Dua Insan

Dua Insan
Rupa sang bunda, luka Aluna


__ADS_3

Andara dengan segera mengajak Aliya ke rumah sakit tempat Aluna dirawat. Setibanya, Aliya mulai memasuki lorong rumah sakit tersebut dan saat tiba diruangan, Aliya terdiam saat melihat seorang gadis dengan pandangan kosong tengah duduk ditepi bed.


"Siapa dia?" tanya Aliya dengan menatap Andara.


"Putrimu, Aluna."


Tidak mungkin! Aliya bahkan tidak percaya bahwa Aluna semirip itu dengan dirinya dan ia juga tak percaya bahwa akan memiliki putri seperti itu.


"Apa kau bercanda?! Putriku adalah orang gila? Kau lihat saja. Dia sama sekali tidak terlihat sepertiku."


"Sudahlah jangan banyak protes! Temui dia dan katakan bahwa kau bundanya. Lihat reaksi dia, mungkin dia akan tersenyum setelah mengetahuinya."


Aliya memutar bola matanya malas. Dengan terpaksa Aliya mulai memasuki ruangan tersebut dan menemui Aluna.


"Aluna," panggilnya namun, Aluna tak menoleh.


Aliya mulai berjalan sedikit mendekat dan, "Aku bundamu, Aliya," ucapnya membuat Aluna menoleh dan tertawa hambar.


Tak ada sepatah katapun yang terucap kecuali senyuman dan air mata. Hanya itu. Aluna merasa senang namun, ia sangat kecewa kepada Aliya. Mengapa baru sekarang ia datang..? Mengapa tidak sedari dulu sebelum Aluna putus asa dengan hidupnya seperti sekarang?


"Aluna," panggilnya lagi dan lagi.


"Maaf.."


"Pergi."


Hening. Aliya tak habis pikir dengan ucapan Aluna baru saja. Pergi?? Apakah putrinya sendiri mengusir?


"Pergi dari hadapanku. Lebih baik aku mengangap bundaku telah bersama ayah dibanding membuka luka lama."


"Kurang ajar! Saya kesini karena saya ingin melihatmu, sialan!"


"Lantas kemana saja bunda selama ini..? Meninggalkanku dan adik-adik bahkan, tidak datang ke pemakamannya. Membiarkan aku merawat adik dan ayah sementara bunda..? Apakah bunda tau apa saja yang aku lalui..? Apa dan mengapa aku tidak ingin bertemu dengan bunda lagi..? Karena aku tidak ingin mendengar cacian itu dari mulut bunda."


DEG!


Entah mengapa hati Aliya rasanya sakit. Mendengar tutur lembut Aluna yang begitu menohok dan membuatnya tak bisa berbicara.


"Karena saya ─"


"Apakah karena aku anak hasil dari kesalahan bunda sendiri? Apakah karena aku anak yang tak diharapkan? Jika memang seperti itu.. Bunuh aku sekarang, bunda.. Bunuh aku dengan cutter atau pisau agar aku bisa bertemu dan bersama dengan ayah. Karena aku tau.. Setelah ini bunda akan pergi lagi."


Sungguh. Hati Aliya serasa ditusuk ribuan pedang. Apalagi saat permintaan Aluna yang meminta sang ibunda membunuhnya. Rasa sakit yang tak bisa diungkap bagaimana rasanya.


Aliya memutuskan untuk pergi dengan menahan tangis dari ruangan itu. Ia berlari keluar dan menutup pintu sehingga membuat Andara langsung mengejarnya.


"Kau sudah melihat..? Sudah saya bilang dari awal, Aliya. Lama atau lambat.. Aluna akan tau tanpa diberitau. Dan apakah setelah ini kamu akan tetap membencinya? Tidakkah kau melihat ranum dan tatapan mata berharap akan kasih sayang darimu tapi kamu memakinya..? Buka mata hatimu. Buka saja sedikit untuk Aluna.."


"Sudahlah! Aku muak. Bahkan, ia menyuruhku mwmbunuhnya..?! Apakah dia pikir dengan mati menyelesaikan semuanya?!"


"Dan apa kamu pikir melarikan diri bisa merubah segalanya?"


Skak mat. Aliya tak dapat menjawab pertanyaan dari Andara karena, ada benarnya. Andai ia tak lari dari masalah mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi dan kehidupannya tak akan seberantakan ini.

__ADS_1


"Aku jahat ya..?"


"Kalau saya bilang kamu lebih kejam daripada iblis, apa kamu bisa menerimanya?"


......................


