
Aduan Arlangga membuat Aluna dengan sigap memanggil para staff dan meminta bantuan kepada Reno yang kebetulan berada disana.
Arlangga dilarikan ke rumah sakit. Ia segera diberi perawatan dengan Aluna yang duduk dikursi tunggu dan menyandarkan tubuhnya pada dinding.
Cukup lama hingga, Sagara keluar dari ruangan dan melihat seksama gadis belia dihadapannya adalah Aluna. "Bagaimana keadaan kak Arlangga, dok?!" tanya Aluna cepat.
"Gagal ginjalnya sudah parah, hanya ada beberapa waktu yang tersisa untuk Arlangga.. Saya permisi."
DEG....
Jantung Aluna seolah terhenti. Tubuhnya nyaris merosot. Bahkan, air matanya lolos tanpa aba-aba membuat Aluna seketika memasuki ruang rawat VVIP Arlangga dan mendekap Arlangga dengan erat.
"Kak..! Kakak bertahan ya sayang..? Kita nanti.. Kita bakal mempunyai putri yang gemas dan lucu! Menetap ya..? Menetap lebih lama daripada sang surya. Kekal semua bahagia dalam rangkulmu ya kak..? Kita nanti, kita akan menikah! Memiliki seorang putri yang gemas dan menghindari perasaan jahat! Kak... Jangan ─"
Aluna kalut! Ia hanyut dalam pikirannya yang tak searah dengan hatinya. Arlangga hanya memandangi sayu Aluna. Dengan lemah, Arlangga mulai meraih dan mengenggam jemari Aluna.
"Sayang.. Jangan menangis, saya tidak apa-apa, hanya sedikit sakit. Ratu kecilku tidak boleh menangis," lirih Arlangga membuat Aluna menggeleng dan air matanya tak bisa terkontrol karena terus berjatuhan.
"Aluna.. Masih ada sisa waktu 1 tahun. Apakah itu tidak cukup untuk kita bersama..? bukankah 1 tahun itu lama?"
"Tidak! 1 tahun itu sebentar, kak.. Kenapa tidak jujur dari awal..? Kenapa kakak tidak jujur dari awal kalau kakak sakit parah?! Gagal ginjal kronis yang memasuki stadium 4...? Apa kakak masih bisa bicara bahwa ini tidak parah...? Kak, jawab! Kenapa kakak bohong?!"
"Karena saya tau kamu akan sehancur ini, Aluna.. Saya tau kamu akan menyalahkan diri kamu, saya tau reaksi kamu akan bagaimana.. Maka dari itu saya memutuskan tidak memberitau semuanya, Aluna," terang Arlangga dengan tersenyum tipis.
Paras rupawannya tidak hilang meski ia tengah sakit. Memang benar, Aluna itu rapuh dan kerapuhannya membuat Arlangga tak tega memberitahu pasal rasa sakitnya.
"Kak.. Menetap ya..? Jangan pergi.. Jangan pergi, cukup keluargaku, kakak jangan.. Kakak jangan tinggalin aku ya..?"
"Sayang... Saya ga akan tinggalin kamu. Saya disini, saya tidak apa-apa.. Jangan menangis."
Aluna menggelengkan kepalanya. Ia mengelak. Karena ia sangat tidak suka apabila saat ia menangis, ia dilihat orang.
Saat ini, Aluna kalut dalam pikirannya karena Mahendra tak ada kabar hingga saat ini sejak pesawat yang ditumpangi hilang kontak.
"Aluna, lo udah dapet kabar?!"
"Kabar apa..?"
__ADS_1
"P - pesawat yang ditumpangi adek lo... Jatuh dan ga ada satu pun yang selamat.. Gua turut berduka cita, Lun.. Yang tabah."
BRUGH...!!
Tubuh Aluna merosot. Air matanya lolos tanpa aba-aba. Bibirnya membeku dan tatapan kosongnya membuat Reno seketika berusaha menopang tubuh Aluna.
"MAHENDRA....!!!!!!!" jerit Aluna histeris membuat orang yang berada dilorong rumah sakit seketika menatap miris Aluna yang tengah tersimpuh dan menangis histeris. Para suster menenangkan namun, Aluna tak mampu berdiri. Seluruh tubuhnya lemas dan air kata yang terus bercucuran membuat semua orang yang berada didalam rumah sakit tersebut iba.
"*Mahendra janji akan kembali, bunda!"
"Bunda, jangan menangis!"
"Mulai sekarang kamu bukan kakakku, tapi Bundaku! Iya kan? Bunda Aluna... Mahen mau makan!"
"Mahen sayang bunda, tunggu Mahen kembali ya..."
"Mahen berangkat dulu ya bunda, tunggu Mahen pulang."
"Mahen ga akan tinggalin bunda!"
