Dua Insan

Dua Insan
Trauma


__ADS_3

Semua membisu atas pernyataan Mahendra dan seusai Mahendra pergi, 5 gadis itu merencanakan hal baru apabila waktu masuk sekolah lagi untuk Aluna.


Sedangkan Arlangga, ia tengah mengusap-usap lembut pipi Aluna yang cubby itu. Walau begitu, tubuh Aluna itu mungil.


"Aluna, apakah kamu tau..? Saya kira kamu adalah gadis tanpa luka. Ternyata kamu penuh dengan air mata, Aluna.. Andaikan saya bisa mengulangi waktu.. Bisakah saya mengecah kejadian bejat ini agar tidak menimpamu..? Saya mencintaimu, sangat. Namun, saya tau kamu dalam masa trauma yang kelam.. Saya tidak tau bagaimana nantinya namun, saya mencintaimu.. sang putri Laksamana," ucap Arlangga dengan mengusap-usap kepala Aluna lembut.


Tak terasa ternyata Mahendra sudah berada disana. Jadi, Arlangga memberi celah untuk Mahendra dan berpamitan untuk pulang. "Mahendra, jaga kakak kamu ya, saya pulang dulu," pamit Arlangga diangguki oleh Mahendra.


Mahendra mulai mendekati Aluna dan menunggu Aluna terbangun karena Aluna sudah membawa bubur yang ia beli dipinggir jalan tadi, "Kak, bangun dulu, ayo makan," titah Mahendra dengan menguncang tubuh Aluna dengan pelan.


"Kakak, ayo bangun dulu," titahnya lagi dengan mengguncang tubuhnya pelan mesi tetap tak ada jawaban.


Tak lama, Aluna bangun namun, ia hanya diam dengan menatap nanar sekitar. Hingga, Mahendra memutuskan untuk membawa Aluna ke rumah sakit siang harinya.


"Kakak gamau ngomong sama aku..? Kak, kakak lihat apa?"


Aluna masih tak menjawab hingga saat sampai, Aluna lamgsung dilarikan ke ruang ICCU. Tentu saja melihat hal itu, Mahendra tak tinggal diam. Dia memutuskan untuk duduk diruang tunggu dan menghubungi Arlangga untuk menjaga Aluna karena, Mahendra harus ke sekolah siang ini.


"Dimana Aluna?" tanya Arlangga cepat.


"Didalam ICCU. Jaga kakak gua. Sampai dia kenapa-kenapa karna lo.. Lo tanggung akibatnya."


"Saya akan menjaganya."


Mahendra mengangguk tanda percaya kepada Arlangga. Setelah cukup lama, akhirnya dokter keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang muram. "Dengan keluarga Aluna?" suara nyaring dokter tersebut membuat Arlangga terperangah.


"Saya sendiri. Bagaimana keadaannya?"


"Apakah sebelumnya pasien rutin cuci darah? Karena besar-kecil kemungkinan, pasien mengidap Leukimia lomblombastik akut yang sudah memasuki stadium 3, sudah cukup parah dan menyebar. Dan kamu sarankan.. Silahkan anda merujuk pasien ke rumah sakit jiwa untuk menemui dokter yang sangat ahli dalam mengatasi kejiwaannya, saya akan memberi surat rujukan dan silahkan bawa Aluna kesana, setelah itu.. Kalian boleh kembali ke sini agar Aluna dapat dirawat beberapa hari ke depan," jelas dokter Rama dengan terperinci tanpa celah yang membuat Arlangga seketika terpaku ditempatnya.


"Boleh saya masuk?"


"Silahkah, ambil surat rujukan dimeja saya nanti."


Arlangga mengangguk. Ia mulai memasuki ruang ICCU yang dimana ia melihat Aluna terbaring tak berdaya, tatapan kosong dan noda yang terdapat pada lehernya belum lekas hilang. "Aluna, ini saya.. Arlangga," lirih Arlangga dengan mengenggam tangan Aluna yang mungil dan lembut itu.

__ADS_1


"Kak, dimana Mahendra..? Aku takut berbicara dengannya karena kemarin dia sangat tersulut emosi," terang Aluna dengan tersenyum kecil.


"Dia sudah berangkat, nanti akan kembali lagi, kamu sudah merasa lebih baik?"


"Hanya sedikit sakit, aku tidak apa-apa kak, bawa aku pulang."


"Tidak. Kamu sudah tau penyakitmu?"


"Sudah, kakak juga sudah ya..?"


"Apa adikmu tau..?"