Beberapa hari setelah pertemuan Aluna dan Aliya, Aliya memutuskan untuk lebih sering menjenguk Aluna walaupun Aluna tidak ingin melihatnya hingga.. "Aluna.. Bunda bawakan bunga buat kamu," lirih Aliya menunggu respon putrinya.


"Bunga tulip, sebagai tanpa minta maaf.. Maafin bunda karena udah ninggalin kamu, sekarang Aluna makan ya..? Badan kamu kurus banget sayang.."


Aluna menerima bunga tersebut dan menganggukkan kepalanya lalu memakan beberapa suap bubur.


Hari demi hari, Aluna mulai tersenyum lagi sehingga Aluna mulai memasuki universitas baru. Namun, ada prahara baru yang terjadi. Videonya saat SMA disebar sampai dengan Aluna frustasi setiap hari dan..


"SAYA MENCARIMU BUKAN UNTUK MELIHATMU MENJADI ******, ALUNA!"


DEG!!


Celaan itu membuat air mata Aluna lolos. Hatinya terasa sakit dengan bentakan itu. Tubuhnya meluruh dengan sebuah gelas yang ia genggam pecah.


"DASAR TIDAK BECUS!" celanya lagi membuat Aluna semakin ketakutan.


"B - bunda.. Bukan Aluna..!! Jangan pukul, Aluna mohon.. Jangan kurung Aluna lagi..!!"


"Saya tidak peduli! Urus diri kamu sendiri, saya muak!"


JDAR!!!


Pintu itu dibanting diiringi dengan Aliya yang meninggalkan Aluna sendirian disana tanpa belas kasihan.


Percuma. Teriakan itu tak akan didengar oleh Aliya yang pergi dari tempat tersebut. Sedangkan esok harinya, Aluna memasuki kampus namun, semua tatapan mengintimidasi dan kemudian ia dilempar dengan botol minuman.


Bugh!!


"Masih berani ya lo masuk kampus ini? Ternyata bener kata Andrew.. Lo itu murahan."


Bener juga kata Alice, lo penghianat!"


"Kata Bianca sama sahabat-sahabatnya juga gitu. Udah gausah ditemenin aja setan kaya gini! Mati aja sono!"


Meski begitu, Aluna langsung berlari untuk segera ke kelas namun, tepat didepan pintu kelas, ia sudah dihadang oleh Bianca, Alice, Cecil, Rachel, Rana, Jovanka, Andrew dan Daniel.


Aluna mematung ditempat. Ia tak habis pikir dengan 8 anak itu. Apakah tidak ada kerjaan selain membuatnya dibenci semua orang..?


"Videonya cakep banget sih.."


"CUKUP! OKE, KALIAN SEMUA MAU LIAT KAN?! MAU LIAT KAN?! DARIPADA DIVIDEO YANG GA JELAS ITU MENDING SAMA AKU LANGSUNG BANGSAT!" jerit Aluna dengan mengumpat dan mulai membuka kancing bajunya satu persatu namun, "Lo gila?!" sentak Andrew membuat Aluna berdecih geli.


"KAMU MAU LIAT KAN?! SIAPA YANG GILA?! KAMU YANG GILA KARENA ANCURIN SEMUA MIMPIKU..!! SALAHKU APA SAMA KALIAN?! AKU GA PERNAH MINTA MAKAN SAMA KALIAN DAN GA PERNAH USIK TAPI KENAPA LO SEMUA SELALU BUAT AKU MENDERITA?!!"


Hening. Tak ada yang bisa menjawab pertanyan Aluna yang menggila itu. Tak ada yang bisa menenangkan Aluna.


"Justru itu. Kita maunya lo menderita terus mati," kecam Jovanka membuat Aluna mematung ditempatnya.

__ADS_1


"Udahlah kelamaan!"


Jovanka mulai menarik rambut Aluna, disusul dengan Bianca mulai menarik sebuah gelang pada pergelangan tangan Aluna hingga putus. Gelang peninggalan Mahendra. Gelang yang dibuat dengan penuh kasih itu putus menjadi dua. Tak hanya itu, Andrew mulai mencekram kasar dagu Aluna sehingga Aluna merasa kesakitan. Semua malah justru menonton tanpa membantu Aluna sama sekali.


Tak berhenti disana, Cecil mulai menarik dress milik Aluna hingga robek dan tersisa tanktop bersama celana pendek. Hanya itu yang melekat pada tubuhnya. Keadaannya yang sudah lemah justru dimanfaatkan dan entah mengapa, bisa-bisanya 8 orang itu mengikuti Aluna sampai dikampus baru itu.


