itu, Mawar terpaku memandanginya. Ia tak tega melihat keadaan Aluna yang sangat parah itu.
"Kak, Kak Aluna.. Jangan gini, kak.."
"Kak.. Ayo jawab aku! Kak Luna habis ngapain?! Kenapa tangan kaka banyak darahnya?!"
"Mati saja ayo, Aluna.. Semua mau kamu mati."
"Aluna.. Ayo cepat bunuh orang didepanmu!"
"Cepat potong urat nadimu!"
"Lama sekali! Ayo cepat bunuh dirimu!"
"KAK LUNA, SADAR KAK..!!!" jerit Mawar dengan menepis cutter yang digenggam Aluna.
Aluna mematung. Ia benar-benar hilang kendali. Tak bisa mengendalikan pikiran berisik dan tak bisa menolak untuk melakukan hal yang berbahaya.
Disisi lain..
"Aliya, kapan kamu akan kembali..? Kasihanilah putrimu yang hancur dalam kehidupannya.. Apakah kau tak berpikir bahwa putrimu menderita setelah kematian anak-anak dan suamimu..?"
"Diamlah, Andara! Kau tak tau apa-apa jadi kau tidak usah ikut campur."
"Putraku tiada! Dan sekarang Aluna berdiam diri dirumah sakit menjalani pengobatan dan sisa-sisa hidupnya tanpa orang tua! Tanpa kasih sayang dan bahkan, ia hanya ingin melihat rupa ibundanya saja.. Apakah tidak bisa engka turuti..?"
"Jangan membual lagi, aku sudah muak dengan bualanmu."
"BUKA MATAMU! PUTRIMU MEMBUTUHKANMU DAN KAU MALAH BERSAMA DENGAN LELAKI BAJINGAN INI?! HEI KAU! INGAT. SAMPAI KAPANPUN KAU TAK AKAN PERNAH DIAKUI ALUNA."
"Gua ga peduli."
"Aliya, saya mohon datangi putrimu.. Setidaknya dia tau bagaimana rupa ibundanya.. Setidaknya keinginan terakhirnya terpenuhi, Aliya.."
"Ugh, baiklah! Aku temui anak sialan itu. Dimana dia?"
__ADS_1
To be continue!