"Sepertinya.. Tau. Aku juga tidak ingin memberitahunya kak, aku tau ini bukan akhir segalanya, apa kakak mau menemaniku..?"


......................


Arlangga terkekeh pelan mendengar tutur kata Aluna. Ia kemudian mengenggam jari-jemari Aluna dan menatap manik matanya penuh arti.


"Saya akan menemanimu, Aluna. Bahkan, sampai suatu saat kita akan menikah," terang Arlangga membuat wajah Aluna memerah.


"Bagaimana tidak..? Gadis cantik sepertimu sangat teramat sayang apabila hanya untuk dijadikan kekasih," sahut Arlangga membuat Aluna semakin malu!


Dasarnya, hujan mengguyur malam itu. Dan itu mendukung suasana didalam ruang ICCU tersebut, Aluna sedikit mengeryitkan dahinya dan ia terlihat tidak suka.


"Aluna, kamu membenci hujan?"


"Tidak. Aku tidak membencinya hanya saja.. Hujan itu terlalu indah untuk duniaku yang muram. Dan hujan itu penghianat."


"Bagaimana bisa kamu bisa menyimpulkan bahwa hujan adalah penghianat, hm?"


"Karena hujan datang itu membuat matahari hilang dari pandangan dalam sekejap lalu menyatu dengan langit cerah agar ia menjadi seperti dirinya. Hujan itu sangat egois, kak."


"Bukan hujan yang egois Aluna, hanya manusia yang tidak mengerti bahwa sejujurnya hujan adalah sebuah obat yang ampuh dan hujan yang menjadi pelampiasan luka, sejujurnya.. Hujanlah yang paling menderita," ungkap Arlangga dengan membelai lembut rambut Aluna.


"Menertawakan sunyi hingga hati lupa bahwa terbiasa perih, aku adalah penipu yang mahir sehingga tak ada yang bertanya saat aku menertawakan rintik sendu hingga aku lupa bahwa ragaku lupa bahwa raga ini terlalu letih untuk jiwa yang sudah mati sejak lama, kak. Aku sudah tau namun, aku tidak akan mencari tau dan mendengar lebih dalam mengenai apa yang terjadi kepada mental dan jiwaku. Anggap semua baik-baik saja, seperti hujan yang menerima banyak luka namun, ia tetap bersedia menyuburkan tanaman dan tanah agar tidak menjadi tanah yang tandus," monolog Aluna membuat Arlangga terpaku. Beribu kata namun, mengandung banyak arti.

__ADS_1


"Aluna.. Ketahuilah, saya terlahir dari sebuah bencana dan petaka yang menyebabkan banyaknya kehilangan."


"Kahilangan bukan berarti pupusan segalanya, kak. Kehilangan bukan berarti hidup telah hilang. Kehilangan bukan berarti raga akan mati dan kehilangan bukan tanda matinya kehidupan," sahut Aluna dengan tersenyum tipis.


Beberapa jam kemudian, Aluna dipindahkan ke ruang VVIP dan Arlangga masih stay bersama Aluna disana.


Cukup lama mereka saling pandang hingga saat Aluna hendak terlelap, Arlangga memandangi hujan dari sebalik jendela. Hatinya tergerak untuk melompat namun, ia tak akan melakukan hal gila itu hanya karena tengah ingin.


Saat seperti ini, Arlangga tau. Aluna trauma hanya saja menutupi semua dengan senyuman. Dan kabarnya, sekolah diliburkan hingga terancam ditutup karena Mahendra mengamuk kemarin malam.


Bahagianya Aluna itu sangat mudah. Singkat, padat jelas. Bahagianya Aluna itu saat melihat sebuah Telaga yang tenang dan bunga-bunga indah. Merangkai beserta mengayomi dirinya.


"*Aluna... Ayo lompat sayang.."


"Lompat dari jendela dan potong urat nadimu.."


"Aluna, bangun! Ayo lompat! Potong infus itu!"


"Jangan! Itu membahayakan!"


"Lompat, Aluna.. Lompat*!!!"


****Kriet****....


"KAKAK...!! KAKAK MAU NGAPAIN?!"


Grep!!!


Mahendra dengan segera mungkin mendekap erat tubuh Aluna dan menepis gunting yang nyaris saja membuatnya memotong infus dan selang oksigen.


Aluna terkejut setengah mati. Ia mulai membalas dekapan Mahendra dan menangis histeris. Ia memukuli kepalanya karena sangat berisik. Dunianya sangat berisik pasca Arlangga pergi pagi hari.


"Kak... Hidup ini bukan film, jangan diakhiri.."


DEG..!!

__ADS_1


__ADS_2