"Ayo difoto dong, dinikmati pemandangannya!" seru Andrew bersamaan dengan Daniel mulai memfoto bagian-bagian sensitive pada tubuh Aluna.


Aluna yang sudah tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menangis histeris dan mencoba memberontak hingga.. "Eh, kalung lo bagus banget, sayang kalau lo yang cape jadinya jelek, mending gua yang pake," ujar Alice dengan langsung menarik kalung pada leher Aluna hingga kalung itu putus.


Aksi itu malah ditertawakan. Aluna mulai mengepalkan tangan mengambil kalung dan gelang yang sudah putus tersebut. Aluna mengambil sweeter ditas dan mengenakannya lalu menatap tajam semua orang yang berada disana terutama 8 orang disana.


"Puas..?" tanya Aluna dengan tatapan mematikan.


"BAHKAN DENGAN SELURUH HARTA KALIAN TIDAK AKAN BISA MEMGGANTI KALUNG DAN GELANG INI!! APA KARENA KALIAN MEMILIKI HARTA BISA MENGGANTI SEMUA INI?! APAKAH KARENA KALIAN ANAK YANG BERPENGARUH KALIAN BISA DENGAN MUDAH MENGHACURKAN BARANG INI?! BAHKAN, SEUMUR HIDUP KALIAN GAK AKAN BISA GANTI BARANG INI!"


"Alah, lebay. Cuman kalung sama gelang doang, banyak ditoko," potong Alice dan Jovanka bersamaan.


"GAK ADA..!!! GELANG INI DARI MENDIANG ADIKKU, MAHENDRA DAN KALUNG INI DARI MENDIANG SUAMIKU! APAKAH KALIAN BISA MENGGANTINYA?! MESKIPUN ADA.. NYAWA KALIAN TIDAK SEBANDING DENGAN PENINGGALAN MEREKA."


"Kalian tau..? Kalian hanya memandang orang sebelah mata tanpa memperhatikan segalanya. Kalian tidak tau bagaimana perjuangan seseorang menjaga barang agar tidak rusak dan dengan mudahnya kalian merusaknya.. Apakah orang tua kalian tidak pernah mengajarkan apa artinya menghargai..?"


Hening. Semua orang saling pandang, memandangi Aluna dengan seksama. Air mata Aluna yang lolos tanpa aba-aba itu membuat Aluna semakin hancur.


"Cuman adek sama suami aja, bukan orang tua, sepele lah ya guys," remeh Bianca diangguki oleh Jovanka dan yang lainnya.


"LEBIH BAIK KAU DIAM, BAJINGAN SIALAN!" umpat Aluna dengan berteriak kepada Bianca membuat semua terkejut.


"CUMA ADIK?! KAMU TAU APA..?! IYA! KELUARGA KAMU LENGKAP DAN ADIK YANG KAMU MAKSUD... DIA YANG AKU RAWAT DARI KECIL DAN BAHKAN, DIA YANG MEMANGGILKU BUNDA SETIAP SAAT, SUAMIKU YANG MEMBUATKU BANGKIT DARI KETERPURUKAN DAN BUKAN ORANG TUA..?"


"AYAHKU BAHKAN GUGUR DAN JASADNYA TIDAK DITEMUKAN DALAM LAUTAN! KARENA VIDEO YANG TERSEBAR.. BUNDAKU PERGI LAGI..!! PUAS KALIAN?!"


DEG...!!!


Semua orang seketika terdiam. Nyaris saja ponsel yang mereka genggam terjatuh. Aluna lalu melemparkan ponsel yang digenggam salah seorang mahasiswi lalu pergi dari tempat itu dengan menangis sejadi-jadinya.


"Papa.. kalung yang dikasih kak Arlangga diputus.. Gelang yang diberikan Mahendra juga diputus, pa.."


"Kita beli lagi ya sayang..?"


"Semua ga ada gunanya pa.. Beli yang baru namun, semua kenangan itu tak akan pernah terulang.. Apakah Aluna tidak boleh hanya untuk bahagia..?"


"Bukan seperti itu Aluna ─"


"Kenapa bunda datang kalau akhirnya pergi lagi..?"


"Aluna ─"


"PAPA!!! PA, CEPET KE GEDUNG BARAT YANG DEKAT HUTAN PA..!!"


"ADA APA, MAWAR?!"


"MAMA PA..!! MAMA TINA DISEKAP DISANA..!!"

__ADS_1


To be continue!


__ADS_2