"Ada yang nyakitin bunda? Jangan menangis lagi.. Kita buat lagi ya*!"
Semua kata-kata itu seketika terngiang pada telinga Aluna dan membuat Aluna menangis semakin histeris.
Tangisan menyayat hati yang membuat semua orang tak sanggup mendengarnya. Tangisan dari seorang kakak yang dianggap ibu oleh adiknya karena merawat hingga besar.
......................
Rumah terasa kosong. Polisi datang ke rumah Aluna dengan memberitahu bahwa tidak ada korban selamat dan salah satu identitas korban adalah identitas adiknya.
Terdapat juga barang yang ditemukan oleh pihak kepolisian. Fotonya dengan Mahendra yang tengah tersenyum.
Pihak kepolisan juga memberitau pasti tempat pesawat terjatuh dan Aluna saat itu semakin terkejut saat mendengar bahwa Mahen bersama dengan kedua adiknya.
"Terdapat korban bernama Alura dan Melati, sesuai identitasnya.. Mereka memiliki nama belakang yang sama dan kedua anak itu sepertinya gadis kecil kembar perempuan."
DEG...!!!
__ADS_1
"ENGGAK MUNGKIN...!!! PAK POLISI PASTI SALAH! ADIK-ADIK SAYA GA MUNGKIN ─"
"Kami turut berduka cita atas nama korban, apabila ada yang bisa dibantu tolong hubungi kami."
Hancur. Pendirian Aluna hancur tatkala mendengar korban kecelakaan pesawat itu ternyata adalah ketiga adik yang telah ia rawat selama ini.
"ALURA....!!!!!!! MELATI...!!!!!!! KENAPA KALIAN JUGA NINGGALIN KAKAK DISINI?!!!" jerit Aluna dengan tubuh yang meluruh dan menangis histeris dengan memukuli lantai hingga tangan mungilnya terasa sakit.
Tak lama, terdengar suara klakson sebuah mobil yang berwarna hitam dan terdengar suara langkah kaki sehingga membuat Aluna terperangah.
"Aluna... Sayangnya ayah..?"
Mendengar itu, Aluna langsung berlari dan mendekap erat tubuh Pratmana lalu menangis sejadi-jadinya. Tangisan menyayat hati yang membuat Pratmana tak bisa memungkiri bagaimana sakitnya hati Aluna ketika melihat 3 anak yang dijaga sedari kecil nyawanya terengut dengan cara seperti ini.
"AYAH....!!!!! KENAPA HARUS MEREKA?! KENAPA HARUS MEREKA, AYAH?! KENAPA HARUS MEREKA...?!?! ALUNA BELUM SEMPAT MERAYAKAN ULANG TAHUN MEREKA MINGGU INI...!!! KENAPA HARUS MEREKA?!" jerit Aluna dengan memukuli dada Pratmana dengan tangan mungilnya.
"Aluna.. Dengar ayah, sayang.."
"Ayah.. Kenapa mereka?! Kenapa harus 3 anak tak berdosa itu..? KENAPA TUHAN SELALU MEREBUT APA YANG MEMBUAT ALUNA BAHAGIA?! KENAPA TUHAN SELALU BERSIFAT TIDAK ADIL?! KENAPA TUHAN ─"
Grep!!
Pratmana dengan sigap mendekap tubuh putrinya dan membiarkan putrinya menangis dalam peluknya. "Aluna.. Tidak boleh menyalahkan Tuhan, jangan menyalahkan Tuhan, sayang.."
"LANTAS APAKAH ALUNA HARUS MENYALAHKAN DIRI ALUNA YANG TIDAK BERGUNA INI?! APAKAH ALUNA HARUS MENYALAHKAN DIRI ALUNA YANG TERLAHIR KARENA SEORANG LAKI-LAKI BAJINGAN?! APAKAH ALUNA HARUS MENYALAHLAN DIRI ALUNA KARENA ALUNA ADALAH ANAK HARAM?! DAN APAKAH ALUNA HARUS MENYALAHKAN BUNDA KARENA MENINGGALKAN KITA?! JAWAB AYAH...!!"
Pratmana membisu. Ia tak bisa menjawab satu pertanyaan dari putrinya yang teramat menyakitkan itu. Cepat atau lambat.. Fakta pasti terungkap dan sekarang Aluna sudah mengetahui segalanya.
"Aluna.. Tidak, bukan seperti itu.. Dengarkan ayah!"
"Apa lagi yang harus Aluna dengar..? Apakah Aluna harus mendengar bahwa ayah akan pergi lagi setelah ini..? Atau Aluna harus menerima bahwa hidup Aluna juga tak lama seperti kak Arlangga..?"
DEG...!!
"Aluna.. Kamu sehancur ini ya sayang..?"
To be continue!
__ADS_1